<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>SWOT Analysis as the Basis for Formulating Policies to Improve Teacher Competency Quality</article-title>
        <subtitle>Analisis SWOT Sebagai Dasar Perumusan Kebijakan Peningkatan Mutu Kompetensi Guru</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>akbar</surname>
            <given-names>Taufik</given-names>
          </name>
          <email>abiammar201437@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Rindaningsih</surname>
            <given-names>Ida</given-names>
          </name>
          <email>rindaningsih1@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-01-28">
          <day>28</day>
          <month>01</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>12</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-e0a0ee2f34778390ad9996c3cdf0d2d0">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Peningkatan kualitas akademik secara signifikan dipengaruhi oleh ketersediaan dan kompetensi pendidik, yang merupakan sumber daya manusia utama dalam lembaga Pendidikan[1]. Pendidik memainkan peran sentral dalam menentukan efektivitas proses pembelajaran, mencakup penguasaan terhadap konten materi, metodologi pengajaran, serta kemampuan dalam mengevaluasi hasil belajar [2]. Oleh karena itu, kualitas pendidikan bukan sekedar mengacu kepada kurikulum yang ditetapkan, tetapi kepada sejauh mana guru mampu mengimplementasikan kurikulum tersebut secara efektif dan efisien [3]. Upaya untuk memperkuat mutu pendidikan memerlukan perhatian khusus terhadap kualitas dan keahlian pendidik, karena kedua aspek ini memiliki keterkaitan yang erat dengan keberhasilan proses pedagogis [4].</p>
      <p id="_paragraph-13">Pembelajaran yang berkualitas baik merupakan hasil dari berbagai komponen yang saling melengkapi dan terintegrasi dalam proses pendidikan. Menurut Matatiana, Dalam konteks Kurikulum Merdeka, komponen utama perencanaan pembelajaran mencakup perumusan tujuan pembelajaran yang berorientasi pada capaian Profil Lulusan, penyusunan materi yang relevan, kontekstual, serta selaras terhadap tuntutan juga karakter murid, pemilihan strategi instruksional yang fleksibel dan berpihak pada murid, penyediaan media serta sumber belajar yang bervariasi dan mendukung pembelajaran bermakna, serta pelaksanaan evaluasi yang objektif, berkelanjutan, dan berfungsi sebagai umpan balik untuk peningkatan proses dan hasil belajar [5]. </p>
      <p id="_paragraph-14">Strategi pembelajaran yang adaptif dan variatif mampu mendorong keterlibatan aktif peserta didik. Motivasi untuk belajar pun turut meningkat karenanya [6]. Di samping itu, Pemanfaatan media pembelajaran yang inovatif serta integrasi teknologi edukatif secara strategis mampu memperkaya proses pembelajaran dan meningkatkan keterlibatan peserta didik secara signifikan. Di sisi lain, penerapan sistem evaluasi yang komprehensif bukan sekedar berguna sebagai instrumen didalam pengukuran perolehan pembelajaran, melainkan sebagai sarana perefleksian kritis guna mengidentifikasi keunggulan juga kekurangan didalam berjalannya pelajaran, hingga bisa mendorong peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan dan konsisten. [7].</p>
      <p id="_paragraph-15">Sejumlah penelitian terdahulu juga telah mengkaji pendekatan strategis analisis SWOT dalam mengevaluasi serta meningkatkan Kompetensi guru. Menurut R. Afriani kekuatan utama pada diri guru terletak pada dedikasi yang tinggi serta penguasaan akan materi ajar namun kelemahan yang sering muncul berkaitan dengan kurangnya penguasaan terhadap teknologi pembelajaran [8]. Sementara itu, peluang untuk meningkatkan Kompetensi guru dapat dioptimalkan melalui pelatihan berkelanjutan serta dukungan institusional dari pihak sekolah, sebagaimana diungkapkan dalam temuan penelitian yang dilakukan oleh R. Susiloningtyas. Di sisi lain, berbagai tantangan yang dihadapi guru antara lain bersumber dari beban administratif yang berlebihan serta resistensi terhadap implementasi perubahan kurikulum, yang dapat menghambat efektivitas pelaksanaan tugas profesional dan adaptasi terhadap inovasi pendidikan[9]. </p>
      <p id="_paragraph-16">Temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Zulkarnain secara jelas mengindikasikan bahwa penerapan analisis SWOT berperan signifikan dalam membantu sekolah merancang strategi pengembangan profesional guru yang lebih terarah, responsif terhadap kebutuhan institusional, serta selaras dengan konteks dan dinamika lingkungan Pendidikan [10]. Selain itu, analisis SWOT terbukti efektif dalam mengidentifikasi berbagai faktor internal dan eksternal yang memengaruhi Kompetensi guru, sebagaimana dibuktikan melalui studi yang dilakukan oleh J. Suarlin. Studi ini memberikan landasan konseptual yang kokoh untuk merumuskan kebijakan yang bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran secara lebih terfokus dan berkelanjutan.  Variasi dalam Kompetensi guru menjadi masalah strategis karena memiliki dampak besar terhadap kualitas proses pembelajaran serta daya saing lembaga pendidikan. Guru yang unggul dalam Kompetensinya umumnya mampu merancang pengalaman pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan beragam siswa dan secara aktif mengelola proses pembelajaran secara kolaboratif yang secara optimal melibatkan siswa. Evaluasi tersebut dilakukan secara akurat oleh para guru dengan Kompetensi yang optimal dan juga responsif. Kompetensi profesionalnya secara aktif mereka kembangkan melalui inovasi beserta kepemimpinan edukatif serta unggul dalam membangun relasi interpersonal yang positif [11], [12]. </p>
      <p id="_paragraph-17">Sebaliknya, guru yang berkompetensi kurang optimal umumnya mengalami hambatan dalam menyusun rencana pembelajaran, di pengelolaan kelas, juga di pemanfaatan teknologi pembelajaran, serta cenderung pasif dalam pengembangan diri [13]. Kualitas layanan pendidikan yang seragam di dalam satuan sekolah terhambat oleh performance gap akibat ketimpangan ini. Analisis SWOT di dalam manajemen strategis dapat dipakai guna mengidentifikasi kekuatan seperti halnya keterampilan komunikasi serta pengalaman mengajar, kelemahan misalnya saja minimnya pelatihan pedagogis ataupun rendahnya literasi digital, seperti adanya program kompetensi dari pemerintah dan ancaman misalnya adalah persaingan antar sekolah juga tuntutan Kurikulum Nasional [14], [15]. Pemetaan ini menjadi dasar perencanaan tindakan pengembangan yang lebih terarah. Kompetensi guru dapat ditingkatkan secara berkelanjutan dengan dasar yang satu ini.</p>
      <p id="_paragraph-18">SMA Islam Terpadu Ar Rahmah Lumajang sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam terpadu menuntut guru bukan sekedar kompeten didalam bidang pembelajaran, namun pula mempunyai kemampuan dalam pembinaan karakteristik juga penguatan nilai-nilai keislaman. Dalam realitasnya, terdapat sejumlah guru yang baru menyelesaikan pendidikan sarjananya, beberapa di antaranya masih memiliki jam terbang mengajar yang minim, dan sebagian lainnya belum mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai bentuk legalitas dan penguatan profesionalisme pendidik. Kondisi ini menimbulkan tantangan dalam pemenuhan kompetensi guru secara menyeluruh, baik dalam aspek pedagogik, profesional, sosial, maupun kepribadian. Oleh karena itu, penting dilakukan analisis terhadap Kompetensi guru menggunakan pendekatan SWOT. </p>
      <p id="_paragraph-19">Penelitian tersebut tujuannya yakni mengkaji penerapan analisis SWOT dalam menilai dan meningkatkan Kompetensi guru di SMAIT Ar Rahmah. Pendekatan ini selaras dengan prinsip manajemen strategis yang menekankan pentingnya pemetaan kondisi aktual dalam rangka pengambilan keputusan yang berbasis data [16]. Selain itu, hasil analisis SWOT dapat menjadi dasar dalam merancang program pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan, meningkatkan efektivitas supervisi akademik, serta memperkuat daya saing institusi pendidikan dalam menghadapi dinamika perubahan kurikulum dan tuntutan global[17], [18]. Harapannya, riset tersebut bisa menyumbangsihkan peranan keilmuan mengenai pentingnya pengelolaan lembaga pendidikan melalui analisis SWOT, sehingga lembaga memiliki daya saing tinggi dalam mutu pendidikan dan mampu mencetak generasi robbani yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing global[19].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-82de682134e6d06d40bc22db8b94a195">
      <title>II. Metode</title>
      <p id="_paragraph-21">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai penerapan analisis SWOT dalam mengevaluasi Kompetensi guru di SMAIT Ar Rahmah. Pendekatan ini dianggap relevan karena mampu menggali fenomena secara kontekstual, holistik, dan interpretatif, khususnya dalam mengidentifikasi faktor internal serta eksternal yang memengaruhi kualitas Kompetensi pendidik [20]. Observasi partisipatif, wawancara menyeluruh, serta studi dokumentasi adalah metode yang dipergunakan didalam mengumpulkan data. Pimpinan sekolah, pendidik serta wakil pimpinan bidang kurikulum yang dipilih dengan acak adalah narasumber penting yang diwawancarai. </p>
      <p id="_paragraph-22">Pilihan informan tergantung pada sejumlah faktor, termasuk pengalaman kerja, posisi strategis, dan keterlibatan mereka dalam proses evaluasi Kompetensi [21]. Observasi partisipatif bertujuan untuk mengumpulkan informasi faktual tentang perilaku profesional guru dalam konteks pembelajaran. Sementara itu, dokumentasi digunakan untuk memeriksa instrumen evaluasi, program supervisi, dan dokumen yang berkaitan dengan hasil penilaian Kompetensi. Model interaktif digunakan untuk melakukan analisis data [22], yang mencakup atas 3 bagian: tahapan pemilahan data, penataan informasi, dan penyusunan sekaligus validasi akhir temuan. Pemilahan data penyaringan data penting tentang bagaimana analisis SWOT berdampak pada Kompetensi guru, dan data diungkapkan didalam berupa penjelasan bersifat deskriptif. </p>
      <p id="_paragraph-23">Penarikan kesimpulannya dijalankan secara induktif melalui mempertimbangkan konsistensi dan pola temuan yang muncul. Keabsahan data dijaga dengan menerapkan triangulasi yang dilakukan terhadap sumber informasi, cara pengumpulan data, dan penentuan waktu pengambilan data. Triangulasi bertujuan guna menjamin bahwasannya data yang didapat relevan, konsisten, serta busa dipertanggungjawabkan secara ilmiah[23]. Validasi temuan juga diperkuat dengan member checking, yakni pengonfirmasian data kepada informan untuk memastikan kesesuaian interpretasi peneliti. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan mampu memberikan kontribusi substantif terhadap penguatan strategi manajerial dalam meningkatkan mutu Kompetensi guru melalui analisis SWOT yang berbasis pada kondisi nyata institusi pendidikan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-c5b07af5f5afa03a76b27d458c7e33f3">
      <title>III. Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-25">Analisis SWOT yang digunakan dalam penelitian ini terbukti menjadi alat strategis yang efektif untuk memetakan kondisi nyata Kompetensi guru di SMA Islam Terpadu Ar Rahmah Lumajang. Pemetaan ini tidak hanya menyoroti faktor internal dan eksternal secara deskriptif, tetapi juga memberikan arah strategis untuk kebijakan pengembangan guru yang berkelanjutan.</p>
      <p id="_paragraph-26">
        <bold id="bold-bd0ad4c9a9498306c93e56f807b09fec">A.Kekuatan (Strengths): Dedikasi Tinggi dan Penguasaan Materi Ajarnya</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-27">Temuan awal menunjukkan bahwa guru-guru di SMAIT Ar Rahmah memiliki dedikasi tinggi, komitmen kuat, dan penguasaan materi yang baik. Kondisi ini sejalan dengan penelitian Afriani dkk yang menyebut bahwa dedikasi dan penguasaan konten adalah dua modal utama yang selalu muncul dalam kategori kekuatan guru pada berbagai sekolah berbasis keagamaan maupun umum [24][25].</p>
      <p id="_paragraph-28">Kekuatan ini diperkuat oleh kelembagaan sekolah, yang memiliki budaya Islam yang kuat dan visi untuk pengembangan karakter.  Komitmen guru terhadap visi organisasi berfungsi sebagai alat strategis untuk melaksanakan program-program mutu, seperti pengawasan akademik, pengembangan kurikulum, dan pembinaan keagamaan. Oleh karena itu, perbaikan internal ini dapat dimaksimalkan melalui program-program seperti coaching clinic, lesson study, dan peer teaching, yang efektif dalam meningkatkan konsistensi kualitas pembelajaran [26].</p>
      <p id="_paragraph-29">
        <bold id="bold-1ae0aba1aa21aa783990304cb8efa42c">B.Kelemahan (Weaknesses): Literasi Teknologi Rendah dan Kurangnya Pelatihan Pedagogis</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-30">Penelitian ini juga mengidentifikasi dua kelemahan utama: (a) kurangnya penguasaan teknologi pembelajaran, (b) minimnya pelatihan pedagogis dan belum mengikuti PPG bagi sebagian guru. Kondisi ini konsisten dengan temuan Hasbi yang menjelaskan bahwa guru berKompetensi rendah biasanya memiliki hambatan pada aspek perencanaan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan teknologi pembelajaran—tiga aspek yang kini menjadi standar minimal dalam Kurikulum Merdeka [27].</p>
      <p id="_paragraph-31">Minimnya pelatihan pedagogis juga menurunkan kualitas implementasi pembelajaran. Agus Susanto dkk menunjukkan bahwa tanpa program pengembangan kompetensi yang terarah, guru cenderung mengajar secara konvensional dan sulit menyesuaikan diri dengan perubahan kebijakan dan inovasi pendidikan yang cepat [28].</p>
      <p id="_paragraph-32">
        <bold id="bold-587f2bf93440197dc2a7f3a986fe4d97">C.Peluang (Opportunities): Dukungan Institusi dan Program Pelatihan Berkelanjutan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-33">Lingkungan eksternal SMAIT Ar Rahmah memberikan peluang besar untuk meningkatkan kompetensi guru. Beberapa peluang yang muncul dalam penelitian: (a) Tersedianya pelatihan Kurikulum Nasionaldari pemerintah, (b) Jaringan dengan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), (c) Program digitalisasi pembelajaran, (d) Kegiatan workshop pedagogik yang semakin banyak dilakukan lembaga mitra.</p>
      <p id="_paragraph-34">Penelitian Munir dkk menegaskan bahwa sekolah yang mampu memanfaatkan peluang eksternal melalui program pelatihan berkelanjutan mengalami peningkatan signifikan dalam mutu pembelajaran dan profesionalitas guru. Dengan kata lain, peluang ini akan sangat strategis jika diintegrasikan dalam kebijakan pengembangan SDM sekolah berupa: (a) PPG internal lembaga, (b) budaya supervisi akademik berkelanjutan, (c) program mentoring guru baru, (d) dan penguatan literasi teknologi [29].</p>
      <p id="_paragraph-35">
        <bold id="bold-302f447d9b48dd6cb10fd5cb79d434b9">D.Ancaman (Threats): Beban Administratif dan Tuntutan Kurikulum Merdeka</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-36">Ancaman eksternal yang paling dominan adalah: (a) beban administratif guru yang berlebihan, (b) tuntutan implementasi Kurikulum Nasionalyang menuntut guru lebih adaptif, kreatif, dan berbasis asesmen formatif. Zulkarnain dkk menegaskan bahwa beban administratif merupakan faktor penghambat Kompetensi guru yang paling sering muncul dalam analisis SWOT di sekolah-sekolah Islam di Indonesia. Selain itu, perubahan kurikulum yang cepat menjadi ancaman nyata. Jika guru tidak segera diperkuat kompetensinya, maka implementasi Kurikulum Nasional akan berjalan secara minimalis dan tidak berdampak signifikan terhadap kualitas pembelajaran [30].</p>
      <p id="_paragraph-37">
        <bold id="bold-03db356bcf6012c8d400a57ced8cbad3">Strategi Pengembangan Berbasis Matrik SWOT</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-38">Setelah pemetaan SWOT dilakukan, SMA Islam Terpadu Ar Rahmah perlu memanfaatkan matrik SWOT sebagai pendekatan strategis dalam merancang program peningkatan Kompetensi guru secara lebih menyeluruh. Penggunaan matrik ini membantu sekolah merespons kondisi internal maupun eksternal dengan lebih tepat, sehingga setiap kebijakan yang ditetapkan memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan lembaga. </p>
      <p id="_paragraph-39">Strategi SO (Strength–Opportunity) diarahkan untuk mengangkat potensi terbaik yang dimiliki guru, memperkuat semangat dan komitmet mereka, serta menggunakan kemampuan membimbing siswa secara maksimal. Pendekatan ini juga menempatkan karakter unggul sekolah sebagai modal utama sehingga pemanfaatan sumber daya dapat berlangsung lebih optimal tepat sasaran. Beragam bentuk dukungan dari JSIT, berbagai pelatihan yang di fasilitasi oleh Dinas Pendidikan, MGMP dan Quipper School serta perkembangan program digitalisasi yang semakin maju menjadi sumber daya strategis yang dapat dioptimalkan untuk meningkatkan performa sekolah. Upaya ini sejalan dengan hasil kajian Sabariah dkk yang menegaskan efektivitas pengembangan profesional guru berbasis kolaborasi dan teknologi [31]. Selain itu, strategi ini diperkuat rekomendasi pengembangan Kompetensi guru [32]. </p>
      <p id="_paragraph-40">Strategi WO (Weakness–Opportunity) diarahkan untuk mengatasi kelemahan utama guru—yaitu literasi digital rendah dan minimnya pelatihan pedagogis—dengan memanfaatkan peluang luas berupa pelatihan eksternal dan kerjasama mitra pendidikan. Sekolah perlu mengembangkan Program Literasi Digital Bertingkat, PPG internal lembaga, modul pedagogis, serta mekanisme mentoring guru baru. Strategi ini sejalan dengan kajian Rindaningsih mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Kompetensi guru, serta penguatan kapasitas digital tenaga pendidik yang diulas dalam model integrasi teknologi terkini [33]. Pendekatan ini juga diperkuat oleh hasil studi efektivitas TPD (Teacher Professional Development) di berbagai negara [34].</p>
      <p id="_paragraph-41">Strategi ST (Strength–Threat) memanfaatkan kekuatan dedikasi dan budaya mutu sekolah untuk mengatasi ancaman berupa tingginya beban administrasi dan kompleksitas Kurikulum Merdeka. Strategi ini mencakup digitalisasi administrasi pembelajaran, penyederhanaan perangkat ajar, penggunaan template standar (modul ajar ringkas, asesmen formatif), serta penguatan supervisi akademik berbasis perbaikan. Upaya ini didukung penelitian Amemasor dan kajian digitalisasi sistem administrasi pendidikan oleh Rindaningsih yang menekankan peran teknologi dalam mengurangi beban non-pengajaran [35]. </p>
      <p id="_paragraph-42">Strategi WT (Weakness–Threat) difokuskan pada penurunan risiko melalui reformasi kebijakan internal, prioritas pelatihan, penyederhanaan beban kerja, serta penguatan insentif dan jalur karier guru. Strategi ini penting untuk meminimalisir dampak kelemahan kompetensi dan ancaman perubahan kebijakan pendidikan. Ida Rindaningsih menegaskan bahwa sistem penghargaan dan manajemen SDM pendidikan berbasis motivasi menjadi faktor penting dalam menjaga Kompetensi guru pada situasi perubahan kurikulum [36]. Karena itu, penting bagi sekolah merumuskan standar pelatihan yang harus diikuti setiap guru, membangun pola pendampingan yang terstruktur, serta menerapkan sistem apresiasi berbasis Kompetensi sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran [37]. Oleh karena itu, arah kebijakan pengembangan guru yang lebih komprehensif, fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan serta perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah saat ini di dukung keempat strategi dalam analisis SWOT. </p>
      <p id="_paragraph-43">Pendekatan ini tidak hanya mendorong penguatan implementasi kurikulum nasional, tetapi juga menjaga keberlanjutan peningkatan kompetensi profesional guru, kestabilan motivasi kerja, serta mutu proses pembelajaran di SMA Islam Terpadu Ar Rahmah Lumajang. Temuan ini sejalan dengan pernyataan Suarlin bahwa analisis SWOT berfungsi sebagai landasan penting dalam merumuskan kebijakan yang bertujuan untuk mengembangkan guru yang adaptif dan responsif terhadap dinamika sekolah modern.</p>
      <p id="_paragraph-44">
        <bold id="bold-14bdf75fc87ad4eb2248d255a4f796e7">Penguatan Analsisi SWOT dalam Manajemen Pendidikan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-45">Hasil penelitian ini mendukung teori bahwa analisis SWOT adalah alat vital untuk manajemen strategis pendidikan. Hasil penelitian di SMAIT Ar Rahmah menunjukkan bahwa pemetaan faktor internal dan eksternal memberikan gambaran menyeluruh tentang cara membuat kebijakan yang membantu meningkatkan Kompetensi guru. Hal ini mengkonfirmasi pentingnya teori manajemen strategis yang dibahas dalam karya Andia Ro'isatul Vitri. Secara umum, penelitian ini mengindikasikan bahwa kualitas Kompetensi guru tidak bersifat independent, melainkan sangat dipengaruhi oleh kebijakan sekolah, kondisi lingkungan kerja, dan perkembangan kurikulum yang dinamis [38]. </p>
      <p id="_paragraph-46">Kerangka kompetensi guru yang mencakup empat ranah utama – pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian – yang sering dibahas dalam kajian pendidikan kontemporer, semakin menunjukkan relevansinya melalui temuan lapangan, terutama berkaitan dengan rendahnya kemampuan literasi digital dan terbatasnya pelatihan pedagogis yang diterima oleh guru [39]. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan kurikulum nasional mengharuskan guru untuk lebih fleksibel dalam memanfaatkkan teknologi, menyesuaiakan metode penilaian dan merancang strategi pembelajaran yang sesuai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kualitas kompetensi guru saat ini sangat dipengaruhi oleh tingkat literasi digital yang mereka miliki serta kemampuan mereka dalam mengelola proses belajar mengajar, yang merupakan esensi dari peran profesional seorang pendidik. </p>
      <p id="_paragraph-47">Temuan tentang betapa pentingnya dukungan kepala sekolah dan supervisi akademik mengonfirmasi teori kepemimpinan transformasional dalam pendidikan. Kepala sekolah tidak hanya menjalankan tugas administrasi; mereka juga berperan sebagai inspirasi, penganjur, dan pendorong perubahan [40]. Upaya peningkatan mutu pendidik melalui kegiatan pembinaan, supervisi, serta pemberian umpan balik menegaskan bahwa pengembangan profesional guru merupakan proses yang berlangsung secara terus-menerus. Temuan penelitian ini sejalan dengan berbagai kajian mengenai dinamika perkembangan pengetahuan manusia dalam konteks pendidikan masa kini.</p>
      <p id="_paragraph-48">Berdasarkan hasil analisis SWOT, sekolah dapat merancang program peningkatan kapasitas yang lebih terarah, seperti: (a) pelatihan penguatan literasi digital; (b) lokakarya pengembangan strategi pembelajaran; (c) penyelenggaraan PPG; dan (d) pelatihan orientasi bagi pendidik baru. Seluruh program tersebut dirancang sesuai kebutuhan aktual sekolah, bukan bersifat umum atau seragam. Pelaksanaan penilaian dalam supervisi akademik seharusnya dilakukan secara terencana dan berurutan dengan menggunakan instrumen observasi yang relevan, serta diarahkan untuk memperkuat kualitas proses pembelajaran sesuai ketentuan kurikulum merdeka. Penerapan analisis SWOT dapat menjadi alat bagi kepala sekolah maupun koordinator kurikulum untuk menentukan fokus utama dan aspek aspek yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan evaluasi.</p>
      <p id="_paragraph-49">Sekolah dapat menggunakan analisis SWOT, yang meliputi (a) guru dengan literasi digital yang baik, (b) guru yang siap untuk pengajaran intensif, dan (c) evaluasi guru berdasarkan kekuatan masing-masing siswa.  Untuk tetap termotivasi, sekolah juga dapat menggunakan sistem karier dan insentif.  Untuk memaksimalkan sumber daya eksternal, seperti pendidikan digital, JSIT, dan pelatihan pemerintah, metode berikut dapat digunakan: (a) perjanjian kerja sama khusus untuk meningkatkan kompetensi; (b) program pelatihan internal dengan pelatihan eksternal; dan (c) penelitian pendidikan kolaboratif.  Strategi ini menjadikan SMAIT Ar Rahmah sebagai sekolah unggul.</p>
      <p id="_paragraph-50">Komitmen dan profesionalisme para pendidik menjadi fondasi terbentuknya iklim sekolah yang kokoh. Hal ini tercermin dari berbagai tindakan konstruktif di dalam kelas, tumbuhnay komunitas belajar antar guru, serta kolaborasi yang terjalin antar bidang studi. Berbagai inisiatif tersebut berkontribusi signifikan dalam meningkatkan penghargaan dan partisipasi terhadap kualitas proses pembelajaran. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan Kurikulum Nasional, sekolah perlu memberikan perhatian pada beberapa aspek, antara lain penguatan kompetensi dalam melakukan asesmen diagnostik, penyusunan modul ajar yang terstruktur, serta penyelenggaraan forum diskusi kurikulum secara rutin terjadwal. Temuan SWOT menunjukkan bidang mana yang perlu diperkuat. Dampaknya adalah pembelajaran lebih berpihak pada peserta didik.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-8cb3ac80ca6b6f2079ec2acc4c4be819">
      <title>IV. Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-52">Menurut penelitian ini, analisis SWOT sangat efektif untuk menggambarkan Kompetensi guru di SMA Islam Terpadu Ar Rahmah Lumajang. Meskipun guru memiliki keterampilan seperti dedikasi, komitmen, dan persiapan materi yang baik, mereka juga memiliki kelemahan seperti pengetahuan teknologi yang terbatas dan keterampilan pedagogis yang kurang memadai. Walaupun dinamika eksternal yang terus bergerak menawarkan berbagai peluang pengembangan melalui implementasi kurikulum nasional, kebijakan JSIT Indonesia, serta pemanfaatan teknologi pendidikan, banyak sekolah tetap bergulat dengan persoalan administratif yang menghambat kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri secara optimal terhadap kurikulum nasional.</p>
      <p id="_paragraph-53">Penelitian ini menerapkan matrik SWOT untuk merumuskan strategi pengembangan guru yang didasarkan pada yang konkret. Analisis strategi SO, WO, ST dan WT dalam matrik SWOT berfungsi untuk memaksimalkan potensi, memperbaiki kelemahan yang ada, mengoptimalakan peluang, serta menyiapkan langkah guna menghadapi ancaman. Pendekatan ini memperkuat pengembangan komunitas belajar, riset digital dan pedagogis, efisiensi manajemen berbasis teknologi, supervisi akademik yang berorientasi peningkatan mutu, serta penataan kebijakan pengembangan sumber daya manusia yang lebih sistematis.</p>
      <p id="_paragraph-54">Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan Kompetensi guru tidak dapat dilakukan secara spontan, tetapi membutuhkan rancangan pendekatan yang benar benar sesuai denga kebutuhan lapangan. Pendekatan pedagogis yang diterapkan sebaiknya memberi ruang bagi pengembangan kemampuan bagi setiap guru, sekaligus memperkuat sistem manajemen sekolah dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan praktik pendidikan yang terus berkembang. Dalam konteks tersebut, pemanfaatan strategi SWOT dapat menjadi instrumen yang efektif bagi sekolah untuk memajukan mutu pembelajaran serta mengarahkan implementasi kurikulum merdeka secara lebih optimal dan bertahap.</p>
      <p id="_paragraph-55">
        <bold id="bold-66804cefaec7c6f5890de2e64a864c58">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-56">Alhamdulillāhirabbil ‘ālamīn, puji syukur ke hadirat Allah Azza wa Jalla atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik dan memperoleh hasil yang memuaskan. Penyusunan tesis ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pimpinan SMA Islam Terpadu Ar Rahmah Lumajang atas izin, kepercayaan, dan dukungan yang diberikan selama proses penelitian berlangsung.</p>
      <p id="_paragraph-57">Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh dewan guru dan tenaga kependidikan SMAIT Ar Rahmah Lumajang atas kerja sama, keterbukaan, serta kesediaan memberikan data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini. Semoga segala bantuan dan kebaikan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari Allah SWT, dan tesis ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta peningkatan mutu pendidikan, khususnya pendidikan Islam terpadu.</p>
      <p id="_paragraph-58">Referensi</p>
      <p id="_paragraph-59">[1] F. Khalil and I. Rindaningsih, Pentingnya Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia terhadap Kompetensi Karyawan pada Yayasan Minhajussunnah Surabaya, Society, vol. 13, no. 2, 2023. DOI: 10.20414/society.v13i2.6669.</p>
      <p id="_paragraph-60">[2] Y. R. Simatupang, Efektivitas Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Guru Berbasis Kompetensi di BBPPMPV BBL Kemendikbudristek, Jurnal Manajemen Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi (JMP-DMT), vol. 4, no. 1, pp. 78–87, 2023.</p>
      <p id="_paragraph-61">[3] Y. Indarta et al., Peranan Model Pembelajaran Inovatif Bidang Pendidikan Teknologi Kejuruan: Studi Literatur, Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 4, no. 4, pp. 5762–5772, 2022. DOI: 10.31004/edukatif.v4i4.2721.</p>
      <p id="_paragraph-62">[4] A. S. Nugroho, S. Suryanti, and W. Wiryanto, Peningkatan Kualitas Guru Sebanding dengan Peningkatan Pendidikan?, J. Basicedu, vol. 6, no. 5, pp. 7758–7767, 2022. DOI: 10.31004/basicedu.v6i5.3354.</p>
      <p id="_paragraph-63">[5] A. Matatiana, Implementasi Perencanaan Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran PAI di SMA Negeri 74 Jakarta, Cendekia Inovatif dan Berbudaya, vol. 1, no. 4, pp. 374–381, 2024. DOI: 10.59996/cendib.v1i4.514.</p>
      <p id="_paragraph-64">[6] M. S. Humam and M. Hanif, Strategi Pembelajaran Aktif dalam Meningkatkan Keterampilan Kritikal Siswa di Era Modern, vol. 3, 2025.</p>
      <p id="_paragraph-65">[7] N. Nurdyansyah, Media Pembelajaran Inovatif, Media Pembelajaran Inovasi, vol. 4, no. 4, 2019. DOI: 10.21070/2019/978-602-5914-71-3.</p>
      <p id="_paragraph-66">[8] R. Afriani et al., Strategi Meningkatkan Mutu Tenaga Pendidik dan Kependidikan di SMP Patra Dharma 2 Balikpapan: Kajian Analisis SWOT, J. Ilmu Manajemen dan Pendidikan, vol. 2, no. 2, pp. 57–64, 2022. DOI: 10.30872/jimpian.v2i2.2338.</p>
      <p id="_paragraph-67">[9] R. Susiloningtyas, H. Haryono, and E. Suharini, Strategi Peningkatan Mutu Sekolah Menggunakan Analisis SWOT, Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana, pp. 673–680, 2023.</p>
      <p id="_paragraph-68">[10] Zulkarnain et al., Perencanaan Strategis melalui Analisis SWOT untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Madrasah, Leadership: Jurnal Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam, vol. 5, no. 2, pp. 147–159, 2024.</p>
      <p id="_paragraph-69">[11] J. Suarlin, Analisis SWOT dalam Peningkatkan Mutu Sekolah, TIN: Terapan Informatika Nusantara, vol. 3, no. 7, pp. 267–272, 2022. DOI: 10.47065/tin.v3i7.4122.</p>
      <p id="_paragraph-70">[12] W. Karsiwan et al., Professional Competency Gap Analysis Teacher in Professional Development, Proc. Paris Van Java Int. Seminar (PVJ-ISHESSH), vol. 535, pp. 140–143, 2021. DOI: 10.2991/assehr.k.210304.031.</p>
      <p id="_paragraph-71">[13] E. Purwanto and I. Rindaningsih, Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Komitmen dan Kompetensi Guru, PERISAI: Jurnal Pendidikan dan Riset Ilmu Sains, vol. 2, no. 2, pp. 248–256, 2023. DOI: 10.32672/perisai.v2i2.155.</p>
      <p id="_paragraph-72">[14] M. Hasbi, Kompetensi Guru dan Problematikanya: Studi Kasus di SMP Negeri 1 Sumalata, J. Pendidikan Islam, vol. 5, no. 2, pp. 1–5, 2022.</p>
      <p id="_paragraph-73">[15] E. Norman et al., SWOT Analysis as a Strategy for Madrasah Principals in Realizing Academic Madrasah, Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 6, no. 1, pp. 520–530, 2022. DOI: 10.33650/al-tanzim.v6i2.3506.</p>
      <p id="_paragraph-74">[16] A. U. Hasanah, S. Ratnaningsih, and I. Purwanto, Manajemen Mutu Pendidikan melalui Analisis SWOT, vol. 7, no. 1, pp. 2634–2641, 2024.</p>
      <p id="_paragraph-75">[17] N. K. Valentiara and A. M. Fitri, Strategi Perencanaan dalam Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan di SMPN 40 Surabaya, Tsaqofah, vol. 4, no. 3, pp. 1570–1580, 2024. DOI: 10.58578/tsaqofah.v4i3.2913.</p>
      <p id="_paragraph-76">[18] E. Ermianto, Pengaruh Evaluasi Kompetensi Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa, Neraca: Jurnal Pendidikan Ekonomi, vol. 7, no. 2, pp. 29–39, 2022. DOI: 10.33084/neraca.v7i2.3560.</p>
      <p id="_paragraph-77">[19] K. Anjarrini and I. Rindaningsih, Peran Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Sekolah sebagai Unggulan, Manazhim, vol. 4, no. 2, pp. 452–474, 2022. DOI: 10.36088/manazhim.v4i2.1952.</p>
      <p id="_paragraph-78">[20] A. Warits, Analisis Daya Saing dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan, Jurnal Kajian dan Riset Pendidikan Islam, vol. 1, pp. 98–109, 2023. [Online]. Available: https://ejournal.staika.ac.id/index.php/lentera/article/view/54</p>
      <p id="_paragraph-79">[21] O. Manan et al., Analisis SWOT untuk Meningkatkan Daya Saing pada SMA IT Nurul ‘Ilmi Jambi, Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, vol. 9, no. 5, pp. 3073–3081, 2023.</p>
      <p id="_paragraph-80">[22] Ardiansyah, Risnita, and M. S. Jailani, Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian Ilmiah pada Pendekatan Kualitatif-Kuantitatif, J. Ihsan: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 1, no. 2, pp. 1–9, 2023. DOI: 10.61104/ihsan.v1i2.57.</p>
      <p id="_paragraph-81">[23] R. Development et al., e-Book Metlit Kuali-Kuanti-R&amp;D–UPB, 2023.</p>
      <p id="_paragraph-82">[24] M. A. Thalib, Pelatihan Analisis Data Model Miles dan Huberman untuk Riset Akuntansi Budaya, Madani: Jurnal Pengabdian Ilmiah, vol. 5, no. 1, pp. 23–33, 2022. DOI: 10.30603/md.v5i1.2581.</p>
      <p id="_paragraph-83">[25] J. Mackiewicz, A Mixed-Method Approach, 2018. DOI: 10.4324/9780429469237-3.</p>
      <p id="_paragraph-84">[26] M. F. Fernadi, Profesionalisme Guru PAI dalam Proses Pembelajaran di SMK Muhammadiyah 2 Palembang, vol. 2, no. 2, pp. 403–411, 2023.</p>
      <p id="_paragraph-85">[27] U. Islam et al., Pengembangan Kapasitas Sekolah Berbasis Pesantren: Studi Kasus SMA Andalusia dan SMA YA BAKII, 2025.</p>
      <p id="_paragraph-86">[28] P. A. Tafsir, Modernisasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, vol. 6, no. 2, 2022.</p>
      <p id="_paragraph-87">[29] T. Dan and U. Pemecahannya, Peningkatan Kualitas Guru di Indonesia, J. Manajemen Pendidikan dan Keislaman, pp. 166–176, 2005.</p>
      <p id="_paragraph-88">[30] H. Munir, R. Novita, and P. Pendidikan, Guru, vol. 6, pp. 4404–4413, 2023.</p>
      <p id="_paragraph-89">[31] K. M. Anugraha and R. Fauziyah, Teacher Development Program to Enhance the Effectiveness of Technology-Based Learning, vol. 13, no. 1, pp. 34–42, 2025.</p>
      <p id="_paragraph-90">[32] R. R. Satriya et al., Manajemen SDM Berbasis Teknologi sebagai Strategi Peningkatan Kompetensi Guru, 2024.</p>
      <p id="_paragraph-91">[33] R. Rukaeni, E. F. Fahyuni, and I. Rindaningsih, Marketing Strategy for Educational Institutions during the COVID-19 Pandemic, 2022. DOI: 10.18502/kss.v7i10.11225.</p>
      <p id="_paragraph-92">[34] I. Penulis and S. Tengah, Dampak Pengembangan Profesional Guru: Mengukur Efektivitas Jangka Panjang, pp. 97–104, 2021.</p>
      <p id="_paragraph-93">[35] S. K. Amemasor and S. O. Oppong, Digital Professional Development and Learning Communities in School Digital Preparedness, pp. 1–25, 2025. DOI: 10.1371/journal.pone.0328883.</p>
      <p id="_paragraph-94">[36] K. Kusmanto et al., Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, Jendela PLS, vol. 8, no. 2, pp. 173–181, 2023. DOI: 10.37058/jpls.v8i2.7970.</p>
      <p id="_paragraph-95">[37] A. A. Setiawan, Analisis Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen SDM, vol. 1, no. 2, pp. 294–304, 2022.</p>
      <p id="_paragraph-96">[38] V. N. Juni et al., Strategi Pengembangan Lembaga Pendidikan melalui Analisis SWOT, 2025.</p>
      <p id="_paragraph-97">[39] M. Pendidikan et al., Manajemen Strategik Berbasis SWOT dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di MTsN 3 Tulungagung, vol. 6, no. 1, pp. 17–24, 2023.</p>
      <p id="_paragraph-98">[40] D. P. Nabilla et al., Optimalisasi Pelatihan dan Pengembangan SDM di Dunia Pendidikan, vol. 16, pp. 37–45, 2020.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
