<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>The Role of Principals in Academic Supervision to Improve Teacher Performance and Pedagogical Competence</article-title>
        <subtitle>Peran Kepala Sekolah dalam Supervisi Akademik untuk Meningkatkan Kinerja dan Kompetensi Pedagogik Guru</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Rahman</surname>
            <given-names>Affandi</given-names>
          </name>
          <email>chackaffan@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Puji Astutik</surname>
            <given-names>Anita</given-names>
          </name>
          <email>anitapujiastutik@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution/>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-01-13">
          <day>13</day>
          <month>01</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>02</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>I. Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Pendidikan merupakan pondasi awal kehidupan dalam pembinaan, pengarahan, pengembangan, dan pembelajaran untuk membangun potensi diri dan membentuk perkembangan positif bagi setiap individu [1]. Pendidikan adalah upaya yang dilakukan oleh lembaga terhadap siswanya untuk memiliki kemampuan yang baik dan kesadaran penuh tentang hubungan dan masalah sosial [2]. Pendidikan yang berkualitas sangat berperan penting untuk mengembangkan potensi diri individu dan meningkatkan kualitas hidupnya [3]. Pendidikan dapat dilaksanakan dengan baik, memiliki tujuan yang sejalan, isi kurikulum yang sesuai, serta efektif dan efisien metode atau cara implementasinya apabila mengacu pada landasan yang kukuh [4]. hal ini sejalan dengan konsep manajemen strategis dalam pendidikan, yang menekankan pentingnya perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi secara berkelanjutan agar sistem pendidikan tetap relevan dan efektif [5]. Keberhasilan pendidikan di setiap sekolah tidak terlepas dari peran pengawas, kepala sekolah, dan juga guru.</p>
      <p id="_paragraph-13">Kualitas pendidikan tidak terlepas dari keandalan kepala sekolah sebagai pemimpin dan supervisor dalam meningkatkan mutu di sekolahnya. Kepala sekolah memiliki tanggung jawab dan kewenangan dalam setiap mengambil keputusan yang berkaitan dengan kebijakan pengelolaan disekolah [6]. Sebagai supervisor kepala sekolah berkewajiban untuk senantiasa memberikan perhatian, pelayanan dan bimbingan terhadap kemampuan seorang guru dalam menjalankan tugasnya dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan demikian, kepala sekolah memiliki keterampilan dan kemampuan untuk merencanakan, melaksanakan, dan menindaklanjuti hasil supervisi dalam upaya meningkatkan kualitas kinerja dan kompetensi guru.</p>
      <p id="_paragraph-14">Supervisi merupakan suatu usaha yang melibatkan antara bawahan dan pengawas yang bekerja sama untuk membantu siswa dan pendidik lainnya melakukan pekerjaan mereka dengan baik [7]. Kepala sekolah sebagai pengawas harus melaksanakan tanggung jawab utama mereka sebagai manajer atau pengelola di sekolah untuk meningkatkan proses pembelajaran, membina dan memberikan kritik dan saran positif kepada guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan guru mereka sendiri [8]. Semua bantuan yang diberikan oleh para pemimpin sekolah kepada guru dan staf sekolah lainnya untuk membantu mereka mencapai tujuan pendidikan dikenal sebagai supervisi. Dengan demikian, supervisi pendidikan,yaitu semua arahan yang diberikan oleh pengawas kepada guru untuk menilai kinerja siswa dan menemukan cara yang tepat untuk memperbaiki kinerja mereka dalam memenuhi tujuan pembelajaran.</p>
      <p id="_paragraph-15">Supervisi pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam memastikan bahwa sistem pendidikan berjalan secara efektif dan berkualitas. Supervisi pendidikan merupakan bagian dari manajemen pendidikan yang berfokus pada pembinaan, pemantauan, serta evaluasi terhadap proses pembelajaran guna meningkatkan profesionalisme pendidik dan mutu pendidikan secara keseluruhan. Di dalam Peraturan Pemerintah No.19 tahun 2005 Pasal 57 mengklasifikan supervisi terdiri dari 2 bagian yaitu supervisi akademik dan supervisi manajerial. Supervisi akademik dan supervisi manajerial memiliki perbedaan, yaitu yang dapat ditinjau dari mampu melakukan pembinaan kepala sekolah dan staf dalam meningkatkan kinerja sekolah merupakan supervisi manajerial. Sedangkan supervisi akademik, mampu melakukan pembinaan terhadap guru dalam meningkatkan kualitas pembelajarannya [9].</p>
      <p id="_paragraph-16">Dalam hal ini, supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan dalam membantu guru mengembangkan kompetensinya demi terwujudnya tujuan pembelajaran. Sebagaimana ditegaskan Glickman menyatakan bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan untuk membantu guru dalam mengembangkan kemampuannya dalam proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pengajaran [10]. Supervisi akademik merupakan hal terpenting untuk meningkatkan mutu pembelajaran melalui tenaga pendidik yang kompeten [11]. Supervisi akademik merupakan tugas dari kepala sekolah yang diperuntukkan kepada guru sebagai bentuk pembinaan serta memberikan bantuan profesional untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional, yang akan berdampak pada peningkatan kinerja guru di sekolah [12]. Kegiatan pengawasan yang diaplikasikan meliputi observasi, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Seyogyanya jika kegiatan supervisi akademik menjadi sebuah kebutuhan bagi guru dalam meningkatkan kemampuan kompetensinya.</p>
      <p id="_paragraph-17">Guru merupakan figur sentral dalam pendidikan sekolah. Guru merupakan salah satu faktor sumber daya manusia yang menentukan kualitas pendidikan di sekolah. Kinerja guru yang kurang baik dapat berdampak pada kualitas pendidikannya dan bisa menjadi salah satu faktor internal dalam pencapaian tujuan pendidikan lembaga sekolahnya. Dengan kondisi seperti itu tentu akan berdampak pada output menciptakan lulusan yang mampu berdaya saing global [13]. Kinerja guru merupakan gambaran dari nilai, sikap, pengetahuan, serta keterampilan guru dalam menjalankan tugas dan fungsinya yang diorientasikan dalam perbuatan, penampilan, dan prestasi kerjanya [14]. Bahwa kinerja guru merupakan suatu kondisi yang menampilkan kemampuan dan perbuatan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah serta menggambarkan aktivitas guru selama proses kegiatan pembelajaran. Kinerja guru yang dimaksud Supardi mencakup aktivitas perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar dan pengembangan profesional [15].</p>
      <p id="_paragraph-18">Kinerja guru tentunya memiliki dampak yang sangat menentukan bagi mutu pendidikan ataupun dalam kualitas pembelajarannya. Adakalanya faktor tersebut berasal dari internal guru itu sendiri yaitu kurangnya motivasi kerja, wawasan, dan juga pengalaman. Adapun faktor dari luar yang mempengaruhi kondisi kinerja guru seperti pimpinan rekan kerja, dan lingkungan disekitarnya. Lingkungan kerja yang nyaman seperti rekan kerja yang mendukung tentu sangat mempengaruhi semangat kerja guru dan kepala sekolah sebagai motivator sangat berpengaruh dalam memberikan dukungan kepada guru [16]. Begitu juga sebaliknya lingkungan kerja yang tidak baik tentu sangat mempengaruhi kinerja guru dalam menjalankan tugasnya. Dengan demikian, kinerja optimal seorang guru tidak dapat dipisahkan dari peran strategis yang dijalankan oleh kepala sekolah dalam membimbing, memberikan motivasi, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman untuk mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi sekolah.</p>
      <p id="_paragraph-19">Maka demikian setidaknya ada empat faktor yang mempengaruhi kinerja guru yaitu motivasi kerja, kemampuan diri, kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja [17]. Guru merupakan seorang yang berkompeten memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengajar, dan membimbing siswa dalam proses belajar mengajar. Upaya untuk meningkatkan kinerja guru tidak terlepas dari kompetensi guru yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan Guru sebagai suatu profesi harus bekerja secara profesional dalam menjalankan tugasnya yaitu mengajar dengan baik [18]. Maka mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas dan kompetensi guru. Mengacu pada ketentuan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi guru terdiri dari empat komponen, antara lain kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian dan sosial, sehingga guru dituntut untuk memiliki dan menguasai kompetensi tersebut [19]. </p>
      <p id="_paragraph-20">Dalam kompetensi pedagogik, terdapat tujuh aspek indikator yang berkaitan dengan penguasaan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Ketujuh aspek tersebut meliputi: pemahaman terhadap karakteristik siswa, penguasaan teori belajar serta prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, pengembangan kurikulum, pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang mendidik, pengembangan potensi peserta didik, kemampuan berkomunikasi dengan peserta didik, dan pelaksanaan penilaian serta evaluasi pembelajaran. Setiap aspek memiliki indikator yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, seorang guru perlu menguasai dan mengimplementasikan ketujuh aspek tersebut di lingkungan sekolah agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal [20]. Kompetensi pedagogik memiliki peranan yang sangat penting bagi seorang guru, terutama dalam memahami karakteristik peserta didik, mengelola, merancang, melaksanakan, mengevaluasi, serta menindaklanjuti proses pembelajaran, sekaligus mengembangkan potensi peserta didik secara efektif dan maksimal [19]. </p>
      <p id="_paragraph-21">Realitanya hingga saat ini, banyak guru yang dianggap kurang profesional atau bahkan tidak layak untuk mengajar karena mereka tidak memenuhi standar yang dibutuhkan untuk menjadi guru secara keseluruhan dan belum memenuhi sejumlah standar kualifikasi kompetensi selaku pusat pendidikan [21] dalam Permendiknas No.16 Tahun 2007 diantaranya kompetensi pedagogik, Kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi Kepribadian. Hal ini diperkuat oleh adanya laporan yang dikeluarkan dari Badan Pusat Statistik pada November 2024 pada tahun ajaran 2023-2024 sebanyak 1.620.461 pendidik SD, 715.253 pendidik SMP, 355.147 pendidik SMA dan 339.715 pendidik SMK maka jumlah seluruh guru secara nasional adalah 3.030.576 guru. Sedangkan presentasi guru yang memenuhi kualifikasi menurut provinsi dan jenjang pendidikan tahun ajaran 2023-2024 berdasarkan Pusdatin Kemendikbud Ristek yaitu jenjang SD dengan kualifikasi guru 96.85%, SMP dengan kualifikasi guru 98.64%, SMA dengan kualifikasi guru 98.79, SMK dengan kualifikasi guru 96.75 yang artinya masih terdapat 293.057 guru yang belum memenuhi kualifikasi layak mengajar.</p>
      <p id="_paragraph-22">Berdasarkan temuan tersebut, kompetensi guru harus ditingkatkan, baik yang dinyatakan memiliki kualifikasi mengajar atau yang tidak. Upaya dalam meningkatkan kualifikasi standar tersebut yaitu dengan pengoptimalan pelaksanaan supervisi pendidikan di sekolah. Penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa Supervisi pendidikan yang diterapkan dengan baik dapat membantu mengembangkan kompetensi guru. Hal ini ditemukan fakta dilapangan oleh pengamat yaitu penguasaan materi dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran oleh guru mengalami perkembangan [22]. Berdasarkan studi lain, proses supervisi akademik terdiri dari tiga tahap utama, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pelaporan. Keberhasilan dari proses tersebut sangat bergantung pada motivasi tinggi dari para guru, pengalaman serta kompetensi dari pengawas, serta adanya dukungan yang cukup dari pihak sekolah atau lembaga terkait untuk pelaksanaan supervisi pembelajaran. Meskipun demikian, pelaksanaan supervisi menghadapi berbagai hambatan, seperti kurangnya ketersediaan perangkat pembelajaran yang memadai, kesulitan yang dialami guru dalam bertransisi dari metode pengajaran konvensional ke pendekatan yang lebih inovatif, terbatasnya akses terhadap media pembelajaran modern, serta kurangnya semangat dan motivasi dari guru dalam upaya mengembangkan potensi siswa secara maksimal. Selain itu, tantangan lain mencakup adanya resistensi terhadap perubahan dan keterbatasan waktu yang dimiliki guru maupun pengawas untuk melakukan supervisi secara efektif. Meskipun supervisi dinilai baik, dampaknya terhadap kompetensi guru MAN 2 Pangandaran masih kurang optimal karena kepala sekolah terikat pada jadwal supervisi dari Kemenag, sehingga sulit membuat inovasi dalam pelaksanaannya [23].</p>
      <p id="_paragraph-23">Selanjutnya pada penelitian lainnya juga menjelaskan penerapan supervisi guru SD di Kabupaten Kutai Kartanegara memberikan kontribusi pada peningkatan praktik pengajaran konstruktif yang membantu mereka memahami aspek pengajaran yang efektif, efektivitas pengelolaan kelas lebih baik dengan teknik baru yang lebih adaptif dan memberikan pengembangan profesional berkelanjutan dalam pembelajaran terus-menerus [24]. Pada penelitian lain mengenai pelaksanaan supervisi kepala sekolah memberikan dampak yang begitu penting ketika supervisor melakukan beberapa teknik seperti observasi kelas dan kunjungan kelas untuk memberikan umpan balik, pembinaan dengan percakapan pribadi kepada guru, dan mengadakan kegiatan workshop untuk sebagai bahan refleksi dalam membantu merumuskan solusi pada guru. Secara keseluruhan implementasi supervisi akademik yang sudah dilakukan berkontribusi pada peningkatan kinerja guru di SDIT Ya Bunayya Pujon [25]. </p>
      <p id="_paragraph-24">SD Muhammadiyah I Gempol merupakan salah satu sekolah swasta Islam dalam menjalankan tugasnya yaitu kepala sekolah sebagai supervisor, dapat melaksanakan fungsinya untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh seorang guru [26]. Peran kepala sekolah sebagai pemimpin sangat menentukan keberhasilan dalam melaksanakan supervisi  artinya seorang supervisor mampu untuk membimbing dan mengoptimalkan kinerja guru agar dapat menjalankan tugasnya secara efektif dan efisien. Kepala sekolah sebagai supervisor berusaha sepenuhnya menjalankan fungsi dan perannya secara maksimal untuk motivasi guru dalam mendapatkan bimbingan sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi dirinya baik dari segi kurangnya komponen administrasi pembelajaran, kemampuan dalam mengelola kelas, keterampilan dalam merencanakan pembelajaran,  melaksanakan pengajaran dan menilai hasil belajar dengan tepat.</p>
      <p id="_paragraph-25">Dalam konteks ini, pendidikan sekolah swasta Islam memiliki tantangan tersendiri khususnya di lembaga pendidikan Islam SD Muhammadiyah I Gempol, maka harus mampu meningkatkan kualitas dan mutu pendidikannya. Salah satu upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas kinerja dan kompetensi guru adalah dengan melaksanakan supervisi dan pengawasan dengan formulasi yang tepat. Supervisi yang dilaksanakan secara terencana dan berkelanjutan dapat membantu guru dalam memberikan bimbingan dan arahan yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran. Kepala sekolah sebagai pengawas memastikan bahwa setiap guru menjalankan tugasnya sesuai dengan standar profesional yang telah ditetapkan [27]. Selain itu, evaluasi berkala diperlukan untuk mengevaluasi keberhasilan pendekatan yang digunakan dan untuk memberikan umpan balik yang konstruktif. Dengan supervisi dan pengawasan yang tepat, guru diharapkan lebih termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan mereka. Pada akhirnya, hal ini akan berdampak positif pada kualitas pembelajaran siswa. untuk mencapai harapan bersama dengan tujuan pendidikan yang tinggi.</p>
      <p id="_paragraph-26">Pada observasi awal yang dilakukan peneliti di lingkungan sekolah SD Muhammadiyah I Gempol terlihat bahwa kinerja guru masih rendah dalam mendidik siswanya yang dapat berdampak pada kurangnya dalam memahami materi pelajaran dan kompetensi pedagogik guru belum berjalan optimal. Seperti dalam proses pembelajaran, minimnya persiapan guru dalam menyusun atau membuat alur tujuan pembelajaran dan modul ajar. Dan kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kapasitas dan kualitasnya sebagai tenaga pendidik. Dalam hal ini upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja dan kompetensi pedagogik guru tersebut yaitu dengan  menerapkan supervisi akademik di lembaganya. Supervisi yang telah dilakukan kepala sekolah sebagai langkah strategi dalam memberikan pendampingan, pembinaan, evaluasi dan umpan balik yang konstruktif untuk dapat membantu guru dalam mengembangkan kemampuannya.</p>
      <p id="_paragraph-27">Berdasarkan kondisi tersebut, pelaksanaan supervisi akademik di SD Muhammadiyah I Gempol menjadi aspek strategis yang menarik untuk dikaji secara lebih mendalam, khususnya dalam kaitannya dengan peran kepala sekolah sebagai supervisor akademik. Supervisi akademik tidak hanya dipahami sebagai kegiatan pengawasan administratif, tetapi juga sebagai proses pembinaan profesional yang terencana dan berkelanjutan untuk membantu guru meningkatkan kinerja serta kompetensi pedagogiknya. Dalam praktiknya, efektivitas supervisi akademik sangat ditentukan oleh bagaimana kepala sekolah merencanakan, melaksanakan, serta menindaklanjuti hasil supervisi sesuai dengan kebutuhan guru dan konteks pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, penting untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai peran kepala sekolah dalam supervisi akademik untuk meningkatkan kinerja dan kompetensi pedagogik, serta berbagai faktor yang mendukung maupun menghambat proses tersebut. Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai langkah strateigs kepala sekolah dalam supervisi akademik sebagai upaya peningkatan mutu pembelajaran dan kualitas pendidikan di SD Muhammadiyah I Gempol.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>II. Metode</title>
      <p id="_paragraph-28">Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan keadaan atau fenomena-fenomena yang terjadi [28]. Penelitian kualitatif juga sebagai prosedur penelitian yang dilakukan untuk memproduksi data deskriptif berupa perkataan atau perilaku dari subjek penelitian yang diteliti. Penelitian kualitatif yang hasil penelitiannya tidak didapatkan melalui prosedur statistik tetapi melalui pengumpulan data, analisis, kemudian diinterpretasikan [29]. Pendekataan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik. Penelitian ini juga menggambarkan fenomena dan sumber data pada penelitian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi kepala sekolah dan guru. Data sekunder diperoleh dari pihak lain atau yang bersumber dari jurnal, buku atau dokumen. Untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan, peneliti menggunakan teknik purposive sampling yaitu informan yang berasal dari kepala sekolah dan guru yang dianggap relevan sesuai dengan tujuan penelitian [30]. Teknik pengumpulan data merupakan langkah pertama yang digunakan untuk mendapatkan analisis deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. </p>
      <p id="_paragraph-29">Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif yang dilakukan peneliti secara interaktif dan menelaah seluruh data yang terkumpul secara terus menerus sampai tuntas dengan menggunakan model Miles dan Huberman. Ukuran kejenuhan data yang diperoleh yaitu tidak lagi ditemukannya atau diperoleh data atau informan baru [31]. Proses pengumpulan data dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Untuk memastikan validitas dan keabsahan data yang diperoleh, digunakan teknik triangulasi, yang dilakukan dengan menggabungkan hasil wawancara dan diskusi sebagai sumber data. Melalui penerapan triangulasi ini, keakuratan dan kebenaran data dapat teruji secara komprehensif [32].</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>III. Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="heading-3e348adc39ac0133b300a2d926b4839d">
        <bold id="bold-1">A. </bold>
        <bold id="bold-2">Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-30">Program supervisi akademik merupakan program semester yang dilaksanakan satu kali dalam semester. Pelaksanaan supervisi akademik di SD Muhammadiyah I Gempol dilakukan dengan melakukan tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Dalam merencanakan kegiatan supervisi akademik, kepala sekolah melakukan perencanan supervisi yang telah disusun berdasarkan rencana kegiatan sekolah sesuai dengan komponen standar nasional pendidikan [33]. Perencanaan supervisi dilakukan secara sistematis dengan menetapkan tujuan supervisi, melakukan penjadwal kegiatan supervisi terhadap guru yang akan disupervisi, serta instrumen supervisi yang akan digunakan. Selain itu, kepala sekolah menyusun format observasi kelas, jadwal kunjungan, serta menyiapkan bahan diskusi reflektif [34]. </p>
      <p id="_paragraph-31">Pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah SD Muhammadiyah I Gempol sesuai dengan jadwal yang telah disepakati oleh guru pada awal semester genap. Sebelum melakukan supervisi guru diminta untuk mengisi instrumen kesiapan supervisi kemudian dilanjutkan observasi pembelajaran yang dilakukan di kelas serta melihat kesiapan administrasi guru. Sebelum kepala sekolah menilai kinerja dan kompetensi pedagogis guru, maka guru diharuskan untuk menyiapkan segala perangkat pembelajaran yang akan diperiksa dalam supervisi, seperti menyiapkan modul ajar, alur tujuan pembelajaran, penilaian pembelajaran dan metode yang digunakan ketika menyampaikan pembelajaran di kelas. Pelaksanaan supervisi akademik meliputi monitoring pembelajaran administrasi dan mengamati implementasi pembelajaran di kelas. kepala sekolah menggunakan beberapa teknik supervisi antara lain observasi langsung, wawancara pribadi, serta diskusi refleksi [35] [36]. Melalui teknik observasi, kepala sekolah mencermati berbagai aspek pembelajaran seperti keterlibatan siswa, penggunaan media, pendekatan pedagogik, serta pencapaian tujuan pembelajaran. Setelah observasi, dilakukan wawancara atau percakapan pribadi untuk memberikan umpan balik secara konstruktif, dengan pendekatan supervisi klinis bertujuan membantu guru dengan memberikan pembinaan atau mentoring terhadap guru tersebut [37].</p>
      <p id="_paragraph-32">Selama pelaksanaan supervisi akademik, kepala sekolah berperan aktif dalam meningkatkan kinerja guru dan mutu pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas melalui metode observasi langsung dan penilaian terhadap aktivitas pembelajaran. Dalam proses ini, guru menunjukkan dan menyerahkan seluruh perangkat pembelajaran. Observasi langsung dilakukan dengan cara kepala sekolah masuk ke dalam kelas saat proses pembelajaran langsung untuk mengamati secara nyata interaksi antara guru dan siswa [38]. Dalam proses ini, kepala sekolah mencermati beberapa aspek penting seperti keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Penggunaan media dan sumber belajar guru, serta strategi dan pendekatan pedagogik yang digunakan. Setelah observasi selesai dilakukan, kepala sekolah mengadakan wawancara pribadi atau percakapan langsung dengan guru dalam suasana informal dan dialogis. Dalam sesi ini, kepala sekolah menyampaikan temuan-temuan dari hasil observasi, baik yang bersifat apresiatif maupun korektif. Guru juga diberi kesempatan untuk menyampaikan refleksi atau tantangan yang mereka hadapi selama proses pembelajaran. Umpan balik yang diberikan kepala sekolah bersifat konstruktif dan solutif, yaitu tidak sekadar menunjukkan kesalahan, tetapi juga menyarankan langkah-langkah konkret untuk perbaikan.</p>
      <p id="_paragraph-33">Hasil observasi menunjukkan bahwa guru menguasai kompetensi pedagogik dengan baik, terbukti dari kemampuan mengelola kelas secara efektif dan mendorong partisipasi aktif siswa. Mereka juga mampu memahami karakteristik siswa dan menerapkan metode serta media yang sesuai dalam proses pembelajaran.. Guru juga menunjukkan kemampuan dalam merancang evaluasi pembelajaran secara obyektif dan berkelanjutan, serta memanfaatkannya untuk perbaikan proses mengajar. Peran kepala sekolah dalam mensupervisi guru yang mencakup kegiatan mengajar di kelas dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada guru untuk berkembang dan memperoleh keahlian profesional dalam proses hasil pembelajaran [39].</p>
      <p id="_paragraph-34">Setelah kepala sekolah melakukan observasi, umpan balik pembinaan tidak hanya menunjukkan kesalahan tetapi juga menawarkan solusi konkret untuk perbaikan. Kepala sekolah tidak hanya menegur guru yang kurang menggunakan media, tetapi juga memberikan pelatihan singkat atau referensi media yang sesuai. Kepala sekolah dapat menawarkan simulasi atau mengajar guru strategi manajemen kelas aktif dalam kasus manajemen kelas yang buruk. Supervisi yang dilakukan kepala sekolah memberi dampak positif terhadap kualitas penilaian dan cara guru memberikan umpan balik kepada siswa [40]. Sebelum mendapatkan supervisi, guru menganggap bahwa penilaian hanya sebatas memberikan nilai akhir pada hasil belajar siswa. Setelah menjalani proses supervisi, para guru mulai paham manakala penilaian itu harus dilakukan terus-menerus, objektif, dan dipakai sebagai alat untuk membantu siswa supaya belajar lebih baik. Lewat bimbingan selama supervisi, guru juga diajak untuk bikin instrumen penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, sekaligus memberikan masukan yang positif supaya siswa bisa lebih mengerti tentang kemajuan dan hal yang perlu diperbaiki. Dengan demikian, penilaian tidak hanya menjadi alat ukur, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran itu sendiri.</p>
      <p id="_paragraph-35">Pengembangan rencana tindak lanjut yang dilakukan kepala sekolah sebagai dari hasil umpan balik yang telah dirumuskan  dan berfokus pada penguatan dan memberikan saran atau rekomendasi untuk perbaikan. Rencana tindak lanjut yang dilakukan kepala sekolah yaitu dengan melakukan pembinaan berupa mengikutsertakan guru dalam program pelatihan secara berkala dan kegiatan workshop sebagai bentuk peningkatan dalam pembelajarannya di kelas maupun strategi mengajar yang digunakan dan juga kita mengadakan  tutor sebaya dimana guru yang sudah dianggap mampu dalam memberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan yang dirasa kurang berdasarkan dari observasi yang telah dilakukan [41]. Pemantauan ketat diperlukan untuk memastikan bahwa hasil supervisi membantu meningkatkan kualitas pembelajaran guru. Hasil supervisi akan menunjukkan kesalahan guru, yang akan diperbaiki dengan program pelatihan. Pelatihan ini mencakup penilaian yang tepat, serta pendekatan dan strategi mengajar. Selain itu, tutor sebaya juga digunakan, guru yang baik dapat membantu siswa yang kekurangan.</p>
      <p id="_paragraph-36">Di SD Muhammadiyah I Gempol, supervisi dilakukan sebagai bentuk dukungan dan bimbingan tambahan serta sebagai salah satu program kepala sekolah sebagai pengawas untuk meningkatkan keterampilan dan pengajaran siswa. Tujuannya adalah untuk membantu guru meningkatkan kualitas pengajaran melalui pembinaan yang terarah dan dukungan berkelanjutan untuk perkembangan profesional. Melalui supervisi, guru didorong untuk merenungkan praktik mengajar mereka, memperbaiki kelemahan mereka, mengoptimalkan kemampuan mereka, dan mengembangkan keterampilan profesional yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Meskipun supervisi akademik dalam penerapannya tujuannya bukan mencari kesalahan guru dalam praktiknya melainkan sebagai identifikasi kelemahan dalam pengajaran.  Dan pendekatan yang dilakukan harus bersifat konstruktif dengan tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan mendukung kinerja profesional guru. </p>
      <p id="paragraph-d94f8e87aaaeb5b1a2e35cdea46370d0">
        <bold id="bold-def886a9e6ddfc7bc0f9653ef2a24451">B. </bold>
        <bold id="bold-2d5120a87d5a8058cbebe132be306333">Peran Kepala Sekolah dalam Supervisi Akademik untuk Meningkatkan Kinerja dan Kompetensi Pedagogik Guru</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-37">Guru merupakan bagian penting dalam memahami bagaimana proses pembinaan dan pengawasan akademik dijalankan di lingkungan sekolah. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berlangsung dengan baik. Perencanaan supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala SD Muhammadiyah I Gempol merupakan langkah awal yang digunakan dalam meningkatkan kinerja guru. Kepala sekolah mengatakan bahwa kegiatan perencanaan awal yang dilakukan untuk menentukan jadwal pelaksanaan supervisi dan bertujuan agar guru dapat mempersiapkan dokumen ketika kegiatan supervisi. Supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah merupakan kegiatan yang dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas akademik di satuan pendidikan untuk membantu guru melakukan tugas mereka dengan lebih profesional [42].</p>
      <p id="_paragraph-38">Supervisi kepala sekolah merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Dalam prakteknya supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah SD Muhammadiyah I Gempol dengan melakukan observasi langsung di kelas. Kepala sekolah perlu terlibat langsung untuk dapat merumuskan umpan balik dan rencana tindak lanjut sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja guru. Observasi kelas yang dilakukan kepala sekolah bertujuan untuk memantau dan melakukan penilaian secara langsung terhadap performa guru yang hendak di supervisi sehingga memperoleh data yang objektif. kemudian memberikan hasil dan umpan balik terhadap guru tersebut sehingga kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan. Supervisi kepala sekolah adalah bagian penting dari meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Kepala sekolah juga dapat memainkan peran penting dalam mendukung guru dalam pekerjaan mereka. </p>
      <p id="_paragraph-39">Upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru di SD Muhammadiyah I Gempol dengan mengikutsertakan guru dalam kegiatan pelatihan, membangun kesadaran dan kepercayaan dengan komunikasi terbuka dengan guru sehingga kinerja guru yang dilakukan dapat memberikan mendorong perbaikan pada aspek perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar dan pengembangan profesional. Seperti yang dikemukakan Supardi bahwa kinerja guru adalah suatu kondisi yang menggambarkan kemampuan dan perbuatan guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah serta aktivitas guru selama proses pembelajaran [43]. Hasil yang diperoleh dari wawancara beberapa guru setelah dilaksanakannya supervisi dalam menyusun, melaksanakan, dan penilaian hasil belajar dapat dilakukan dengan pemahaman yang lebih baik dan lebih percaya diri sesuai dengan kebutuhan siswa. Supervisi yang dilakukan kepala sekolah memberikan dampak positif terhadap guru, diantaranya dari hasil penelitian yaitu guru terbantu sehingga dapat memberikan gambaran secara menyeluruh dalam menyusun instrumen pembelajaran sehingga kegiatan proses belajar mengajar berjalan dengan baik [44]. </p>
      <p id="_paragraph-40">Kepala sekolah sebagai mitra atau rekan kerja perlu bersikap fleksibel agar dapat memberikan pengaruh yang positif kepada seluruh warga sekolah, terutama pada guru. konteks supervisi akademik, fleksibilitas tersebut terlihat melalui kemampuan kepala sekolah menyesuaikan pendekatan supervisi dengan kebutuhan masing-masing guru, memberikan umpan balik yang konstruktif, serta memfasilitasi berbagai program peningkatan kompetensi seperti . Temuan penelitian menunjukkan bahwa melalui supervisi yang terencana, berkelanjutan, dan dialogis, kepala sekolah mampu mendorong peningkatan kompetensi pedagogik guru, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas proses pembelajaran di sekolah.</p>
      <p id="_paragraph-41">Perencanaan, Pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada aspek teknis pelaksanaan supervisi, tetapi juga menekankan pentingnya partisipasi guru melalui sosialisasi awal. Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah telah menerapkan prinsip kolaboratif dalam kepemimpinan akademiknya, sehingga proses supervisi tidak dipandang sebagai kontrol sepihak, tetapi sebagai upaya bersama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Temuan ini sejalan dengan penemuan sebelumnya yang menyatakan bahwa supervisi yang efektif harus didahului dengan perencanaan yang matang dan realistis, termasuk menetapkan tujuan yang jelas, menyusun jadwal yang fleksibel, dan menyiapkan instrumen yang relevan. Perencanaan supervisi yang baik merupakan fondasi untuk menciptakan proses supervisi yang bermakna, terukur, dan dapat ditindaklanjuti secara konkret [45]. Hal ini juga didukung teori Glickman, Gordon, dan Ross-Gordon (2007) dalam konsep Instructional Supervision juga menekankan pentingnya tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam supervisi klinis. Menurut mereka, perencanaan yang rinci akan membantu menciptakan hubungan profesional yang sehat antara supervisor dan guru, serta memungkinkan proses observasi dan umpan balik berjalan secara objektif dan fokus.</p>
      <p id="_paragraph-42">Peran kepala sekolah dalam supervisi akademik di SD Muhammadiyah I Gempol tidak hanya berfokus pada pengawasan administratif, tetapi lebih diarahkan pada pembinaan profesional guru secara berkelanjutan. Melalui supervisi akademik yang terencana, dialogis, dan berorientasi pada perbaikan, kepala sekolah berperan sebagai pembimbing, motivator, serta evaluator dalam meningkatkan kinerja dan kompetensi pedagogik guru [46]. Dampak supervisi tersebut tercermin dalam peningkatan penguasaan kompetensi pedagogik guru yang meliputi tujuh indikator utama sebagaimana diatur dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, yang dijabarkan sebagai berikut.</p>
      <p id="paragraph-e9ba6e7125f6560e63bbcd0f87d9c580">
        <italic id="italic-1">
          <bold id="bold-cacc685c71c917bb9c0794593059a0d8">1. </bold>
        </italic>
        <italic id="italic-2">
          <bold id="bold-ec6a2bcd3eb2d3105726fc351135cf39">Pemahaman Terhadap Karakteristik Peserta Didik</bold>
        </italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-43">Supervisi Melalui supervisi akademik, kepala sekolah mendorong guru untuk lebih memahami karakteristik peserta didik, baik dari aspek kemampuan kognitif, latar belakang sosial, maupun gaya belajar. Dalam proses observasi kelas dan diskusi reflektif, kepala sekolah memberikan arahan agar guru tidak menyamaratakan perlakuan pembelajaran, melainkan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa. Hasil supervisi menunjukkan bahwa guru menjadi lebih peka terhadap perbedaan kemampuan dan minat siswa, sehingga mampu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih inklusif dan partisipatif. Pemahaman karakteristik peserta didik ini berkontribusi langsung pada peningkatan efektivitas pembelajaran dan kinerja guru di kelas.</p>
      <p id="paragraph-9db29f61939768617a6a5be572d7c61d">
        <bold id="bold-af086178e58cfb8e4d04069a672fbef3">2. </bold>
        <italic id="italic-f5e41b7eb9b02c0bb6c4d9b6dd3ffec0">
          <bold id="bold-98c890f831c5efcaa67a29acd18614c8">Penguasaan Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mendidik</bold>
        </italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-44">Selain itu, Peran kepala sekolah melalui supervisi akademik juga tampak dalam penguatan penguasaan teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik. Kepala sekolah memberikan masukan kepada guru terkait penerapan metode pembelajaran yang variatif dan kontekstual, seperti pembelajaran dengan pendekatan inkuiri, pendekatan kontruktivisme atau pembelajaran aktif, pembelajaran berbasis permainan, dan pemanfaatan media digital. Melalui umpan balik hasil supervisi, guru diarahkan untuk merefleksikan metode yang digunakan dan menyesuaikannya dengan tujuan pembelajaran. Dampaknya, guru menjadi lebih kreatif dalam mengelola proses pembelajaran dan mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif.</p>
      <p id="paragraph-8d9c16ce4eebe286d4a77602459f386a">
        <bold id="bold-edaa59addc33d23c87031acf55613ce4">3.</bold>
        <italic id="italic-834f78034349a4c53651b3ac33933796">
          <bold id="bold-a1c7d866fffc758140b4f5528913f885">Pengembangan Kurikulum</bold>
        </italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-45">Dalam aspek pengembangan kurikulum, supervisi yang dilakukan secara humanis dan dialogis membantu guru dalam menyusun dan mengembangkan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Kepala sekolah memberikan pendampingan dalam penyusunan alur tujuan pembelajaran, modul ajar, serta pemilihan materi yang relevan dengan kebutuhan peserta didik. Supervisi yang dilakukan tidak bersifat menghakimi, melainkan membimbing guru agar mampu mengadaptasi kurikulum secara fleksibel dan kontekstual. Hal ini berdampak pada meningkatnya kualitas perencanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.</p>
      <p id="paragraph-fc471386e664d7862dd0c07aecaace9a">
        <bold id="bold-e00fbba7b20df17a4c79c9bb6568673d">4. </bold>
        <italic id="italic-3747f3578caff5a1a356a2dbfed68a00">
          <bold id="bold-c6f5cae5b4fe1eabbeac862eb0ed6741">Merancang dan Melaksanakan Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik</bold>
        </italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-46">Dalam aspek pengembangan kurikulum, supervisi akademik membantu guru untuk menerapkan pembelajaran yang aktif, partisipatif, dan berpusat pada peserta didik melalui variasi metode, pemanfaatan media pembelajaran, serta pemberian umpan balik yang reflektif. Selain itu, pendekatan kolaboratif dalam supervisi membantu guru merefleksikan praktik pembelajaran dan menyesuaikannya dengan karakteristik serta kebutuhan belajar peserta didik, sehingga pembelajaran menjadi lebih inklusif dan bermakna. Pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan juga mendorong guru menciptakan iklim kelas yang kondusif, aman, dan menyenangkan, serta mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan keislaman dalam proses pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa supervisi akademik kepala sekolah berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran yang mendidik sebagai bagian dari penguatan kompetensi pedagogik guru.</p>
      <p id="paragraph-c2f0da6198a794933999a85ddf725087">
        <bold id="bold-01050593371f76225c8e4c2468bd778f">5. </bold>
        <italic id="italic-c0df8444b6d6839afbd26b6479185e23">
          <bold id="bold-33460dc7f2b7e9733dc66a764ee6d638">Pengembangan Potensi Peserta Didik</bold>
        </italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-47">Peran kepala sekolah dalam supervisi akademik juga terlihat dalam upaya mendorong guru untuk mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Melalui diskusi reflektif, kepala sekolah mengarahkan guru agar tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pengembangan minat dan bakat siswa. Guru didorong untuk memberikan ruang kepada siswa dalam mengikuti kegiatan pengembangan diri dalam rangka meningkatkan potensi peserta didik seperi kegiatan lomba atau olimpiade, maupun kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan potensi masing-masing. Supervisi ini membantu guru memahami bahwa pengembangan potensi peserta didik merupakan bagian integral dari kompetensi pedagogik.</p>
      <p id="paragraph-ccc54113cec495b422aea7a5119ae8b2">
        <italic id="italic-55da297aa8fd3f85fb8e1bfe92a79fea">
          <bold id="bold-9e9dfab4d47ed63f89b674c56d80cc8d">6. </bold>
        </italic>
        <italic id="italic-55a097fcc82e8d05f53678d651b59388">
          <bold id="bold-f7eb4dc9c77c96848e1c599b06cc6668">Membangun Komunikasi yang Efektif</bold>
        </italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-48">Supervisi akademik juga berperan dalam meningkatkan kemampuan guru untuk untuk membangun komunikasi dua arah yang terbuka, empatik, dan menghargai perbedaan, sehingga peserta didik merasa aman dan nyaman dalam menyampaikan pendapat, bertanya, maupun mengemukakan kesulitan belajar yang dihadapi. Kepala sekolah melalui observasi kelas dan umpan balik reflektif membimbing guru agar menggunakan bahasa yang jelas, santun, dan mudah dipahami, serta menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakteristik perkembangan peserta didik. Pendekatan kolaboratif dalam supervisi juga membantu guru merefleksikan efektivitas interaksi verbal dan nonverbal di kelas, termasuk kemampuan mendengarkan secara aktif, memberikan penguatan positif, dan merespons perilaku peserta didik secara proporsional. Dengan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, komunikasi guru dengan peserta didik tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian materi, tetapi juga sebagai media pembentukan hubungan pedagogis yang positif, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap meningkatnya keterlibatan belajar dan kualitas proses pembelajaran.</p>
      <p id="paragraph-7d784d46cd16755d46dd55054a3f994d">
        <bold id="bold-86427383105866056aed3eef37f49b3a">7.</bold>
        <italic id="italic-a381aac88b0afae64a8ddc3670ad6bbd">
          <bold id="bold-2c3401cea6edb9b7822dc82774900b7a">Melakukan Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran</bold>
        </italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-49">Dalam aspek penilaian dan evaluasi, supervisi akademik membantu guru memahami bahwa penilaian tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur hasil belajar, tetapi juga sebagai sarana untuk memperbaiki proses pembelajaran. Kepala sekolah membimbing guru dalam menyusun instrumen penilaian yang objektif, berkelanjutan, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Hasil supervisi menunjukkan bahwa guru mulai menerapkan berbagai bentuk penilaian, seperti penilaian autentik, portofolio, dan refleksi diri siswa. Hal ini menunjukkan peningkatan kompetensi pedagogik guru sekaligus berdampak positif pada kinerja guru dalam melakukan evaluasi pembelajaran.</p>
      <p id="_paragraph-50">Kepala sekolah SD Muhammadiyah I Gempol menegaskan bahwa supervisi bukanlah kegiatan penilaian semata, melainkan proses pembinaan yang berkelanjutan untuk membantu guru berkembang secara profesional. Kepala sekolah percaya bahwa dengan pendampingan yang intensif, komunikasi yang terbuka, dan umpan balik konstruktif, guru dapat terus meningkatkan komitmen mereka untuk meningkatkan pembelajaran di kelas [47]. Berdasarkan hasil analisis terhadap peran kepala sekolah dalam supervisi akademik, ditemukan bahwa praktik supervisi di SD Muhammadiyah I Gempol tidak hanya berfokus pada pengawasan teknis, tetapi berkembang menjadi pendekatan pembinaan profesional yang bersifat humanis dan dialogis, kolaboratif, serta berkelanjutan. Pola supervisi tersebut kemudian dirumuskan dalam sebuah model supervisi akademik yang menggambarkan hubungan antara pendekatan supervisi kepala sekolah dan dampaknya terhadap peningkatan kinerja serta kompetensi pedagogik guru, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.</p>
      <fig id="fig1">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>Gambar 1. Model Peran Kepala Sekolah dalam Supervisi Akademik untuk Meningkatkan Kinerja dan Kompetensi Pedagogik Guru</title>
          <p id="_paragraph-51"/>
        </caption>
        <graphic id="_graphic-1" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image1.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-54">Oleh karena itu, Model Supervisi Akademik Humanis dan dialogis, Kolaboratif, dan Berkelanjutan sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1 menggambarkan bahwa supervisi akademik di SD Muhammadiyah I Gempol dilaksanakan sebagai suatu proses pembinaan profesional guru yang bersifat siklus dan berkesinambungan. Pendekatan humanis dan dialogis tercermin dalam cara kepala sekolah membangun komunikasi dua arah yang terbuka, empatik, dan reflektif saat memberikan umpan balik, sehingga guru tidak memandang supervisi sebagai bentuk penilaian yang menekan, melainkan sebagai sarana pengembangan diri. Selanjutnya, prinsip kolaboratif terlihat dari keterlibatan aktif guru dalam perencanaan supervisi, diskusi hasil observasi, serta pemanfaatan forum Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun tutor sebaya sebagai wadah refleksi dan pembelajaran bersama. Aspek berkelanjutan diwujudkan melalui tindak lanjut supervisi berupa pendampingan, pelatihan, dan monitoring perkembangan guru secara konsisten. Integrasi ketiga pendekatan tersebut berkontribusi secara nyata terhadap peningkatan kinerja guru serta penguatan kompetensi pedagogik guru, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan mutu proses pembelajaran di sekolah.</p>
      <p id="paragraph-7bca99e6be8e242998683d6f62c31dba">
        <bold id="bold-446407db22ddce0fa39c540a2aedc151">C.</bold>
        <bold id="_bold-24">Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam </bold>
        <bold id="_bold-25">Pelaksanaan</bold>
        <bold id="_bold-26">Supervisi Akademik Kepala Sekolah</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-55">Supervisi akademik yang dilaksanakan oleh kepala sekolah tidak terlepas dari beberapa faktor pendukung dan hambatan yang cukup signifikan. Konsep keberhasilan supervisi akademik sangat bergantung pada adanya faktor pendukung yang memadai. Salah satu faktor utama yang mendukung adalah kesiapan instrumen supervisi yang telah disusun secara matang oleh kepala sekolah, Instrumen tersebut meliputi aspek-aspek pengamatan dan penilaian yang relevan untuk mengidentifikasi kekurangan guru secara objektif. Untuk menjamin keberlanjutan program, supervisi harus dilakukan secara rutin dan teratur. Kepala sekolah juga terlibat dalam refleksi dan tindak lanjut hasil supervisi, termasuk memberikan pelatihan dan motivasi kepada guru agar supervisi dilihat sebagai proses perbaikan profesional yang berkelanjutan daripada beban. Dukungan tersebut secara langsung meningkatkan kualitas pengawasan dan hasil yang dicapai, yang meningkatkan kompetensi guru. Pada akhirnya, pembelajaran di sekolah lebih baik.</p>
      <p id="_paragraph-56">Pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah di SD Muhammadiyah I Gempol mengalami beberapa kendala yang perlu diatasi. Salah satunya adalah perubahan jadwal yang terjadi secara mendadak karena adanya tugas penting yang harus segera diselesaikan. Kondisi ini menyebabkan supervisi tidak dapat dilakukan secara konsisten dan berisiko menurunkan efektivitas pelaksanaannya. Selain itu, penyusunan instrumen supervisi juga menjadi tantangan karena memerlukan waktu tambahan agar instrumen tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Hambatan lain yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman dan kesiapan guru dalam menjalani proses supervisi secara optimal, sehingga dibutuhkan motivasi serta pendekatan yang tepat untuk memastikan supervisi berjalan efektif. Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan penjadwalan ulang dan meningkatkan komunikasi agar proses supervisi tetap berlangsung dengan baik dan memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kompetensi guru.</p>
      <p id="_paragraph-57">Kendala lainnya seperti keterbatasan waktu akibat padatnya tugas manajerial dan administratif yang harus dijalankan. Menurut kepala sekolah, meskipun jadwal supervisi telah dirancang, seringkali pelaksanaan harus ditunda karena adanya rapat eksternal atau laporan administrasi yang mendesak. Kondisi ini mengakibatkan proses supervisi yang berkelanjutan menjadi tidak berjalan secara optimal dan pendampingan terhadap guru menjadi kurang konsisten. Beberapa guru juga punya sikap dan kesiapan mental yang belum sepenuhnya mendukung proses supervisi. Jadi, beda dengan pembinaan profesional yang lebih ke arah dukungan, beberapa guru malah melihat supervisi sebagai penilaian atau pengawasan yang menekan. Karena itu, mereka jadi kurang terbuka saat dapat masukan setelah observasi dan merasa tidak nyaman waktu harus refleksi. Kepala sekolah menyarankan supaya pendekatannya dibuat lebih komunikatif dan bersahabat supaya masalah-masalah ini bisa diatasi lebih muda.</p>
      <p id="_paragraph-58">Dalam rangka mengatasi berbagai kendala tersebut, kepala sekolah mengaplikasikan berbagai langkah yang bersifat manusiawi dan bekerja sama. Salah satunya adalah dengan menerapkan pendekatan berbasis dialog saat memberikan umpan balik. Kepala sekolah lebih memilih mengajak guru berdiskusi secara santai dan reflektif, agar suasana komunikasi tetap kondusif dan guru tidak merasa tertekan. Dengan demikian, guru lebih mudah menerima masukan dan termotivasi untuk memperbaiki kinerjanya. Selain itu, kepala sekolah juga mengoptimalkan peran Kelompok Kerja Guru (KKG) sebagai sarana dalam meningkatkan kompetensi guru secara bersama. Hasil supervisi dijadikan bahan refleksi dan melakukan pembelajaran kolektif dalam forum tersebut. Ketika ada guru yang membutuhkan bimbingan berkelanjutan, maka kepala sekolah secara langsung memberikan pendampingan atau menunjuk guru yang sudah dianggap mampu dalam memberikan bimbingan tersebut.</p>
      <p id="_paragraph-59">Strategi lain yang diterapkan adalah penjadwalan supervisi dengan menekankan pada fleksibilitas untuk menunjang keberlangsungan supervisi tersebut. Kepala sekolah selalu melakukan koordinasi dengan guru terkait waktu pelaksanaan supervisi, agar supervisi tidak dirasakan sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari pembelajaran bersama. Selain itu, kepala sekolah bertemu secara pribadi dengan guru yang dianggap membutuhkan instruksi tambahan. Untuk membuat guru nyaman dan tidak tertekan, pendekatan ini diterapkan secara informal, misalnya melalui diskusi kecil di luar kelas. Selain itu, kepala sekolah menetapkan waktu khusus untuk pertemuan pribadi dengan guru yang ingin membahas masalah pembelajaran atau perbaikan perangkat ajar. Dengan strategi-strategi ini, kepala sekolah berusaha untuk meningkatkan kinerja dan kompetensi pedagogik guru secara berkelanjutan..</p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>VII. Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-60">Supervisi akademik yang dilaksanakan oleh kepala sekolah memainkan peran penting dalam meningkatkan kinerja dan kompetensi pedagogik para guru di SD Muhammadiyah I Gempol. Proses ini dilakukan secara terencana, kolaboratif, dan berfokus pada peningkatan mutu pembelajaran melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, serta tindak lanjut yang terstruktur. Kepala sekolah tidak hanya sebagai pengawas melainkan juga sebagai pembimbing dan membina para guru untuk membangun hubungan sportif dan profesional, sekaligus mendukung pengembangan kompetensi pedagogik mereka secara berkelanjutan. Agar supervisi akademik dapat berjalan secara efektif, dibutuhkan perencanaan dan komunikasi yang baik. Pendekatan yang bersifat humanis, dialogis dan kolaboratif, seperti diskusi santai, pelatihan profesional, dan mentoring pribadi atau dengan guru sebaya, telah terbukti meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, dan efektivitas guru dalam proses belajar mengajar. Selain dapat menumbuhkan budaya refleksi dan pembelajaran berkelanjutan di sekolah, supervisi yang inovatif serta konsisten berpotensi meningkatkan kualitas pendidikan secara umum.</p>
      <p id="_paragraph-61">Meskipun pada pelaksanaanya terdapat kendala dan hambatan seperti keterbatasan waktu dan kondisi guru yang masih merasa tertekan, kepala sekolah perlu meningkatkan keahlian mereka dalam mengelola supervisi akademik agar berjalan lebih efektif dan tepat waktu. Agar komunikasi membaik dan kinerja meningkat, guru perlu sadar dan terbuka terhadap supervisi sebagai pembinaan profesional, dengan didukung dari kepala sekolah seperti memberikan pelatihan berkelanjutan untuk inovasi, serta kepala sekolah harus menerapkan pendekatan humanis, dialogis, dan kolaboratif. Lebih jauh, kegiatan supervisi yang bersifat personal dan adaptif harus terus didukung guna menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mengatasi tantangan serta resistensi dari para guru.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-5">
      <title>Ucapan Terima Kasih </title>
      <p id="_paragraph-62">Saya Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen Pembimbing atas bimbingan dan arahan berharga, kepada pihak fakultas/universitas atas fasilitas yang diberikan, kepada responden/partisipan penelitian atas partisipasinya, serta kepada keluarga dan teman-teman atas dukungan moral dan semangat yang tak ternilai, karena tanpa bantuan mereka, karya tulis ilmiah ini tidak akan dapat terselesaikan dengan baik, dan semoga karya ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca</p>
    </sec>
    <sec id="sec-6">
      <title>Referensi</title>
      <p id="_paragraph-63">[1]A. Abdillah and A. Astutik, “Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD,” <italic id="_italic-33">MODELING: Jurnal Program Studi PGMI</italic>, vol. 11, no. 1, Mar. 2024, doi: https://doi.org/10.69896/modeling.v11i1.2497.</p>
      <p id="_paragraph-64">[2]D. Pristiwanti, B. Badariah, S. Hidayat, and R. S. Dewi, “Pengertian pendidikan,” <italic id="_italic-34">Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK)</italic>, vol. 4, no. 6, pp. 7911–7915, 2022, doi: https://doi.org/10.31004/jpdk.v4i6.9498.</p>
      <p id="_paragraph-65">[3]N. O. Safitri and D. Sari, “Peran supervisi pendidikan dalam meningkatkan profesionalisme guru di era digital,” <italic id="_italic-35">Jurnal Media Akademik (JMA)</italic>, vol. 2, no. 6, 2024, doi: 10.62281.</p>
      <p id="_paragraph-66">[4]S. Tatang, <italic id="_italic-36">Supervisi Pendidikan</italic>, Cetakan Ke-2. Bandung: Pustaka Setia, 2022.</p>
      <p id="_paragraph-67">[5]Marno and T. Supriyatno, <italic id="_italic-37">Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam</italic>, Cetakan Ke 2. Bandung: Refika Aditama, 2013.</p>
      <p id="_paragraph-68">[6]J. Jaliah, H. Fitria, and A. Martha, “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Manajemen Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru,” <italic id="_italic-38">Journal of Education Research</italic>, vol. 1, no. 2, pp. 146–153, 2020, doi: https://doi.org/10.37985/joe.v1i2.14.</p>
      <p id="_paragraph-69">[7]P. K. Fauziah and Y. K. Wardani, “SUPERVISI PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU,” <italic id="_italic-39">Jurnal Media Akademik (JMA)</italic>, vol. 2, no. 6, 2024, doi: 10.62281.</p>
      <p id="_paragraph-70">[8]M. L. Hasanah and M. Kristiawan, “Supervisi akademik dan bagaimana kinerja guru,” <italic id="_italic-40">Tadbir: Jurnal Studi Manajemen Pendidikan</italic>, vol. 3, no. 2, pp. 97–112, 2019.</p>
      <p id="_paragraph-71">[9]M. Kristiawan, Y. Yuniarsih, H. Fitria, and N. Refika, “Supervisi pendidikan,” <italic id="_italic-41">Bandung: Alfabeta</italic>, vol. 4, no. 2, pp. 106–113, 2019.</p>
      <p id="_paragraph-72">[10]C. D. Glickman, S. P. Gordon, and J. M. Ross-Gordon, “Supervision and Instructional Leadership A Development Approach,” <italic id="_italic-42">Boston: Perason</italic>, 2007.</p>
      <p id="_paragraph-73">[11]R. Fauzi and Y. Saparudin, <italic id="_italic-43">Supervisi Akademik dan Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru</italic>. Jakarta: Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia, 2021.</p>
      <p id="_paragraph-74">[12]A. Wahyudin, “Penerapan Supervisi Klinis dalam Meningkatkan Kompetensi Pedagogik dan Profesionalitas Guru,” <italic id="_italic-44">Tamadun: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Keagamaan</italic>, vol. 22, no. 1, pp. 27–43, 2021, doi: http://journal.umg.ac.id/index.php/tamaddun.</p>
      <p id="_paragraph-75">[13]I. Khadijah, “The Competency of Science Teachers in Implementation of Online Learning In Covid-19 Pandemic Period at SMPN 2 Kramatwatu Serang,” <italic id="_italic-45">Bulletin of Science Education</italic>, vol. 1, no. 1, pp. 67–79, 2021.</p>
      <p id="_paragraph-76">[14]M. Muspawi, “Strategi Peningkatan Kinerja Guru,” <italic id="_italic-46">Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi</italic>, vol. 21, no. 1, p. 101, Feb. 2021, doi: 10.33087/jiubj.v21i1.1265.</p>
      <p id="_paragraph-77">[15]S. Supardi, “Kinerja Guru: Teori dan Praktik,” 2013.</p>
      <p id="_paragraph-78">[16]R. Damanik, “Hubungan kompetensi guru dengan kinerja guru,” <italic id="_italic-47">Jurnal Serunai Administrasi Pendidikan</italic>, vol. 8, no. 2, 2019, doi: https://doi.org/10.37755/jsap.v8i2.170.</p>
      <p id="_paragraph-79">[17]N. Sudibjo and E. Warbung, “Kinerja Guru dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya,” <italic id="_italic-48">The Asia Pacific Journal of Management Studies</italic>, vol. 8, pp. 59–70, 2021, doi: https://doi.org/10.55171/.v8i2.456.</p>
      <p id="_paragraph-80">[18]S. B. Muslim, <italic id="_italic-49">Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru</italic>. Bandung: Alfabeta, 2013.</p>
      <p id="_paragraph-81">[19]S. Malik, Y. Y. Dharmawan, and H. Anggia, <italic id="_italic-50">Penerapan Kompetensi Pedagogik untuk Pengukuran Kinerja Guru</italic>. Bandar Lampung: AURA, 2018.</p>
      <p id="_paragraph-82">[20]J. Mandasari, E. Waluyo, E. Harista, I. Syaikh, A. Siddik, and B. Belitung, “Implementasi Kompetensi Pedagogik Guru Dalam Mengelola Pembelajaran Di SD Negeri 2 Fajar Indah Kabupaten Bangka Selatan,” <italic id="_italic-51">LENTERNAL : Learning and Teaching Journal</italic>, vol. 1, no. 2, pp. 23–30, 2020, doi: 10.329231270/lenternal.v1i1.1275.</p>
      <p id="_paragraph-83">[21]Tamim Mulloh and Abd. Muslim, “ANALISIS PERAN SUPERVISI PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS GURU,” <italic id="_italic-52">Journal Public Uho</italic>, vol. 5, no. 3, pp. 763–775, Sep. 2022, doi: 10.35817/publicuho.v5i3.29.</p>
      <p id="_paragraph-84">[22]M. Muhammad, “Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Supervisi Pendidikan Di Sdn 017 Seberang Tembilahan,” <italic id="_italic-53">Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar</italic>, vol. 11, no. 1, pp. 144–149, 2022.</p>
      <p id="_paragraph-85">[23]D. Jubaedah and D. Mulyanti, “Pelaksanaan Supervisi Dalam Peningkatan Profesionalisme Guru Di MAN 2 Pangandaran,” in <italic id="_italic-54">Prosiding Seminar Sosial Politik, Bisnis, Akuntansi Dan Teknik (SoBAT) Ke-3 Bandung</italic>, 2021, pp. 156–164.</p>
      <p id="_paragraph-86">[24]N. Widyanto, S. Suharman, and S. Sudadi, “Supervisi Pendidikan Dalam Peningkatan Profesionalisme Guru SD Di Kabupaten Kutai Kartanegara,” <italic id="_italic-55">Jurnal Pendas Mahakam</italic>, vol. 8, pp. 137–148, Dec. 2023, Accessed: Mar. 01, 2025. [Online]. Available: http://repository.uinsi.ac.id/handle/123456789/4225</p>
      <p id="_paragraph-87">[25]N. I. Anggriani, A. A. Syarifuddin, T. A. Y. Prasojo, and W. Destari, “Supervisi Akademik Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Guru,” <italic id="_italic-56">Jurnal Simki Pedagogia</italic>, vol. 6, no. 2, pp. 411–422, 2023, doi: https://doi.org/10.29407/jsp.v6i2.203.</p>
      <p id="_paragraph-88">[26]M. Mujiam, “Pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru di SMP Negeri Kecamatan Kaway XVI Kabupaten Aceh Barat,” <italic id="_italic-57">Intelektualita</italic>, vol. 3, no. 2, 2015.</p>
      <p id="_paragraph-89">[27]Marwan, Jalaluddin, Ibrahim, and Saiful Bahri, “Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru,” <italic id="_italic-58">Jurnal Serambi Ilmu (JSI)</italic>, vol. 25, no. 1, Apr. 2024, doi: 10.32672/jsi.v25i1.1126.</p>
      <p id="_paragraph-90">[28]E. M. Ratnaningtyas <italic id="_italic-59">et al.</italic>, “Metodologi penelitian kualitatif,” <italic id="_italic-60">No. Januari. Aceh: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini</italic>, 2023.</p>
      <p id="_paragraph-91">[29]A. Anggito and J. Setiawan, “Metode Penelitian Kualitatif (Jawa Barat),” <italic id="_italic-61">CV Jejak</italic>, 2018.</p>
      <p id="_paragraph-92">[30]I. Lenaini, “Teknik pengambilan sampel purposive dan snowball sampling,” <italic id="_italic-62">Historis: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Sejarah</italic>, vol. 6, no. 1, pp. 33–39, 2021, doi: 10.31764/historis.vXiY.4075.</p>
      <p id="_paragraph-93">[31]F. Firman, “Analisis Data dalam Penelitian Kualitatif,” 2018.</p>
      <p id="_paragraph-94">[32]S. Sarosa, <italic id="_italic-63">Analisis data penelitian kualitatif</italic>. Pt Kanisius, 2021.</p>
      <p id="_paragraph-95">[33]Y. Rasu, J. A. M. Rawis, M. M. Wullur, and V. N. J. Rotty, “Supervisi Akademik untuk Peningkatan  Kompetensi Pedagogik Guru,” <italic id="_italic-64">LEADERIA: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam</italic>, vol. 2, no. 2, pp. 55–61, Dec. 2021, doi: 10.35719/leaderia.v2i2.67.</p>
      <p id="_paragraph-96">[34]I. N. Arifah, L. Heshinta, A. Sutopo, and S. Anif, “Supervisi Akademik Kepala Sekolah Terhadap Guru,” <italic id="_italic-65">Jurnal Riset dan Inovasi Pembelajaran</italic>, vol. 4, no. 2, pp. 1018–1025, 2024, doi: https://doi.org/10.51574/jrip.v4i2.1437.</p>
      <p id="_paragraph-97">[35]A. Fauzi, R. Fajriya, and A. Gunawan, “Teknik supervisi akademik,” <italic id="_italic-66">Jurnal Inovatif Manajemen Pendidikan Islam</italic>, vol. 2, no. 1, pp. 12–21, 2023, doi: https://doi.org/10.38073/jimpi.v2i01.673.</p>
      <p id="_paragraph-98">[36]H. Apriliana and R. Anggreani, “Teknik-Teknik Supervisi Akademik Kepala Sekolah (Supervisor) Dalam Melaksanakan Program Supervisi,” <italic id="_italic-67">Jurnal Media Akademik (JMA)</italic>, vol. 2, no. 6, 2024.</p>
      <p id="_paragraph-99">[37]H. Hanafiah, R. S. Sauri, Y. N. Rahayu, and O. Arifudin, “Upaya meningkatkan kompetensi profesional guru melalui supervisi klinis kepala sekolah,” <italic id="_italic-68">JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan</italic>, vol. 5, no. 10, pp. 4524–4529, 2022, doi: https://doi.org/10.54082/jupin.52.</p>
      <p id="_paragraph-100">[38]L. Lasino, “Penerapan Supervisi Observasi Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran yang Efektif di SMA Negeri 1 Toba Tahun Pelajaran 2020/2021,” <italic id="_italic-69">Jurnal Penelitian Inovatif</italic>, vol. 2, no. 1, pp. 95–114, 2022.</p>
      <p id="_paragraph-101">[39]A. M. Saman and E. Hasanah, “Peran Kepala Sekolah dalam Melaksanakan Supervisi Akademik Sebagai Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru,” <italic id="_italic-70">JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan</italic>, vol. 7, no. 2, pp. 1913–1920, 2024, doi: https://doi.org/10.54371/jiip.v7i2.2512.</p>
      <p id="_paragraph-102">[40]A. Setya, A. E. Nugraha, A. Sutopo, and S. Anif, “Analisis strategi manajemen kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar,” <italic id="_italic-71">Didaktika: Jurnal Kependidikan</italic>, vol. 13, no. 3, pp. 4247–4256, 2024, doi: https://doi.org/10.58230/27454312.750.</p>
      <p id="_paragraph-103">[41]Ahmad Rinaldi Siregar, M Muflih Dermawan, Fachri Habib, and Abdul Fattah Nasution, “Program Manajemen Pendidikan Dan Pelatihan (Diklat) Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Guru,” <italic id="_italic-72">Jurnal Pendidikan Sosial Dan </italic><italic id="_italic-73">Konseling</italic>, vol. 2, no. 1, pp. 90–95, May 2024, [Online]. Available: https://jurnal.ittc.web.id/index.php/jpdsk/article/view/948</p>
      <p id="_paragraph-104">[42]A. W. Aswal, Q. Shafa, and S. Chadidjah, “Supervisi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Guru di MA Muhammadiyah Tegal Lega,” <italic id="_italic-74">Jurnal Manajemen Pendidikan: Jurnal Ilmiah Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan</italic>, vol. 6, no. 2, pp. 24–37, 2024, doi: https://doi.org/10.21831/jump.v6i2.71397.</p>
      <p id="_paragraph-105">[43]S. Supardi, “Kinerja Guru: Teori dan Praktik,” 2013.</p>
      <p id="_paragraph-106">[44]P. Pujianto, Y. Arafat, and A. A. Setiawan, “Pengaruh supervisi akademik kepala sekolah dan lingkungan kerja terhadap kinerja guru Sekolah Dasar Negeri Air Salek,” <italic id="_italic-75">Journal of Education Research</italic>, vol. 1, no. 2, pp. 106–113, 2020, doi: https://doi.org/10.37985/joe.v1i2.8.</p>
      <p id="_paragraph-107">[45]H. Dalanggo, “Strategi perencanaan supervisi akademik kepala madrasah,” <italic id="_italic-76">Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya</italic>, vol. 5, no. 4, pp. 381–388, 2019.</p>
      <p id="_paragraph-108">[46]C. Imah, “Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru SD Negeri Se-Kecamatan Air Kumbang Kabupaten Banyuasin,” <italic id="_italic-77">Ad-Man-Pend: Jurnal Administrasi Manajemen Pendidikan</italic>, vol. 1, no. 2, pp. 65–77, 2019.</p>
      <p id="_paragraph-109">[47]H. Mujiono, “Supervisi Akademik Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru,” <italic id="_italic-78">Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan</italic>, vol. 4, no. 2, p. 113, Apr. 2020, doi: 10.26740/jdmp.v4n2.p113-121.</p>
      <p id="_paragraph-110"/>
    </sec>
  </body><back/></article>
