<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Tahsin Program on Improving Qur'an Reading at SD Prestige Medan</article-title>
        <subtitle>Program Tahsin pada Peningkatan Baca Al-Qur’an di SD Prestige Medan</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-ce68ccd0f7a50a83f370c6910db4dd76" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hamid</surname>
            <given-names>Siti Nur Cholisa</given-names>
          </name>
          <email>sitinur@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-2a0498dfee4f0f96ccf2d6880744c1e4" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muis</surname>
            <given-names>Lidya Shery</given-names>
          </name>
          <email>lidyasherymuis@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-50b2e0aed936516cfc7c2799efff5c7a">
      <title>
        <bold id="bold-f3ffbabd697836d18b7a7c278d010f01">PENDAHULUAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-4">Pemilik alam semesta telah menurunkan mukjizat terbesar berupa Al-Qur’an kepada kekasih-Nya melalui malaikat Jibril. Berbagai pedoman dan aturan hidup telah tersusun rapi didalamnya guna menuntun manusia dalam menjalankan tugasnya dimuka bumi ini demi kesusksesan selama hidup hingga akhirat kelak. Membaca Al-Qur’an merupakan amalan shaleh yang menghadirkan pahala bagi setiap pembaca dan pendengarnya [1]. Ketika membacakan ayat-ayat yang terdapat dalam kalam-Nya, hendaknya kita melafalkan sesuai kaidah tajwid, sebab kekeliruan dalam membaca Al-Qur’an dapat mempengaruhi makna dan arti dari setiap ayatnya [2]. Salah satu metode terkemuka untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an dari kekeliruan adalah metode Taẖsin al-Tilâwah/al-Qirâ’ah [3]. Terdapat beberapa indikator seseorang dikatakan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an yakni: Pertama, membaca dengan tartil, yaitu melafalkan huruf dengan jelas dan hati-hati. Kedua, membaca huruf-huruf hijaiyah dengan benar sesuai dengan makhrajnya, agar setiap huruf keluar dengan benar dari tempatnya. Ketiga, mengikuti aturan tajwid yang mengatur cara pelafalan, durasi bacaan, dan hukum bacaan lainnya [4].</p>
      <p id="_paragraph-5">Selaras dengan hal tersebut, Allah Swt. telah berfirman dalam surah Al-Muzzammil/73:4:</p>
      <fig id="figure-panel-1bc21c8498b64c62c1d55822596a23c8">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-3a75d797cc088e888c020aa65f7029d3" />
        </caption>
        <graphic id="graphic-642c5759bb619b5f969d6316e7944225" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="ARAB 1.png" />
      </fig>
      <p id="_paragraph-7">atau lebih dari (seperdua) itu. Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan! [5].</p>
      <p id="_paragraph-8">Dalam Tafsir Al-Misbah Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah membaca Al-Qur’an secara tartil maksudnya ialah membacanya dengan perlahan-lahan, jelas, dan penuh penghayatan. Hal ini bertujuan agar bacaan tersebut dapat meresap ke dalam hati, memudahkan pemahaman, dan memungkinkan tadabbur terhadap makna-maknanya. Membaca huruf-huruf hijaiyah dengan benar sesuai dengan makhrajnya, agar setiap huruf keluar dari tempat keluarnya yang tepat dan senantias mengikuti aturan tajwid yang mengatur cara pelafalan, durasi bacaan, dan hukum bacaan lainnya [6].</p>
      <p id="_paragraph-9">Tetapi di tengah kemajuan teknologi yang begitu cepat, pendidikan agama terutama membimbing generasi muda membaca dan menulis Al-Qur'an mulai dijumpai berbagai tantangan yang signifikan. Seperti tajwid, pemahaman makna syair, dan pengucapan huruf hijaiyah, mayoritas siswa saat ini menunjukkan pemahaman di bawah standar tentang membaca dan menulis Al-Qur'an. Siswa masih berjuang dengan kefasihan dan kefasihan saat membaca Al-Qur'an, mereka sering tergagap saat membaca, melanggar hukum membaca, dan membutuhkan banyak pembinaan instruktur [7]. Masalah ini tidak terbatas pada lokasi yang terisolasi, hal ini juga muncul di lingkungan perkotaan di mana akses pendidikan relatif lebih sederhana. Kondisi ini diperparah dengan data Kementerian Agama tahun 2020 yang menunjukkan sekitar 54% umat Islam di Indonesia belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, menegaskan urgensi penanganan masalah ini. Secara umum, aspek internal dan lingkungan berdampak pada kapasitas seseorang untuk membaca Al-Qur'an. Minat, keterampilan, dorongan, fokus, dan sikap adalah contoh elemen internal yang berasal dari dalam diri peserta didik. Sementara itu, faktor eksternal berkaitan dengan pengaruh dari luar siswa, seperti dukungan dan bimbingan orang tua, fasilitas pendidikan yang tersedia, serta lingkungan baik di rumah maupun di sekolah [8]. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak pada lunturnya kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an dan syariat Islam secara keseluruhan.</p>
      <p id="_paragraph-10">Dalam hal ini, lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk menawarkan pengajaran yang meningkatkan pemahaman siswa tentang Al-Qur'an, khususnya melalui program tahsin kita dapat meningkatkan pembacaan Al-Qur'an dalam hal makhraj, tajwid, dan durasi singkat dari setiap bacaan dengan menggunakan program Tahsin [9]. Program ini difokuskan pada peningkatan keterampilan membaca Al-Qur'an dengan memperhatikan makhraj huruf dan penerapan ilmu tajwid secara tepat dan dirancang untuk membantu siswa memperbaiki bacaan Al-Qur'an mereka agar lebih tepat dan sesuai dengan aturan yang berlaku [10]. Rasulullah Saw. bersabda “Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan sulit baginya, maka ia mendapatkan dua pahala” [11]. Hadis ini menunjukkan keutamaan besar bagi siapa pun yang membaca Al-Qur’an. Bagi yang mahir dan fasih, kedudukannya sangat tinggi hingga digambarkan akan membersamai malaikat yang mulia. Sedangkan, bagi yang masih terbata-bata dan mengalami kesulitan saat membaca, justru memperoleh dua pahala: satu pahala karena membaca Al-Qur’an itu sendiri, dan yang kedua karena kesungguhan serta perjuangannya dalam belajar [12].</p>
      <p id="_paragraph-11">Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan rendahnya kualitas bacaan Al-Qur’an siswa, SD Prestige Bilingual School Medan berupaya dengan mengimplementasikan program tahsin yang dirancang dengan tambahan waktu belajar setiap pekan bersama para guru yang berkompeten di bidangnya. Umumnya, program tahsin ini diterapkan di sekolah-sekolah bernuansa keislaman seperti Islamic School, sekolah Islam Terpadu, dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Namun, kini SD Prestige Bilingual School Medan yang bukan merupakan sekolah Islam, melainkan sekolah bertaraf Internasional yang biasanya lebih mengutamakan pembelajaran umum dan berbasis global, kini justru hadir dengan menyediakan program tahsin bagi siswa dan orang tua. Meskipun demikian, belum ada kajian mendalam yang meneliti efektivitas program tahsin, khususnya dengan pendekatan level-based, di sekolah non-Islam seperti SD Prestige Bilingual School Medan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas program tahsin dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa di SD Prestige Bilingual School Medan, sekaligus menutup celah riset mengenai implementasi tahsin di lingkungan sekolah umum dengan penekanan pada metode pengajaran yang disesuaikan dengan tingkatan kemampuan siswa, sehingga terwujud generasi yang tidak hanya kuat secara akademis tetapi juga memiliki pemahaman yang kuat tentang agama.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-bba0650d1737e5f1650c989d03582f0a">
      <title>
        <bold id="bold-9e5a00b3e1ac401772b1ffdd1b1196f6">METODE</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-13">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Pendekatan fenomenologi dipilih secara spesifik karena bertujuan untuk memahami esensi dari pengalaman hidup subjek penelitian, yaitu siswa, guru, dan staf terkait, dalam implementasi program tahsin. Sebagaimana dijelaskan oleh Creswell [13], fenomenologi memungkinkan peneliti untuk mendeskripsikan "apa" yang dialami individu dan "bagaimana" mereka mengalaminya terkait suatu fenomena, dalam hal ini efektivitas program tahsin dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya memahami, menjelaskan, dan menggambarkan secara mendalam pelaksanaan program tahsin, perkembangan siswa, metode pengajaran guru, serta faktor pendukung dan penghambat yang muncul di SD Prestige Bilingual School Medan. Singkatnya, tujuan penelitian ini adalah untuk mendekripsikan dan menelaah secara mendalam efektivitas program tahsin dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa [14].</p>
      <p id="_paragraph-14">Penelitian ini dimulai dengan kegiatan observasi awal untuk memperoleh gambaran umum mengenai pelaksanaan program tahsin di SD Prestige Bilingual School Medan. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari informan yang terlibat langsung dalam program tahsin, yaitu kepala sekolah, koordinator program tahsin, guru pengampu tahsin, dan siswa yang mengikuti program tahsin. Mereka menjadi sumber utama dalam pengumpulan data melalui wawancara. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan sejumlah dokumen sebagai sumber informasi, seperti catatan hasil evaluasi program tahsin, format penilaian setiap siswa, instrumen penilaian kemampuan membaca Al-Qur’an, serta laporan perkembangan belajar siswa yang disusun oleh guru. Di samping itu, arsip kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran Al-Qur’an turut dijadikan referensi untuk memperoleh gambaran lebih menyeluruh mengenai efektivitas bacaan Al-Qur’an siswa di SD Prestige Bilingual School Medan [15].</p>
      <p id="_paragraph-15">Seluruh data dianalisis dengan teknik Miles dan Huberman [16] yang mencakup tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, peneliti melakukan seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data mentah yang diperoleh dari wawancara dan dokumen. Contohnya, dari transkrip wawancara dengan guru yang menyebutkan "siswa sering kesulitan membedakan huruf kha dan ha" serta "perlu latihan berulang untuk makhraj huruf tertentu", data ini direduksi menjadi fokus pada "kesulitan makhraj huruf" dan "kebutuhan repetisi". Data yang telah direduksi kemudian diberi kode (misalnya, "K_Makhraj" untuk kesulitan makhraj, "R_Latihan" untuk repetisi latihan). Kode-kode ini selanjutnya dikelompokkan untuk membentuk tema yang lebih besar, seperti "Tantangan Pembelajaran Makhraj" atau "Strategi Pembelajaran Efektif". Tahap penyajian data dilakukan dengan menyusun data yang telah direduksi dan dikelompokkan dalam bentuk narasi, matriks, atau bagan untuk mempermudah pemahaman. Terakhir, penarikan kesimpulan dilakukan secara induktif berdasarkan pola dan tema yang muncul dari penyajian data.</p>
      <p id="_paragraph-16">Untuk menjamin keabsahan dan kredibilitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dan member checking. Triangulasi diterapkan melalui triangulasi sumber (membandingkan temuan wawancara antara kepala sekolah, koordinator, guru, dan siswa) dan triangulasi metode (membandingkan data wawancara dengan data dari dokumen seperti laporan evaluasi dan format penilaian) [17]. Selain itu, member checking dilakukan dengan memvalidasi interpretasi dan kesimpulan awal peneliti kepada informan kunci. Misalnya, setelah menganalisis wawancara, peneliti akan mempresentasikan ringkasan temuan kepada guru atau koordinator program tahsin untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti akurat dan sesuai dengan pengalaman mereka, sehingga memperkuat validitas internal data. Aspek etika penelitian sangat ditekankan. Sebelum pengumpulan data, peneliti memastikan telah memperoleh persetujuan informed (informed consent) dari semua informan. Untuk siswa, persetujuan diperoleh dari orang tua/wali mereka, dengan penjelasan mengenai tujuan penelitian, prosedur pengumpulan data, kerahasiaan identitas, dan hak untuk menarik diri dari penelitian kapan saja tanpa konsekuensi. Seluruh data yang terkumpul akan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian ini.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-f38dd7262609c6b1ab821dfae6710412">
      <title>
        <bold id="bold-93f536c97c6162f43594983bb38e46b7">HASIL DAN PEMBAHASAN</bold>
      </title>
      <sec id="heading-635c831c89b2817c8e372cf4e13781b0">
        <title>A.Program Tahsin di SD Prestige Bilingual School Medan dan Implementasinya</title>
        <p id="_paragraph-19">Penelitian ini sebagai respon terhadap kebutuhan mendasar siswa dalam menguasai kompetensi membaca Al-Qur’an dengan baik, khususnya dalam memahami tajwid dan makhraj huruf, SD Prestige Bilingual School Medan mengimplementasikan program tahsin sejak awal berdirinya sekolah. Diawali dengan seleksi guru yang memiliki kompetensi dalam membaca Al-Qur’an, khususnya dalam aspek tajwid dan makhraj. Selanjutnya, guru-guru yang terpilih mendapatkan pelatihan untuk menyatukan metode pengajaran, termasuk pelatihan penggunaan metode Ummi yang sedang direncanakan untuk menggantikan metode Iqro’. Tujuan utama program ini adalah untuk membekali siswa dengan kemampuan membaca Al-Qur’an secara benar sesuai kaidah, sebagai bagian dari visi sekolah dan untuk memenuhi harapan orang tua.</p>
        <p id="_paragraph-20">Program ini bersifat wajib bagi seluruh siswa dan dilaksanakan secara terstruktur dengan sistem pengelompokan berdasarkan level kemampuan membaca, bukan berdasarkan kelas. Terdapat delapan level yang dimulai dari Iqro’ hingga Al-Qur’an, memungkinkan siswa belajar sesuai dengan tingkat kemahirannya, dengan melibatkan berbagai pihak terkait di sekolah yakni mulai dari kepala sekolah, koordinator pendidikan, koordinator tahsin, guru pengampu dari berbagai latar belakang, serta dukungan yayasan guna membekali siswa dengan kemampuan membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan aturan tajwid yang tepat.</p>
        <p id="_paragraph-21">Setiap siswa diharapkan agar dapat mengucapkan ayat dengan benar sesuai aturan tajwid (ilmu yang mengatur cara membaca Al-Qur’an [18]. Hal ini termaktub dalam firman Allah Swt. surah Al-Baqarah/2:121).</p>
        <fig id="figure-panel-6fcca14fac45ca186fa4429b4ba21940">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <p id="paragraph-9994e2a2249bbe9ff14cb80f1cc2cc2c" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-2342a2b4032d1b1c3ca252ecbb529267" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="ARAB 2.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-23">“Orang-orang yang telah Kami beri kitab suci, mereka membacanya sebagaimana mestinya, itulah orang-orang yang beriman padanya. Siapa yang ingkar padanya, merekalah orang-orang yang rugi!, [5]</p>
        <p id="_paragraph-24">Ayat ini bermakna bahwa membaca Al-Qur’an secara tilawah (sebenarnya) tidak hanya berarti membacanya dengan tartil, tetapi juga melibatkan ketepatan dalam pelafalan huruf-huruf hijaiyah sesuai makhraj dan sifatnya. Menurut penjelasan Quraisy Shihab [6], dalam Tafsir Al-Misbah menyatakan bahwa membaca dengan sebenar-benarnya berarti membacanya sebagaimana mestinya: dengan bacaan yang baik, memahami maknanya, serta mengamalkan isinya. Oleh karena itu, memperhatikan makhraj huruf termasuk bagian dari bentuk penghormatan terhadap Al-Qur’an dan sekaligus menunjukkan kualitas keimanan seorang muslim.</p>
        <p id="_paragraph-25">Strategi pembelajaran pada program tahsin di sekolah tersebut yakni menggunakan metode talaqqi. Menurut Quraisy Shihab [19], dalam pendidikan Islam metode talaqqi merupakan teknik pembelajaran langsung dari guru kepada murid, yang mengutamakan penyampaian ilmu secara lisan. Hal ini menekankan pentingnya talaqqi dalam pembelajaran Al-Qur’an untuk melindungi keaslian pelafalan dan pemaknaan. Talaqqi juga memfasilitasi komunikasi langsung antara guru dan siswa, memungkinkan klarifikasi dan pemahaman yang lebih mendalam. Selain itu metode lainnya adalah murojaah, hafalan, serta pendekatan individual dan kelompok kecil. Materi yang digunakan meliputi buku Iqro’ dan Al-Qur’an, serta lembar kerja peserta didik. Media pembelajaran yang digunakan cukup variatif, antara lain proyektor, video murotal, lagu huruf hijaiyah, aplikasi Wordwall, serta media digital lainnya untuk mendukung pemahaman siswa secara menarik dan interaktif.</p>
        <p id="_paragraph-26">Secara teori, program ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian yakni, penelitian oleh Abdullah [20], menyebutkan bahwa metode tahsin terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi membaca Al-Qur’an dengan pendekatan yang terencana dan komunikatif. Begitu juga dengan penelitian dari Mursid dan Nafisah [21], yang menunjukkan bahwa pembiasaan tahsin sejak dini berdampak positif pada kemampuan membaca Al-Qur’an anak. Oleh karena itu, program tahsin di SD Prestige Bilinguall School Medan memiliki dasar yang kuat, baik dari sisi praktik maupun teori. Dengan pelatihan guru, evaluasi rutin, dan rencana pengembangan kurikulum, program ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan akademik dan spiritual siswa secara seimbang.</p>
        <p id="_paragraph-27">Evaluasi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan melalui observasi langsung, jurnal perkembangan siswa, dan tes bacaan. Indikator penilaian mencakup kelancaran membaca, kebenaran makhrajul huruf, serta penerapan dasar-dasar tajwid. Siswa tidak dapat naik ke level berikutnya jika belum memenuhi kriteria yang telah ditentukan, memastikan bahwa setiap siswa benar-benar menguasai materi sebelum melanjutkan. Walaupun ditemukan beberapa tantangan seperti minimnya waktu dan rasio guru-siswa yang belum ideal, program ini terus dievaluasi dan dikembangkan agar lebih efektif dalam mencapai tujuannya.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-7be0a91bcd7ff4742228786590880b6a">
        <title>B.Strategi Pelaksanaan Program Tahsin di SD Prestige Bilingual School Medan</title>
        <p id="_paragraph-29">Program tahsin di SD Prestige Bilingual School Medan dirancang secara sistematis dan disesuaikan dengan keperluan siswa untuk meningkatkan kompetensi membaca Al-Qur’an. Proses perencanaannya mencakup identifikasi kesulitan siswa, penyusunan tujuan pembelajaran, metode pengajaran, jadwal pelaksanaan, serta sistem evaluasi yang tepat. Materi pembelajaran disusun secara bertahap dengan pendekatan interaktif seperti talaqqi, murotal, dan lembar kerja peserta didik untuk mempermudah pemahaman siswa. Sebab dengan terlibatnya partisipasi siswa akan menciptakan pembelajaran yang efektif [22].</p>
        <p id="_paragraph-30">Strategi pengklasifikasian siswa berdasarkan tingkat kemahiran membaca Al-Qur’an ke dalam lower grade dan upper grade terbukti efektif dalam mewujudkan pembelajaran yang fokus dan sesuai dengan perkembangan tiap siswa. Pengklasifikasian ini didasarkan pada hasil evaluasi awal, bukan kelas formal, sebagaimana tercatat dalam format asesmen awal siswa. Selain itu, strategi pembelajaran tahsin juga dilengkapi dengan metode talaqqi individual, di mana guru membimbing langsung bacaan siswa secara personal. Terdapat juga pendekatan lainnya yakni mencakup penggunaan media pembelajaran digital seperti murotal, lagu hijaiyah, dan aplikasi interaktif yang memudahkan pemahaman siswa, terutama pada level dasar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan ini sangat membantu yakni dalam meningkatan antusiasme siswa saat belajar serta memperbaiki pelafalan makhraj huruf yang sering keliru pada siswa.</p>
        <p id="_paragraph-31">Evaluasi dilakukan secara berjenjang, mulai dari evaluasi harian melalui jurnal guru, evaluasi mingguan melalui tes lisan, hingga evaluasi bulanan dengan lembar kontrol pencapaian. Wawancara dengan guru dan studi dokumentasi mengonfirmasi bahwa siswa hanya dapat naik level setelah memenuhi standar bacaan yang ditetapkan. Kualitas guru juga menjadi prioritas, seleksi dilakukan secara ketat, dan guru mengikuti pelatihan rutin, termasuk metode Ummi. Dengan pendekatan yang sistematis ini, program tahsin di SD Prestige Bilingual School Medan terbukti mampu meningkatkan kapasitas dan mutu bacaan Al-Qur’an siswa secara efektif dan berkelanjutan.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-e4d8b4dfc77eef37e849a7b802b3a065">
        <title>C.Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat Pada Pelaksanaan Program Tahsin di SD Prestige Bilingual School</title>
        <p id="_paragraph-33">Program tahsin di SD Prestige Bilingual School Medan telah dilaksanakan dengan cukup baik. Keberhasilan program ini didukung oleh kualitas guru yang kompeten dalam membaca Al-Qur’an, serta pelatihan yang diberikan secara berkala untuk meningkatkan kemampuan mengajar. Guru memegang peran krusial dalam pembelajaran karena mereka berfungsi sebagai panutan dan motivator bagi siswa selain memberikan pengetahuan [23]. Sarana dan prasarana yang tersedia, seperti ruang belajar yang nyaman, alat bantu visual, dan media pembelajaran digital, juga turut mendukung proses belajar menjadi lebih interaktif dan menyenangkan. Lingkungan belajar yang kondusif dapat menaikkan motivasi dan fokus belajar siswa.</p>
        <p id="_paragraph-34">Dalam pelaksanaannya, program ini menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, seperti talaqqi, pemutaran murotal, dan lagu-lagu Islami. Pembelajaran dengan pendekatan auditory dan praktik langsung sangat efektif dalam mengajarkan bacaan Al-Qur’an, khususnya pada anak-anak [19]. Evaluasi dilaksanakan secara rutin untuk mengetahui perkembangan kemampuan siswa dan sebagai bahan perbaikan bagi guru. Evaluasi berfungsi sebagai alat ukur pencapaian kompetensi sekaligus umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran [24]. Selain itu, kegiatan ibadah seperti sholat dhuha dan dzuhur berjamaah menjadi wahana bagi siswa untuk mengamalkan bacaan yang telah dipelajari. Pembiasaan ibadah harian dapat memperkuat pemahaman keagamaan siswa melalui pengalaman nyata.</p>
        <p id="_paragraph-35">Walaupun demikian, didapati beberapa hambatan dalam penyelenggaraan program. Perbedaan kemahiran membaca Al-Qur’an antar siswa menyebabkan adanya ketimpangan dalam pembelajaran. Diferensiasi pembelajaran diperlukan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda [25]. Waktu pelaksanaan yang terbatas, yaitu hanya dua kali dalam seminggu, juga menjadi tantangan dalam membentuk kebiasaan membaca yang baik. Di sisi lain, kurangnya perhatian dan pendampingan dari orang tua di rumah memperlambat perkembangan belajar siswa. Keberhasilan belajar anak sangan dipengaruhi oleh keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan, terutama dalam pendidikan agama [26]. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah lanjutan seperti pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan, penambahan waktu belajar, penggunaan metode yang lebih menarik, serta peningkatan kerja sama dengan orang tua untuk mendukung keberhasilan program tahsin secara menyeluruh.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-f1a3d1fc1a592c075cfbe8acddef33bd">
        <title>D.Efektivitas Program Tahsin dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an</title>
        <p id="_paragraph-37">Program tahsin berperan penting dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an, terutama bagi siswa yang masih kesulitan membaca dengan benar. Fokus utamanya adalah memperbaiki aspek tajwid, makhraj huruf, dan kelancaran membaca sesuai kaidah. Selaras dengan itu, penerapan kegiatan seperti tadarus, tahsin dan salat berjamaah turut mendukung pembentukan karakter religius siswa. Melalui pembiasaan ini, siswa bukan hanya mahir membaca Al-Qur’an, tetapi juga terbina nilai-nilai seperti ketaatan, kedisiplinan, dan kesadaran spiritual yang kuat [27]. Di tengah tantangan rendahnya kompetensi baca Al-Qur’an di kalangan siswa sekolah dasar, program tahsin menjadi solusi strategis yang perlu diimplementasikan secara efektif dan terstruktur. Menurut Akmal [28], pelaksanaan tahsin secara terstruktur mampu menyempurnakan bacaan dalam aspek tilawah, terutama melalui kegiatan pembinaan yang rutin dan terfokus. Efektivitas program ini sangat dipengaruhi oleh intensitas latihan, keterlibatan guru, dan dukungan orang tua. Dalam penelitiannya Rahmadani [29], mengungkapkan bahwa rendahnya kompetensi baca tulis Al-Qur’an di kalangan siswa umumnya disebabkan oleh minimnya waktu pembelajaran yang disediakan untuk pendidikan Al-Qur’an dan rendahnya keterlibatan lingkungan keluarga dalam mendampingi anak untuk belajar di luar jam sekolah.</p>
        <p id="_paragraph-38">Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi program tahsin di SD Prestige Bilingual School Medan dilakukan melalui kegiatan pembelajaran rutin dan bimbingan intensif, yang terbukti efektif meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa, baik dalam hal tajwid, makhraj, maupun kelancaran. Benang merah efektivitas program ini terletak pada kombinasi sistem pengelompokan level-based yang memungkinkan pembelajaran terpersonalisasi, didukung oleh metode talaqqi individual yang memastikan koreksi langsung dan pembimbingan intensif, sehingga secara langsung berkontribusi pada peningkatan fluensi bacaan. Efektivitas program ini tercermin dari meningkatnya ketepatan bacaan siswa, partisipasi aktif dalam kegiatan, serta peningkatan hasil evaluasi tahsin secara bertahap. Faktor pendukung keberhasilan program ini adalah kompetensi guru, dukungan orang tua, dan kebijakan sekolah yang mendorong kegiatan keagamaan, sementara hambatan yang ditemui antara lain keterbatasan waktu, motivasi belajar yang tidak merata, dan latar belakang siswa yang berbeda. Selain itu, pemanfaatan media digital seperti wordwall turut memperkuat efektivitas program dengan menjadikan pembelajaran lebih menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik siswa yang akrab dengan teknologi.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-bb534f833d56ad4f867ad32e43f74e03">
      <title>
        <bold id="bold-ee05e99a206c90b51536bfd03b474ff3">KESIMPULAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-40">Program Tahsin di SD Prestige Bilingual School Medan terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa, khususnya dalam aspek tajwid, makhraj huruf, dan kelancaran bacaan. Efektivitas ini dicapai melalui implementasi program yang terstruktur, diawali dengan seleksi dan pelatihan guru yang kompeten, serta penerapan sistem pengelompokan siswa berdasarkan level kemampuan membaca (level-based) yang memungkinkan pembelajaran terpersonalisasi. Metode talaqqi menjadi inti pendekatan pembelajaran, dilengkapi dengan murojaah, hafalan, serta pemanfaatan media digital yang interaktif.</p>
      <p id="_paragraph-41">Keberhasilan program ini didukung oleh beberapa faktor kunci, antara lain kualitas guru yang terampil dan terlatih, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, serta penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi. Sinergi yang kuat antara guru di sekolah dan harapan adanya pendampingan dari orang tua di rumah juga menjadi elemen penting dalam mendukung keberlanjutan proses belajar. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan, seperti perbedaan kemahiran membaca Al-Qur’an antar siswa yang masih memerlukan adaptasi lebih lanjut, keterbatasan waktu pelaksanaan program di sekolah, dan kurangnya konsistensi pendampingan dari orang tua di rumah.</p>
      <p id="_paragraph-42">Sebagai rekomendasi praktis, disarankan agar sekolah mempertimbangkan perluasan waktu belajar program tahsin atau peningkatan frekuensi pertemuan untuk memberikan kesempatan latihan yang lebih intensif. Selain itu, pelatihan guru lanjutan yang berfokus pada strategi diferensiasi pengajaran untuk mengatasi variasi kemampuan siswa dalam satu level dapat lebih mengoptimalkan proses pembelajaran. Penting juga untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dengan orang tua melalui lokakarya atau panduan praktis agar mereka dapat memberikan dukungan yang lebih efektif dalam membimbing anak berlatih membaca Al-Qur’an di rumah. Dengan evaluasi rutin dan perbaikan berkelanjutan, program tahsin ini diharapkan dapat terus mendukung siswa dalam mencapai kemampuan membaca Al-Qur’an yang lebih baik dan membentuk karakter religius yang kuat.</p>
      <p id="_paragraph-43">.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>