<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Manajemen Pembelajaran Tahfidz Al-Qur`an Untuk Anak Usia Dini</article-title>
        <subtitle> Al-Qur`an Tahfidz Learning Management For Early Childhood</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <given-names>Suryani</given-names>
          </name>
          <email>suryanifaizah93@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Fahyuni</surname>
            <given-names>Eni Fariyatul</given-names>
          </name>
          <email>eni.fariyatul@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [https://ror.org/017hvgd88]</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-09-13">
          <day>13</day>
          <month>09</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>01</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-2a257ce603ae60310e5d60656de97670">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-13">Belajar dan mengajarkan Al-Qur'an merupakan ibadah yang besar pahalanya. Aktivitas ini menjadi tanda kebaikan di antara umat Islam. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW., "Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Hadits ini menjadi pedoman bagi para pendidik Al-Qur'an untuk terus mengajarkan Al-Qur'an kepada para peserta didik[1]. Hadits ini juga menjadi acuan bagi para pendidik dan orang tua dalam memotivasi anak-anak, termasuk anak usia dini, untuk belajar dan menghafalkan Al-Qur'an[2]. Anak-anak yang belajar Al-Qur`an sejak dini akan memperoleh banyak manfaat karena pada usia ini pikirannya tidak terbebani dengan masalah dan aktivitas[3]. Sehingga, lembaga juga perlu menerapkan manajemen pembelajaran dengan baik agar proses belajar anak usia dini semakin lancar dan mudah[4]. Menurut G.R Terry manajemen merupakan sebuah proses dari tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan[5]. Sedangkan Menurut Hartini Nata, pembelajaran adalah sebuah metode yang dilakukan secara sengaja, terencana, dan terorganisir dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelum proses pembelajaran dimulai[6]. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh guru kepada peserta didik untuk memberikan pemahaman yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan terhadap lingkungan sekitar secara efektif dan efisien, dengan tujuan menghasilkan perubahan perilaku yang lebih baik. Untuk mencapai tujuan tersebut dengan hasil yang optimal, diperlukan langkah-langkah nyata melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi.[6] </p>
      <p id="_paragraph-14">Perencanaan pembelajaran merupakan bentuk pemikiran dan penetapan terkait hal-hal yang ingin dicapai. Pengorganisasian yaitu menentukan suatu aktivitas yang diperlukan agar tujuan yang telah dibuat atau direncanakan tercapai, selanjutnya pelaksanaan pembelajaran merupakan proses untuk mencapai tujuan, sedangkan evaluasi pembelajaran yaitu sejauh mana pelaksanaan yang telah dilakukan mencapai tujuan yang diinginkan[7]. Jika dikaitkan dengan Lembaga tahfidz, manajemen pembelajaran sangat penting untuk diakukan agar proses menghafal dapat dilakukan dengan mudah, dan mendapatkan hasil yang maksimal[8]. Salah satu keistimewaan Al-qur`an yaitu Allah sendiri menjamin bahwasanya Al-Qur`an mudah untuk dihafalkan, sebagaimana firman-Nya dalam Al-qur`an surat Al-Qomar ayat 17 yang artinya “Dan sungguh telah kami mudahkan Al-Qur`an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?”. Dari firman Allah tersebut bahwasannya menghafal Al-Qur`an adalah sesuatu yang mudah untuk dipelajari dan dihafalkan[9]. Tidak menutup kemungkinan anak usia dini juga mampu untuk menghafal Al-Qur`an meskipun usia mereka masih kecil, dan proses menghafal pada usia dini merupakan proses menghafal yang sangat efektif, karena semakin cepat dalam menghafal Al-Qur`an maka akan semakin banyak peluang mereka untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya[10].</p>
      <p id="_paragraph-15">Mengingat potensi yang dimiliki anak usia dini dalam menghafal Al-Qur'an, maka diperlukan suatu usaha yang harus dilakukan yaitu terkait dengan manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur`an[11]. Menghafal adalah meresapkan sesuatu ke dalam pikiran agar selalu ingat[12]. Abdul Aziz Rauf menjelaskan bahwa menghafal adalah proses mengulang sesuatu baik melalui membaca atau mendengar[13]. Oleh karena itu, menghafal Al-Qur'an adalah proses meresapkan kata-kata, kalimat, atau ayat-ayat Al-Qur'an ke dalam pikiran melalui pengulangan, baik dengan membaca maupun mendengarkan[14]. Sedangkan anak usia dini adalah anak yang berada dalam fase perkembangan dan pertumbuhan pada rentang usia 0-7 tahun[15]. Mananajemen pembelajaran dalam hal hafalan Al-Qur’an untuk anak dini merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan bersama-sama oleh semua pihak yang terlibat. Tujuannya adalah untuk mencapai pembelajaran Al-Qur'an yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien pada anak usia dini[15]. Akan tetapi pada kenyataannya manajemen pembelajaran tahfidz pada lembaga masih ada yang belum berjalan sebagaimana mestinya sehingga berimbas pada pencapain hasil hafalan anak didik. Seharusnya, ketika Lembaga berkomitmen untuk menciptakan Lembaga belajar yang optimal untuk siswa, lembaga pendidikan, baik lembaga umum maupun lembaga tahfidz anak usia dini, harus terus memantau dan memperbaiki manajemen pembelajaran, dan manajemen pembelajaran harus menjadi perhatian utama di dalam sebuah lembaga[16].</p>
      <p id="_paragraph-16">Penelitian terkait manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur'an sudah banyak dilakukan. Oleh karena itu, penulis ingin menyajikan beberapa hasil penelitian terdahulu yang mempunyai topik serupa dengan penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Latifatul mengenai manajemen pembelajaran di Pondok Pesantren menunjukkan bahwa untuk meningkatkan efektifitas tahfidz Al-Qur`an, diperlukan penerapan menajemen pembelajaran yang baik. Manajemen ini mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi. Dengan menerapkan manajemen tersebut kegiatan menghafal Al-qur`an dapat mencapai hasil yang optimal. Perencanaan meliputi perencanaan materi, alokasi waktu, metode, dan penilaian yang baik dan tersistem. Pengorganisasian dilakukan dengan menentukan tugas dan fungsi setiap personel yang terlibat dalam tahfidz Al-Qur`an. Pelaksanaan berarti menjalankan rencana-rencana tersebut dengan penuh tanggung jawab oleh semua pihak yang terlibat. Sementara itu, evaluasi dilakukan dengan memantau terus menerus jalannya program dan rencana yang telah ditetapkan serta mencari solusi untuk mengatasi masalah yang muncul[17]. Penelitian tersebut Selaras dengan penelitian yang dilakukan Nila Erdiani mengenai manajemen pembelajaran di Pondok Pesantren bahwa manajemen pembelajaran  diawali dengan perencanaan pembelajaran melalui beberapa tahapan diantaranya: penyusunan rencana kerja, dan merencanakan waktu pembelajaran. Pengorganisasian dilakukan yaitu dengan membagi tugas dan tanggung jawab masing-masing pendidik. Pelaksanaan pembelajaran tahfidz meliputi kegiatan seputar halaqah yaitu murajaah dan menyetor hafalan baru. Sedangkan untuk Evaluasi pembelajaran tahfidz al-Qur’an yang dilaksanakan yaitu dengan melihat sejauh mana pencapaian target hafalan santri[18]. Penelitian yang dilakukan oleh Abu Maskur mengenai manajemen pembelajaran anak usia dini dilaksanakan dengan beberapa tahapan yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil belajar[19]. Penelitian lain yang dilakukan oleh Hamzah Kamaludin dkk mengenai manajemen pembelajaran di pondok pesantren bahwa perencanaan dilakukan dengan menentukan target hafalan santri, untuk mencapai target tersebut dilakukan halaqoh. Pengorganisasian dilakukan yaitu terdapat musyrifah marhala yang bertanggungjawab menyimak santri. Pelaksaanaan tahapan-tahapan dalam pembelajaran dan para santri menyetorkan hafalan sesuai target tanpa ada standar perpindahan ke juz berikutnya. Evaluasi pembelajaran tahfizd diserahkan kepada masing-masing musyrif [20].</p>
      <p id="_paragraph-17">Beberapa penelitian terdahulu di atas menjelaskan terkait manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur`an yang ada di pesantren yang umumnya dilakukan oleh anak remaja hingga dewasa dan pelaksanaan pembelajaran tahfidz Al-Qur`an  yang dilakukan tidak membutuhkan pendampingan yang lebih ekstra, serta metode yang digunakan yaitu metode halaqoh. Sedangkan pada penelitian ini yaitu tentang manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur`an untuk anak usia dini. Penanganan hafalan untuk anak usia dini lebih kompleks, dan dibutuhkan banyak pendampingan serta metode yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Manajemen pembelajaran tahfidz untuk anak usia dini perlu dirancang dengan baik sehingga proses pembelajaran lebih terarah dan kualitas pembelajaran yang ditunjukkan dengan perencanaan pembelajaran tahfidz yang didasarkan pada tujuan dan penentuan pencapaian pembelajaran sesuai target, dengan melibatkan metode, media, materi, penilaian, dan waktu yang terstruktur dengan baik, sehingga pada pelaksanaan pembelajaran tahfidz anak usia dini dapat diarahkan sesuai perencanaan, dan pada evaluasi pembelajaran tahfidz dapat memenuhi hasil dan tujuan yang inginkan. Karena melihat betapa pentingnya manajemen pembelajaran tahfidz untuk anak usia dini, sehingga membuat peneliti ingin menggali lebih dalam terkait manajemen pembelajaran tahfidz untuk anak usia dini di Markaz Thafidz Al-Firdaus, yang meliputi: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-d2ee3cb3f2714322494888c521ad1aaa">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-19">Penelitian ini menggunakan data kualitatif, dan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dapat digunakan untuk menggali informasi mengenai praktik yang diterapkan para pendidik ketika proses menghafal. Wawancara merupakan pengumpulan data dengan para subjek penelitian, yang mencakup direktur  Markaz, pendidik, walisantri Markaz Tahfidz Al-Firdaus. Tujuan wawancara adalah untuk mengumpulkan data berupa informasi mengenai manajemen pembelajaran tahfidz anak usia dini. Sebelum dilakukan wawancara, peneliti terlebih dahulu membuat atau menyiapkan pertanyaan, dan pertanyaan yang akan diajukan fokus terkait manajemen pembelajaran tahfidz anak usia dini yang dilakukan Markaz Tahfidz Al-Firdaus. Selanjutnya metode dokumentasi bertujuan untuk menggali data dan informasi yang terdapat Markaz Tahfidz Al-Firdaus, termasuk dokumen dan catatan yang berkaitan dengan manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur`an. Dokumen manajemen sekolah mencakup informasi tentang kurikulum, instrumen evaluasi pembelajaran, dan catatan lain yang relevan. Sementara itu, dokumen pembelajaran memuat perangkat pembelajaran sebagai landasan untuk menjamin pembelajaran terlaksana sesuai rencana. Untuk menjamin keabsahan dokumen atau data yang diperoleh, peneliti melakukan triangulasi, yaitu membandingkan hasil data yang telah didapatkan dari observasi, wawancara, dan dokumentasi.[21] Dengan triangulasi, data yang dikumpulkan atau diperoleh dapat dipercaya. Dalam proses menganalisis data, peneliti melakukan reduksi data yang bertujuan untuk memilah serta memilih data yang relevan terkait dengan permasalah yang terdapat pada penelitian. Selanjutnya, penyajian data dengan cara mengorganisirnya secara terstruktur. Penarikan kesimpulan dilakukan melalui interpretasi data dan pemaparan makna yang terdapat dalam data.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-3283bde86330d40a620d5a13b8ab8550">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-21">
        <bold id="bold-e7ec51f98be79b3286f9f80efd39cac9">Manajemen Pembelajaran Tahfidz Anak Usia Dini di Markaz Al-Firdaus Sidoarjo</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-22">
        <bold id="bold-c8d72040afc9bcb2c2472542217d730e">A.Perencanaan pembelajaran tahfidz anak usia dini di Markaz Tahfidz Al-Firdaus Sidoarjo</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-23">Perencanaan pembelajaran merupakan langkah awal yang di rancang untuk menyusun program pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh ustadzah dan peserta didik dalam upaya mewujudkan pembelajaran yang berkualitas sesuai tujuan yang diinginkan. Berdasarkan wawancara dengan Direktur Markaz Tahfidz Al-firdaus bahwa kegiatan-kegiatan perencanaan pembelajaran Al-Qur’an di Markaz Tahfidz Al-Firdaus Sidoarjo tersebut meliputi penentuan target hafalan, penentuan media pembelajaran, penentuan waktu pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Kegiatan-kegiatan tersebut dituangkan dalam sebuah dokumen yang dinamakan Rencana Pembelajaran Tahfidz  Al-Qur’an Anak Usia Dini. Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh Primayana bahwa tujuan dalam pembelajaran akan tercapai jika terdapat perencanaan tertulis. Paling tidak, perencaan tertulis itu banyak membuahkan hasil suatu tujuan.[22] Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pembelajaran yang harus ditentukan terlebih dahulu yaitu langkah-langkah dan target yang ingin di capai, untuk siapa, dan bagaimana system pembelajaran yang baik. Jika hal ini sudah terencana, maka tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik. Hal Ini sesuai dengan teori yang di sampaikan oleh Nanang Fatah bahwa perencanaan merupakan penentuan tujuan yang ingin dicapai dan menetapkan sumber yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut seefisien dan seefektif mungkin[23]. Hasil observasi terhadap rencana pembelajaran tahfidz Al-Qur’an untuk anak usia dini tersebut diperoleh informasi bahwa: </p>
      <p id="_paragraph-24">
        <bold id="bold-12e3d8861bfda98dc618428a817f70fe">Penentuan target hafalan </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-25">Target hafalan pada setiap level berbeda- beda, seperti pada level 1 yaitu Juz 30 + Huruf berharokat dan tanwin, Level 2: Juz 29 dan belajar membaca, Level 3: Surat Al-Baqoroh dan Ali-Imran, Level 4: Surat An-Nisa`-Al-Anfal, Level 5: Surat At-Taubah-Thoha, Level 6: Surat Al-Anbiya`-Fathir, Level 7: Surat Yaasin-At-Tahrim. Setiap target di setiap kelas telah ditetapkan secara rinci. Target hafalan disusun dan ditentukan untuk mempermudah peserta didik dalam mencapainya sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Aminatul zahroh bahwa materi pembelajaran adalah sumber utama yang harus dipelajari, dianalisis, dan dipahami oleh peserta didik. Melalui sumber ini, peserta didik akan mengakses berbagai pengetahuan dan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka[24].</p>
      <p id="_paragraph-26">
        <bold id="bold-7a01829dd33bb473f0e0ee4320e344ee">Penentuan media pembelajaran </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-27">Metode yang digunakan metode Tabarak. Metode Tabarak yaitu metode yang dilakukan dengan mentalqinkan atau melafalkan bacaan yang akan dihafalkan oleh anak-anak dan mereka harus menyimak  dengan seksama kemudian anak-anak menirukan bacaan tersebut[25].   Media yang digunakan yaitu Mushaf Al-qur`an, program ayat, media computer dan rekaman murottal masyayikh pilihan. Melalui media tersebut membantu anak usia dini dalam menghafalkan Al-qur`an. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Salsabila dkk bahwa semakin banyak anak-anak mendengar dan terbiasa mendengar bacaan Al-Qur`an semakin mudah pula untuk menghafalkannya[25].</p>
      <p id="_paragraph-28">
        <bold id="bold-6bb93238bb432ed864e44c53ce696817">Penentuan waktu pembelajaran</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-29">Pembelajaran di Markaz Tahfidz Al-firdaus dilakukan pada hari senin-jum`at, mulai pukul 07:00-12:15, dan dilakukan selama 6 bulan pembelajaran. Penentuan waktu pembelajaran terdiri dari total waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kopetensi dasar yang mengacu pada minggu efektif dan alokasi mata pelajaran pada satu pekan. Waktu pembelajaran dibuat sebagai standar ukuran dalam pelaksanaan pembelajaran yang efektif.[23]</p>
      <p id="_paragraph-30">
        <bold id="bold-b61c990c7fb2ac041ad150facdde0d02">Penilaian hasil pembelajaran </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-31">Proses penilaian dilakukan secara langsung setelah peserta didik menyetorkan hafalan kemudian ustadzah memberikan penilaian serta menuliskan ayat yang disetorkan. Setiap peserta didik juga diwajibkan untuk mengikuti ujian hafalan setiap pertengahan semester dan akhir semester. Penilaian hasil pembelajaran Al-Qur`an diukur dengan kelancaran dan ketetapan hafalan melalui setoran dan ujian hafalan.[4] </p>
      <p id="_paragraph-32">Perencanaan sangat penting sebagai fondasi utama dari seluruh fungsi manajemen; tanpa perencanaan yang baik, sulit bagi fungsi manajemen lainnya untuk berjalan dengan efektif[26]. Secara keseluruhan, perencanaan pembelajaran di Markaz Tahfidz Al-Firdaus menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pengembangan santri dalam menghafal Al-Qur'an sejak dini dengan menggunakan strategi yang terencana dan didasarkan pada bukti. Dengan ini akan membantu memastikan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan berjalan dengan baik.</p>
      <p id="_paragraph-33">
        <bold id="bold-2b554071d92c627367d289e3d9876dbd">B.Pengorganisasian Pembelajaran Tahfidz Anak Usia Dini di Markaz Tahfidz Al-Firdaus Sidoarjo</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-34">Berdasakan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan direktur terkait pengorganisasian pembelajaran di Markaz Tahfidz Al-Firdaus bahwa direktur membagi tanggung jawab kepada setiap ustadzah sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Stephen P. Robbins dan Mary Coulter bahwa pengorganisasian melibatkan pendefinisian struktur peran dengan menetapkan aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan dan unit-unit fungsionalnya. Proses ini mencakup pengelompokkan aktivitas, penugasan tugas, delegasi wewenang untuk pelaksanaannya, serta koordinasi hubungan wewenang baik secara horizontal maupun vertikal di dalam struktur organisasi[27]. Berdasarkan hasil observasi, pembagian tugas tersebut antara lain : (1) 1 ustadzah sebagai Musyrifah yang bertugas merumuskan materi pembelajaran Tahfidz, (2) 1 ustadzah yang bertugas untuk pengadaan alat pembelajaran serta memastikan alat pembelajaran dapat digunakan. (3) 9 ustadzah yang berugas untuk mengajar, yang mana setiap kelas memiliki ustadzah yang bertanggung jawab didalam kelas tersebut, masing-masing kelas memiliki 1 ustadzah keculi pada level 1, karena di level 1 usia anak masih sangat kecil, dan salah satu ustadzah bertugas untuk mendampingi anak ketika ada yang ke kamar mandi.</p>
      <p id="_paragraph-35">Setiap ustadzah diberi tugas untuk mendampingi santri selama proses menghafal, dan memastikan selama proses pembelajaran santri terkondisikan dengan baik sehingga dapat mencapai target yang ingin dicapai. Markaz Tahfidz Al-Firdaus memiliki sistem manajemen yang terstruktur dengan baik untuk mendukung pembelajaran Al-Qur'an bagi para santri. Pembagian tugas kepada setiap ustadzah, termasuk Musyrifah, pengadaan alat pembelajaran, dan pengajaran langsung, menunjukkan peran yang jelas dalam mendukung berbagai aspek pembelajaran dan pengembangan siswa. Secara keseluruhan, struktur organisasi dan metode pembelajaran yang terorganisir ini mendukung visi untuk memaksimalkan potensi hafalan Al-Qur'an para santri. Ini mencerminkan komitmen yang kuat dari Markaz Tahfidz Al-Firdaus dalam membentuk dan mempersiapkan generasi muda dengan pengetahuan dan nilai-nilai agama yang kokoh sejak usia dini.</p>
      <p id="_paragraph-36">
        <bold id="bold-1212bf47e8cef01c7317a7271be016c9">C.Pelaksanaan Pembelajaran Tahfidz Anak Usia Dini di Markaz Tahfidz Al-Firdaus Sidoarjo</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-37">Berdasarkan hasil wawancara dengan direktur Markaz Al-Firdaus bahwa pelaksanaan pembelajaran dilakukan pada hari senin-jum`at, dimulai pada pukul 07:00-12:15 dan di tempuh selama 6 bulan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran di Markaz Tahfidz Al-Firdaus menggunakan metode Tabarak, setiap kelas dilengkapi dengan media pembelajaran yang lengkap seperti seperangkat computer yang dilengkapi dengan program ayat, video talqin Al-Qur`an, dan bacaan-bacaan dari Syaikh-Syaikh pilihan. Guru dalam melaksanakan pembelajaran bertanggung jawab untuk mengelola dan mengorganisasikan kelas, menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi, serta memanfaatkan media pembelajaran dengan baik dan menarik.[3] Sebelum pembelajaran dimulai ustadzah akan menyampaikan tata tertib selama pembelajaran berlansung seperti, tidak boleh datang terlambat, tidak boleh membawa mainan kedalam kelas, duduk harus rapi, tangan dan kaki harus dilipat, kalau ada santri yang mengantuk maka akan diminta untuk berdiri atau ke kamar mandi untuk mencuci muka. Pelaksanaan pembelajaran dimulai dengan tahap persiapan, guru menyiapkan murid untuk duduk di tempatnya masing-masing dan diawali dengan do’a. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengulangan materi hafalan Al-Qur’an sebelumnya agar pembelajaran dapat terintegrasikan dengan baik. Setelah kegiatan persiapan maka dilanjutkan dengan penyampaian materi pembelajaran Al-Qur’an. </p>
      <p id="_paragraph-38">Materi pembelajaran yang akan dihafalkan sesuai dengan tingkatan level yang diikuti, seperti; level 1, maka yang akan di hafalkan adalah Juz 30 sekaligus belajar Huruf berharokat dan tanwin, Level 2 menghafal Juz 29 dan belajar membaca,  Level 3 menghafal Surat Al-Baqoroh dan Ali-Imran, Level 4 menghafal Surat An-Nisa`-Al-Anfal, Level 5 menghafal Surat At-Taubah-Thoha, Level 6: menghafal Surat Al-Anbiya`-Fathir, dan yang terakhir Level 7 menghafal Surat Yaasin-At-Tahrim. Di akhir pembelajaran dilakukan penilaian terkait pencapaian hafalan, sikap, dan pemberian hadiah kepada santri yang mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini sesuai dengan teori pelaksanasan pembelajaran yaitu melaksanakan rancangan dari apa yang telah dibuat dan direncanakan dalam suatu program[28]. Pelaksanaan disini ialah seorang pendidik membuat rancangan atau program lalu melaksanakan sesuai dengan apa yang direncanakan dan dari pelaksanaan tersebut mendapatkan hasil dari sebuah program yang telah dilaksanakan oleh seorang peserta didik[29].</p>
      <p id="_paragraph-39">Pelaksanaa pembelajaran Tahfidz Al-Qur`an anak usia dini di Markaz Al-Firdaus dilakukan dengan sangat terstruktur dan disiplin. Ini menunjukkan bahwa lembaga tersebut memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik bagi santri.[30] Pengaturan tata tertib sebelum pembelajaran dimulai, seperti tidak boleh datang terlambat dan tidak boleh membawa mainan ke dalam kelas, menunjukkan adanya disiplin yang ketat. Tata tertib ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Secara keseluruhan, sistem pembelajaran dan metode yang diterapkan di Markaz Tahfidz Al-Firdaus tampak sangat efektif dan komprehensif, dengan perhatian pada disiplin, pemanfaatan teknologi, dan penghargaan terhadap pencapaian santri dalam proses pembelajaran. </p>
      <p id="_paragraph-40">
        <bold id="bold-d5d690a342f03d12f2a8e32c69f0a5f4">D.Evaluasi Pembelajaran Tahfidz Anak Usia Dini di Markaz Tahfidz Al-Firdaus Sidoarjo</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-41">Berdasarkan wawancara dengan direktur Markaz Tahfidz Al-Firdaus bahwa penilain di Markaz Tahfidz Al-Firdaus diberikan oleh ustadzah berupa penilaian harian, penilaian mingguan melalui setoran hafalan, ujian awal semester, dan ujian akhir semester. Hal tersebut sesuai dengan konsep evaluasi itu sendiri, evaluasi adalah tahap akhir dari sistem pembelajaran. Dalam evaluasi, penting untuk memperhatikan prinsip kontinuitas, yaitu evaluasi yang baik tidak hanya dilakukan di akhir kegiatan, tetapi juga selama kegiatan berlangsung, bahkan sejak awal kegiatan sudah harus dimulai. Dengan demikian, kekurangan dapat diantisipasi sejak dini dan dikendalikan, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan yang diharapkan[31]. </p>
      <p id="_paragraph-42">Berdasarkan hasil observasi yakni penilaian harian pembelajaran tahfidz Al-Qur`an di Markaz Tahfidz Al-firdaus dilakukan berdasarkan pengamatan ustadzah terhadap proses dan hasil belajar santri berupa laporan harian kepada orang tua santri dalam bentuk kartu mutaba`ah atau kartu penghubung. Lewat kartu penghubung juga Ustadzah menyampaikan terkait surat yang tengah dihafal oleh santri dan kejadian khusus yang berkaitan dengan perkembangan anak selama mengikuti kegiatan pembelajaran tahfidz Al-Qur`an. Penilaian mingguan dilakukan melalui setoran hafalan kepada ustadzah wali kelas dan hasilnya akan dilaporkan kepada orang tua via Whatsapp. Dengan begitu, orang tua santri mengetahui prestasi perkembangan hafalan anak pada setiap minggunya, serta orang tua dapat membantu mendampingi hafalan santri di rumah[30]. Penilaian semester di Markaz Tahfidz Al-Firdaus dilaporkan dalam buku laporan perkembangan semester dengan kriteria yang sudah ditentukan oleh pihak Markaz. Langkah ini diartikan sebagai proses menentukan nilai suatu objek. Penilaian memiliki ciri adanya program yang dinilai dan kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara kenyataan (apa adanya) dan kriteria (apa yang seharusnya). Evaluasi dapat dianggap sebagai langkah konkret untuk mempertahankan atau meningkatkan nilai dan mutu suatu hal dengan cara refleksi ke belakang[32]. Sistem penilaian di Markaz Tahfidz Al-firdaus diatur dengan cukup terstruktur dan komprehensif.. Secara keseluruhan, sistem penilaian yang diterapkan di Markaz Tahfidz Al-Firdaus menunjukkan komitmen untuk memastikan bahwa proses pembelajaran tahfidz Al-Qur'an berjalan efektif dan transparan. Penekanan pada pengembangan siswa secara individual dan penerapan standar evaluasi yang jelas menunjukkan fokus yang kuat pada kemajuan akademik dan pencapain target hafalan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-6e803ade632af355260c7de95d824e13">
      <title>Simpulan </title>
      <p id="_paragraph-44">Manajemen pembelajaran tahfidz Al-Qur`an untuk anak usia dini di Markaz Tahfidz Al-Firdaus dilaksanakan dengan tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan pembelajaran dilakukan dengan penentuan target hafalan,  penentuan media pembelajaran, penentuan waktu pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Pengorganisasian yang dilakukan yaitu pembagian tugas kepada masing-masing ustadzah. Pelaksanaan yang dilakukan yaitu dimulai dengan tahap persiapan, pengulangan materi hafalan Al-Qur’an yang dihafalkan sebelumnya, penyampaian materi pembelajaran Al-Qur’an, penilaian terkait pencapaian hafalan, sikap, dan pemberian hadiah kepada santri yang mengikuti pembelajaran dengan baik. Sedangkan evaluasi Pembelajaran tahfidz al-Qur’an yang dilaksanakan di Markaz Tahfidz Al-Firdaus bertujuan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan dalam program yang dijalankan melalui rapat atau musyawarah antara musyrif tahfidz, laporan kepada orangtua siswa, dan juga dilaksanakan ujian – ujian tes hafalan siswa. </p>
      <p id="_paragraph-45">
        <bold id="bold-094e61a48d73b658eec09795b8e6adbe">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-46">Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para dosen yang telah membimbing hingga tugas akhir ini dapat diselesaikan. Penulis juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penelitian ini, baik melalui tenaga maupun gagasan-gagasan yang mendukung terciptanya penelitian ini. Kepada Yayasan Al-Firdaus sebagai tempat penelitian dan juga para ustadzah yang telah membantu melengkapi data-data yang diperlukan, kami sampaikan terima kasih. </p>
    </sec>
  </body><back/></article>
