<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Testing the Potentiality of Aspergillus Flavus and Trichoderma in Marginal Saline Soil as Biodertilizer Agents</article-title>
        <subtitle>Pengujian Potensi Aspergillus Flavus Dan Trichoderma Lahan Salin Marginal Sebagai Agen Hayati Biofertilizer</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-ff409c8a1a2d41a8e3ef2b1359c7dd50" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hasanah</surname>
            <given-names>Risalatul</given-names>
          </name>
          <email>risahasanah47@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-9d413921bfb1a6bec85ddc3d04ae42ee" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Sutarman</surname>
            <given-names>Sutarman</given-names>
          </name>
          <email>sutarman@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2023-04-13">
          <day>13</day>
          <month>04</month>
          <year>2023</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-70e9bd4a09d42d34ee123379768db302">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Lahan kurang produktif dapat dimanfaatkan sebagai lahan budidaya tanaman seperti lahan pasang surut dan rawa, diperkirakan terdapat 6-7 juta ha lahan pasang surut dan rawa di Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian[1]. Lahan-lahan tersebut masih terpengaruh oleh salinitas. Ekstensifikasi areal pertanian dilakukan dengan perluasan lahan dengan pemanfaatan lahan marginal. Pada lahan salin mengandung garam yang larut dalam tanah menyebabkan menurunnya produktivitas pada tanaman yang dibudidayakan pada lahan salin[2]. Kurangnya pemanfaatan tanah salin sebagai media budidaya tanaman disebabkan adanya efek toksi dan peningkatan tekanan osmotik akar yang berdampak terhadap terganggunya penyerapan unsur hara oleh tanaman[3].</p>
      <p id="_paragraph-13">Tanaman secara umum menyerap unsur hara dari larutan tanah dan aplikasi pupuk pada daun untuk perkembangan dan pertumbuhan serta proses lainnya pada tanaman. ketersediaan unsur hara tanah dikendalikan oleh banyak faktor diantaranya karakterisasi tanah seperti pH tanah, salinitas, siklus biogeokimia dan biofisikimia tanah[4].</p>
      <p id="_paragraph-14">Pemupukan dengan biofertilizer berbahan aktif mikroba menguntungkan memberikan manfaat bagi tanah diantaranya dapat memfasilitasi ketersediaan hara makro menjadi solusi untuk meningkatkan kandungan hara tanah dan tidak berdampak buruk terhadap kesehatan tanah[5]. Lebih lanjut dengan pemanfaatan mikroba efektif dapat menjadi upaya mengatasi cekaman lingkungan, membantu pertumbuhan tanaman[6]</p>
      <p id="_paragraph-15">Agen hayati biofertilizer, di antaranya dari kelompok jamur, dalam aktivitasnya di dalam tanah di samping berperan dalam menyediakan lingkungan rhizosfer yang baik, juga akan berperan dalam mendekomposisi bahan organik yang proses mineralisasinya tersebut akan menghasilkan nutrisi bagi tanaman[7]. Jamur mempunyai kemampuan mudah beradaptasi dengan kendala lingkungan yang parah dan dapat dengan mudah untuk dimanipulasi dengan masalah yang berbeda[8] selain itu jamur juga mempunyai potensi dalam biodegradasi, jamur mempunyai kemampuan unggul untuk menghasilkan berbagai protein ekstraselular dan senyawa organik lainnya[9].</p>
      <p id="_paragraph-16">Dampak lebih lanjut atas berbagai peran penting agen hayati tersebut adalah membantu meningkatakan ketahanan tanaman dari gangguan dan cekaman pathogen penyebab penyakit tanaman serta meningkatkan ketahanan tanaman dari cekaman lingkungan fisik seperti kemasaman tanah, kekeringan, dan kekahatan unsur tertentu dalamtanah; dengan demikian penggunaan mikroba sebagai pupuk hayati merupakan praktek agronomi yang ramah lingkungan[10]. Namun demikian kinerja dan konsistensi peran agen hayati dalam biofertilizer sangat ditentukan oleh karakteristik bahan baku <italic id="_italic-21">carrier agent, </italic>proses formulasi dan pengkemasan, serta karakteristik intrinsik mikroba agen hayati itu sendiri khususnya terkait kemampuan biofertilasi dan produksi metabolit sekunder yang bermanfaat bagi tanaman[11].</p>
      <p id="_paragraph-17"><italic id="_italic-22">Trichoderma sp. </italic>merupakan fungi menguntungkan yang banyak dijumpai hampir pada semua jenis tanah dan berbagai habitat. Fungi <italic id="_italic-23">Trichoderma sp.</italic> berasosiasi dengan akar tanaman dan menyelimuti akar sehingga menimbulkan hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan[12]. <italic id="_italic-24">Trichoderma </italic>memproduksi antibiotic, toksin dan enzim yang dapat menghambat pertumbuhan pathogen dan mendegradasi bahan organik[13] serta meningkatkan ketahanan tanaman pada cekaman abiotik lingkungan[14] melepaskan ion P sehingga meningkatkan ketersediaannya pada tanah[15]. Jamur <italic id="_italic-25">Trichoderma </italic>berperan sebagai <italic id="_italic-26">plant growth promoting fungi </italic>(PGPF) dalam menciptakan lingkungan yang menguntungkan dan memproduksi metabolit sekunder dengan jumlah besar[16].</p>
      <p id="_paragraph-18"><italic id="_italic-27">Aspergillus sp. </italic>sebagaifungi cosmopolitan yang tersebar pada berbagai kondisi lahan dan lingkungan[17], memiliki kemampuan dalam mendekomposisi bahan organik, meremediasi polutan pada lahan, juga dapat dimanfaatkan sebagai agen biocontrol bagi pathogen penyebab penyakit tertentu mengingat kemampuannya menghasilkan berbagai metabolit sekunder termasusk asam organic dan berbagai enzim[18]. <italic id="_italic-28">Aspergillus flavus </italic>mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat dibawah tanah dengan kandungan logam berat cadmium (Cd) dan kromium (Cr) serta keracunan tanaman dengan menyesuaikan fisiologis tanaman[19]. Dalam penelitian[20] menunjukkan bahwa <italic id="_italic-29">Aspergillus flavus </italic>mempunyai potensi yang tinggi sebagai biodegradasi air limbah tekstil.</p>
      <p id="_paragraph-19">Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian terhadap jamur <italic id="_italic-30">Aspergillus flavus</italic> dan <italic id="_italic-31">T. Asperellum </italic>sebagai agen hayati biofertilizer pada tanaman budidaya di tanah dengan salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jamur <italic id="_italic-32">Aspergillus flavus </italic>yang memiliki kemampuan sebagai agen hayati serta kemamuan berkinerja seperti halnya <italic id="_italic-33">T. </italic><italic id="_italic-34">a</italic><italic id="_italic-35">sperellum </italic><italic id="_italic-36">(koleksi </italic>Laboratorium Mikrobiologi dan BioteknologiUniversitas Muhammadiyah Sidoarjo (LMB UMSIDA) yang sudah terujisebagai agen hayati<italic id="_italic-37"> biofertilizer yang </italic>dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman sekaligus mengujia kemampuannya untuk hidup dan berkeragaman dalam media tumbuh standard (PDA klorampenikol) yang mengandung tanah salin.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-c86edc3fd48bce9472c36ad80465b5a1">
      <title>Metode Penilitian</title>
      <sec id="heading-bf5a3f84c76e198e4b59316214f62d2b">
        <title>Isolasi dan Identifikasi Morfologi Agen Hayati</title>
        <p id="_paragraph-20">Isolasi jamur <italic id="_italic-38">Aspergillus flavus</italic> dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Jamur <italic id="_italic-39">Aspergillus flavus</italic> diambil dari tanah rizosfer tanaman padi tanah lahan basah suboptimal di Sidoarjo. Jamur <italic id="_italic-40">Aspergillus flavus</italic> diisolasi dan subkultur pada media PDA-c (Potato Dextrose Agar-chloramphenicol). Dari sampel tanah yang diambil pada kedalaman 0-15 cm disekitar akar tanaman padi, dicuplik sebanyak 2 gram dan diencerkan secara seri (serial dilution method) hingga pegenceran 10-4 dengan menggunakan beaker glass 100 ml yang pada tiap pengenceran dilakukan homogenisasi campuran tanah dan air destilat tersebut dengan menggunakan magnetic stirrer secukupnya hingga campuran merata dan homogen. Dari suspensi tersebut diambil sebanyak 1 ml dengan menggunakan syringe dan disemprotkan secara merata ke media PDA-c di permukaan cawan petri. Berikutnya cawan petri di-seal hingga rapat dan diinkubasi selama tiga hari. Koloni kecil yang diduga sebagai fungi <italic id="_italic-41">Aspergillus</italic> <italic id="_italic-42">flavus </italic>dicuplik dengan ujung jarum ose dan diinokulasikan ke permukaan media PDA-c baru,kemudian diinkubasi selama 7 hari. Isolate <italic id="_italic-43">Aspergillus flavus</italic> diidentifikasi dengan karakteristik morfologi warna koloni kuning kehijauan, dikenal dengan cetakan beludru, koloni berbentuk butiran, seringkali dengan alur radial, berwarna kuning pada awalnya namun cepat menjadi kuning kehijauan seiring bertambanya usia jamur. Semua kegiatan isolasi dan inokulasi tersebut dilakukan secara aseptik. Perkembangan koloni dapat diamati selama masa inkubasi tersebut, dan dari koloni yang tumbuh tersebut dapat dicuplik dengan menggunakan jarum ose untuk dioleskan ke obyek gklas untuk pengamatan mikroskopis. Hasil pengamatan bentuk dan percabangan hifa, diameter hifa, dan diameter konidiospora diperbandingkan dengan berbagi jurnal bereputasi untuk menentukan dan memastikan bahwa isolatyang diperoleh adalah <italic id="_italic-44">Aspergillus spp</italic>.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-a12600d4765e673f61e10ccdb1115a83">
        <title>Pengamatan Pertumbuhan Uji In Vitro Agen Hayati</title>
        <p id="_paragraph-21">Dalam percobaan ini, isolate <italic id="_italic-45">Aspergillus flavus</italic> yang ditemukan dari isolasi sampel tanah perakaran tanaman padi diamati pertumbuhan koloninya secara in vitro dan memperbandingkan dengan pertumbuhan koloni <italic id="_italic-46">Trichoderma asperellum</italic>. <italic id="_italic-47">Trichoderma asperellum</italic> merupakan isolate agen hayati koleksi Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, yang sudah teruji kemampuannya sebagai agen biofertilizer sekaligus agen biocontrol. Kegiatan percobaan dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Oktober 2022. Kedua isolate jamur <italic id="_italic-48">Aspergillus flavus</italic> dan <italic id="_italic-49">T.asperellum</italic> ditumbuhkan pada media PDA-c dengan masa inkubasi hingga empat hari. Tiap hari dilakukan pengamatan pertumbuhan koloni dengan mengukur diameter pertambahan jangkauan koloni, panjang koloni kemudian diperbandingkan pertumbuhan koloninnya.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-aba75c525f48a9d0dc57a31b8a59581c">
        <title>Uji Keragaan Agen Hayati pada Tanah Salin</title>
        <p id="_paragraph-22">Jamur <italic id="_italic-50">Aspergillus flavus</italic> hasil identifikasi selanjutnya diuji kemampuan untuk dapat hidup dan berkeragaan pada tanah salin dan diperbandingkan kemampuannya dengan isoat <italic id="_italic-51">T.</italic><italic id="_italic-52">asperellum</italic> yang dianggaop sudah lolos pengujian daya biofertilasinya di Laboratoium LMB-UMSUDA. Masing-masing isolate ditumbuhan pada media PDA-c yang dicampur dengan tanah salin degan perbandingan 1:1 dan 2:1 dengan model dual culture seperti yang diaplikasikan pada pengujian daya hambat. Sementara itu masing-masing isolate juga ditumbuhkan pada media PDA-c saja sebagai mono culture. Dari masing-masing biakan isolate dicuplik dengan menggunakan cork borer ukuran 5 mm; kemudian hasil cuplikannya diletakkan dalam cawan berisi media PDA-c dengan jarak 3 cm dari masing-masing tepi cawan petri, kemudian diinkubasi dalam inkubator pada suhu 25˚C selama 4x24 jam. Persentase daya hambat dihitung hingga hari ke 4 dengan menggunakan rumus (1) ‘</p>
        <fig id="figure-panel-38259c5eda5d19dd21dd3edf36ebb8ea">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <title>Rumus Persentasi Daya Hambat</title>
            <p id="paragraph-0249e22d1ae626e0aa7b7ae39ebdefc6">Ketentuan: R1 merupakan jari-jari koloni jamur pada media PDA-c, sedangkan R2 adalah jari-jari koloni jamur pada media PDA-c dan tanah salin dengan perbandingan 1:1 atau 2:1.</p>
          </caption>
          <graphic id="graphic-0c95310587c030043bcbf5b0c46599e5" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="1. Rumus.jpg" />
        </fig>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-9553751e0a4317e0ff4e014059caef0c">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-29e6323908fe8c4322c9135f23a5903a">
        <title>Hasil Isolasi dan Identifikasi Morfologi Agen Hayati</title>
        <p id="_paragraph-25">Hasil pengamatan morfologi terhadap isolate <italic id="_italic-53">Aspergillus flavus</italic> yang diperoleh dari tanah rizosfer tanaman padi ditunjukkan pada Gambar 1a. Koloni berwarna coklat kekuningan, bertekstur seperti kapas dan bertepung. Hasil pengamatan secara mikroskopis <italic id="_italic-54">A</italic><italic id="_italic-55">. </italic><italic id="_italic-56">flavus</italic> hasil inkubasi 72 jam dengan perbesara 400x (Gambar 1b) didapatkan penampilan konidial yang bulat dengan ukuran diameter rata-rata 2,39 µm , konidia panjang dan hifa bersekat dengan diameter rata-rata 3,25 µm</p>
        <fig id="figure-panel-16899c84839fa8e95555be53b6d77749">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <title>Karakteristik makroskopis (a) dan mikroskopis (b) jamur <italic id="italic-1">Aspergillus flavus</italic></title>
            <p id="paragraph-8d9c25550dfeaa250ebde78bfa6a33d2" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-f947584f8e8ee85b85685daf7b5b021a" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="3. Perbandingan Pertumbuhan.jpg" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-27">Berdasarkan gambar 2b jamur <italic id="_italic-58">Aspergillus flavus</italic> mempunyai konidia yang berbentuk bulat. Konidia sangat penting bagi kelangsungan jenis fungi, karena merupakan salah satu organ reproduksi aseksual yang dapat menjamin eksistensi <italic id="_italic-59">Aspergillus sp.</italic> Penyebaran konidio spora <italic id="_italic-60">Aspergillus sp.</italic> yang halus diawali dengan perpindahan spora secara massif yang difasilitasi oleh pergerakan angin atau terbawa melalui tubuh binatang dan dapat tersebar ke mana-mana dengan tingkat penyebaran yang tinggi, sehingga fungi ini bersifat kosmopolitan[21].</p>
      </sec>
      <sec id="heading-f67b37bc22518a272461d4f699efa93b">
        <title>Pengamatan In Vitro Agen Hayati</title>
        <p id="_paragraph-28">Pertumbuhan koloni masing-masing isolate <italic id="_italic-61">Aspergillus flavus </italic>dan <italic id="_italic-62">T. asperellum </italic>ditunjukkan pada gambar berikut</p>
        <fig id="figure-panel-a336e579f8a1dc3f3702d62b51562095">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <title>Perbandingan penampilan pertumbuhan antara <italic id="italic-eef66622c211c26249566be8ae628fcf">Aspergillus flavus </italic>(atas) dan <italic id="italic-7f67971fa86a4edd1e9f1b01792aed94">T. asperellum </italic>(bawah) pada 1 HSI dan 4 HSI</title>
            <p id="paragraph-2d224c577675ad3f07aa00e5911580d5" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-c84996377a1eda74df61855fa40f7cae" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="3. Perbandingan Pertumbuhan.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-30">Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan diameter koloni isolate <italic id="_italic-65">Aspergillus flavus</italic> pada media PDA-c lebih cepat daripada isolate <italic id="_italic-66">T. asperellum</italic>. Pertumbuhan jamur <italic id="_italic-67">Aspergillus flavus</italic> sangat cepat, sehingga dalam 4x24 jam setelah inokulasi (HSI) sudah berkembang memenuhi cawan petri berdiameter 9 cm, sedangkan isolate <italic id="_italic-68">T. asperellum</italic> belum tumbuh memenuhi cawan petri.[22] menyatakan Jamur <italic id="_italic-69">Aspergillus sp.</italic> mempunyai proses pertumbuhan yang sedang hingga cepat.</p>
        <p id="_paragraph-31">Pada isolate <italic id="_italic-70">Aspergillus flavus</italic> pada hari ke 2 inkubasi pada pengamatan makroskopis jamur sudah menyebar ke seluruh cawan petri berukuran 9 cm ditemukan <italic id="_italic-71">Aspergillus flavus</italic> warna koloni sudah terlihat kuning kehijauan dan permukaan seperti kapas, hal tersebut sesuai dengan pernyataan[23] yang mengemukakan bahwa jamur <italic id="_italic-72">Aspergillus flavus</italic> mempunyai karakteristik warna hijau kekuningan dan permukaan seperti kapas.</p>
        <p id="_paragraph-32">Kecepatan pertumbuhan jamur <italic id="_italic-73">Aspergillus flavus</italic> dibandingkan dengan T.asperellum dipengaruhi oleh konidia yang merupakan salah satu organ reproduksi aseksual jamur <italic id="_italic-74">Aspergillus sp.</italic> konidia atau spora berisfat kosmopolitan, dimana konidia atau sporanya sangat ringan dan berukuran kecil sehingga mudah terbawa angin[21].</p>
      </sec>
      <sec id="heading-2e25e7d9dd80ce054d57e7990deced13">
        <title>
          <bold id="_bold-25">Uji Keragaan Hayati Pada Tanah Salin</bold>
        </title>
        <p id="_paragraph-33">Hasil pengujian keragaan kedua isolate fungi agen hayati menunjukkan penampilan pertumbuhan koloni hingga pengamatan 72 jam. Gambar 3 menunjukkan pertumbuhan koloni <italic id="_italic-75">Aspergillus flavus</italic> pada media PDA-c salin 1:1 dan Gambar 4 menunjukkan pertumbuhan koloni <italic id="_italic-76">Aspergillus flavus</italic> pada media PDA-c salin 2:1.</p>
        <fig id="figure-panel-c15b6f7c81402cc9fd4312472f0c1e97">
          <label>Figure 4</label>
          <caption>
            <title>Pertumbuhan koloni <italic id="italic-e36ed59ffa8eb550bd5b9dad3d1d0417">Aspergillus flavus </italic>pada media salin 1:1</title>
            <p id="paragraph-112c8f24cb8c5611246699efe5999f4a" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-8ffd0f611d29162438189bb6b96cbc33" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="4. Pertumbuhan Koloni 1banding1.png" />
        </fig>
        <fig id="figure-panel-a142b1b0cd3834d6a29c5bb4b709c4bc">
          <label>Figure 5</label>
          <caption>
            <title>Pertumbuhan koloni <italic id="italic-9cb88b05e44a3625101c37f2fbb6db62">Aspergillus flavus </italic>pada media salin 2:1</title>
            <p id="paragraph-1bc205e0e19ab411aa14e540efc2694c" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-cc4028c21aa892b63d7469448e3cb642" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="5. Pertumbuhan Koloni 2banding1.jpg" />
        </fig>
        <fig id="figure-panel-1a5ac5766fe0d45625c092e81a1dbfa8">
          <label>Figure 6</label>
          <caption>
            <title>Pertumbuhan koloni <italic id="italic-1be104257665930e7dcef32a2899dc55">Aspegillus flavus </italic>pada PDA-c sebagai control</title>
            <p id="paragraph-21c210873cad9917e372b5a1252a05ee" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-3a4b3b0cb4e8f2f00c5db7ddec10e87b" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="6. Pertumbuhan Koloni pada PDA-c.jpg" />
        </fig>
        <fig id="figure-panel-e585f50fcdbe8b1fd35f9e893f8fded3">
          <label>Figure 7</label>
          <caption>
            <title>Pertumbuhan <italic id="italic-e6320afa220bd98315c8b835021e9559">T.asperellum </italic>pada media salin 1:1 250 g</title>
            <p id="paragraph-e38681fd143955e7c81d0a9f2d3457f9" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-7402de96994432f147a12fb9c6797cc3" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="7. Asperellum media salin 1banding1.jpg" />
        </fig>
        <fig id="figure-panel-6aa1597003deb3038dfd767faadafd21">
          <label>Figure 8</label>
          <caption>
            <title>Pertumbuhan <italic id="italic-2c6921b449f4edf02c3a22508b5c6ac9">T.asperellum </italic>pada media salin 2:1 250 g</title>
            <p id="paragraph-76f60b7be1605903575d77c9d6f2a98b" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-a1cd3eb220fd0ecaa9c0da5badb2a4f6" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="8. Asperellum media salin 2banding1.jpg" />
        </fig>
        <fig id="figure-panel-c27b89076e03e893a0a90d84c149d741">
          <label>Figure 9</label>
          <caption>
            <title>Pertumbuhan <italic id="italic-2506f16559a74b7d197b94458c4f6e0c">T.asperellum </italic>pada media PDA-c sebagai control</title>
            <p id="paragraph-42efc8ec361d138de17df212c96d751b" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-9a5aba6dc81ac579e464d9f244317e67" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="9. Asperellum PDA-c.jpg" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-42">Secara kuantitatif respons isolate fungi terhadap media yang diberi tanah salin diperlihatkan pada tabel 1.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title>Respon isolate fungi terhadap tanah salin</title>
            <p id="_paragraph-44" />
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-cc60f48e3660c4bd03907c391d70b3d4">
                <td id="table-cell-8f7c890c2313aa6fea98debcd7717aa9">Perlakuan</td>
                <td id="table-cell-d41032da8b0d13074f598787b19222ad" colspan="4">Waktu pengamatan ke-</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4682d7d89f2dd32dde4f9f08622f42b2">
                <td id="table-cell-681bcf58e7d313ecefe22072ea67963d">1</td>
                <td id="table-cell-360ca410f2066388d29b71273d00e779">2</td>
                <td id="table-cell-de8b66400be4298b39ee9520f3bec12e">3</td>
                <td id="table-cell-b290a6c2b78eb175cb22b1357500d3c2">4</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f845f9d00b68ac81639b731befca820b">
                <td id="table-cell-0f571dff8d2aa15fb1223d7bc8f6b188">Aspergillus flavus media salin 1:1</td>
                <td id="table-cell-03dffcee5701bb2981f41e9ece0aeefe">1,5</td>
                <td id="table-cell-4dc35b016ceb118c31249bebb96c58ea">-50</td>
                <td id="table-cell-0d236a2c81b1b1a57ca7f343903f85a0">0</td>
                <td id="table-cell-45c437283205e29da22172ec2d61c8b9">0</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-eabbed9b3645961a9ed0d751d3a85bd8">
                <td id="table-cell-98fe7649d69772a4d33e5636f303255e">Aspergillus flavus media salin 2:1</td>
                <td id="table-cell-88b9a094fd3fbf3739592fc68bf65a9d">-13,3%</td>
                <td id="table-cell-0bba2d0af870410f130e662597560aae">-75</td>
                <td id="table-cell-1e3f02bfb3b4150a679e7c9dab0a30fc">0</td>
                <td id="table-cell-5e1b941a0492758b627b715c99fb7951">0</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-3dd3cb456046928d184b9a19de35bb95">
                <td id="table-cell-df4f8f039320abdfefc4a76fa8fa880a">T.asperellum media salin 1:1</td>
                <td id="table-cell-6dc97581a8ba424b4e8701b8979e28f4">-33.3</td>
                <td id="table-cell-317dedb09ccb85260b76dfa4006c699c">6,25</td>
                <td id="table-cell-89bb7919c339049b45ac9d11a333fd7a">0</td>
                <td id="table-cell-21f7fee0d2cc47cd67ddd4f3958c5801">0</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-6152101559b6aaa026850552385d5db7">
                <td id="table-cell-bb085b08a8cfb1575f48c580312df640">T. asperellum media salin 2:1</td>
                <td id="table-cell-c8472d8817d9b4755909b1f241f8d591">-13,3%</td>
                <td id="table-cell-840909d509271b578bf0d810a669ecb0">25</td>
                <td id="table-cell-022455f49df8ac99c7d66bb061c8aadc">0</td>
                <td id="table-cell-f2275fa5490307e84273d4ea7b337f98">0</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-45">Seperti diperlihatkan pada Tabel 1 tampak kedua jenis fungi merespons secara cepat media tumbuh yang mengandung tanah salin. Namun demikian resposn pertumbuhan fungi <italic id="_italic-88">A.flavus</italic> lebih baik dibandingkan dengan <italic id="_italic-89">T.asperellum</italic> hingga hari kedua setelah inokulasi. Ini menunjukkan karakteristik yang menonjol kedua fungi sebagai agen hayati. Fakta ini sekaligus menjukkan bahwa kedua isolate sebagai fungi cosmopolitan yang mampu hidup dalam berbagai kondisi subtrat. Namun demikian <italic id="_italic-90">A. flavus</italic> memiliki lebih baik dalam hal kemampuan menyesuaikan dengan lingkungan salin.</p>
        <p id="_paragraph-46">Secara alami mikroba dapat beradaptasi pada lingkungan yang paling sesuai untuk kebutuhan fungi tersebut tumbuh, untuk mendukung reproduksi dan pertumbuhan fungi membutuhkan nutrisi sebagai sumber energi dan kondisi lingkungan yang optimum yang harus dipenuhi untuk membangun komponen-komponen seluler dan menghasilkan energi untuk proses kehidupan sel[24]. Respon pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu substrat, pH (derajat keasaman) dan senyawa kimia yang terkandung[23]. Perbedaan pertumbuhan fungi pada setiap media dapat disebabkan karena kontaminasi udara pada saat penuangan media pada cawan petri, kelembaban dan suhu media.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-3cf591a62b6a23d4c5385fcc2b5f862e">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-47">Berdasarkan penelitian ini, jamur Aspergillus flavus yang diisolasi dari tanah rizosfer tanaman padi pada lahan basah suboptimal di Sidoarjo menunjukkan potensi sebagai agen pupuk hayati (biofertilizer) dengan morfologi makroskopis berupa warna koloni kuning kehijauan, permukaan seperti kapas, dan hadirnya powder. Pengujian terhadap daya hambat agen hayati Aspergillus flavus dan Trichoderma asperellum pada tanah salin secara makroskopis menunjukkan bahwa pertumbuhan pada tanah salin lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pada media PDA-c. Penggunaan tanah salin dengan komposisi PDA-c:tanah salin 1:1 dan 2:1 meningkatkan respons pertumbuhan A. flavus sebesar 50% dan 70% pada dua hari setelah inokulasi. Implikasi dari penemuan ini adalah bahwa jamur Aspergillus flavus dapat menjadi alternatif potensial dalam meningkatkan produktivitas pertanian pada lahan yang mengalami salinitas tinggi. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme interaksi antara A. flavus dan T. asperellum pada lingkungan tanah salin serta dampak jangka panjang penggunaan agen hayati ini terhadap kesuburan tanah dan lingkungan.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>