<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>The Relationship Between Parental Social Support and Academic Stress in University Students</article-title>
        <subtitle>Hubungan Antara Dukungan Sosial Orang Tua dengan Stress Akademik pada Mahasiswa di Universitas</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-3bfba047074607d9e0264050df0f12df" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Mukti</surname>
            <given-names>Salsabila Ayu Setyo</given-names>
          </name>
          <email>Salsabilaayusm24@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-7112b6c7d2b27ad3d52c84ea4c27e880" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Ansyah</surname>
            <given-names>Eko Hardi</given-names>
          </name>
          <email>ekohardiansyah@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-11-18">
          <day>18</day>
          <month>11</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Menurut Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, yaitu pendidikan merupakan upaya terstruktur dalam melaksanakan proses pendidikan serta keadaan belajar mengajar guna siswa bergerak aktif sanggup meningkatkan keunggulan yang dimilikinya guna mempunyai kemampuan spiritual keagamaan, kecerdasan, kontrol diri, karakter, akhlakul karimah dan keahlian yang dibutuhkan oleh dirinya, masyarakat, bangsa serta negeri yang berperan dalam menaikkan kemampuan juga bisa menumbuhkan karakter serta bangsa yang beradab dan bermartabat didalam program pencerdasan kehidupan dalam berbangsa[1]. Dalam tingkat perguruan tinggi, mahasiswa banyak sekali memiliki tuntutan yang mengharuskannya untuk mampu menyelesaikan semua tugas yang ada serta tekanan yang ada untuk memperoleh nilai tinggi atau hasil yang memuaskan, mampu menguasai permasalahan yang ada dan mampu menghadapi segala hambatan pada situasi yang ada dan pada situasi yang akan terjadi berikutnya. Namun tidak semua mahasiswa mampu dalam menyelesaikan tuntutan – tuntutan yang ada dan mendapatkan nilai yang tinggi, misal ketika ada tugas yang tidak dikumpulkan sesuai <italic id="_italic-27">D</italic><italic id="_italic-28">eadline</italic> nya. Kegagalan dalam menyelesaikan tuntutan yang ada dapat mengakibatkan mahasiswa tersebut mengalami <italic id="_italic-29">stress</italic> yang tinggi.</p>
      <p id="_paragraph-13">Sarafino [2] menjabarkan <italic id="_italic-30">stress</italic> adalah sebuah keadaan yang dipicu oleh adanya ketidakcocokan antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi biologis, psikologis ataupun kehidupan sosial dari diri seseorang. Sarafino dan Smith [3] mengemukakan aspek-aspek <italic id="_italic-31">Stress</italic> yang terdiri atas 2 aspek yaitu aspek biologis ialah pada keadaan tertentu yang mengancam bisa menumbuhkan respon fisiologis pada tubuh individu terhadap <italic id="_italic-32">Stress</italic> misal seperti kaki dan tangannya menjadi dingin, mengeluarkan keringat, dan perut menjadi kurang stabil, aspek psikososial ialah kondisi dimana <italic id="_italic-33">Stressor</italic> dapat menimbulkan perubahan-perubahan secara psikologis juga sosial seorang individu, misal kognitif ialah kondisi dimana <italic id="_italic-34">Stress</italic> bisa membuat sumber daya pola pikir beralih fungsi seperti kesusahan pada saat konsentrasi, ingatan, mudah lupa, dan kurangnya kemampuan dalam memecahkan masalah, emosi ialah kondisi dimana <italic id="_italic-35">Stress</italic> memunculkan perasaan takut, sedih dan marah sebagai akibat dari respon emosi, perilaku sosial ialah dimana kondisi <italic id="_italic-36">Stress</italic> individu menjadi tidak ramah serta kurang kepekaan atas kebutuhan orang lain. Adapun faktor dalam diri individu yang mempengaruhi <italic id="_italic-37">stress</italic> antara lain keyakinan diri, karakter, motivasi berprestasi dan permikiran individu. Sedangkan faktor dari luar diri individu yaitu kondisi lingkungan tempat tinggal dan hubungan antara individu dengan lingkungannya seperti dukungan sosial orang tua juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi <italic id="_italic-38">stress </italic>akademik[4]. Tingkat <italic id="_italic-39">stress </italic>akademikyang tinggi mampu memberi dampak yang kurang baik terhadap individu yang mengalaminya misal, muncul rasa cemas dan gelisah dalam waktu lama, sakit-sakitan, hingga tak semangat kuliah.</p>
      <p id="_paragraph-14">Fenomena stress akademik ini juga diperkuat dengan hasil wawancara yang telah dilakukan pada mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Peneliti telah melakukan wawancara dengan 2 mahasiswa dan menunjukan bahwa ada stress akademik yang terjadi pada mahasiswa Fakultas Sains dan Tekonologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hal tersebut ditunjukan lewat gelaja perilaku sosial dan emosi yang muncul yaitu adanya perasaan marah, cemas dan gelisah berlebih, ingin menangis dan juga tidak ingin bertemu dengan orang sekitar. Sejalan dengan penelitian Oman, Shapiro, Thoresen, &amp; Plante[5] mengatakan bahwa tingginya tingkat <italic id="_italic-40">stress</italic> khususnya yang dirasakan oleh mahasiswa mampu berpengaruh pada kecemasan dan depresi, pola hidup yang buruk, perasaan tidak berdaya, sakit kepala, gangguan pola tidur dan rasa keinginan untuk bunuh diri.</p>
      <p id="_paragraph-15">Ketika dalam kondisi stress seringkali membuat mahasiswa ingin mencari rasa nyaman, aman dan berusaha untuk keluar dari rasa gelisah dan kekhawatiran yang berlangsung lama. Shingga segala bentuk dukungan sosial orang tua dapat berpengaruh dalam membantu mengurangi <italic id="_italic-41">stress</italic> akademik yang dialami individu. Karena mahasiswa yang memiliki dukungan sosial yang baik maka ia dapat mengatur stressor-stessor yang ia dapat dari dalam diri maupun dari luar. Didukung dengan pendapat Lieberman[6] secara teoritis mengatakan adanya dukungan sosial mampu menurunkan kemungkinan timbulnya kejadian yang dapat mengakibatkan <italic id="_italic-42">stress</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-16">Ellis, Rollins, dan Thomas[7] sendiri memiliki pendapat bahwa dukungan sosial orang tua ialah hubungan yang terkembangkan diantara orang tua dan anak, dengan ciri khas merawat, memberikan persetujuan, kehangatan, dan macam-macam perasaan positif orang tua terhadap anak. Adapun bentuk dukungan sosial orang tua menurut sarafino[7] yakni dukungan emosional misal ungkapan perasaan perhatian dan empati, dukungan informasi misal member saran dan petunjuk serta saran untuk memecahkan masalah, dukungan penilaian misal bentuk penialian yang positif terhadap idea tau perasaan yang dialami individu, dukungan instrumental misal membantu individu secara langsung seperti dukungan keungan ataupun dukungan dalam menyelesaikan tugas tertentu. Menurut Pierce[1] bahwa disaat seseorang sedang menghadapi sebuah permasalahan serta berada di dalam kondisi krisis, dukungan sosial berbentuk pendampingan, emosional, serta informasional bisa menolong seseorang agar dapat melewatinya.</p>
      <p id="_paragraph-17">Berdasarkan beberapa paparan diatas bahwa adanya dukungan sosial orang tua yang baik akan berperan penting terhadap tinggi rendahnya tingkat stress akademik yang dialami oleh mahasiswa. Karena menurut Gottlieb[8] menyatakan dukugan sosial memiliki beberapa bentuk antara lain nasehat ataupun informasi verbal ataupun non verbal, tindakan atau pertolongan secara langsung dari kehadiran orang lain juga memiliki efek perilaku atau manfaat emosional untuk individu yang menerima. Artinya adanya dukungan baik secara emosional, instrumental maupun penghargaan yang diberikan orang tua kepada individu tersebut mampu membantu untuk mengurahi tingkat stress yang dialami mahasiswa serta membantu dalam mengatur munculnya emosi yang negatif serta perilaku sosial negative yang akan dimunculkan ketika dalam kondisi stress. Misalnya ingin marah, perasaan gelisah dan cemas berlebih, kurangnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan juga timbul perilaku kurang ramah. Didukung penelitian [9] bahwa dukungan sosial bisa berdampa positif pada individu.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-18">Penelitian ini pendekatannya menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini memakai teknik pendekatan korelasional. Penelitian korelasional yaitu penelitian yang menghubungkan antara dua variabel ataupun lebih dalam sebuah populasi[10].</p>
      <p id="_paragraph-19">Subjek yang dijadikan responden pada penelitian ini yaitu peneliti mengambil populasi mahasiswa fakultas sains dan teknologi Universitas Muahammadiyah Sidoarjo yang berjumlah sebanyak 2218 mahasiswa, dengan karakteristik: mahasiswa aktif, semester I – VIII , fakultas sains dan teknologi. Berdasarkan table Issac dan Michael, diketahui jumlah sampe 2218 mahasiswa dengan nilai kritis kesalahan 5% dan didapatkan jumlah sampel sebesar 312 mahasiswa. Teknik yang digunakan yakni <italic id="_italic-43">non probability sampling</italic> yang <italic id="_italic-44">purposive sampling</italic> Menurut sugiono[11] <italic id="_italic-45">purposive sampling</italic> yaitu teknik untuk menentukan sampel mengacu pada pertimbangan-pertimbangan tertentu.</p>
      <p id="_paragraph-20">Skala yang ada dalam penelitian ini disusun meggunakan skala <italic id="_italic-46">Likert</italic>. Penelitian ini mengunakan dua skala, yaitu skala dukungan sosial menggunakan aitem yang telah disusun berdasarkan aspek - aspek dalam dukungan sosial yang telah dikemukakan[7] empat aspek dukungan sosial yakni dukungan emosional misal ungkapan perasaan perhatian dan empati, dukungan informasi misal member saran dan petunjuk serta saran untuk memecahkan masalah, dukungan penilaian misal bentuk penialian yang positif terhadap idea tau perasaan yang dialami individu, dukungan instrumental misal membantu individu secara langsung seperti dukungan keungan ataupun dukungan dalam menyelesaikan tugas tertentu. Dan skala <italic id="_italic-47">stress</italic> akademik yang disusun[4] yang mengacu pada aspek - aspek stres akademik berdasarkan reaksi <italic id="_italic-48">stress</italic> menurut Cox[4] yakni reaksi fisiologis seperti respon tubuh saat dalam kondisi stress misal pusing, mual dan berkeringat, reaksi psikologis seperti rasa cemas, gelisah dan rasa marag, reaksi perilaku seperti mudah marah dan kurang peka terhadap lingkungan, dan reaksi kognitif (proses berpikir) seperti mudah lupa, sulit berkonsentrasi.</p>
      <p id="_paragraph-21">Berdasarkan hasil uji validitas maka dapat ditentukan jumlah aitem yang valid yaitu: (a) skala dukungan sosial orang tua setelah dilakukan <italic id="_italic-49">tryout </italic>kepada 312 responden, dari 28 butir aitem mencakup 27 aitem yang di nyatakan valid dan 1 aitem gugur karena tidakvalid. Nilai validitas aitem valid tersebut bergerak dari angka 0,379 – 0,687. (b) Berdasarkan hasil uji validitas aitem skala <italic id="_italic-50">stress</italic> akademik setelah dilakukan tryout kepada 312 responden, dari 39 butir aitem mencakup 28 aitem yang dinyatakan valid serta 11 aitem yang gugur karena tidak valid. Nilai validitas aitem valid tersebut bergerak dari angka 0,303 – 0,655.</p>
      <p id="_paragraph-22">Berdasarkan hasil uji reliabilitas diperoleh hasil bahwa reliabilitas pada skala dukungan sosial nilai koefisien sebesar 0,927 dan reliabilitas pada skala stress akademik diperoleh nilai koefisien sebesar 0,900. Hasil dari kedua skala pada penelitian ini menunjukkan koefisien reliabilitas angka mendekati 1,00 maka dapat dinyatakan reliabel sebagai instrumen pengumpulan data.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-0e1c04d96c2113dff751648d3cb46096">
        <title>Hasil Penelitian</title>
        <p id="_paragraph-23">Berdasarkan hasil uji normalitas dengan <italic id="_italic-51">Kolmogorov-Smirnov </italic>menunjukkan nilai signifikansi 0,288 (&lt;0,05). Maka dari itu artinya nilai signifikansi variabel tersebut diartikanberdistribusi data normal. Sedangkan nlai sinifikasi variabel <italic id="_italic-52">stress </italic>akademiksebesar 0,329. Hal tersebut diartikan terdistribusi normal dikarenakan 0,200 &gt; (0,05).</p>
        <p id="_paragraph-24">Berdasarkan hasil uji linieritas pada kolom <italic id="_italic-53">deviation from linearity </italic>menunjukkan nilai signifikansi (p) sebesar 0,001 yang berarti nilai signifikansi (p) &lt;0,05 (0,001&lt;0,05) maka dapat dikatakan bahwasannya data dukungan sosial orang tua dan <italic id="_italic-54">stress</italic>akademik berdistribusi normal serta mempunyai hubungan yang linear.</p>
        <p id="_paragraph-25">Berdasarkan hasil uji hopotesis, menunjukkan bahwa hasil koefisien korelasi (rxy) sebesar -.195** dengan nilai signifikansi 0.001 &lt; 0.05. Hal tersebut menunjukan hubungan diantara dukungan sosial orang tua dengan <italic id="_italic-55">stress</italic>akademik mengarah ke arah negatif. Bisa diartikan bahwa ada hubungan negatif dari hasil penelitianantara dukungan sosial orang tua dan <italic id="_italic-56">stress</italic>akademik pada mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Sehingga makin rendahnya tingkatan dukungan sosial orang tua akan semakin tinggi juga tingkatan <italic id="_italic-57">stress</italic>akademik yang dirasakan mahasiswa, dan sebaliknya makin tinggi dukungan sosial orang tua yang diberikan maka semakin rendah juga tingkat <italic id="_italic-58">stress</italic>akademik mahasiswa.</p>
        <p id="_paragraph-26">Berdasarkan hasil sumbangan efektif, sumbangan variabel X, yakni dukungan sosial orang tuakepada variabel Y, yakni <italic id="_italic-59">stress </italic>akademikadalah sebesar 3,8%. Hasil tabel diatas diperoleh R<italic id="_italic-60"> Square</italic>, yakni sebesar 0,038 x 100% = 3,8%. Hal tersebut menunjukkan bahwasannya dukungan sosial orang tua memiliki pengaruh kepada <italic id="_italic-61">stress </italic>akademik sebesar 3,8%.</p>
        <p id="_paragraph-27">Berdasarkan kategori skor subjek pada masing-masing variabel dukungan sosial orang tua dan <italic id="_italic-62">stress</italic> akademik maka dapat diketahui bahwa pada skala dukungan sosial 19,6% subjek memiliki dukungan sosial rendah, 60,3% subjek mempumyai dukungan sosial sedang, 20,2% subjek menpunyai dukungan sosial tinggi. Kemudian pada skala <italic id="_italic-63">stress </italic>akademik diketahui bahwa 13,1% subjek berada pada tingkat stress akademik yang rendah, 72,0% subjek berada pada tingkat stress akademik yang sedang, 14,7% subjek berada pada tingkat stress akademik yang tinggi.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title>Kategorisasi Skor Subjek</title>
            <p id="_paragraph-29" />
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-fa65082ce6c2e372ba79c6958b7226d5">
                <td id="table-cell-5323c7b023b1e7ea62650d604b15514d" rowspan="3">Kategori</td>
                <td id="table-cell-0e7fa4e25690a153bb70ebcbe7ff3e01" colspan="4">Skor Subjek</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-cb8039235f2d7a8e3f5ddf319d5a8b09">
                <td id="table-cell-2b34d2972452cba3600c198fc05b55d8" colspan="2"> Dukungan sosial orang tua </td>
                <td id="table-cell-f2142a581d6c9c607d76cdc00037541d" colspan="2"> Stress akademik </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-923e00ea00c6603bad09cffe93a2d3ec">
                <td id="table-cell-5d69d9109b3587fe85dc810eedbe3dd4">∑ Mahasiswa</td>
                <td id="table-cell-9504416285cc8d75ff30a348a59a7102">%</td>
                <td id="table-cell-1a62fdeae2a5620d749ca4e9ef92bcb8">∑ Mahasiswa</td>
                <td id="table-cell-4f5ca0c0a04ae1f183de66210192f6fa">%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-022ac7dae19e8a65de65dbf54c842cc8">
                <td id="table-cell-8e83e0882258966ae084dac035b6c7d1">Rendah</td>
                <td id="table-cell-30da23d8d06528ef86d6a3a75fbafbb7">61</td>
                <td id="table-cell-0387ce557cd2a58d6a297b720ac52b87">19.6%</td>
                <td id="table-cell-2006397f98302269027814477d7c4018">41</td>
                <td id="table-cell-8c435cea085588f467ce05fbad5f4e01">13.1%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-0f7c3a00717587241bbd51454c64c203">
                <td id="table-cell-7ae0675ccd463db93b778dd98f204d5e">Sedang</td>
                <td id="table-cell-4cae355ceecb6d713cf4b72ddfc2e4c7">188</td>
                <td id="table-cell-477718ac198423ba9783ac263d527570">60.3%</td>
                <td id="table-cell-1ec16aaab8c8c5888de879e583d7da96">225</td>
                <td id="table-cell-9bccda4a249b68e9f59ab26245b09bdc">72.0%</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a38ece55be417c2e044e3a8bfc9f8815">
                <td id="table-cell-00145ee1035a4f65c5bd2235fa0fc034">Tinggi</td>
                <td id="table-cell-846d59b21cdd483fcf940ccfb54d9aa0">63</td>
                <td id="table-cell-328610ca653542b35cf565020f1be1d9">20.2%</td>
                <td id="table-cell-84ee2ebcd4905789f8e5bdfda946de13">46</td>
                <td id="table-cell-febcec94b8727aaf96e6379033cedf7c">14.7%</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
      </sec>
      <sec id="heading-3f7e161a188654cb2fee3f4c4beb1067">
        <title>Pembahasan</title>
        <p id="_paragraph-31">Dari analisa diatas maka hasil uji analisis data penelitian yang didapatkan menunjukkan hasil bahwa koefisien korelasi memiliki nilai sebesar -,195 dengan taraf signifikansi senilai 0,001 &lt; 0,05 sehingga dapat diketahui artinya bahwa diantara variabel dukungan sosial orang tua dengan <italic id="_italic-70">stress</italic> akademi terdapat hubungan yang signifikan, yang sesuai dengan harapan penelitian yang diinginkan. Hipotesis tersebut menujukkan bahwa dukungan sosial orang tua yang semakin negatif akan menyebabkan semakin tinggi juga <italic id="_italic-71">stress</italic>akademik yang dialami mahasiswa, dan sebaliknya pula dukungan sosial orang tua yang makin tinggi tingkatnya akan menyebabkan makin negatif juga <italic id="_italic-72">stress</italic>akademik yang dimiliki mahasiswa. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian sebelumnya dari [8] dengan judul Dukungan Sosial Orang Tua dan <italic id="_italic-73">Stress </italic>Akademik Pada Siswa SMK yang menggunakan kurikulum 2013 menunjukkan hasil bahwa ada hubungan yang negatif diantara variabel dukungan sosial orang tua dengan <italic id="_italic-74">stress</italic> akademik pada siswa SMKN 11 Semarang yang menerapkan kurikulum 2013, dengan koefisien (rxy = -0,362; p &lt; 0,001).</p>
        <p id="_paragraph-32">Penelitian lainnya dari[12] dengan judul Hubungan antara dukungan sosial dengan <italic id="_italic-75">stress</italic> pada siswa akselerasi menunjukan hubungan yang negatif antara variabel dukungan sosial dengan variabel <italic id="_italic-76">stress</italic> pada siswa akselerasi dengan nilai signifikasi sebesar 0,028.</p>
        <p id="_paragraph-33">Dukungan sosial orang tua adalah sebuah bentuk kepedulian yang diberikan oleh orang tua atau orang terdekat. Biasanya dukungan sosial tidak hanya ungkapan nasihat verbal ataupun non verbal saja, tapi juga bisa berbentuk bantuan nyata atau tindakan nyata yang dirasakanoleh adanya keterlibatan orang lain. Biasanya tindakan nyata ini mempunyai dampak baik bagi emosional atau dampak perilaku untuk pihak penerima.</p>
        <p id="_paragraph-34">Selain itu, dukungan sosial juga memiliki peran penting dalam mengurangi atau menangani tekanan <italic id="_italic-77">stress</italic> yang berasal dari sumber <italic id="_italic-78">stress</italic> yang sedang dialami seseorang. Hal tersebut juga didukung oleh teori yang dipaparkan oleh Fleming[12] bahwa dukungan sosial juga mampu dalam menurunkan <italic id="_italic-79">stress</italic> yang diakibatkan oleh berbagai pemicu <italic id="_italic-80">stress</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-35">Hasil kategorisasi pada penelitian ini memperlihatkan bahwa mahasiswa yang mempunyai dukungan sosial orang tua pada kategori yang rendah sebanyak 61 (19,6%), mahasiswa dengan dukungan sosial orang tua dengan kategori sedang sebanyak 188 (60,3%), dan mahasiswa yang memiliki dukungan sosial orang tua pada kategori tinggi berjumlah 63 (20,2%).</p>
        <p id="_paragraph-36">Pada skala <italic id="_italic-81">stress </italic>akademik, hasil dari kategorisasi subjek berdasarkan tabel diatas yaitu, terdapat 41 mahasiswa (13,1%) memiliki <italic id="_italic-82">stress </italic>akademik pada kategori rendah, 225 (72,0%) mahasiswa memiliki <italic id="_italic-83">stress </italic>akademik pada kategori sedang, serta 46 mahasiswa (14,7%) memiliki <italic id="_italic-84">stress </italic>akademik pada kategori tinggi.</p>
        <p id="_paragraph-37">Pada hasil kategorisasi yang ada diatas, dapat ditarik kesimpulan mayoritas mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi mempunyai dukungan sosial orang tua pada kategori sedang dengan persentase sekitar 60,3%. Mahasiswa yang mempunyai dan menerima dukungan sosial orang tua dengan baik memiliki ciri-ciri merasakan ketenangan, merasakan perhatian atau dicintai, adanya rasa percaya terhadap dirinya dan kompeten. Dari hal tersebut dapat membantu mahasiswa dalam menurunkan tingkat <italic id="_italic-85">stress</italic> akademik yang dirasakan.</p>
        <p id="_paragraph-38">Limitasi dari penelitian ini adalah berupa kajian yang menggunakan variabel dukungan sosial orang tua yang mempengaruhi <italic id="_italic-86">stress</italic> akademik meskipun banyak penelitian tentang dua variabel tersebut. Variabel dukungan sosial orang tua memberikan pengaruh terhadap <italic id="_italic-87">stress</italic> akademik masih termasuk dalam kategori yang rendah, karena pada hasil diatas penelitian diatas menunjukan bahwa pengaruh dari dukungan sosial orang tuaterhadap <italic id="_italic-88">stress </italic>akademik mahasiswa fakultas sains dan teknologi sebesar 3,8%. Adapun variabel lain yang bisa mempengaruhi <italic id="_italic-89">stress</italic> akademik yang tidak diteliti pada penelitian ini adalahefikasi diri seperti dalam penelitian yang dilaksanakan oleh[13], [14], [2]. Tidak hanya efikasi diri, ada variabel lain juga yang dapat mempengaruhi <italic id="_italic-90">stress</italic> akademik adalah motivasi berprestasi seperti pada penelitian yang dilakukan oleh[15]. Keterbatasan dalam penelitian ini ialah peneliti hanya mengungkaphubungan antara dukungan sosial akademik dengan <italic id="_italic-91">stress </italic>akademik. Sehingga untuk kedepannya, peneliti mengharapkan kepada peneliti-peneliti berikutnya agar meneliti mengenai faktor lainnya yang dapat berpengaruh terhadap <italic id="_italic-92">stress</italic> akademik yang tidak dibahas dalam penelitian ini, misalnya yaitu kesabaran. Seperti penelitian yang dilakukan oleh [14] berjudul “hubungan antara kesabaran dengan <italic id="_italic-93">stress</italic> akademik pada mahasiswa Universitas X di Pekanbaru” dengan hasil analisis uji korelasi Pearson Product Moment, maka diperoleh hasil nilai koefisien korelasi (r) = -0,559 dengan nilai signifikansi 0,000 (ρ &lt;0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif yang signifikan antara sabar dengan <italic id="_italic-94">stress</italic> akademik pada mahasiswa Universitas X di Pekanbaru. Semakin tinggi kesabaran mahasiswa maka akan semakin rendah <italic id="_italic-95">stress</italic> akademik mahasiswa dan begitu juga sebaliknya, semakin rendah kesabaran maka akan semakin tinggi pula <italic id="_italic-96">stress</italic> akademik mahasiswa.</p>
        <p id="_paragraph-39">Selain itu kecilnya sumbangan efektif pada variabel dukungan sosial orang tua terhadap <italic id="_italic-97">stress</italic> akademik sebesar 3,8% bisa disebabkan karenakurangnya jangkauan penggunaan metode pengumpulan datanya, dimana pada penelitian ini pengumpulan datanya mempergunakan skala psikologi yang disebarkan lewat <italic id="_italic-98">google form</italic>, maka dari itu peneliti tidak mampu mengawasi secara langsung yang mungkin membuat subyek mengerjakan angket dengan tidak bersungguh-sungguh.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-19dabaa845099ff3ad6da2efc369fd9b">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-41">Dapat diambil kesimpulan bahwa hasil dari penelitian ini terdapat hubungan bersifat negatif diantara dukungan sosial orang tua dan <italic id="_italic-99">stress </italic>akademik pada mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Dapat dilihat dari hasil penelitian yang telah dillakukan yaitu koefisien korelasi (rxy) sebesar-.195 dengan nilai signifikansi 0.001 &lt; 0.05 sehinga dapat diartikan bahwasannya hipotesis yang terdapat pada penelitian ini bisa diterima. Sehingga dapat diartikan makin negatif dukungan sosial orang tua maka akan makin tinggi juga tingkat <italic id="_italic-100">stress </italic>akademik yang dirasakan mahasiswa, dan sebaliknya makin tingginya tingkat dukungan sosial orang tua maka makin negatif juga tingkat <italic id="_italic-101">stress </italic>akademik yang dirasakan mahasiswa. Dukungan sosial orang tua mampu berpengaruh terhadap <italic id="_italic-102">stress </italic>akademik mahasiswa fakultas sains dan teknologi yakni sebesar 3,8%. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa ada pengaruh dukungan sosial orang tua terhadap <italic id="_italic-103">stress </italic>akademk mahasiswa fakultas sains dan teknologi universitas muhammadiyah sidoarjo, sisanya dipengarui oleh faktor lain yang dapat berpengaruh dalam <italic id="_italic-104">stress</italic> akademik yang tidak dibahas didalam penelitian ini.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>