<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Relationship of Secure Attachment to Fathers and Mothers with Emotional Intelligence in Junior High School Adolescents</article-title>
        <subtitle>Hubungan Secure Attachment pada Ayah dan Ibu dengan Kecerdasan Emosi pada Remaja di Sekolah Menengah Pertama</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-59317f477bbd8fe2bd3fcdf7257b3e62" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Yanti</surname>
            <given-names>Rachma Aulia Prima</given-names>
          </name>
          <email>rachlia21@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-936293c532070339d2ee8870f22e8cf5" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Mariyati</surname>
            <given-names>Lely Ika</given-names>
          </name>
          <email>ikalely@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-11-18">
          <day>18</day>
          <month>11</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-60bc9c15efb7d984a8c4aa937c6ce6d8">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-10">Remaja merupakan masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa, yang akan mengalami perubahan baik dari segi biologis, kognitif, maupun sosioemosinal. Pada masa remaja ini, individu akan mulai membangun jati diri, memiliki kehendak, bebas dalam memilih, berprinsip, dan mengembangkan potensinya. Pada tahap ini remaja akan mengembangkan konsep diri sesuai dengan pemahaman terhadap dirinya dan perannya dalam hidup bermasyarakat. Untuk menemukan identitas tersebut, individu akan mengumpulkan segala pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka alami, sehingga hal tersebut akan menjadi karakteristik dari individu tersebut.</p>
      <p id="_paragraph-11">Berdasarkan karakteristik dan tugas perkembangannya, remaja akan menghadapi berbagai perubahan dan berbagai tantangan baru di dalam hidup mereka. Remaja juga akan menemui dinamika dengan disertai rangkaian gejolak emosi dalam perjalanannya menjadi dewasa. Sehingga pada masa ini, remaja rentan mengalami berbagai permasalahan. Dewasa ini remaja kerap kali mengalami permasalahan terkait dengan kecerdasan emosi seperti tata krama yang kurang terhadap orang yang lebih tua, tindakan menyerang secara verbal dan non verbal, tawuran, bullying, dan permasalahan lainnya [1]. Remaja pada masa sekarang lebih banyak merasakan kesepian, murung, kurangnya sikap hormat terhadap orang yang lebih tua, merasakan kecemasan, impulsif, dan menyerang secara verbal dan non verbal yang mengindikasikan bahwa remaja mengalami kesulitan emosi. Dari pemaparan tersebut maka kecerdasan emosi memiliki peranan yang penting bagi remaja. Dengan kecerdasan emosi remaja akan mampu untuk membangun konsep dirinya yang baik. Induvidu dengan kecerdasan emosi yang tinggi memiliki keterampilan yang baik dalam hal menenangkan dirinya, dapat lebih fokus, dapat membangun hubungan yang baik dengan orang lain karena lebih mampu untuk memahami orang lain, serta lebih memiliki prestasi akademik maupun non akademik. Sedangkan individu dengan kecerdasan emosi yang rendah maka individu tersebut akan kesulitan dalam mengekspresikan emosinya dengan tepat, keras kepala, sulit untuk membangun hubungan dengan orang lain, mudah frustasi, tidak percaya diri, dan mudah berputus asa [2].</p>
      <p id="_paragraph-14">Kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk memotivasi diri, siap menghadapi stres, mengendalikan dorongan hati, dan mampu mengatur suasana hati. Keberhasilan seseorang di masyarakat dipengaruhi oleh 80% kecerdasan emosi dan 20% dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual [3]. Remaja yang memiliki kecerdaasan emosi yang rendah akan mengalami berbagai masalah seperti kesulitan belajar, kesulitan dalam bersosialisasi, rasa tidak percaya diri, stres berkepanjangan, dan akan mengarahkan remaja pada perilaku negatif. Permasalahan tersebut juga ditemui di SMP Negeri 2 Sedati dimana ditemukan beberapa perilaku yang menunjukkan adanya tingkat kecerdasan emosi yang rendah seperti kurangnya sopan santun dengan orang yang lebih tua, membolos, agresif secara verbal, <italic id="_italic-77">bullying, </italic>kurangnya kepedulian dengan sesama teman, dan mengabaikan penjelasan dari guru ketika sedang dalam pembelajaran di kelas.</p>
      <p id="_paragraph-15">Kecerdasan emosi merupakan aspek penting untuk menentukan keberhasilan individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan keluarga utamanya orangtua merupakan penting yang berpengaruh terhadap kecerdasan emosi remaja. Kedekatan secara emosional anak dengan orangtua ini akan selalu diingat dan dibawa hingga dewasa. Dalam penelitian yang dilakukan Iftinan dan Junaidin menunjukkan adanya hubungan positif antara <italic id="_italic-78">secure</italic><italic id="_italic-79">attachmen</italic>orangtua dengan kecerdasan emosi [4]. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Yenni Novriani juga menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kelekatan orangtua dengan kecerdasan emosi .</p>
      <p id="_paragraph-16">Santrock menyatakan bahwa orangtua merupakan sumber dukungan dan sosok lekat yang paling utama dalam sebuah keluarga. Keletakatan orangtua akan membantu proses perkembangan kecerdasan emosi remaja, karena orangtua menjadi sosok pertama yang berinteraksi dengan remaja sebelum akhirnya remaja berinteraksi dengan orang lain. <italic id="_italic-80">Secure</italic><italic id="_italic-81">Attachment</italic>dengan remaja akan membantu remaja dalam mengoptimalkan perkembangan emosinya [5]</p>
      <p id="_paragraph-17">Ciri efektif yang menunjukkan kelekatan aman adalah menimbulkan rasa aman meskipun sosok lekat tidak terlihat oleh pandangan mata dan hubungan diantara keduanya bertahan lama. Ibu memiliki peranan penting dalam menjadi figur lekat pertama untuk anaknya, hal ini dikarenakan ibu lebih banyak berinteraski dengan anaknya dan memenuhi kebutuhan serta memberikan rasa nyaman. Ibu akan mengajarkan kepada anak tentang konsep moral, menerapkan perilaku yang mencerminkan moral sehingga dapat dijadikan internal working model bagi karakter anak. Sehingga remaja akan mengembangkan rasa percaya diri bukan hanya kepada ibu melainkan juga kepada lingkungannya. Sehingga remaja akan tumbuh dan mengembangkan kehidupannya dengan cara yang positif [6]</p>
      <p id="_paragraph-18">Ayah juga merupakan figur lekat yang tak kalah pentingnya dengan ibu. Sifat maskulin seorang ayah membantu seorang anak untuk melakukan aktivitas yang bersifat fisik sehingga seorang anak dapat mengembangkan kemampuan gerak motoriknya. Gottman &amp; DeClaire [7] menyatakan bahwa kedekatan seorang ayah dengan anak akan berpengaruh pada hubungan remaja dengan lingkungan sekitarnya, teman sebayanya, dan berpengaruh pada prestasi akademik remaja. Sehingga ayah juga memiliki peranan yang tak kalah pentingnya dengan ibu dalam figur lekat. Kelekatan remaja dengan ayahnya membentuk remaja menjadi individu yang memiliki empati, penuh perhatian, dan mampu membangun hubungan sosial dengan orang lain.</p>
      <p id="_paragraph-19">Uraian diatas menjelaskan bahwa orangtua baik ibu maupun ayah harus mulai menyadari perannya masing- masing. Ayah dan ibu memiliki kewajiban yang sama dan harus bekerja sama dalam membangun kelekatan aman dengan remaja agar kecerdasan emosi remaja dapat berkembang dengan baik. Hasil pemaparan dan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kelekatan aman (<italic id="_italic-82">secure attachment</italic>) orangtua memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan kecerdasan emosional pada remaja. Sehingga berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengungkap hubungan <italic id="_italic-83">secure attachment </italic>pada ayah dan ibu terhadap kecerdasan emosi pada remaja di SMP Negeri 2 Sedati.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-ef1ab9c118da6ace89f72db76518800b">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-20">Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Penelitia kuantitatif keorelasional merupakan sebuah penelitian yang pengumpulan datanya berbentuk angka dan dianalisis dengan statistik yang digunakan untuk mengungkapkan sebuah hubungan antar dua variabel atau lebih. Penelitian ini melibatkan peserta didik di SMP Negeri 2 Sedati dengan populasi berjumlah 450 siswa. Dalam pengambilan sampel, peneliti merujuk pada tabel <italic id="_italic-84">Isaac </italic>dan <italic id="_italic-85">Michael </italic>dengan taraf kesalahan 5% sehingga didapatkan sampel sebanyak 198 siswa dengan menggunakan teknik <italic id="_italic-86">sampling </italic><italic id="_italic-87">proportionate </italic><italic id="_italic-88">stratified </italic><italic id="_italic-89">random </italic><italic id="_italic-90">sampling.</italic></p>
      <p id="_paragraph-21">Pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan skala psikologi dengan model penskalaan skala <italic id="_italic-91">Likert. </italic>Skala <italic id="_italic-92">secure attachment </italic>ayah dan ibu menggunakan skala yang diadopsi dari Karmilla Sari dengan nilai validitas sebesar 0.750 dan reliabilitas sebesar 0.904. Sedangkan skala kecerdasan emosi menggunakan skala yang diadopsi dari Timoteus dengan nilai validitas sebesar 0.254 dan reliabilitas sebesar 0.896 [8]. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis statistik analisis regresi berganda dengan melalui program komputer JASP 0.014.10.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-efccc223826fbce63808bfa6ba2c7976">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-23">Hasil penelitian dengan menggunakan analisis regresi berganda menunjukkan nilai F sebesar 73.958 dan signifikansi p &lt; 0.001sehingga dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa <italic id="_italic-93">secure</italic><italic id="_italic-94">attachment</italic>ayah dan <italic id="_italic-95">secure</italic><italic id="_italic-96">attachment </italic>ibu secara bersama-sama dapat mempengaruhi kecerdasan emosi pada remaja. Terdapat pula hubungan yang positif antara <italic id="_italic-97">secure</italic><italic id="_italic-98">attachment </italic>ayah dan <italic id="_italic-99">secure</italic><italic id="_italic-100">attachment</italic>ibu terhadap kecerdasan emosi.</p>
      <p id="_paragraph-24">Dukungan dan tokoh kelektan yang penting adalah orangtua, sehingga dengan adanya kelekatan dengan orangtua perkembangan kecerdasan emosi pada remaja akan berkembang dengan baik [9]. <italic id="_italic-101">Secure</italic><italic id="_italic-102">attachment</italic>sebagai landasan bagi remaja yang berfungsi secara adaptif sehingga remaja dapat menguasai lingkungan barunya dengan kondisi psikologis yang sehat. Remaja dengan <italic id="_italic-103">secure</italic><italic id="_italic-104">attachment</italic>yang tinggi dengan orangtuanya akan mampu mengoptimalkan perkembangan emosinya. Remaja akan memiliki lebih banyak emosi positif, lebih cepat menyadari emosi yang sedang dirasakan, memiliki empati yang baik, lebih peka terhadap orang lain, dan mampu membangun lingkungan sosialnya yang lebih luas [10].</p>
      <p id="_paragraph-25">Remaja dengan <italic id="_italic-105">secure attachment </italic>yang tinggi dengan orangtuanya akan mampu mengoptimalkan perkembangan emosinya. Remaja akan memiliki lebih banyak emosi positif, lebih cepat menyadari emosi yang sedang dirasakan, memiliki empati yang baik, lebih peka terhadap orang lain, dan mampu membangun lingkungan sosialnya yang lebih luas [11].</p>
      <p id="_paragraph-26"><italic id="_italic-106">Secure</italic><italic id="_italic-107">attachment</italic>ayah dan ibu ini dapat dilihat dari bagaimana remaja mempercayai kedua orangtuanya, menjalin komunikasi dengan orangtuanya, dan membangun hubungan dekat dengan orangtuanya sehingga remaja tidak merasa dikucilkan [12]. Remaja yang mempercayai orangtua nya akan terlihat dari sikap remaja yang memiliki kepercayaan penuh terhadap orangtua nya sebagai orang yang dapat memberikan perhatian, menerima kondisi remaja dengan apa adanya, dan memahami keinginan remaja [13]. Remaja yang menjalin komunikasi baik dengan orangtuanya akan terlihat dari bagaimana remaja menceritakan apa yang sedang dirasakannya dan terbuka dengan setiap permasalahan yang dihadapinya. Sedangkan remaja yang tidak memiliki rasa pengasingan akan memiliki kedekatan dengan orangtua nya. Merasa membutuhkan orangtua sehingga remaja akan merasa aman dan nyaman ketika berada dekat dengan orangtua nya.</p>
      <p id="_paragraph-27">Pada penelitian ini pula menghasilkan korelasi antara <italic id="_italic-108">secure attachment </italic>ibu dengan kecerdasan emosi yang memiliki koefisien P (&lt;0.001). Hal ini menunjukkan bahwa <italic id="_italic-109">secure attachment </italic>ibu berhubungan dengan kecerdasan emosi. Pendapat ini dikuatkan dengan penelitian dari Filiana yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara <italic id="_italic-110">secure attachment </italic>ibu dengan kecerdasan emosi pada remaja. Orangtua memiliki peranan yang penting dalam perkembangan emosi seorang remaja. Seorang ibu memilki peranan sebagai figur lekat pertama untuk anaknya, lebih banyak waktu berinteraksi dengan anaknya, memenuhi kebutuhan, serta memberikan rasa nyaman. Remaja yang memiliki <italic id="_italic-111">secure attachment </italic>dengan seorang ibu akan memiliki kemampuan berhubungan sosial dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Kepercayaan remaja terhadap ibunya akan mampu memberikan rasa aman dan nyaman, dan percaya bahwa ibu akan selalu ada ketika remaja sedang menghadapi situasi yang bermasalah [14]. Interaksi remaja dengan ibu akan membantu remaja untuk belajar bagaimana sikap dan perilakunya menghadapi situasi sosialnya. Sehingga remaja akan merasa aman dan nyaman dalam berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.</p>
      <p id="_paragraph-28">Selain menguji korelasi <italic id="_italic-112">secure attachment </italic>ibu dengan kecerdasan emosi, peneliti juga menguji korelasi <italic id="_italic-113">secure</italic><italic id="_italic-114">attachment</italic>ayah dengan kecerdasan emosi. Berdasarkan hasil perhitungan dengan JASP, didapatkan hasil koefisien P (&lt;0.001) sehingga dapat disimpulkan bahwa <italic id="_italic-115">secure attachment </italic>ayah memiliki hubungan positif dengan kecerdasan emosi pada remaja. Santrock yang berpendapat bahwa ayah juga memiliki peran yang tak kalah pentingnya dengan ibu. Ayah akan membantu remaja dalam mengembangkan fisik dan motorik. Ayah mempengaruhi remaja dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan teman sebaya dan prestasi akademik [15]. Goleman &amp; Claire menyatakan bahwa seorang anak yang memiliki kelekatan aman dengan ayahnya akan bersikap positif seperti memiliki empati, peka terhadap kondisi sosial, dan membangun hubungan sosial dengan lingkungannya [16]</p>
      <p id="_paragraph-29">Selain itu juga dari hasil analisis regresi berganda didapatkan nilai R² sebesar 0.431, artinya bahwa securee attachment ayah dan <italic id="_italic-116">secure attachment </italic>ibu memiliki pengaruh sebesar 43.1% terhadap kecerdasan emosi dengan 56.9% sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor yang lain. Faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi kecerdasan emosi diantaranya adalah teman sebaya, budaya, dan spiritual</p>
      <p id="_paragraph-30">Hurlock mengemukakan pendapat bahwa faktor lain yang memberikan pengaruh terhadap kecerdasan emosi remaja adalah pengaruh kelompok sebaya. Pengalaman-pengalaman remaja ketika berinterkasi dengan teman sebaya nya akan mempengaruhi perkembangan emosi pada remaja. Teman sebaya dijadikan umpan balik mengenai kemampuan remaja. Remaja akan menjadikan kelompok sebayanya sebagai contoh acuan dalam menyikapi lingkungannya sesuai dengan norma dan budaya yang berlaku. Remaja akan belajar dari kelompok sebayanya apakah perilaku mereka lebih baik, baik, atau bahkan lebih buruk dari kelompok sebayanya.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-bb0d59ef246d9bb0663eec94929dbbad">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-31">Kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan pada siswa siswi SMPN 2 Sedati adalah terdapat pengaruh positif dan signifikan antara <italic id="_italic-117">secure attachment </italic>ayah dan secure attachment ibu terhadap kecerdasan emosi remaja siswa SMP Negeri 2 Sedati berdasarkan pengujian secara bersama-sama atau simultan (Uji F) sebesar 73.958 dan signifikansi p &lt; 0.001. Hal ini menunjukkan bahwa <italic id="_italic-118">secure</italic><italic id="_italic-119">attachment</italic>ayah dan <italic id="_italic-120">secure</italic><italic id="_italic-121">attachment</italic>ibu berpengaruh terhadap kecerdasan emosi pada remaja. Semakin tinggi <italic id="_italic-122">secure attachment </italic>ayah dan <italic id="_italic-123">secure attachment</italic>ibu maka akan diikuti pula dengan kecerdasan emosi remaja yang tinggi.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>