<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Comparison of the Quality of DNA Template Isolation Results of the Resin Method with and Without Centrifugation</article-title>
        <subtitle>Perbandingan Kualitas DNA Template Hasil Isolasi Metode Resin dengan dan Tanpa Sentrifugasi</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-1dd1f23e48b6877900a43de7d7f89b77" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Jayanti</surname>
            <given-names>Liah Dwi</given-names>
          </name>
          <email>liadwijayanti8@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-b99fd891250559680bdaf86f0d615cff" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Mushlih</surname>
            <given-names>Miftahul</given-names>
          </name>
          <email>mif.mushlih@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-10-30">
          <day>30</day>
          <month>10</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-78e197a35d85cf5de06e027df59c8cce">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12"><italic id="_italic-18">Deoxyribonucleic acid </italic>(DNA) merupakan asam nukleat yang menyusun informasi genetik pada makhluk hidup.DNA juga berperan dalam pengendali sifat dan ciri morfologi seperti pigmen kulit, warna serta bentuk rambut, strktur jari serta watak khusus seseorang. Tujuan utama isolasi DNA ialah untuk memisahkan DNA dari bahan lainnya semacam protein, lemak, dan karbohidrat. Kualitas DNA yang baik yang diperoleh dari hasil ekstraksi merupakan syarat dasar yang harus dipenuhi dalam studi molekuler [1] . Isolasi DNA mempunyai 3 prinsip yaitu: lysis sel, ekstraksi sel, serta presipitasi [2] .</p>
      <p id="_paragraph-13">Pada proses sentrifugasi sampel darah akan menjadi 3 (tiga) bagian terpisah yaitu sel darah merah (eritrosit), <italic id="_italic-19">band </italic>putih (<italic id="_italic-20">buffy coat</italic>) yang terdiri dari sel darah putih (leukosit) dan trombosit (&lt; 1%) serta plasma darah [3] . <italic id="_italic-21">Buffy coat </italic>merupakan sel darah putih yang mengandung konsentrat DNA [4].</p>
      <p id="_paragraph-14">Metode resin merupakan metode yang menggunakan resin chelex yang ditambahkan secara langsung pada sampel atau bahan pemeriksaan. Resin Chelex dapat menjaga sampel dari enzim DNAse yang aktif selama proses ekstraksi. Metode Resin Chelex juga memiliki tahapan yang sederhana sehingga resiko untuk kontaminan lebih sedikit. Selain kelebihan, metode Resin Chelex juga mempunyai kekurangan diantaranya yaitu DNA atau RNA yang dihasilkan terlalu sedikit [5].</p>
      <p id="_paragraph-15">Pada riset sebelumnya menunjukkan bahwa nilai WBC atau sel darah putih berhubungan dengan konsentrasi DNA yang dihasilkan. Yakni semakin tinggi leukosit maka akan semakin besar konsentrasi DNA yang diperoleh [6]. Sehingga dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat mengkonfirmasi penggunaan sentrifugasi untuk meningkatkan jumlah dan kualitas DNA yang dihasilkan. Serta dapat mengoptimalisasi analisa PCR pada analisis perbandingan kualitas DNA template hasil isolasi metode resin chelex dengan dan tanpa sentrifugasi.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-4c2895901fc6905a40fa79ea7e6a5e50">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-16">Penelitian ini bersifat deskriptif eksperimental dengan teknik random sampling. <italic id="_italic-22">ethical clearance </italic>disetujui oleh Fakultas Kedotekteran Gigi Universitas Airlangga nomor 186/HRECC.FODM/IV/2021. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi Molekular Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Pada bulan Februari sampai April 2021 dengan menggunakan 16 sampel yang terdiri dari 8 sampel <italic id="_italic-23">whole blood </italic>dan 8 sampel <italic id="_italic-24">buffy coat </italic>serta menggunakan teknik random sampling. Subyek pada penelitian ini yaitu Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Sampel darah yang diperoleh kemudian dilakukan isolasi DNA dengan Metode Resin Chelex modifikasi. Kemudian dianalisa secara kuantitatif menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan secara kualitatif menggunakan Elektroforesis. Kemudian data yang diperoleh dianalisa menggunakan spss versi 16.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-24c752dea05176578bd4bfb02199255d">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-17">Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapati pada sampel tanpa sentrifugasi memiliki kemurnian rata- rata 1,29 dan konsentrasi sebesar 287,5 ng/µl. Dan pada sampel dengan sentrifugasi memiliki kemurnian rata-rata 1,29 serta konsentrasi DNA sebesar 316,7 ng/µl.</p>
      <p id="_paragraph-19">Gambar 1. Grafik pengukuran DNA menggunakan UV-Vis spektrofotometer</p>
      <p id="_paragraph-20">Berdasarkan pada Gambar 1. Sampel DNA tersebut memiliki nilai kemurnian diatas 1,1 dengan konsentrasi 232,9 ng/µl. Grafik tersebut memiliki pergerseran panjang gelombang ke arah batokromik (<italic id="_italic-25">Red Shift</italic>) [7] .Jika dilihat pada bentuk dari gelombang pengukuran pada grafik, sampel DNA tersebut terkontaminasi oleh EDTA [8]. Adanya kontaminasi tersebut mengakibatkan nilai konsentrasi pada DNA tidak menunjukkan nilai yang sebenarnya sehingga hal ini juga berpengaruh pada tidak munculnya <italic id="_italic-26">band </italic>pada saat elektroforesis. Pemurnian DNA yang tidak sempurna menyebabkan DNA masih mengandung polisakarida, senyawa fenolik atau kontaminan lainnya, sehingga dengan meningkatnya nilai konsentrasi DNA maka kontaminan juga akan bertambah [9].</p>
      <p id="_paragraph-21">Uji statistik menggunakan uji Paired sampel <italic id="_italic-27">t test </italic>dilakukan untuk melihat perbedaan indeks kemurnian serta konsentrasi DNA antar sampel. Didapatkan hasil untuk konsentrasi DNA dengan nilai <italic id="_italic-28">p-value </italic>sebesar 0,353 (&gt;0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada konsentrasi DNA sampel tanpa sentrifugasi dan sampel dengan sentrifugasi. Kemudian pada kemurnian DNA didapatkan nilai <italic id="_italic-29">p-value</italic>sebesar 0,213 (&gt;0,05) hal ini berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kemurnian DNA sampel tanpa sentrifugasi dan sampel dengan sentrifugasi.</p>
      <p id="_paragraph-22">Gambar 2. Hasil elektroforesis DNA Genom pada sampel tanpa sentrifugasi (<italic id="_italic-30">wholeblood</italic>). (M: Marker 100 bp, Sampel: R1, R2, R3, R4, R5, R6, R7 dan R8)</p>
      <p id="_paragraph-23">Pada gambar 2 menunjukkan hasil visualisasi UV Transilluminator pada sampel DNA genom tanpa sentrifugasi tidak menghasilkan pita. Menurut penelitian yang dilakukan Puspitasari hal ini bisa disebabkan karena pada metode</p>
      <p id="_paragraph-24">resin memiliki kelemahan diantaranya DNA dan RNA yang dihasilkan relatif sedikit, serta tahap pemanasan yang dilakukan selama proses ekstraksi dapat merusak struktur rantai ganda DNA yang dihasilkan.</p>
      <p id="_paragraph-25">Gambar 3. Hasil elektroforesis DNA Genom pada sampel dengan sentrifugasi (<italic id="_italic-31">buffycoat</italic>). (M: Marker 100 bp, Sampel: RS1, RS2, RS3, RS4, RS5, RS6, RS7 dan RS8).</p>
      <p id="_paragraph-26">Visualisasi sampel DNA genom dengan sentrifugasi didapati pada semua sampel dengan kode RS1, RS2, RS3, RS4, RS5, RS6, RS7 dan RS8 tidak terbentuk pita DNA. Hal ini dapat diakibatkan karena pada isolasi DNA metode resin menghasilkan DNA atau RNA yang relatif sedikit. sehingga perlu adanya amplifikasi DNA untuk digunakan proses pengujian selanjutnya.</p>
      <p id="_paragraph-27">Gambar 4. Hasil elektroforesis produk PCR pada sampel tanpa sentrifugasi (<italic id="_italic-32">wholeblood</italic>). (M: Marker 100 bp, Sampel: R1, R2, R3, R4, R5, R6, R7 dan R8).</p>
      <p id="_paragraph-28">Pada gambar 4 menunjukkan hasil visualisasi menggunakan UV Transilluminator pada sampel DNA tanpa sentrifugasi yang telah diamplifikasi dengan PCR menunjukkan adanya pita DNA yang terbentuk pada sampel dengan kode R1, R2, R4, R6, R7 serta R8 dengan ketebalan pita yang tipis. Namun pada sampel dengan kode R3 dan R4 tidak terbentuk pita. Hal ini dapat diakibatkan kurangnya kuantitas DNA yang terambil pada saat persiapan proses PCR. Menurut penelitian sebelumnya jika kuantitas DNA didalam esktrak kurang, maka dapat mempengaruhi keberhasilan proses selanjutnya seperti halnya proses PCR [10].</p>
      <p id="_paragraph-29">Kuantitas DNA yang digunakan untuk proses PCR tidak boleh kurang dari 1.0 ng. Serta kekurangan lain pada metode ini yaitu dapat terlarutnya bahan <italic id="_italic-33">chelating agent </italic>yang digunakan dalam metode resin chelex,sehingga menyebabkan kurang optimalnya kinerja enzim <italic id="_italic-34">taq polymerase </italic>pada proses PCR [11].</p>
      <p id="_paragraph-30">Gambar 5. Hasil elektroforesis produk PCR pada sampel dengan sentrifugasi (<italic id="_italic-35">buffycoat</italic>). (M: Marker 100 bp, Sampel: RS1, RS2, RS3, RS4, RS5, RS6, RS7 dan RS8.</p>
      <p id="_paragraph-31">Pada gambar 5 tersebut sampel DNA hasil PCR yang sudah di sentrifus dapat diketahui bahwa pada semua sampel dengan kode RS1, RS2, RS3, RS4, RS5, RS6, RS7 dan RS8 memiliki pita yang cukup jelas. Hal ini dikarenakan pada sampel tersebut darah yang diisolasi hanya berupa <italic id="_italic-36">buffycoat </italic>nya saja. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Siswanto et al yang mana pada sampel <italic id="_italic-37">buffy coat </italic>merupakan sebagian besar mengandung sel darah putih yang mempunyai inti sel tempat dimana DNA berada.</p>
      <p id="_paragraph-32">Dalam penelitian sebelumnya Huang et al., mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi keberhasilan isolasi DNA darah ialah WBC, metode penyimpanan, kondisi sampel serta metode isolasi DNA [12] .</p>
    </sec>
    <sec id="heading-1ea8828a00b0100c40d53b2d90585c36">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-34">Kesimpulan pada penelitian ini adalah pada sampel <italic id="_italic-38">Buffy coat </italic>memiliki kemurnian serta konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan pada sampel DNA tanpa sentrifugasi <italic id="_italic-39">Whole blood</italic>. Berdasarkan analisis uji Paired sampel T Test tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan (sig0,353).</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>