<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>The Relationship of Differential Counting with the Erythrocyte Sedimentation Rate in Patients with Typhoid Fever</article-title>
        <subtitle>Hubungan Differential Counting Dengan Laju Endap Darah Pada Penderita Demam Tifoid</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-ba22fd3d833038d086cae807486751f8" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Xena</surname>
            <given-names>Alfanny Juliannindy</given-names>
          </name>
          <email>alfannyxena26@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-1f790fb7893adad19cdcfdba3fdfac72" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Aliviameita</surname>
            <given-names>Andika</given-names>
          </name>
          <email>aliviameita@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-10-28">
          <day>28</day>
          <month>10</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-f6de0fee994de2039a1fa1b0c5a4e37f">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-13">Demam tifoid merupakan penyakit sistemik akut pada sistem pencernaan, dan masihomenjadiomasalah kesehatan global yang dihadapi masyarakat internasional. Penyakit demam tifoid banyak dijumpai di daerah yang beriklim tropis dan subtropis. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian demam thypoidiyaitu personal <italic id="_italic-156">hygiene</italic>, kualitas sumberoair bersih yang tidak memadai, kontaminasi makanan dan minuman, jamban keluargacyang tidak memenuhi syarat, pemberian imunisasi,osanitasi lingkungan yang kurang bersihodan kumuh [1]. Demam tifoid merupakan salah satu penyakitqyang mudah menular dan dapat menyerang semua usia mulai anak-anak sampai orangadewasa di Indonesia banyak dijumpai dalamokeadaan endemik [2].</p>
      <p id="_paragraph-14">Berdasarkan statusokesehatan Indonesia tahun 2009, kasus demam tifoid menempatiaurutan ketiga dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit, terhitung sebesaro1,25%. Dengan tingkat penyebaran sekitar 80.850 penduduk dan angka kematian sekitar 1.013 penduduk. Tingkat penyebaran demam tifoid berbeda-beda di setiap wilayah. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa kejadian demam tifoid masihatinggi, sehingga perlu dilakukan diagnosa yang tepatodengan melihat manifestasi klinis pasien yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium [3].</p>
      <p id="_paragraph-15">Manifestasizklinis dari demam tifoidosangat beragam, dan tidak semua orang. Gejala berupazsakit kepala, demamptinggi, diare, menggigil, suhu tubuhotinggi, hepatosplenomegali, atau kehilanganokesadaran ringan [3].</p>
      <p id="_paragraph-16">Tesolaboratoriumoyangobiasaodigunakanguntuko mendiagnosiso demam tifoid adalah serologi widal. Pengujianptersebut digunakan untuk menegakkan diagnosis demam tifoid dengan mendeteksi adanya antibodi yang spesifik terhadap komponen antigen <italic id="_italic-157">Sallmonella</italic><italic id="_italic-158">tiphy</italic>. Karena waktu pemeriksaanvcukup efektif dan biayanya murah, maka pemeriksaandpun sering dilakukan [4].</p>
      <p id="_paragraph-17">Pemeriksaan yang mungkin dilakukan pada dugaan infeksi diantaranya adalah pemeriksaans <italic id="_italic-159">Differential Counting</italic> dan Laju Endap Darah (LED). Hitung jenis sel leukosit (<italic id="_italic-160">Diferential</italic><italic id="_italic-161"> Counting</italic>) merupakan hitung jenis leukosit tes laboratorium medis yang memberikan informasi tentang jenis dan jumlah sel darah putih dalam darah seseorang. perhitunganojenis leukosit yang ada dalam darah berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit dari seluruh jumlah leukosit. Jenis leukosit yang dihitung adalahoneutrofil, eosinofil, basofil,omonosit dan limfosit. Hasilopemeriksaan ini dapatomenggambarkanosecara spesifikokejadian dan proses penyakit dalam tubuh terutama pada saat terjadinya infeksi [5]. Pada kasus demam tifoid, masuknya <italic id="_italic-162">Salmonella typhi</italic> ke dalamptubuhoakan menyebabkan jumlah sel darah putih meningkat. Dimana sel darah putih berperan dalam menghancurkan bakteri yang menginfeksiltubuh. Peningkatan sel darah putih berkaitan dengan fungsi sel leukosit sebagai respon terhadap kekebalan tubuh pada saat terjadinya inflamasi serta adanya indikasi inflamasi sel darah merah yang menyebabkan pengendapanolaju endapodarahodapat melaju lebih cepat karena bertambahnya jumlah sel darah yang mengakibatkan volume plasma menjadi lebih tinggi [6].</p>
      <p id="_paragraph-18">Laju endap darah jugaodilakukan sebagaiopemeriksaanlperadangan non spesifik dengan melihatpkecepatan darah dalam membentuk endapan selama interval waktuqtertentu. Pemeriksaan LED dan <italic id="_italic-163">Differential Counting</italic> sering dilakukanvkarena pemeriksaan ini termasuk pemraheriksaanmrutin bila terjadi suatu infeksi, sehingga kedua pemeriksaan tersebut memiliki hubungan dalam pemeriksaan penyebaran infeksi [7]. Peningkatan laju endap darah terjadi karena kadar fibrinogen dan globulin meningkat akibat infeksi akut maupun infeksi sistemis. Peningkatan kadar laju endap darah disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya usia, kehamilan, wanita,oabnormalitas eritrositoserta peningkatan fibrinogen (infeksi,oinflamasi danokeganasan). Pemeriksaan0yang sering dilakukan untuk mengetahui besarnyaorespon fase akutodan aktifitasopenyakit inflamasi disebutosebagai laju endapodarah [6].</p>
      <p id="_paragraph-19">Terjadinya Inflamasi disebabkan oleh adanya reaksiodari jaringanoterhadap adanya suatu iritan. Iritan tersebut dapat berupa toksin yang dihasilkan oleh mikroba atau bagian dari sel mikroba. Inflamasioberawal dari adanya kerusakan jaringan yang subletal dan dapat diakhiri dengan penyembuhan. Reaksi inflamasi akut ditandai dengan keluarnya leukosit dari sirkulasi perifer ke ruangoekstraseluler dan terjadi aktivasi sel-sel radang lainnya sel polimorfonuklear dan mononuklear<italic id="_italic-164">.</italic> Sel tersebut berfungsi dalam proses fagositosis agen penyebab inflamasi dan dalam proses tersebut akan dihasilkan radikal bebas [8].</p>
      <p id="_paragraph-20">Pada penelitian yang dilakukan oleh Khairunnisaomenunjukkan bahwa ditemukan hubungan yang signifikan antaraojumlah leukosit (p=0,004) terhadap tingkatidemam padaopasien anak dengan demam tifoid [9]. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang signifikanjantara persentase limfosit (p= 0,277) terhadap tingkat demam pada pasien anak dengan demam tifoid. Penelitian lainnya menunjukkan adanya hubunganpsangat kuat dan signifikan antara kadar <italic id="_italic-165">C-Reactive</italic><italic id="_italic-166">o</italic><italic id="_italic-167">Protein </italic>dan laju endapodarah padaopasienpwidalppositif [10]. Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang hubungan <italic id="_italic-168">Differetial</italic><italic id="_italic-169"> counting</italic> dengan laju endap darah pada penderita demam tifoid.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-d8bf43f4829017071297ece58dbe29a2">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-21">Peneliti telah melakukan uji kelayakan etik ke komisi etik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga Surabaya dengan nomor sertifikat 192/HRECC.FODM/IV/2021. Penelitian dilakukan di laboratorium RSUD R. A Basoeni Mojokerto pada bulan April 2021. Jenis penelitian yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan metode eksperimental laboratorik. Penelitian ini menggunakan 30 sampel darah pasien yang terkena demam tifoid di RSUD R. A Basoeni Mojokerto, yang diambil melalui teknik pengumpulan data secara Cross sectional dengan kriteria, yaitu: pasien demam tifoid dengan hasil pemeriksaan widal titer ≥ 1/160. Pemeriksaan Differential counting menggunakan metode otomatis dengan Hematology Analyzer (Nihon Kohden MEK – 7300 K). Pemeriksaan Laju Endap Darah dilakukan dengan menggunakan metode Westergreen modifikasi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara statistik menggunakan uji korelasi dengan SPSS versi 16.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-29c21545337d79ddb76843caee458033">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-23">Berdasarkan Tabel 1 pembacaan hitung <italic id="_italic-170">differential counting</italic> dan laju endap darah diperoleh hasil bahwa pasien demam tifoid yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada pasien perempuan. Dimana terdiri dari 18 orang pasien laki-laki (60%), dan 12 orang pasien perempuan (40%). Pada Tabel 4.1 diketahui bahwa pada pemeriksaan <italic id="_italic-171">Differential counting </italic>sel neutrofil dalam batas normal sebanyak 24 orang (80%), dan terdapat peningkatan sel neutrofil sebanyak 6 orang (20%). Sedangkan pada sel limfosit di peroleh hasil terdapat penurunan sebanyak 18 orang (60%), 9 orang (30%) dalam batas normal dan 3 orang (10%) terjadi peningkatan. Pada sel monosit menunjukkan hasil 15 orang (50%) dalam batas normal dan terjadi peningkatan sel monosit sebanyak 15 orang (50%). Sel eosinofil menunjukkan hasil 27 orang (90%) dalam batas normal dan 3 orang (10%) terjadi peningkatan. Pada sel basofil menunjukkan hasil 30 orang (100%) pasien demam tifoid dalam batas normal. Pada pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) didapatkan hasil 14 orang (47%) nilai laju endap darah masih dalam batas normal dan 16 orang (53%) menunjukkan peningkatan nilai laju endap darah.</p>
      <p id="_paragraph-24">Tabel 1. Karakteristik Pasien Demam Tifoid</p>
      <p id="_paragraph-25">VariabelKategori Jumlah (n) Persentase(%)</p>
      <p id="_paragraph-26">Jenis kelaminLaki-laki 1860%</p>
      <p id="_paragraph-27">Perempuan 1240%</p>
      <p id="_paragraph-28">
        <italic id="_italic-172">Differential Counting</italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-29">NeutrofilRendah 00%</p>
      <p id="_paragraph-30">Normal (28-78%) 2480%</p>
      <p id="_paragraph-31">Tinggi 620%</p>
      <p id="_paragraph-32">LimfositRendah 1860%</p>
      <p id="_paragraph-33">Normal (17-57%) 930%</p>
      <p id="_paragraph-34">Tinggi 310%</p>
      <p id="_paragraph-35">MonositRendah00%</p>
      <p id="_paragraph-36">Normal (0-10%)1550%</p>
      <p id="_paragraph-37">Tinggi 1550%</p>
      <p id="_paragraph-38">EosinofilRendah 00%</p>
      <p id="_paragraph-39">Normal (0-10%) 2790%</p>
      <p id="_paragraph-40">Tinggi 310%</p>
      <p id="_paragraph-41">BasofilRendah 00%</p>
      <p id="_paragraph-42">Normal (0-2%) 30100%</p>
      <p id="_paragraph-43">Tinggi 00%</p>
      <p id="_paragraph-44">LEDNormal</p>
      <p id="_paragraph-45">(P = 0-20 mm/jam)1447%</p>
      <p id="_paragraph-46">(L = 0-15 mm/jam)</p>
      <p id="_paragraph-47">Tinggi1653%</p>
      <p id="_paragraph-48">Berdasarkan tabel 2 hasil uji normalitas pada pemeriksaan jumlah sel neutrofil menunjukkan nilai signifikansi (p= 0,001) sedangkan limfosit, eosinofil, basofil menunjukkan nilai signifikansi ( p= 0,000) dan LED menunjukkan nilai signifikansi (p= 0,004) sehingga data di atas tidak terdistribusi normal sedangkan pada pemeriksaan jumlah sel monosit menunjukkan nilai yang signifikansi (p= 0,059) sehingga data terdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji korelasi.</p>
      <p id="_paragraph-49">Tabel 2 Rerata ± Standar Deviasi (SD) Jumlah <italic id="_italic-173">Differential counting</italic> dan Laju Endap Darah</p>
      <p id="_paragraph-50">VariabelRata-rata ± SD</p>
      <p id="_paragraph-51">Neutrofil67,6± 14,05</p>
      <p id="_paragraph-52">Limfosit16,63 ± 12,48</p>
      <p id="_paragraph-53">Monosit11,06 ± 4,94</p>
      <p id="_paragraph-54">Eosinofil3,60 ± 4,07</p>
      <p id="_paragraph-55">Basofil1,13 ± 0,34</p>
      <p id="_paragraph-56">LED17± 12</p>
      <p id="_paragraph-57">Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan hasil tidak adanya hubungan antara LED dengan Differential conting dengan nilai signifikan (<italic id="_italic-174">p</italic> &gt; 0,05). Maka dapat diartikan differential counting secara keseluruhan tidak mempengaruhi jumlah laju endap darah. Hal ini menyatakan H1 ditolak dan H0 diterima yang menyatakan tidak ada hubungan antara <italic id="_italic-175">differential counting </italic>dengan laju endap darah pada penderita demam tifoid.</p>
      <p id="_paragraph-58">Tabel 3. Analisis Korelasi <italic id="_italic-176">Differential Counting </italic>dengan Laju Endap Darah</p>
      <p id="_paragraph-59">Parameters r <italic id="_italic-177">p</italic></p>
      <p id="_paragraph-60">Neutrofil (%) 0,1480,436</p>
      <p id="_paragraph-61">Limfosit (%) -0,0520,784</p>
      <p id="_paragraph-62">Monosit (%) 0,0600,752</p>
      <p id="_paragraph-63">Eosinofil (%) 0,0620,746</p>
      <p id="_paragraph-64">Basofil (%) -0,3350,071</p>
      <p id="_paragraph-65">Demam tifoid adalah penyakit demam akut yang diseababkan oleh bakteri <italic id="_italic-178">Salmonella typhi</italic>. Bakteri ini ditularkan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Penyebab yang sering terjadi yaitu faktor kebersihan. Seperti halnya ketika makan di luar apalagi di tempat-tempat umum biasanya terdapat lalat yang beterbangan dimana-mana bahkan hinggap di makanan. Lalat-lalat tersebut dapat menularkan Salmonella thyphi dari lalat yang sebelumnya hinggap di feses atau muntah penderita demam tifoid kemudian hinggap di makanan yang akan dikonsumsi [11]. Komplikasi dapat lebih sering terjadi pada individu yang tidak diobati sehingga memungkinkan terjadinya pendarahan dan perforasi usus ataupun infeksi fecal seperti visceral abses [12].</p>
      <p id="_paragraph-66">Adanya Infeksi bakteri akut akan menyebabkan terjadinya leukositosis yang disertai dengan demam. Sedangkan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri penyebab demam tifoid akan didapatkan hasil leukopenia dan demam yang disebabkan oleh peran endotoksin dari lipopolisakarida yang berada pada permukaan bakteri <italic id="_italic-179">Salmonella typhi</italic>. Endotoksin dari <italic id="_italic-180">Salmonella</italic> menyebabkan peningkatan suhu progresif dengan cara merangsang pelepasan zat pirogen dari sel-sel makrofag dan sel leukosit serta dapat mensupresi sumsum tulang untuk menghasilkan leukosit sehingga terjadi leukopenia [9].</p>
      <p id="_paragraph-67">Dari penelitian yang dilakukan di laboratorium RSUD RA. Basoeni Mojokerto hasil yang diperoleh pada pasien laki-laki sebesar (60%) dan pada pasien perempuan sebesar (40%). Hasil ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Ulfa &amp; Handayani (2018) Bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian demam tifoid dengan nilai signifikansi (p=1,00) [13].</p>
      <p id="_paragraph-68">Pada pemeriksaan <italic id="_italic-181">differential counting</italic> jumlah sel rata-rata normal namun pada sel limfosit didapatkan hasil rata-rata 60% limfopenia hasil ini sejalan dengan penelitian Anusuya (2015) dimana ditemukan adanya jumlah limfosit yang lebih rendah pada pasien demam tifoid [14]. Dan terjadi peningkatan pada sel monosit sebesar 50%. Serta juga terjadi peningkatan pada pemeriksaan laju endap darah pada sampel pasien demam tifoid. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2017) dimana didapatkan hasil adanya peningkatan laju endap darah pada demam tifoid [10].</p>
      <p id="_paragraph-69">Hasil penelitian ini dinyatakan tidak adanya hubungan yang signifikan antara laju endap darah (LED) dengan <italic id="_italic-182">Differential. </italic>Pada penelitian Renowati dan Soleha (2019) diperoleh hasil <italic id="_italic-183">p</italic> = 0,006 dimana terdapat hubungan bermakna antara uji widal dengan hitung leukosit pada suspek demam tifoid [15]. Tidak adanya hubungan antara pemeriksaan <italic id="_italic-184">differential counting</italic> dan laju endap darah pada pasien demam tifoid disebabkan karena pada beberapa pasien suspek demam tifoid menunjukkan hasil pemeriksaan yang berbeda-beda. Semakin tinggi titer widal semakin rendah hasil pemeriksaan namun ada beberapa pasien demam tifoid dengan titer tinggi namun hasil pemeriksaan pada <italic id="_italic-185">differential counting</italic> dan laju endap darah didapatkan hasil pemeriksaan normal dan hasil pemeriksaan tinggi. Hal ini terjadi karena perbedaan respon imun pasien dan tingkat resistensi terhadap bakteri tersebut. Serta adanya infeksi lain yang disebabkan bukan karena demam tifoid.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-2098ba29e61b66df9fcc61cb270b1853">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-71">Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara LED dengan Differential counting dengan nilai signifikan (p &gt; 0,05).</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>