<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Determination of the HK Value (Purity Value) of D2 Sugar After the First Cooking Process of Sulfurized Thick Nira at PG Candi Baru</article-title>
        <subtitle>Penentuan Nilai HK (Harkat Kemurnian) Pada Gula D2 Setelah Proses Pemasakan Pertama Nira Kental Tersulfitir di PG Candi Baru</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Santoso</surname>
            <given-names>Muhammad Aji</given-names>
          </name>
          <email>almachfud@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Machfudz</surname>
            <given-names>Al</given-names>
          </name>
          <email>almachfud1@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Akhirunnisa</surname>
            <given-names>Rahmaniah</given-names>
          </name>
          <email>almachfud@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-3"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan TeknologiUniversitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan TeknologiUniversitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-3">
        <institution>Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan TeknologiUniversitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-10-06">
          <day>06</day>
          <month>10</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>07</day><month>10</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-d7dd7e4d4f51ef9b7a02fd928f04673b">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-10">Gula ditemukan dalam berbagai bentuk alami, seperti dalam buah-buahan, madu, dan nektar bunga. Namun, dalam konteks umum, istilah "gula" sering merujuk pada sukrosa, yaitu jenis gula yang umumnya dihasilkan dari tebu[1]. Sukrosa adalah disakarida yang terbentuk dari gabungan dua monosakarida, yaitu glukosa dan fruktosa Gula ini dikenal dengan nama gula putih, gula pasir, atau sukrosa tebu. Selain sukrosa, terdapat juga berbagai jenis gula lainnya, seperti laktosa (gula dalam susu), fruktosa (gula dalam buah-buahan), dan glukosa (gula darah). Gula memiliki berbagai fungsi dalam makanan dan minuman, di antaranya adalah sebagai pemanis, pengawet, dan penstabil. Sebagai sumber energi, gula juga memberikan kalori yang dapat digunakan oleh tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi metabolisme[2].</p>
      <p id="_paragraph-11">Tanaman tebu memiliki kandungan air nira sebesar 70-80%, gula 7-12%, serat 10-16% dan bukan gula 2-3%. Proses pengolahan gula dimulai dari penggilingan, pemurnian, penguapan dan pengkristalan (masakan dan puteran) yang setiap prosesnya sebagian besar di supply oleh uap dari stasiun ketel. Setiap tahapan pada pemrosesan tebu menjadi gula masih sering ditemukan bagian gula yang hilang, terdapat kandungan gula yang ditemukan pada ampas, blotong, tetes atau undeterminated loss (ex. pada air kondensat)[3].</p>
      <p id="_paragraph-12">Prinsip stasiun masakan adalah menguapkan kembali nira kental yang diperoleh dari stasiun penguapan hingga larutan gula menjadi lewat jenuh dan mengkristal. Proses ini dilakukan dengan menggunakan pan masakan yang beroperasi pada tekanan vakum dan suhu rendah agar sukrosa tidak rusak atau mengalami karamelisasi[4]. Kadar gula yang dihasilkan dapat diketahui dengan menghitung kemurnian gula atau yang biasa disebut harkat kemurnian (HK). Semakin tinggi nilai HK, maka semakin tinggi kadar gula yang dihasilkan[5]. Output stasiun masakan adalah kristal-kristal gula dengan ukuran, bentuk, dan warna yang sesuai dengan standar kualitas. Kristal-kristal gula dibentuk dengan cara menguapkan kembali nira kental tersulfitasi hingga larutan gula menjadi lewat jenuh dan mengkristal. Proses ini dilakukan dengan menggunakan pan masakan yang beroperasi pada tekanan vakum dan suhu rendah agar sukrosa tidak rusak atau mengalami karamelisasi.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-fab9fe4d8bc1456520512f174c4b0338">
      <title>Metode</title>
      <p id="heading-841e2f928fabda967cfa08088899e369">
        <bold id="bold-1">1. </bold>
        <bold id="bold-2">Tempat dan Waktu</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-13">Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan di PG Candi Baru yang ber-alamat di jalan raya candi No. 10, Sidoarjo, Jawa timur, pada tanggal 01 Agustus 2023 sampai 31 Agustus 2023.</p>
      <p id="paragraph-b5aa2021b475b27519c08c5b3c9bbe19">
        <bold id="bold-b684a6a012432cf365da206d72827918">2. </bold>
        <bold id="bold-f3c8f078e1353f44e23a472d84ac919e">Alat dan Bahan</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-14">Alat yang digunakan yaitu Timbangan Digital, Gelas Ukur, Mixer, Brix Weiger, Tabung Mol, Labu Ukur, Kertas Merang, Tabung Polarimeter/pol buis, Polarimeter. Bahan yang digunakan yaitu Gula D2, Air 1500ml, Cairan Loud 5ml, Cairan Aquades 5ml.</p>
      <p id="paragraph-a9050aa116b377bab5564028151a206d">
        <bold id="bold-9c78c76cf1347f24b924e06b10b34ebe">3. </bold>
        <bold id="bold-6f40a1041e1ed7bcf6c7ca2cce14e1b7">Rancangan Penelitian</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-15">Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan menganalisis data yang sebelumnya telah didapatkan dan dihitung secara kuantitatif. Untuk menentukan nilai %HK hitung terlebih dahulu nilai %Brix baca sampel gula D2 yang kemudian dilanjutkan menentukan nilai %Pol baca sehingga nantinya dapat mengetahui hasil akhir dari nilai %HK tersebut.</p>
      <p id="paragraph-77988f2a055e0b6fcc8f6676595f8830">
        <bold id="bold-3e1182aa1b4973c07a692f291107073a">4. </bold>
        <bold id="bold-5ba6abcdc8a0a15a61e3bc4f87f93f4a">Pelaksanaan Penelitian</bold>
      </p>
      <p id="paragraph-f9d1dd73b49818f5b995a7729bf78831">
        <bold id="bold-ad870c7af95764985529fb713ea405e8">1. Introduksi</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-16">Berkenalan dengan para karyawan, staff, dan kepala bagian terutama dibagian quality assurance untuk memudahkan mencari informasi sehingga penulis dapat menyusun artikel magang ini dengan lancer dan menambah harmonisasi dalam bekerja.</p>
      <p id="paragraph-1c56475c688285c05eec79818d77329a">
        <bold id="bold-d0b8eb4806440f770e6b36e976bf3e1f">2. Observasi Partisipasi</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-17">Observasi partisipasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung dan ikut melihat proses pembuatan gula dari stasiun gilingan hingga ke stasiun penyelesaian untuk memperoleh data yang sesuai dengan kondisi sebenarnya.</p>
      <p id="paragraph-50206307e2193ba4b536b19e4291127a">
        <bold id="bold-1c6aaf5eb7af2655f7b748a49d6f81c9">3. Wawancara</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-18">Metode ini dilakukan Diskusi dan wawancara secara langsung dengan pembimbing lapangan dan pekerja lapangan untuk memperoleh informasi yang lebih jelas tentang hal yang berhubungan langsung dengan kegiatan dengan mencari materi mengenai pengendalian mutu produk dan juga sejarah.</p>
      <p id="paragraph-e5418079a1d0448e0ee9afedf0189922">
        <bold id="bold-56e63819f6a795f6b55814c5222618e3">4. </bold>
        <bold id="bold-e4418edb1e6ed0f3c4965b302e8203d3">Praktek Kerja</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-19">Praktek kerja dilakukan secara langsung dan didampingi oleh pekerja lapangan di bagian lab quality assurance dan stasiun masakan untuk mengetahui cara kerja dan penelitian apa saja yang dilakukan di PG Candi Baru Sidoarjo.</p>
      <p id="paragraph-a13bc93323e8961a20d031ea290ee81e">
        <bold id="bold-f5bc6f2fa08b703782367b28ae4468d3">5. </bold>
        <bold id="bold-e9434a946c136b4744ac45a6a13419e9">Dokumentasi</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-20">Dokumentasi kegiatan dilakukan untuk menunjang penulisan dan mendukung beberapa data yang diperoleh saat berjalannya waktu studi seperti dokumentasi kegiatan selama berlangsungnya proses studi, dokumentasi saat proses pemasakan nira menjadi gula pasir, dokumentasi yang berada di lab quality assurance dengan persetujuan site manager.</p>
      <p id="paragraph-73b688324880b25370be60b8a6b70b10">
        <bold id="bold-5fd2c989e1a13a4644224c27314d9ed5">6.</bold>
        <bold id="_bold-16">Studi Pustaka</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-21">Mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku literatur, jurnal, internet, serta sumber-sumber pustaka lain yang erat kaitannya dengan perusahaan terutama yang berkaitan dengan proses pemasakan tebu menjadi gula.</p>
      <sec id="sec-1_6">
        <title>Hasil dan Pembahasan</title>
        <p id="paragraph-7663dde8b96837b966ea3180937c9d2c">A. <bold id="_bold-17">Flow </bold><bold id="_bold-18">sheet stasiun masakan atau kristalisasi</bold> </p>
        <fig id="fig2">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <p id="_paragraph-22"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-2" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image2.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-23"><bold id="_bold-19">Gambar</bold><bold id="_bold-20">1.</bold>Alur proses kristalisasi di stasiun masakan</p>
        <p id="_paragraph-24">Tugas utama dari stasiun masakan adalah untuk memerah pol dari nira kental hasil dari penguapan semaksimal mungkin dalam bentuk gula SHS pada kualitas yang prima, dengan kehilangan pol terbawa tetes seminimal mungkin.</p>
        <p id="paragraph-a4e894c1b5a1e0644a5c8b6661abeb0f">1. <bold id="bold-dd0ad6b0c21062045d1b54d1e2c76fc4">Pembuatan Gula D</bold></p>
        <p id="_paragraph-25">Dalam vacuum pan, nira kental sulfitir dimasak sebanyak 150 HL. Tunggu sampai membentuk benang kira-kira 2,5 cm. Kemudian, masukkan fondan dengan ukuran 0,005 mm sebanyak 300 ml. Setelah itu masakan D dipantau hingga terbentuk kristal berukuran seragam, (lakukan pengecekan HK 81-83% digunakan untuk menghitung volume klare D dan stroop A yang harus ditambahkan). Setelahnya klare D dan stroop A ditambahkan hingga volumenya 450 mL, HK harus diantara 65-67%. Perhatikan kristal gula secara terus-menerus sampai kristal berukuran seragam diantara 0,3-0,4 mm dengan terlebih dahulu dilakukan pengecekan HK untuk kedua bahan tersebut. Tempatkan HK yang lebih tinggi di antara keduanya terlebih dahulu dan panaskan selama 5–10 menit sebelum digunakan dan HK berkisar antara 60-65%. Saat awal giling, nira kental sulfitir ditambahkan untuk meningkatkan volume. Setelah ukuran kristal dan HK sesuai, masakan dioper ke pan lainnya.</p>
        <p id="_paragraph-26">Masakan memakan waktu sekitar enam hingga sembilan jam. Masakan D dimasukkan ke dalam palung pendingin, juga dikenal sebagai trog, setelah mencapai volume 400 HL, brix (100%), HK (59-61%), dan ukuran kristal standar. Nomor trog yang digunakan untuk menyimpan hasil masakan D adalah 1 hingga 5. Masakan D yang sudah siap diproses di bagian puteran, dialirkan ke trog 6–8 (proses aliran di trog 6–8) dan kemudian dialirkan ke rapid cooler. Ini dilakukan dengan tujuan menurunkan suhu masakan D hingga mencapai suhu 54–550C. Tujuannya adalah agar kristal yang terbentuk tidak pecah atau terlarut menjadi tetes selama proses puteran pertama masakan D.</p>
        <p id="_paragraph-27">Selama empat jam, masakan D didinginkan di rapid cooler. Setelah keluar dari pendingin cepat, masakan D kemudian diputar di puteran 1 hingga 5. Putaran pertama menghasilkan gula D1 dan tetes, dan putaran kedua menghasilkan gula D2 dan klare D. Klare D kemudian disimpan di babonan atau magma D untuk digunakan sebagai bibitan gula C, dan trog klare D digunakan sebagai bahan masakan D </p>
        <p id="paragraph-c563c831fad6f802ec9d4fd5dc709be6">
          <bold id="bold-f3bf39c1a17e51d7e1b3d0c5fb0f8828">2. </bold>
          <bold id="bold-d88d3a87156712c2e529289be49f7cd1">Pembuatan Gula C</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-28">Pembuatan gula C dilakukan di pan masak 3 atau 4, dimulai dengan menambah gula D2 ke pan masak sebanyak 60 hingga 70 HL. Bentuk kristal gula berukuran 0,5 sampai 0,7 mm (ditambahkan nira kental untuk memperbesar kristal). Setelah ukuran kristal masakan C sesuai dengan standar dan seragam, stroop A ditambahkan secara bertahap hingga volume pan masak 4 (350 HL) atau pan masak 5 (400 HL). Lama waktu untuk masakan C adalah 5 hingga 7 jam. Jika ukuran kristal, HK (70-74%) dan brix (96-97%) tercapai, maka masakan C diturunkan ke trog nomor 9 dan 10.</p>
        <p id="_paragraph-29">Masakan C mendingin selama satu jam. Setelah itu, diputar di puteran nomor 8 sampai 9. Hasil puteran ini adalah stroop C yang disimpan di trog stroop C untuk digunakan sebagai bahan masakan D, dan gula C yang disimpan di babonan atau magma C untuk digunakan sebagai bahan masakan A </p>
        <p id="paragraph-4ceded5a7b120458eedd6de915cafd62">3. <bold id="_bold-23">Pembuatan Gula A</bold> </p>
        <p id="_paragraph-30">Pembuatan bibitan A dimulai dengan memasukkan gula C ke pan masakan, jika kristal kecil atau halus volume yang ditarik adalah sebesar 60 HL namun jika kristal berukuran besar volume yang ditarik sebesar 70 HL. Kemudian, secara bertahap tambahkan nira kental sulfitir hingga volumenya mencapai 300 HL dengan memastikan ukuran kristal masakan A dan keseragamannya tercapai. Setelah itu masakan dioper ke pan lainnya (volume pembagian sama rata). Lalu ditambahkan nira kental sulfitir secara bertahap kembali hingga tercapai volume 350 HL.</p>
        <p id="_paragraph-31">Masakan A membutuhkan waktu 4 hingga 6 jam. Jika ukuran kristalnya 0,8–1,2 mm, HK (80–85%), dan brix 93–94% tercapai, maka masakan A diturunkan ke trog nomor 11 dan 16. Masakan A kemudian di dinginkan selama 1 jam. Kemudian, masakan A diputar di puteran pertama, menghasilkan gula A1 dan stroop A. Stroop A kemudian disimpan di peti stroop A untuk digunakan sebagai bahan untuk masakan C dan D. Kemudian, gula A1 diputar lagi di puteran kedua, menghasilkan gula SHS dan klare SHS. Klare SHS kemudian disimpan di peti klare SHS, dan kemudian dialirkan ke remelter untuk diproses dengan bahan lainnya, yang kemudian menjadi campuran bahan di peti nira kental </p>
        <p id="_paragraph-32">Selanjutnya, gula SHS yang dihasilkan diarahkan ke talang goyang dengan bucket elevator, yang berfungsi sebagai penampung, sebelum dimasukkan ke dalam sugar dry cooler. Talang goyang juga membantu memecah kristal gula yang masih menggumpal menjadi butiran gula kecil. Setelah diturunkan dari kadar airnya, gula akan didinginkan saat dilewatkan di dalam sugar dry cooler. Gula kemudian dimasukkan ke dalam screen vibrating dengan mesh 8 dan 18 mesh. Ini dilakukan untuk membedakan gula yang tidak memenuhi standar dari gula yang terkaramelisasi. Ada juga magnetic trap di vibrating screen untuk memerangkap logam pada gula di produk akhir </p>
        <p id="_paragraph-33">
          <bold id="_bold-24">Analisis Data Pada Proses Masakan</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-34">Dalam proses di industri gula dikenal istilah-istilah pol, brix dan HK (hasil bagi kemurnian). Istilah-istilah ini terdapat dalam analisa gula, mulai dari nira sampai menjadi gula kristal. Baik buruknya kualitas nira tergantung dari banyaknya jumlah gula yang terdapat dalam nira. Untuk mengetahui banyaknya gula yang terkandung dalam nira, lazim dilakukan analisa brix dan pol. Berikut penjelasan masing-masing istilah menurut </p>
        <p id="paragraph-956a91687c6b6ec174fdbfa39bcf72c5">
          <bold id="bold-c240da5eb940329e183c076697762a6c">A. </bold>
          <bold id="bold-99ba5e434b0a2f8af40f0d212d21d77a">Brix</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-35">Brix adalah jumlah zat padat semu yang larut (dalam gr) setiap 100 gr larutan. Jadi misalnya brix nira = 16, artinya bahwa dari 100 gram nira, 16 gram merupakan zat padat terlarut dan 84 gram adalah air. Untuk mengetahui banyaknya zat padat yang terlarut dalam larutan (brix) diperlukan alat ukur tertentu </p>
        <p id="paragraph-b852ff13a43508c3e8010cd4a64d4bce">
          <bold id="bold-bd2f844fbb7cd08366260643a5e35f97">B. </bold>
          <bold id="bold-732c52fab7cc744a8e12b3f25c3ea656">Derajat Pol</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-36">Derajat pol atau pol adalah jumlah gula (dalam gram) yang ada dalam setiap 100 gram larutan. Pengukuran pol menggunakan polarimeter. Jadi menurut pengertian ini jika pol nira = 15, berarti dalam 100 gram larutan nira terdapat gula 15 gram. Selebihnya 85 gram adalah air dan zat terlarut bukan gula </p>
        <p id="paragraph-950f9f0be94ca91ca219337d52569583">
          <bold id="bold-cefa15684d6eb3ec7ee527065f1fcbd4">C. </bold>
          <bold id="bold-e8da114b84911977bab6b53eb1084f64">HK</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-37">HK merupakan ukuran dari kemurnian nira. Semakin murni secara relatif semakin banyak mengandung gula. Nira mengandung zat padat yang terlarut, yang terdiri dari gula dan bukan gula. Perbandingan berat kedua zat itu yang dinamakan hasil bagi kemurnian jika dinyatakan dalam pol dan brix </p>
        <p id="paragraph-3c426e29c79e8397cc2b38c075039725">
          <bold id="bold-4aaa950858e0460e79ea157c3ec30bd7">D. </bold>
          <bold id="bold-905a0d6b7f4a6b1def651aef2200a5f4">Neraca Warna</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-38">Sebuah proses untuk mengukur dan mengendalikan kualitas warna dari produk gula kristal putih (GKP) yang diproduksi oleh pabrik gula. Warna dari GKP merupakan salah satu parameter utama yang menentukan mutu dan harga jual dari gula. Warna dari GKP dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kandungan gula pereduksi, asam organik, senyawa melanoidin, dan zat warna lainnya yang terbentuk selama proses produksi. Uji neraca warna dilakukan dengan menggunakan alat pengukur warna yang disebut dengan International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA). ICUMSA adalah sebuah organisasi internasional yang menetapkan standar metode untuk menganalisis gula dan produk turunannya. ICUMSA menggunakan satuan International Unit (IU) untuk mengukur warna dari larutan gula. Semakin rendah nilai IU, semakin putih warna gula </p>
        <p id="_paragraph-39">
          <bold id="_bold-29">Penelitian Sampel</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-40">Pada saat melaksanakan pkl, penulis melakukan penelitian untuk menentukan nilai HK pada masakan Gula D2 di laboratorium Quality Assurance dan berikut hasil yang didapatkan:</p>
        <p id="_paragraph-41">Bahan:</p>
        <p id="_paragraph-42">-Gula D2</p>
        <p id="_paragraph-43">-Air 1500ml</p>
        <p id="_paragraph-44">-Cairan Loud 5ml</p>
        <p id="_paragraph-45">-Cairan Aquades 5ml</p>
        <p id="_paragraph-46">Alat:</p>
        <p id="_paragraph-47">-Timbangan Digital</p>
        <p id="_paragraph-48">-Gelas Ukur</p>
        <p id="_paragraph-49">-Mixer</p>
        <p id="_paragraph-50">-Brix Weiger</p>
        <p id="_paragraph-51">-Tabung Mol</p>
        <p id="_paragraph-52">-Labu Ukur</p>
        <p id="_paragraph-53">-Kertas Merang</p>
        <p id="_paragraph-54">-Tabung Polarimeter/pol buis</p>
        <p id="_paragraph-55">-Polarimeter</p>
        <p id="_paragraph-56">
          <bold id="_bold-30">Langkah-Langkah Analisa Brix:</bold>
        </p>
        <list list-type="order" id="list-90696f6cbe80871499fe3dbcd601f5b0">
          <list-item>
            <p>Ambil sampel Gula D2 sebanyak 300ml.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Tambahkan air sampai dengan berat 1500gr (pengenceran 5x).</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Diaduk di mixer sampai cairan homogen.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Masukkan sampel yang sudah diaduk ke dalam mol glass untuk diamati kadar brix dan amati suhunya juga.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Hitung brix terkoreksi:</p>
          </list-item>
        </list>
        <fig id="fig3">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <p id="_paragraph-57"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-3" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image3.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-58"><bold id="_bold-31">Gambar 2.</bold> Tabel brix Wager</p>
        <p id="paragraph-fe1cbbfdc17b1e935df319cc37e24f89">- Pembacaan Brix Weiger +/- koreksi suhu = Brix Koreksi.</p>
        <p id="paragraph-2">- Brix koreksi x dengan pengenceran (5x) = Brix Terkoreksi.</p>
        <p id="_paragraph-59">
          <bold id="_bold-32">Langkah-Langkah Analisa Pol:</bold>
        </p>
        <list list-type="order" id="list-a4c9130ecd00afac86590e8beebf4cd1">
          <list-item>
            <p>Labu ukur 100-110ml dibilas dua kali dengan nira, lalu diisi dengan sampel hingga garis 100ml.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Dibubuhkan dengan cairan loud 5ml dan aquades 5ml (total cairan 110ml) dan dikocok sampai homogen.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Disaring dengan kertas merang untuk diambil filtratnya.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Setelah didapat filtratnya, selanjutnya dimasukkan kedalam tabung pipa polarisasi sampai penuh.</p>
          </list-item>
          <list-item>
            <p>Polarisasi nira dibaca dengan alat polatimeter.</p>
          </list-item>
        </list>
        <p id="_paragraph-60">
          <bold id="_bold-33">Perhitungan HK</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-61">Diketahui sampel Gula D2 memiliki brix baca 19.2, suhu 28.5⁰C, dan Pol baca 68.3</p>
        <p id="_paragraph-62">Jawab:</p>
        <p id="_paragraph-63">% Brix =19.26</p>
        <p id="_paragraph-64">= 19.26 x 5 (pengenceran)</p>
        <p id="_paragraph-65">= 96.30 % Brix</p>
        <p id="paragraph-36b973d1366c3883bd6a5019e5e241b1">*0.06 didapatkan dari melihat nilai brix weiger kemudian dicari sesuai suhu yang didapatkan (lihat digambar 2)</p>
        <p id="paragraph-dc7ae18bc7388ac047e43f52fc4bf8ff">% Pol = 68.3</p>
        <p id="_paragraph-66">= 18.10 + 0.08 </p>
        <p id="_paragraph-67">= 18.18</p>
        <p id="_paragraph-68">= 18.18 x 5 (pengenceran)</p>
        <p id="_paragraph-69">= 90.9 % Pol</p>
        <p id="paragraph-14b13a70d14e3beaab4151fe1a83c4db">*18.10 didapatkan dari melihat derajat pol awal dan nilai brix awal</p>
        <p id="paragraph-d0cc9b7b7bca87832a21b24a9d96f191">*0.08 didapatkan dari melihat nilai tambahan interpol jika nilai pol baca terdapat angka desimal</p>
        <p id="paragraph-3">(lihat digambar 3)</p>
        <p id="paragraph-4"/>
        <p id="_paragraph-70">HK=  x 100%</p>
        <p id="_paragraph-71">= 0.9439 = 94,3</p>
        <fig id="fig4">
          <label>Figure 3</label>
          <caption>
            <p id="_paragraph-72"/>
          </caption>
          <graphic id="_graphic-4" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image4.png"/>
        </fig>
        <p id="_paragraph-73"><bold id="_bold-34">Gambar </bold><bold id="_bold-35">3</bold><bold id="_bold-36">.</bold> Daftar Schmitz</p>
        <p id="_paragraph-74">Harkat Kemurnian (HK) merupakan indikator penting dalam proses pengolahan gula karena menunjukkan kualitas nira tebu. Semakin tinggi HK, semakin murni nira tebu dan semakin mudah untuk diproses menjadi gula. </p>
        <fig id="figure-panel-8cdf37da898079a2bd6a4c257ac96a43">
          <label>Figure 4</label>
          <caption>
            <p id="paragraph-57bb506262a937cec4ccb5538ae44e94"/>
          </caption>
          <graphic id="graphic-fab39319018beec9e838bbed0d7eec0c" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="1748-1.png"/>
        </fig>
      </sec>
      <sec id="sec-1_7">
        <title>Simpulan</title>
        <p id="_paragraph-87">Berdasarkan hasil pembahasan diatas mengenai penentuan nilai %HK yang telah diamati setelah sebelumnya sudah menghitung nilai %Brix terkoreksi dan %Pol terkoreksi, Gula D2 sudah bisa digunakan untuk bahan utama pembuatan Gula C karena nilai HK yang diperoleh diatas 90%. HK yang tinggi menunjukkan kualitas nira tebu yang baik dan akan menghasilkan gula dengan kualitas yang tinggi. Proses pengolahan gula bertujuan untuk meningkatkan nilai HK dengan membersihkan nira tebu dari kotoran dan zat-zat yang tidak diingikan. Gula D2 digunakan untuk bahan utama pembuatan Gula C pada proses pemasakan Gula C. Gula D2 dihasilkan dari proses pemasakan pertama di stasiun masakan D dan pada putaran kedua yang menghasilkan Gula D2 dan klare D.</p>
        <p id="paragraph-7e85ffcf1f044e4189414fc704b5bdd1">
          <bold id="bold-bb7ec341aefb83b2439bd7ac85c8b140">Ucapan Terima Kasih</bold>
        </p>
        <p id="_paragraph-88">Terima kasih disampaikan kepada PT. PG Candi Baru yang telah menfasilitasi program magang industri yang telah dilaksanakan dan penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memfasilitasi kegiatan magang industri sehingga dapat berjalan lancar.</p>
      </sec>
    </sec>
  </body><back/></article>
