<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Integrated FMEA FTA HOR Reduces Production Defect Risk</article-title>
        <subtitle>Penerapan EOQ Mengurangi Biaya Persediaan PAC dalam Pengolahan Air</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Maulidiyah</surname>
            <given-names>Indri</given-names>
          </name>
          <email>indahapriliana@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Sari W.</surname>
            <given-names>Indah Apriliana</given-names>
          </name>
          <email>indahapriliana@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-05-02">
          <day>02</day>
          <month>05</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>02</day><month>05</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  <body>
    <p>
      <bold>Analysis </bold>
      <bold>o</bold>
      <bold>f </bold>
      <bold>t</bold>
      <bold>he Causes </bold>
      <bold>o</bold>
      <bold>f Shoe </bold>
      <bold>Product Defects Using the HOR and FTA Methods  </bold>
    </p>
    <p>
      <bold>Analisis Penyebab Kecacatan Produk Sepatu Menggunakan Metode HOR dan FTA</bold>
    </p>
    <p>Indri Maulidiyah<sup>1)</sup>, Indah Apriliana Sari W. <sup>*,2)</sup> </p>
    <p><sup>1)</sup>Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia</p>
    <p><sup>2)</sup> Program Studi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia</p>
    <p>*Email Penulis Korespondensi: <ext-link xlink:href="mailto:indahapriliana@umsida.ac.id">indahapriliana@umsida.ac.id</ext-link>  </p>
    <p>
      <bold>
        <italic>Abstract</italic>
      </bold>
      <italic>. </italic>
      <italic>PT </italic>
      <italic>ABC</italic>
      <italic> is a shoe menufacturing company</italic>
      <italic>.</italic>
      <italic> In the production process, the company often faces the problem of product defects, which reach an average of 0,9% per month from 55.504 pairs of shoes produced from January to May</italic>
      <italic> 2024</italic>
      <italic>. This defect causes losses to the company, both in terms of repair costs, replacements, and decreased revenue. This study aims to identify the types of failures and root causes of defects in shoe products and formulate defect control st</italic>
      <italic>rategies. Using the House of Risk (HOR) method equipped with pareto diagrams and Fault Tree Analysis (FTA). From the calculation results, the highest ARP value is 819 from the risk event in the oblique stitching process. The mitigation strategy given to reduce the level of disability is to provide training for workers, conduct more monitoring, and implement 5S. </italic>
    </p>
    <p>
      <bold>
        <italic>Keywords </italic>
      </bold>
      <bold>
        <italic>: defect, HOR, pareto diagrams, FTA. </italic>
      </bold>
    </p>
    <p>
      <bold>
        <italic>Abstrak</italic>
      </bold>
      <italic>. </italic>
      <italic>PT </italic>
      <italic>ABC</italic>
      <italic>, </italic>
      <italic>adalah</italic>
      <italic>perusahaan manufaktur sepatu, </italic>
      <italic>dalam proses produksi</italic>
      <italic>nya,</italic>
      <italic> perusahaan sering </italic>
      <italic>menghadapi masalah kecacatan produk yang mencapai rata-rata 0,9% </italic>
      <italic>perbulan </italic>
      <italic>dari 55.504</italic>
      <italic>pasang </italic>
      <italic>sepatu</italic>
      <italic>yang di produksi selama </italic>
      <italic>bulan </italic>
      <italic>Januari hingga Mei</italic>
      <italic> 2024</italic>
      <italic>. Kecacatan ini menyebabkan kerugian </italic>
      <italic>bagi </italic>
      <italic>perusahaan, baik dari segi biaya perbaikan, penggantian, maupun penurunan pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis</italic>
      <italic>-jenis</italic>
      <italic> kegagalan dan akar penyebab cacat pada produk sepatu serta merumuskan strategi pengendalian kecacata</italic>
      <italic>n </italic>
      <italic>m</italic>
      <italic>enggunakan m</italic>
      <italic>etode </italic>
      <italic>House of Risk</italic>
      <italic>(HOR) yang dilengkapi dengan diagram </italic>
      <italic>p</italic>
      <italic>areto dan </italic>
      <italic>Fault Tree Analysis</italic>
      <italic> (FTA). </italic>
      <italic>Dari hasil perhitungan di </italic>
      <italic>diperoleh</italic>
      <italic> nila</italic>
      <italic>i ARP tertinggi sebesar 819 dari </italic>
      <italic>kejadian risiko</italic>
      <italic> pada proses</italic>
      <italic>penjahitan yang</italic>
      <italic> miring. </italic>
      <italic>S</italic>
      <italic>tra</italic>
      <italic>tegi mitigasi yang diberikan untuk mengurangi tingkat kecacatan </italic>
      <italic>adalah</italic>
      <italic> dengan memberikan pelatihan </italic>
      <italic>kepada</italic>
      <italic> pekerja, melakukan pengawasan </italic>
      <italic>yang </italic>
      <italic>lebih dan menerapkan 5S. </italic>
    </p>
    <p>
      <bold>
        <italic>Kata Kunci </italic>
      </bold>
      <bold>
        <italic>: cacat, HOR, diagram pareto, FTA. </italic>
      </bold>
    </p>
    <sec id="sec-1">
      <title>I. Pendahuluan </title>
      <p>PT ABC, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur sepatu, memproduksi beberapa jenis produk sepatu olahraga dengan jumlah konsumen yang cukup banyak. Namun, dalam proses produksinya perusahaan sering mengalami kerugian karena kualitas produk yang tidak sesuai. Salah satu masalah yang dihadapi adalah produk yang dihasilkan tidak dalam kondisi sempurna atau masih terdapat produk yang cacat (<italic>defect</italic>). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengawasan secara rutin dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kecacatan.</p>
      <p>Berdasarkan data kecacatan produksi di perusahaan dari bulan januari 2024 hingga Mei 2024 seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.</p>
      <p><bold>Gambar 1. </bold>Frekuensi Data Kecacatan Produksi 2024</p>
      <p>Berdasarkan gambar 1 menunjukkan masalah ketidakstabilan kualitas produk di seluruh lini produksi. Total kecacatan produksi sebanyak 480 pcs dari output 55.504 pcs, dengan rata-rata persentase <italic>defect</italic> tiap bulan sebesar 0,9%. Sedangkan perusahaan memiliki standart kecacatan yaitu maksimal 0,2%. Jenis-jenis kecacatan yang terjadi adalah noda lem pada sepatu, jahitan sepatu kurang rapi, sablon logo tidak presisi, dan lem tidak merekat. Penanganan yang dilakukan perusahaan untuk produk sepatu yang cacat pada saat ini adalah perusahaan tetap melakukan penjualan namun dengan kriteria produk yang berkualitasrendah (kw) dengan harga yang murah. Hal ini menyebabkan kerugian bagi perusahaan karena harus mengeluarkan biaya perbaikan dan penggantian serta penurunan pendapatan karena banyaknya jumlah defect.</p>
      <p>Penelitian terdahulu seperti romadon membahas tentang mengidentifikasi dan menganalisis menggunakan metode HOR yang bertujuan untuk mengidentifikasi risk agent dan risk event untuk menentukan prioritas dan merencanakan strategi perbaikan pada perusahaan. Suseno berfokus pada pengendalian kualitas produk cacat menggunakan metode FTA yang bertujuan menganalisa hasil sebab akibat dari permasalahan, dan dilanjutkan menggunakan <italic>Failure Mode and Effect Analysis</italic> (FMEA) untuk menganalisa perbaikan yang akan diusulkan. Hidayat membahas tentang perbaikan kualitas produk dengan menggunakan metode FTA, untuk mengidentifikasi penyebab kecacatan dan menghitung probabilitas. Kemudian, metode FMEA digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan yang paling penting bagi perusahaan untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Penelitian Purwaningsih membahas tentang strategi mitigasi risiko cacat <italic>part hopper</italic> dengan menggunakan metode HOR yang bertujuan untuk mengetahui tingkat <italic>Aggregate Risk Potential </italic>(ARP) tertinggi dan menentukan strategi mitigasi bagi perusahaan.</p>
      <p>Berdasarkan permasalahan di PT ABC, maka penelitian ini akan mengintegrasikan beberapa metode, yaitu pendekatan metode HOR dan FTA. Metode HOR digunakan untuk menentukan <italic>risk event</italic> dan <italic>risk agent</italic> yang akan diprioritaskan untuk dilakukan perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan merancang strategi mitigasi terhadap agen risiko yang menyebabkan kecacatan sepatu dengan menggunakan metode HOR. Hasil identifikasi selanjutnya dianalisis menggunakan metode FTA, yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan, untuk menemukan akar penyebab cacat dan mengurangi kecacatan pada sepatu menggunakan <italic>fault tree</italic>. Maka berdasarkan latar belakang tersebut, dengan menggunakan metode HOR dan FTA dapat memberikan alternatif pencegahan terhadap penyebab kecacatan pada produk sepatu yang di produksi</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title>II. Metode</title>
      <p>Metode penelitian ini menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan dari awal hingga akhir, dimana langkah-langkah tersebut menjadi acuan agar penelitian berjalan secara sistematis. Penelitian ini dilakukan di perusahaan yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih 6 bulan sejak bulan oktober 2024 sampai maret 2025. Proses pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung dan wawancara untuk mengetahui penyebab dan jenis <italic>defect</italic> yang terjadi dengan cara mengumpulkan data jumlah produksi dan data jumlah cacat produksi.   </p>
      <p>Adapun kegiatan selama proses penelitian terdapat dalam alur penelitian yang berbentuk <italic>flowchart</italic> seperti pada gambar 2.</p>
      <fig id="fig1">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image1.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 2. </bold>Alur penelitian </p>
      <p>Tahapan pertama yang dilakukan adalah melakukan studi pustaka dan lapangan. Studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan materi dari sumber-sumber yang relevan dan berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan, materi yang digunakan pada penelitian ini bersumber dari jurnal penelitian terdahulu yang pernah dilakukan. Studi lapangan dilakukan untuk mengumpulkan data secara langsung di perusahaan dan mencari informasi yang akurat. Perumusan masalah yang diambil pada penelitian ini adalah penyebab <italic>defect</italic> yang terjadi pada produk sepatu di PT ABC dengan menggunakan metode HOR dan FTA sehingga dapat dilakukan tahapan yang selanjutnya yakni menentukan batasan dan tujuan penelitian. </p>
      <p>Data yang diambil dalam penelitian ini terdapat 2 jenis data, yakni data primer dan sekunder. Data primer dilakukan dengan mewawancarai bagian kepala <italic>Quality Control</italic>dan R&amp;D. Data hasil wawancara mencakup informasi jenis cacat dan penyebab cacat yang terjadi. Data sekunder pada penelitian ini berisi data produksi, jumlah cacat dan jenis cacat yang ditemukan selama proses produksi. </p>
      <p>Dalam pengolahan data penelitian dilakukan dengan pendekatan metode HOR yang digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko (<italic>risk agent</italic>) yang perlu di prioritaskan untuk tindakan perbaikan. Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah menjadi beberapa tahapan yaitu HOR Fase 1 dan HOR Fase 2. Pengolahan data dimulai dengan HOR Fase 1 untuk menghitung probabilitas terjadinya kejadian risiko (<italic>occurrence</italic>) dan dampak yang terjadi (<italic>severity</italic>) dari kejadian risiko dengan menggunakan perhitungan pendekatan ARP. HOR fase 1 dikembangkan dengan tahap-tahap berikut ini: </p>
      <p><bold>Tabel 1.</bold> Skala <italic>Severity</italic> .</p>
      <table-wrap id="tbl1">
        <table>
          <tr>
            <td colspan="2">
              <italic>Severity</italic>
            </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>1</td>
            <td>Tidak ada efek </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>2</td>
            <td>Sangat sedikit</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>3</td>
            <td>Sedikit</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>4</td>
            <td>Kecil </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>5</td>
            <td>Sedang</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>6</td>
            <td>Besar</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>7</td>
            <td>Sangat besar</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>8</td>
            <td>Sangat parah</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>9</td>
            <td>Serius</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>10</td>
            <td>Berbahaya </td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p><bold>Tabel 2.</bold> Skala <italic>Occurrence</italic> .</p>
      <table-wrap id="tbl2">
        <table>
          <tr>
            <td colspan="2"><italic>Occurrence</italic> </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>1</td>
            <td>Hampir tidak terjadi </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>2</td>
            <td>Jarang </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>3</td>
            <td>Sangat sedikit</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>4</td>
            <td>Sedikit</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>5</td>
            <td>Rendah </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>6</td>
            <td>Sedang </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>7</td>
            <td>Cukup tinggi</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>8</td>
            <td>Tinggi</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>9</td>
            <td>Sangat tinggi </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>10</td>
            <td>Hampir selalu terjadi </td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p><bold>Tabel 3.</bold> Skala Korelasi </p>
      <table-wrap id="tbl3">
        <table>
          <tr>
            <td>Keterangan</td>
            <td>Korelasi</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Tidak terdapat korelasi </td>
            <td>0</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Korelasi rendah</td>
            <td>1</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Korelasi sedang</td>
            <td>3</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Korelasi tinggi </td>
            <td>9</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>ARP = Oj∑Si×Rij (1)</p>
      <p>Sumber </p>
      <p>Keterangan :</p>
      <p>ARP = <italic>Aggregate Risk Potential</italic> </p>
      <p>O = tingkat kemunculan agen risiko (<italic>occurance level of risk</italic>)</p>
      <p>S = tingkat dampak risiko (<italic>severity</italic><italic> level of risk</italic>) </p>
      <p>R = hubungan (korelasi) antara <italic>risk event</italic> dengan <italic>risk agent</italic></p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Mengidentifikasi elemen proses dan aktivitas dalam perusahaan </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Mengidentifikasi kejadian risiko yang ada pada setiap elemen proses di perusahaan </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Mengidentifikasi tingkat kejadian risiko atau dampak yang ditimbulkan (<italic>severity</italic>) dengan kriteria sebagai berikut:</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Mengidentifikasi agen risiko atau penyebab yang akan terjadi (<italic>occurrence</italic>) dengan kriteria sebagai berikut : </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Mengidentifikasi hubungan antara kejadian risiko dan agen risiko yang dapat memicu timbulnya risiko dianggap memiliki korelasi dengan kriteria sebagai berikut : </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Menentukan perhitungan nilai <italic>Aggregate Risk Potential </italic>(ARP) untuk menetapkan prioritas agen risiko yang perlu ditangani terlebih dahulu sebagai Tindakan pencegahan melalui persamaan sebagai berikut:</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Mengurutkan agen risiko berdasarkan nilai ARP. </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Matrik HOR fase 1ditampilkan pada Tabel 4.</p>
      <p><bold>Tabel 4.</bold> Matrik HOR Fase 1</p>
      <table-wrap id="tbl4">
        <table>
          <tr>
            <td rowspan="2"><italic>Risk event</italic>(E)</td>
            <td colspan="6"><italic>Risk agent</italic>(A)</td>
            <td rowspan="2"> Si</td>
          </tr>
          <tr>
            <td/>
            <td>A1</td>
            <td>A2</td>
            <td>A3</td>
            <td>A4</td>
            <td>A5</td>
            <td>A6</td>
            <td/>
          </tr>
          <tr>
            <td>E1</td>
            <td>R11</td>
            <td>R12</td>
            <td>R13</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>S1</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>E2</td>
            <td>R21</td>
            <td>R22</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>S2</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>E3</td>
            <td>R31</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>S3</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>E4</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>S4</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>E5</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>…</td>
            <td>S5</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Oj</td>
            <td>O1</td>
            <td>O2</td>
            <td>O3</td>
            <td>O4</td>
            <td>O5</td>
            <td>O6</td>
            <td> </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>ARPj</td>
            <td>ARP1</td>
            <td>ARP2</td>
            <td>ARP3</td>
            <td>ARP4</td>
            <td>ARP5</td>
            <td>ARP6</td>
            <td> </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Pj</td>
            <td>P1</td>
            <td>P2</td>
            <td>P3</td>
            <td>P4</td>
            <td>P5</td>
            <td>P6</td>
            <td> </td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Untuk memilih agen risiko mana yang harus diprioritaskan, nilai ARP digunakan sebagai dasar untuk membuat <italic>tools</italic> diagram pareto. Agen risiko yang menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti diambil berdasarkan 80% dari nilai kumulatif ARP. Untuk menentukan aksi mitigasi risiko dan mencari akar penyebab dari agen risiko menggunakan <italic>tools</italic> FTA[13]. Aksi mitigasi risiko yang telah ditentukan melalui FTA dimasukkan ke dalam pengolahan data HOR Fase 2 untuk menentukan aksi mitigasi risiko mana yang harus diprioritaskan. Tahapan HOR fase 2 sebagai berikut : </p>
      <p><bold>Tabel </bold><bold>5</bold><bold>.</bold> Skala Korelasi Agen Risiko</p>
      <table-wrap id="tbl5">
        <table>
          <tr>
            <td>Keterangan</td>
            <td>Korelasi</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Tidak terdapat korelasi </td>
            <td>0</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Korelasi rendah</td>
            <td>1</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Korelasi sedang</td>
            <td>3</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Korelasi tinggi </td>
            <td>9</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>TEk = ∑jARPJEjk (2)</p>
      <p>Sumber : .</p>
      <p>Keterangan :</p>
      <p>TEk = Total Efektivitas dari aksi mitigasi</p>
      <p>ARPJ = <italic>Aggregate Risk Potential</italic> </p>
      <p>Ejk = hubungan antara tiap strategi dengan tiap agen risiko.</p>
      <p><bold>Tabel 6.</bold> Skala Korelasi Tingkat Kesulitan</p>
      <table-wrap id="tbl6">
        <table>
          <tr>
            <td>Keterangan</td>
            <td>Korelasi</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Tindakan mitigasi mudah untuk diterapkan</td>
            <td>3</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Tindakan mitigasi agak sulit untuk diterapkan</td>
            <td>4</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Tindakan mitigasi sulit untuk diterapkan</td>
            <td>5</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>ETDk = (3)</p>
      <p>Sumber : </p>
      <p>Dengan : </p>
      <p>ETDk = Total efektifitas mitigasi dengan kesulitan </p>
      <p>TEk = Total efektivitas dari aksi mitigasi</p>
      <p>Dk = Ratio tingkat kesulitan</p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>Memilih sejumlah agen risiko berdasarkan hasil nilai ranking prioritas tinggi dari hasil Analisa diagram pareto dari ARPj hasil dari HOR fase 1. </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Menentukan Tindakan strategi pencegahan (mitigasi) resiko yang dianggap efektif dalam mengatasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya agen risiko.</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Menentukan seberapa besar korelasi antara tiap strategi dengan tiap agen risiko. (Ejk) dengan skala korelasi sebagai berikut: </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Menentukan nilai total efektivitas (Tek) untuk tiap strategi dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Menentukan besarnya tingkat derajat kesulitan untuk melakukan tindakan di setiap pencegahan risiko (Dk) dengan skala korelasi sebagai berikut </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Menghitung ratio total efektivitas (ETDk) dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Menentukan peringkat prioritas untuk strategi Tindakan (R<sub>k</sub>) dimana peringkat pertama menunjukkan ETDk tertinggi dan berurut selanjutnya. </p>
        </list-item>
      </list>
    </sec>
    <sec id="sec-3">
      <title>III. Hasil dan Pembahasan</title>
      <p>Proses produksi sepatu dimulai dari proses pemotongan bahan, pewarnaan (sablon), proses emboss, penjahitan, pemasangan <italic>outsole</italic>, pemasangan tali sepatu sampai finishing. Pada proses identifikasi, penelitian ini dilakukan dengan cara observasi dan wawancara kepada kepala bagian <italic>quality control </italic>di PT. ABC, berikut merupakan hasil identifikasi <italic>risk event</italic> dan riks agent.</p>
      <p><bold>Tabel 7.</bold> <italic>Risk event</italic> </p>
      <table-wrap id="tbl7">
        <table>
          <tr>
            <td>
              <italic>Risk </italic>
              <italic>E</italic>
              <italic>vent</italic>
            </td>
            <td>Kode</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Sablon tidak presisi</td>
            <td>E1</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Kepuasan pelanggan menurun</td>
            <td>E2</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Fungsionalitas menurun</td>
            <td>E3</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Lem terlihat pada bagian luar sepatu </td>
            <td>E4</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Terbuka bagian upper sepatu </td>
            <td>E5</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p><bold>Tabel 8.</bold> <italic>Risk agent</italic> </p>
      <table-wrap id="tbl8">
        <table>
          <tr>
            <td>
              <italic>Risk </italic>
              <italic>Agent</italic>
            </td>
            <td>Kode</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Pewarnaan sablon tidak lurus dengan outline desain </td>
            <td>A1</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Jahitan miring tidak rapi</td>
            <td>A2</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Ada bagian yang tidak terjahit </td>
            <td>A3</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Lem terlalu banyak </td>
            <td>A4</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Lem tidak menempel </td>
            <td>A5</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Kurang ketelitian </td>
            <td>A6</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Penilaian skala <italic>severity</italic> di <italic>risk event</italic> dan skala occurance pada <italic>risk agent</italic>didapatkan berdasarkan pengisian kuesioner oleh bagian <italic>quality control</italic> dan R&amp;D yang berdasarkan tabel 7 dan tabel 8 sehingga didapat <italic>output</italic> seperti tabel 9. </p>
      <p><bold>Tabel </bold><bold>9</bold><bold>.</bold> Penilaian <italic>severity</italic> pada <italic>risk event</italic> dan <italic>occurance</italic> pada <italic>risk agent</italic> </p>
      <table-wrap id="tbl9">
        <table>
          <tr>
            <td>Kode</td>
            <td>E1</td>
            <td>E2</td>
            <td>E3</td>
            <td>E4</td>
            <td>E5</td>
            <td/>
          </tr>
          <tr>
            <td>
              <italic>Severity</italic>
            </td>
            <td>4</td>
            <td>7</td>
            <td>5</td>
            <td>4</td>
            <td>5</td>
            <td/>
          </tr>
          <tr>
            <td>Kode</td>
            <td>A1</td>
            <td>A2</td>
            <td>A3</td>
            <td>A4</td>
            <td>A5</td>
            <td>A6</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>
              <italic>Occurrance</italic>
            </td>
            <td>6</td>
            <td>7</td>
            <td>6</td>
            <td>8</td>
            <td>6</td>
            <td>7</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Dengan melibatkan skala 0 (tidak terdapat korelasi), 1 (korelasi rendah), 3 (korelasi sedang), dan 9 (korelasi tinggi), angka ARP dihitung, dan untuk menganalisis korelasi yang terhubung didapatkan hasil matriks ARP pada tabel 10 di bawah ini:</p>
      <p><bold>Tabel 10. </bold>Kalkulasi Nilai ARP</p>
      <table-wrap id="tbl10">
        <table>
          <tr>
            <td>Kode </td>
            <td>A1</td>
            <td>A2</td>
            <td>A3</td>
            <td>A4</td>
            <td>A5</td>
            <td>A6</td>
            <td>Si</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>E1</td>
            <td>9</td>
            <td>1</td>
            <td>0</td>
            <td>0</td>
            <td>0</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>E2</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>3</td>
            <td>3</td>
            <td>3</td>
            <td>7</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>E3</td>
            <td>0</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>0</td>
            <td>3</td>
            <td>3</td>
            <td>5</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>E4</td>
            <td>0</td>
            <td>0</td>
            <td>0</td>
            <td>9</td>
            <td>1</td>
            <td>1</td>
            <td>4</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>E5</td>
            <td>0</td>
            <td>1</td>
            <td>3</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>3</td>
            <td>5</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Oj</td>
            <td>6</td>
            <td>7</td>
            <td>6</td>
            <td>8</td>
            <td>6</td>
            <td>7</td>
            <td/>
          </tr>
          <tr>
            <td>Sigma S x R</td>
            <td>99</td>
            <td>117</td>
            <td>123</td>
            <td>102</td>
            <td>85</td>
            <td>67</td>
            <td/>
          </tr>
          <tr>
            <td>ARPj</td>
            <td>594</td>
            <td>819</td>
            <td>738</td>
            <td>816</td>
            <td>510</td>
            <td>469</td>
            <td/>
          </tr>
          <tr>
            <td>Peringkat</td>
            <td>4</td>
            <td>1</td>
            <td>3</td>
            <td>2</td>
            <td>5</td>
            <td>6</td>
            <td/>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p> Berdasarkan perhitungan pada tabel 10. Peringkat tertinggi berdasarkan nilai ARP diperoleh pada A2 jahitan miring tidak rapi dengan nilai ARP sebesar 829 dan terendah pada A6 dengan nilai ARP 469. Setelah dilakukan perhitungan ARP, maka dilakukan penentuan prioritas agen risiko dengan menggunakan diagram pareto berdasarkan besarnya ARP yang diperoleh masing-masing agen risiko. </p>
      <p><bold>Gambar 3.</bold> Hasil diagram pareto. </p>
      <p>Sesuai prinsip diagram pareto yang menyatakan bahwa prioritas agen risiko yang harus ditindaklanjuti ke tahap selanjutnya untuk menentukan tindakan aksi mitigasi risiko diambil dari 80% nilai komulatif ARP. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab risiko yang diprioritaskan adalah A2, A4, A3 dan A1. <italic>Risk agent</italic> prioritas disajikan pada tabel 11. </p>
      <p><bold>Tabel 11.</bold> Risk Agent Prioritas </p>
      <table-wrap id="tbl11">
        <table>
          <tr>
            <td>Risk Agent</td>
            <td>Rank</td>
            <td>Kode</td>
            <td>ARP</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Jahitan miring tidak rapih</td>
            <td>1</td>
            <td>A2</td>
            <td>819</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Lem terlalu banyak</td>
            <td>2</td>
            <td>A4</td>
            <td>816</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Ada bagian yang tidak terjahit</td>
            <td>3</td>
            <td>A3</td>
            <td>738</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Pewarnaan sablon tidak lurus dengan outline</td>
            <td>4</td>
            <td>A1</td>
            <td>594</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Berdasarkan hasil analisis perhitungan nilai ARP menunjukkan bahwa penyebab risiko dengan risiko tertinggi 80% adalah jahitan miring tidak rapi, lem terlalu banyak, ada bagian yang tidak terjahit, dan pewarnaan sablon tidak lurus dengan outline. Keempat <italic>risk agent</italic> tersebut menunjukkan potensi yang signifikan terhadap kualitas produk dan perlu diprioritaskan. Dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap <italic>machine, man,</italic> dan <italic>method</italic> untuk meminimalkan kegagalan.   </p>
      <p>Dalam penentuan tindakan aksi mitigasi risiko, digunakan <italic>tools</italic> FTA. Tindakan aksi mitigasi risiko ditentukan berdasarkan empat prioritas agen risiko yang telah ditetapkan sebelumnya. Berikut adalah hasil FTA dari empat agen risiko yang menjadi prioritas. </p>
      <fig id="fig2">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image2.png"/>
      </fig>
      <fig id="fig3">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image3.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 4.</bold> FTA pada A2 dan A4.</p>
      <fig id="fig4">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image4.png"/>
      </fig>
      <fig id="fig5">
        <graphic mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="image5.png"/>
      </fig>
      <p><bold>Gambar 5.</bold> FTA pada A3 dan A1. </p>
      <p>Hasil FTA didapatkan melalui wawancara dengan kepala bagian <italic>quality control</italic> dan R&amp;D di perusahaan.  Berdasarkan hasil diagram FTA pada gambar 4 dan gambar 5, dapat disimpulkan bahwa diperlukan usulan pengendalian kualitas untuk mengatasi permasalahan tersebut. Faktor utama yang menjadi penyebab <italic>risk agent</italic> pada <italic>defect</italic> sepatu adalah masalah pada manusia, sehingga pelatihan dan pengawasan merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Selain itu, terdapat dua faktor lain yang turut menjadi penyebab <italic>risk agent</italic> yaitu permasalahan pada mesin dan metode/teknik yang salah.  </p>
      <p>Setelah mengidentifikasi akar permasalahan, maka dibuatlah mitigasi yang sesuai dengan akar permasalahan dari beberapa referensi dari jurnal dan hasil diskusi dengan pihak R&amp;D. Aksi mitigasi yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dan operator di bagian produksi yang ditunjukkan pada tabel 12. </p>
      <p><bold>Tabel 1</bold><bold>2</bold><bold>.</bold> Rekap Aksi Mitigasi Risiko</p>
      <table-wrap id="tbl12">
        <table>
          <tr>
            <td>Akar penyebab masalah</td>
            <td><italic>Preventive Action</italic>(PA)</td>
            <td>PAi</td>
          </tr>
          <tr>
            <td rowspan="2">Tidak ada penjadwalan servis secara mendalam </td>
            <td>Membuat jadwal pemeliharaan preventif rutin untuk setiap mesin yang dilakukan setiap bulan atau setiap 500 jam operasi, tergantung dengan penggunaan</td>
            <td>PA1</td>
          </tr>
          <tr>
            <td/>
            <td>mengalokasikan operator untuk melaksanakan servis secara rutin rutin</td>
            <td>PA2</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Penggunaan mesin terlalu cepat </td>
            <td>menentukan kecepatan penggunaan mesin sesuai dengan proses dan materialnya</td>
            <td>PA3</td>
          </tr>
          <tr>
            <td rowspan="2">Pekerja kurang teliti </td>
            <td>melakukan pelatihan berkelanjutan bagi para pekerja </td>
            <td>PA4</td>
          </tr>
          <tr>
            <td/>
            <td>Menerapkan metode 5S (sort, set in order, shine, standardize, sustain) untuk menciptakan lingkungan kerja yang rapi</td>
            <td>PA5</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Teknik jahitan salah </td>
            <td>terapkan SOP yang jelas dalam teknik jahitan </td>
            <td>PA6</td>
          </tr>
          <tr>
            <td rowspan="2">Operator kelelahan dan terburu-buru</td>
            <td>menerapkan waktu jam kerja dan istirahat yang cukup sesuai standart </td>
            <td>PA7</td>
          </tr>
          <tr>
            <td/>
            <td>melakukan pengawasan ketat selama proses kerja agar tidak terburu-buru </td>
            <td>PA8</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Pengolesan lem terlalu banyak </td>
            <td>Memberikan standar penggunaan lem yang optimal dengan takaran yng harus digunakan </td>
            <td>PA9</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Kurangnya pengecekan mesin sebelum digunakan </td>
            <td>Menerapkan prosedur pemeriksaan rutin secara sistematis sebelum digunkan </td>
            <td>PA10</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>jarum patah/tumpul karena jarang diganti</td>
            <td>Menentukan jadwal penggantian jarum jahit </td>
            <td>PA11</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>tidak ada pengawasan ketat dan sanksi </td>
            <td>Mengalokasikan tim pengawas dengan pengawasan multi-tahap </td>
            <td>PA12</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Tabel 12 merupakan hasil aksi mitigasi risiko dari akar penyebab masalah yang didapatkan dari hasil diskusi bersama dengan pihak perusahaan sehingga ditemukan sebanyak 12 <italic>preventive action.</italic>  </p>
      <list list-type="order">
        <list-item>
          <p>
            <bold>Identifikasi </bold>
            <bold>
              <italic>Risk event</italic>
            </bold>
            <bold> dan </bold>
            <bold>
              <italic>Risk agent</italic>
            </bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>
              <italic>House of Risk</italic>
            </bold>
            <bold> fase 1</bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>Penentuan Aksi Mitigasi Risiko</bold>
          </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>
            <bold>
              <italic>House of Risk</italic>
            </bold>
            <bold>fase </bold>
            <bold>2 </bold>
          </p>
        </list-item>
      </list>
      <p>Setelah mendapatkan aksi mitigasi risiko, langkah selanjutnya adalah mengevaluasi tingkat kesulitan implementasi strategi dengan menggunakan sistem penilaian skala korelasi tingkat kesulitan yang didapatkan dari hasil wawancara pada bagian R&amp;D seperti pada tabel 13 berikut ini.   </p>
      <p><bold>Tabel </bold><bold>13.</bold> Hasil penilaian tingkat kesulitan <italic>preventive action</italic></p>
      <table-wrap id="tbl13">
        <table>
          <tr>
            <td>kode </td>
            <td>PA1</td>
            <td>PA2</td>
            <td>PA3</td>
            <td>PA4</td>
            <td>PA5</td>
            <td>PA6</td>
            <td>PA7</td>
            <td>PA8</td>
            <td>PA9</td>
            <td>PA10</td>
            <td>PA11</td>
            <td>PA12</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Tingkat kesulitan </td>
            <td>3</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td>3</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Setelah didapatkan aksi mitigasi risiko dan penilaian tingkat kesulitan, selanjutnya adalah menghitung rasio total efektivitas k dan tingkat kesulitan k. perhitungan ETDk dilakukan pada setiap aksi mitigasi risiko dengan menggunalan persamaan 3. Penguraian <italic>House of Risk</italic> fase 2 ditampilkan seperti tabel 14. </p>
      <p><bold>Tabel 1</bold><bold>4</bold><bold>.</bold> Perhitungan HOR fase 2.</p>
      <table-wrap id="tbl14">
        <table>
          <tr>
            <td>
              <italic>Risk agent</italic>
            </td>
            <td>PA1</td>
            <td>PA2</td>
            <td>PA3</td>
            <td>PA4</td>
            <td>PA5</td>
            <td>PA6</td>
            <td>PA7</td>
            <td>PA8</td>
            <td>PA9</td>
            <td>PA10</td>
            <td>PA11</td>
            <td>PA12</td>
            <td>ARP </td>
          </tr>
          <tr>
            <td>A2</td>
            <td>1</td>
            <td>3</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>3</td>
            <td>9</td>
            <td>0</td>
            <td>3</td>
            <td>3</td>
            <td>3</td>
            <td>819</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>A4</td>
            <td>0</td>
            <td>0</td>
            <td>0</td>
            <td>9</td>
            <td>3</td>
            <td>0</td>
            <td>1</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>0</td>
            <td>0</td>
            <td>1</td>
            <td>816</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>A3</td>
            <td>1</td>
            <td>1</td>
            <td>3</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>0</td>
            <td>9</td>
            <td>3</td>
            <td>9</td>
            <td>738</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>A1</td>
            <td>0</td>
            <td>0</td>
            <td>0</td>
            <td>9</td>
            <td>9</td>
            <td>0</td>
            <td>3</td>
            <td>1</td>
            <td>0</td>
            <td>1</td>
            <td>0</td>
            <td>3</td>
            <td>594</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>Total efektivitas (TEk)</td>
            <td>1557</td>
            <td>3195</td>
            <td>9585</td>
            <td>26703</td>
            <td>21807</td>
            <td>14013</td>
            <td>11697</td>
            <td>21951</td>
            <td>7344</td>
            <td>9693</td>
            <td>4671</td>
            <td>11697</td>
            <td/>
          </tr>
          <tr>
            <td>Tingkat kesulitasn (D)</td>
            <td>3</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td>3</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td/>
          </tr>
          <tr>
            <td><italic>Effectivenees to difficulty ratoi</italic> (ETDk)</td>
            <td>519</td>
            <td>1065</td>
            <td>2396</td>
            <td>8901</td>
            <td>5451</td>
            <td>4671</td>
            <td>3899</td>
            <td>5487</td>
            <td>2448</td>
            <td>2423</td>
            <td>1557</td>
            <td>2924</td>
            <td/>
          </tr>
          <tr>
            <td>
              <italic>Rank Piority </italic>
            </td>
            <td>12</td>
            <td>11</td>
            <td>9</td>
            <td>1</td>
            <td>3</td>
            <td>4</td>
            <td>5</td>
            <td>2</td>
            <td>7</td>
            <td>8</td>
            <td>10</td>
            <td>6</td>
            <td/>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Berdasarkan tabel 14 menunjukkan bahwa nilai ETDk tertinggi terdapat pada PA4 dengan nilai 8901 yang merupakan permasalahan paling serius bagi keberhasilan perusahaan. Hal ini mengindikasikan bahwa sumber daya dan perhatian yang lebih besar perlu dialokasikan untuk dapat mengatasi penyebab risiko ini dengan perencanaan dan sumber daya yang lebih matang. </p>
      <p>Setelah dilakukan perhitungan ETDk, penentuan prioritas agen risiko dilakukan dengan mengurutkan dari nilai terbesar hingga terkecil berdasarkan besarnya ETDk yang didapatkan di setiap masing-masing aksi mitigasi risiko. Sehingga didapatkan urutan aksi mitigasi risiko yang tertera pada tabel 15.</p>
      <p><bold>Tabel 1</bold><bold>5</bold><bold>.</bold> Prioritas <italic>Preventive Action</italic>.</p>
      <table-wrap id="tbl15">
        <table>
          <tr>
            <td>Rank</td>
            <td>Usulan aksi mitigasi</td>
            <td>Pai</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>1</td>
            <td>melakukan pelatihan berkelanjutan bagi para pekerja</td>
            <td>PA4</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>2</td>
            <td>melakukan pengawasan ketat selama proses kerja agar tidak terburu-buru</td>
            <td>PA8</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>3</td>
            <td>Menerapkan metode 5S (<italic>sort, set in order, shine, standardize, sustain</italic>) untuk menciptakan lingkungan kerja yang rapi</td>
            <td>PA5</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>4</td>
            <td>terapkan SOP yang jelas dalam teknik jahitan</td>
            <td>PA6</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>5</td>
            <td>menerapkan waktu jam kerja dan istirahat yang cukup sesuai standart</td>
            <td>PA7</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>6</td>
            <td>Mengalokasikan tim pengawas dengan pengawasan multi-tahap</td>
            <td>PA12</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>7</td>
            <td>Memberikan standar penggunaan lem yang optimal dengan takaran yang harus digunakan</td>
            <td>PA9</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>8</td>
            <td>Menerapkan prosedur pemeriksaan rutin secara sistematis sebelum digunakan</td>
            <td>PA10</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>9</td>
            <td>menentukan kecepatan penggunaan mesin sesuai dengan proses dan materialnya</td>
            <td>PA3</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>10</td>
            <td>Menentukan jadwal penggantian jarum jahit</td>
            <td>PA11</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>11</td>
            <td>mengalokasikan operator untuk melaksanakan servis secara rutin </td>
            <td>PA2</td>
          </tr>
          <tr>
            <td>12</td>
            <td>Membuat jadwal pemeliharaan preventif rutin untuk setiap mesin yang dilakukan setiap bulan atau setiap 500 jam operasi, tergantung dengan penggunaan</td>
            <td>PA1</td>
          </tr>
        </table>
      </table-wrap>
      <p>Berdasarkan rangking prioritas <italic>preventive action</italic> diperoleh usulan tindakan mitigasi risiko dengan nilai ETDk tertinggi adalah melakukan pelatihan berkelanjutan bagi pekerja karena hal tersebut memberikan manfaat yang besar bagi perusahaan dengan biaya yang relatif rendah.  </p>
    </sec>
    <sec id="sec-4">
      <title>IV. Simpulan</title>
      <p>Berdasarkan hasil analisis penyebab terjadinya kegagalan pada <italic>defect</italic> sepatu menggunakan metode HOR didapatkan <italic>output</italic> yakni jahitan miring tidak rapi dengan angka ARP tertinggi yaitu 819, lem terlalu banyak 816, ada bagian yang tidak terjahit 783, dan pewarnaan sablon tidak rapi 594. Berdasarkan 6 risk agent yang diidentifikasi, hasil tersebut didapatkan berdasarkan perhitungan 80% kumulatif nilai ARP yakni <italic>rangking</italic> 1,2,3 dan 4.</p>
      <p>Strategi penanggulangan risiko dengan menggunakan metode FTA dan perhitungan HOR fase 2 yang dipilih berdasarkan perhitungan ETDk dengan 3 angka tertinggi. Dengan usulan aksi mitigasi pada penanggulangan defect sepatu dapat diatasi dengan melakukan pelatihan berkelanjutan bagi pekerja mengenai penjahitan dan pewarnaan yang benar. Pelatihan ini harus dilakukan secara berkala untuk memastikan pemahaman yang menyeluruh mengenai prosedur yang benar. Melakukan pengawasan yang lebih ketat selama proses produksi untuk dapat meningkatkan ketelitian pekerja, mencegah terjadinya kesalahan, dan memperkuat disiplin kerja. Serta menerapkan metode 5S untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih teratur, bersih, dan mendukung produktivitas, sehingga dapat mengurangi tingkat kecacatan secara keseluruhan dan meningkatkan kualitas produk secara konsisten.   </p>
    </sec>
    <sec id="sec-5">
      <title>Ucapan Terima Kasih </title>
      <p>Ucapan terima kasih disampaikan kepada universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Perusahaan yang sudah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan observasi dan wawancara untuk memenuhi tugas akhir ini. </p>
    </sec>
    <sec id="sec-6">
      <title>Referensi</title>
    </sec>
  </body>
  <back/>
</article>
