<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>The Influence of Kyai Figure on Student Achievements at Al Ikhlas Islamic Boarding School Based Vocational School Pasuruan</article-title>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Lutfia</surname>
            <given-names>Nur Lutfiatul Jannah</given-names>
          </name>
          <email>lutfiatuljannah471@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <given-names>Istikomah</given-names>
          </name>
          <email>istikomah1@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution/>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-02-12">
          <day>12</day>
          <month>02</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>04</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-43dfc3f74d6eac365040d99f570f8800">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Pondok pesantren merupakan institusi pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki fungsi ganda, yakni tidak hanya sebagai pusat pengajaran ilmu keislaman, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter, moral, dan spiritualitas generasi muda[1][2]. Secara historis, pesantren menerapkan sistem pengajaran tradisional melalui metode klasik seperti sorogan dan bandongan, yang menitikberatkan pada pendalaman studi kitab kuning. Namun, seiring dengan perkembangan sosial yang semakin dinamis serta meningkatnya tuntutan globalisasi. Pesantren dihadapkan pada kebutuhan untuk berinovasi dan melakukan transfomasi dalam bidang pendidikan agar relevan dengan kemajuan zaman. Salah satu bentuk konkret dari transformasi tersebut tercermin dalam upaya pendirian dan pengelolaan lembaga pendidikan formal yang diselenggarakan dibawah naungan pesantren, mulai dari tingkat sekolah dasar (SD/MI), sekolah menengah pertama (SMP/MTs), sekolah menengah atas (SMA/MA), sampai sekolah menengah kejuruan (SMK).</p>
      <p id="_paragraph-13">Kehadiran sekolah formal yang ada di dalam naungan pesantren menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran penting sebagai lembaga pendidikan. Tidak hanya memberi nilai-nilai keagamaan kepada santri, pesantren juga mengajarkan pengetahuan akademik dan keterampilan yang dibutuhkan dalam era modern. Dalam hal ini, pesantren bukan hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan resmi yang menggabungkan kurikulum agama dengan pelajaran umum lainnya. Transformasi tersebut bertujuan untuk mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi tantangan dan dinamika perkembangan zaman. Selain itu, proses reformasi pesantren tidak hanya berfokus pada aspek kurikulum, tetapi juga mencakup pembenahan operasional lembaga, penataan struktur lembaga, serta pengembangan visi dan misi pendidikan secara komprehensif guna menjaga relevansi dan daya saing pesantren di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung[3][4].</p>
      <p id="_paragraph-14">Menyikapi perkembangan pendidikan keagamaan tersebut, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan pendidikan pesantren yang diwujudkan melalui pengesahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang pesantren, yang memberikan landasan hukum bagi penyelenggaraan pendidikan pesantren sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional[5]. Undang-Undang ini menjadi pijakan hukum bagi pesantren, yang tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Melalui regulasi tersebut, santri memperoleh pengakuan resmi atas pendidikan yang ditempuh, sehingga memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maupun memasuki dunia kerja dengan ijazah yang diakui secara nasional. [6]. Selain itu, pesantren memiliki peran strategis dalam menyediakan layanan pendidikan yang terbuka bagi semua kalangan masyarakat, khususnya bagi masyarakat kurang mampu yang kerap menghadapi tantangan dalam akses pendidikan formal. Dengan sistem pendidikan yang menekankan pada pengembangan wawasan, keterampilan intelektual, serta pembentukan karakter dan moral yang positif, yang signifikan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berintegritas dan berdaya saing di tengah tantangan zaman[7].</p>
      <p id="_paragraph-15">Berdasarkan kebijakan dan perkembangan tersebut, SMK Al Ikhlas sebagai institusi pendidikan yang dibawah naungan pesantren, yang sejak awal pendiriannya mengusung karakter pesantren modern, yaitu memadukan antara tradisi intelektual salaf dengan pendekatan pendidikan yang modern. Sistem pendidikan di pesantren modern tidak hanya memperhatikan pembelajaran kitab-kitab klasik saja, tetapi juga memberikan kesempatan untuk memperkuat pengetahuan umum dan mengembangkan keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Model pembelajaran di SMK Al Ikhlas memiliki ciri khas tersendiri karena mampu menggabungkan nilai-nilai keagamaan, disiplin, dan program keahlian yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan industri. Dengan pendekatan tersebut, SMK Al Ikhlas berupaya menyelenggarakan pendidikan yang seimbang melalui penerapan metode pembelajaran modern tanpa mengesampingkan nilai-nilai spiritual, sehingga berkontribusi dalam pembentukan karakter, penguatan akademik, serta peningkatan kompetensi professional. Oleh karena itu, keberadaan SMK Al Ikhlas sejalan dengan modernisasi pesantren yang menjadikan lembaga pendidikan islam semakin adaptif terhadap perubahan zaman dan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, berakhlak mulia, serta siap bersaing di dunia kerja[8][9]. </p>
      <p id="_paragraph-16">Pada tahap awal pendiriannya, SMK Al Ikhlas sebagai lembaga pendidikan berbasis pesantren membuka dua program utama yaitu Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Keperawatan (KPR), yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri serta membekali siswa dengan keterampilan praktis yang relevan. Kedua program tersebut memperoleh renspons positif dari masyarakat, yang tercermin dari jumlah siswa pada tahun pertama operasional yang mencapai 150 siswa dari berbagai wilayah. Tingginya minat masyarakat tidak terlepas dari daya tarik dan reputasi kyai pesantren Al Ikhlas yang dikenal luas sebagai sosok berpengetahuan, bijak, dan memiliki pengaruh yang kuat. Figur kyai yang dihormati ini menjadi faktor utama dalam membangun kepercayaan orang tua untuk memilih SMK Al Ikhlas sebagi lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka. Kepemimpinan kyai dengan demikian memegang peranan strategis dalam keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di pesantren, serta  berpengaruh terhadap arah perkembangan dan kemajuan pondok pesantren[10]. </p>
      <p id="_paragraph-17">Kepemimpinan karismatik merupakan kemampuan seseorang dalam mempengaruhi individu maupun kelompok yang didasarkan pada daya tarik personal, kewibawaan, serta kekuatan inspiratif yang melekat pada dirinya. Dalam konteks pesantren, karakteristik kepemimpinan karismatik tersebut sangat relevan dengan figur kyai yang menjadi pusat otoritas moral, spiritual, dan sosial, sehingga keberadaannya memiliki implikasi langsung terhadap citra, stabilitas, serta perolehan siswa di lembaga pendidikan berbasis pesantren seperti SMK Al Ikhlas[11]. Kyai merupakan tokoh agama yang menguasai ilmu keislaman, serta memiliki karisma dan wibawa yang secara alami mampu menarik perhatian dan kepercayaan masyarakat[12]. Kealiman, akhlak mulia, dan kharisma personal yang melekat pada diri seorang kyai menjadi daya tarik bagi calon siswa dan orang tua untuk mempercayakan pendidikan anak-anak mereka. Selain itu, kehadiran figur yang dihormati dan disegani turut membentuk citra positif bagi lembaga pendidikan yang dipimpinnya[13][14]. Dengan demikian, peran kyai sebagai tokoh sentral tidak hanya berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan akademik dan pembentukan karakter santri, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah siswa[15]. Pengaruh kyai tidak hanya terbatas pada aspek spiritual dan keagamaan, melainkan juga mencakup dimensi sosial, kultural, dan akademik yang secara keseluruhan memengaruhi perolehan siswa di lembaga pendidikan yang dipimpinnya[16][17].</p>
      <p id="_paragraph-18">Perolehan siswa dapat dipahami sebagai jumlah keseluruhan siswa yang diterima dan terdaftar di suatu institusi pendidikan dalam periode tertentu, yang sekaligus berfungsi sebagai indikator keberhasilan lembaga dalam menarik perhatian masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka[18]. Pada dasarnya, perolehan siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kemampuan lembaga dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, penekanan pada kualitas pendidikan agama, serta strategi promosi yang tepat. Selain itu, daya saing institusi pendidikan di mata calon peserta didik dan orang tua juga ditentukan oleh kualitas tenaga pendidik, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, keberadaan program unggulan, serta lokasi lembaga yang strategis. Namun, dalam konteks lembaga pendidikan berbasis pesantren, keberadaan figur kyai memiliki pengaruh yang sangat signifikan karena mampu memperkuat, mengoordinasikan, dan menyinergikan seluruh faktor tersebut secara simultan, sehingga berdampak pada peningkatan daya tarik dan perolehan siswa[19][20]. </p>
      <p id="_paragraph-19">Selain itu, reputasi kyai dalam aspek keilmuan, kepemimpinan, serta kontribusi sosial memberikan dampak terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada lembaga pendidikan yang dipimpinnya, sehingga orang tua merasa lebih yakin dalam memilih lembaga pendidikan di bawah naungan figur yang dipercaya[21]. Jaringan luas yang dimiliki oleh kyai, baik di kalangan tokoh agama, masyarakat umum, maupun alumni pesantren, menjadi modal sosial yang kuat bagi lembaga pendidikan. Dukungan dan rekomendasi dari kyai memiliki pengaruh yang besar dalam meningkatkan kualitas lembaga, sehingga mempermudah lembaga dalam melakukan promosi dan menarik minat calon siswa[22][23]. Namun demikian, apabila kyai di pondok pesanten wafat, secara sosiologis dan psikologis dapat terjadi penurunan reputasi pesantren. Ketiadaan sosok pemimpin yang kharismatik tersebut sering kali menimbulkan ketidakpastian dikalangan masyarakat, yang pada akhirnya berpotensi menyebabkan penurunan minat untuk menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan tersebut[24]. </p>
      <p id="_paragraph-20">Berdasarkan hasil observasi kondisi tersebut juga terjadi di SMK Al Ikhlas, di mana ketiadaan figur kyai berdampak pada aspek spiritual dan psikologis warga sekolah, sekaligus stabilitas jumlah peserta didik. Sebagai lembaga pendidikan yang sangat bergantung pada personifikasi kepemimpinan dan otoritas keagamaan kyai, ketiadaan tokoh sentral tersebut mengakibatkan penurunan signifikan minat siswa baru untuk mendaftar. fenomena ini menyebabkan berbagai masalah manajemen. Salah satunya yaitu penurunan jumlah, peserta didik yang berdampak langsung pada berkurangnya jumlah rombongan belajar (Rombel) di SMK Al Ikhlas. Berkurangnya rombel tersebut berimplikasi pada kesejahteraan dan profesionalisme guru, khususnya guru yang telah memiliki sertifikat pendidik. Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen[25], yang menyatakan bahwa guru bersertifikat pendidik berhak memperoleh tunjangan profesi dengan syarat memenuhi beban kerja yang telah ditetapkan. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2017 sebagai perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 menetapkan bahwa guru harus memenuhi beban kerja mengajar tatap muka sekurang-kurangnya 24 jam dan maksimal 40 jam per minggu[26].</p>
      <p id="_paragraph-21">Berdasarkan kondisi tersebut, SMK Al Ikhlas saat ini menunjukkan adanya ancaman terhadap pemenuhan tugas guru. Penurunan jumlah siswa setelah wafatnya figur kyai berdampak langsung pada jumlah jam mengajar yang tersedia di setiap kelas. Akibatnya, alokasi jam mengajar bagi guru bersertifikat pendidik menjadi proporsional. Ketidakmampuan guru dalam memenuhi beban kerja minimal 24 jam mengakibatkan terhentinya pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG). Kondisi tersebut secara sistemik dapat mengganggu kesejahteraan dan motivasi profesionalisme pendidik, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan mutu pendidikan secara menyeluruh[27]. Oleh sebab itu, terjadi pergeseran perspektif mengenai peran guru bersertifikasi di SMK Al Ikhlas, di mana proses rekrutmen siswa baru tidak lagi hanya tanggung jawab bidang hubungan masyarakat. Sebaliknya, partisipasi aktif guru dalam strategi pemasaran pendidikan sangat penting untuk mempertahankan keberlangsungan lembaga dan memastikan beban mengajar minimal[20]. Dengan demikian, transformasi peran guru sebagai agen rekrutmen pendidikan ini merupakan strategi yang relevan dalam menghadapi masa transisi kepemimpinan pascawafatnya kyai, guna menjamin keberlanjutan hak profesional guru dan mutu pendidikan lembaga.</p>
      <p id="_paragraph-22">Sejalan dengan penelitian ini, berbagai hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa figur dan pendekatan kepemimpinan kyai serta tokoh utama di pesantren memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberlangsungan lembaga dan ketertarikan masyarakat. Dalam penelitian Syaipul (2023) menyatakan bahwa pendekatan kepemimpinan kyai secara nyata memberikan pengaruh positif yang signifikan bagi ketertarikan santri baru. penelitian Fathurrosyid (2024) menyatakan bahwa strategi khusus yang digunakan kyai dalam mengelola masuknya siswa, termasuk cara menggunakan media iklan dan berkomunikasi dengan orang tua secara efektif agar jumlah siswa meningkat[28]. Hamid, dkk (2025) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kemampuan kyai dalam memimpin dan mengelola kualitas pendidikan secara fleksibel merupakan faktor kunci untuk meningkatkan daya saing serta kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam tersebut[29].</p>
      <p id="_paragraph-23">Dalam situasi yang berbeda, kondisi yang dihadapi oleh SMK Al Ikhlas saat ini menunjukkan adanya perubahan yang bertolak belakang dengan hasil penelitian sebelumnya. Pascawafatnya sosok kyai, pandangan dan Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pesantrenmengalami perubahan yang berdampak pada penurunan jumlah perolehan siswa. Ketiadaan figur kyai yang mempengaruhi kestabilan lembaga SMK Al Ikhlas, penelitian ini merumuskan masalah utama mengenai sejauh mana pengaruh figur kyai terhadap perolehan siswa di SMK Al Ikhlas yang berbasis pesantren di Pasuruan. Sejalan dengan permasalahan tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur dan menganalisis seberapa besar pengaruh figur kyai sebagai variabel independen terhadap perolehan siswa sebagai variabel dependen. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan landasan konseptual dan praktis bagi SMK Al Ikhlas dalam mentransformasikan peran guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai agen perekrut yang berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan lembaga serta pemenuhan tanggung jawab pendidikan. Temuan penelitian ini diharapkan mampu mendukung pihak sekolah dalam mempertahankan citra positif dan kepercayaan publik meskipun tanpa kehadiran figur kyai, sehingga perolehan siswa dapat tetap terjaga secara stabil dan pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-4f2e0b031ea4ee2c9b43fb4cb34a8532">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-25">Pendekatan yang digunakan penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif merupakan suatu penyelidikan terhadap permasalahan sosial yang berlandaskan pada pengujian teori melalui pengumpulan data berbentuk angka dan diolah dengan menggunakan metode statistik[30]. Pendekatan ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar pengaruh antara figur kyai terhadap perolehan siswa di SMK Al Ikhlas berbasis pondok pesantren Pasuruan. Dalam penelitian ini, variabel independen (X) adalah figur kyai, sedangkan variabel dependen (Y) adalah perolehan siswa. </p>
      <p id="_paragraph-26">Sejalan dengan pendekatan tersebut populasi dalam penelitian ini adalah  siswa di SMK Al Ikhlas yang terdiri dari 31 siswa dan 3 guru bersertifikasi. Populasi dalam hal ini dipahami sebagai keseluruhan objek atau subjek yang menjadi pusat perhatian dalam suatu penelitian dan memiliki ciri-ciri tertentu yang sesuai dengan permasalahan yang ingin diteliti[31]. Karena jumlah populasi yang relatif kecil dan dapat dijangkau sepenuhnya, maka teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling jenis sampling jenuh. Melalui teknik ini, seluruh anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian, sehingga tidak ada perbedaan antara populasi dan sampel[32]. Hal ini bertujuan untuk agar data yang diperoleh memiliki tingkat akurasi yang tinggi karena mencakup seluruh objek penelitian secara komprehensif.</p>
      <p id="_paragraph-27">Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan penyebaran angket atau kuesioner. Kuesioner tersebut berisi sejumlah pertanyaan yang disusun berdasarkan indikator-indikator yang menjelaskan setiap variabel[33]. Intrumen ini dibagikan secara langsung kepada responden yaitu 31 siswa dan 3 guru bersertifikasi guna memperoleh data primer yang valid dan reliabel. Untuk menganalisis hubungan antara kedua variabel, digunakan metode linier regresi sederhana. Regresi linier sederhana merupakan teknik analisis statistik yang digunakan untuk menguji kekuatan hubungan antara variabel. Metode ini juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen dengan pengujian hipotesis yang akan dilakukan dengan menggunakan uji T[34]. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Statistical Package for Sosial Science 25 (SPSS 25), menggunakan rumus regresi linier sederhana sebagai berikut:</p>
      <p id="_paragraph-28">Y = ɑ + bX</p>
      <p id="_paragraph-29">Keterangan: Y= Perolehan siswa, ɑ = Kostanta, β1 X1 = Figur kyai, sedangkan pengujian hipotesis akan dilakukan dengan menggunakan uji distribusi t, dengan rumus sebagai berikut:</p>
      <p id="_paragraph-30">t = r√n-2</p>
      <p id="_paragraph-31"> √1-r²</p>
      <p id="_paragraph-32">Dengan ketentuan sebagai berikut: H₀ ditolak jika t hitung &gt; t tabel, sebaliknya jika t hitung &lt; t tabel maka H₀ diterima. Pengujian hipotesis ini menggunakan taraf signifikan ɑ = 0,05[35][36]. </p>
    </sec>
    <sec id="heading-af0ed5699fa13c52fe612b64fff3e18a">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-34">
        <bold id="bold-4ba9d5ec558240e03954c7c294f1db88">A. Uji Validitas</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-35">Validitas merupakan suatu pengujian yang bertujuan untuk menilai sejauh mana instrument penelitian mampu mengukur data secara tepat dan akurat. yang dilakukan melalui analisis statistik Pearson Product Moment guna menilai ketepatan item dalam instrumen serta kejelasan struktur penelitian, sehingga instrumen yang digunakan harus terlebih dahulu dinyatakan valid[37][38]. Pada penelitian ini, sebanyak 10 butir pertanyaan yang di uji kepada 31 siswa dan 3 guru. Peneliti melakukan uji validitas dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Statistical Package for Sosial Science 25 (SPSS 25). Suatu butir pertanyaan dikatakan valid jika r tabel &lt; r hitung atau memiliki nilai signifikansi &lt; 0,05, jika nilai signifikansi &gt; 0,05 didinyatakan tidak valid[39]. Adapun hasil uji validitas butir pertanyaan kuisioner pada penelitian ini seperti tersaji pada tabel berikut ini:</p>
      <p id="_paragraph-36">Tabel 1. Hasil Uji Validitas Butir Pertanyaan </p>
      <table-wrap id="table-figure-3087dbaa77bfba8f1db2c1462b0a32cf">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-b390dd395453737b945906e7b0f92b09"/>
        </caption>
        <table id="table-fc0dc8d0533124ba7fc5487bc755271a">
          <tbody>
            <tr id="table-row-c069f92eabc901ab15a8d8ca6c48384b">
              <th id="table-cell-623b2091d2da3959be72c6c6ff7ac978"> Item </th>
              <th id="table-cell-81b8101f9aab38bb27cc273bd2ce935b"> r hitung </th>
              <th id="table-cell-d6ee06cfb4bc49c6d70dc0e1fb2b630a"> Sig. </th>
              <th id="table-cell-b9fc3feff67ff73628f41fc242629895"> Validitas </th>
            </tr>
            <tr id="table-row-e7837eb1c1429a2eac5b8924d615ef13">
              <td id="table-cell-645dd9d6f8a5846c7470c47359aa1637" colspan="4"> Variabel X (Figur Kyai) dan Variabel Y </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3d06376386aa38457ead7dce8f8f7acf">
              <td id="table-cell-8858a9873a0d50a961c0ac9f76de0f08"> P1 
P2 
P3 </td>
              <td id="table-cell-bc011ac62c1c46ef248fbddd32a490b0"> 0.699 
0.567 
0.561 </td>
              <td id="table-cell-a7af9d0cac653248a5f9b9a2ffc7d27b"> 0.000 
0.001 
0.001 </td>
              <td id="table-cell-bf34c93265611594575e9458a1c8a5ed"> Valid 
Valid 
Valid </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3527ae34568781b2e9e7c594fe3f28b7">
              <td id="table-cell-409bb5af262f9fbde9ad533886fc7c14"> P4 
P5 
P6 
P7 
P8 
P9 
P10 </td>
              <td id="table-cell-cfe382b620f9a0a0952e91ccca0a3182"> 0.530 
0.367 
0.612 
0.665 
0.750 
0.656 
0.384 </td>
              <td id="table-cell-4d75a9fe0a05821053f56f1ec753dd9b"> 0.002 
0.043 
0.000 
0.000 
0.000 
0.000 
0.033 </td>
              <td id="table-cell-7f848b5cc28a529a308c5242bafd2132"> Valid 
Valid 
Valid 
Valid 
Valid 
Valid 
Valid </td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-74">Sumber: SPSS versi 25</p>
      <p id="_paragraph-75">Berdasarkan hasil uji validitas pada tabel diatas, setiap butir pernyataan untuk variabel Figur Kyai (X) dan Perolehan Siswa (Y) menunjukkan angka r hitung yang melebihi r tabel, serta nilai signifikansinya kurang dari 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap pertanyaan dalam alat ukur penelitian ini dapat dengan tepat mengevaluasi variabel yang sedang diteliti. </p>
      <p id="_paragraph-76">Berdasarkan analisis kuesioner yang dilakukan, item P5 yang menyatakan kehadiran kyai sebelumnya memberikan rasa stabil dan aman terhadap keberlangsungan SMK Al Ikhlas, memiliki nilai signifikansi tertinggi dibandingkan item lainnya, yaitu nilai signifikan sebesar 0,043 dan nilai r hitung 0,367. Meskipun nilai signifikansi ini terletak di bawah 0,05, item P5 dinyatakan valid dan memiliki kontribusi dalam mengukur persepsi responden mengenai peran kyai. Hasil ini menunjukkan bahwa keberadaan kyai tidak hanya dipandang sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai sumber stabilitas dan keamanan bagi siswa dan masyarakat di sekitarnya. Secara sosiologis, figur kyai dipandang sebagai simbol keberlanjutan pesantren, sehingga kehadirannya mampu menumbuhkan keyakinan bahwa lembaga pendidikan akan terus berjalan dengan konsisten dan terarah. Ketidakhadiran figur tersebut berpotensi menimbulkan rasa ketidakpastian yang berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat, sebagaimana tercermin dalam penurunan jumlah  pendaftar pascawafatnya kyai. Dengan demikian, hasil dari item P5 memperkuat hasil penelitian ini, bahwa sosok kyai memiliki fungsi strategis dalam mempertahankan stabilitas institusi dan secara tidak langsung memengaruhi perolehan siswa di SMK Al Ikhlas yang berlandaskan pesantren.</p>
      <p id="_paragraph-77">Selain didukung oleh bukti statistik, hasil validitas dalam penelitian ini juga dikuatkan oleh hasil wawancara dengan guru bersertifikasi di SMK Al Ikhlas. Temuan wawancara menunjukkan adanya keselarasan antara presepsi responden dalam kuesioner dan kenyataan yang ada di lapangan. Guru bersertifikasi menyatakan bahwa setelah meninggalnya sosok kyai, reputasi SMK Al Ikhlas di masyarakat menunjukkan penurunan yang signifikan, khususnya terkait dengan kepercayaan orang tua terhadap keberlangsungan serta kestabilan lembaga pendidikan yang berbasis pesantren. Pernyataan dari guru tersebut menguatkan validitas konstruk pada alat ukur yang digunakan, khususnya pada item pertanyaan yang mengevaluasi pandangan tentang peran kyai sebagai simbol kepemimpinan, kestabilan, dan daya tarik lembaga. Hal ini sejalan dengan penilaian validitas pada item P5 yang menyatakan bahwa kehadiran kyai sebelumnya memberikan rasa aman dan percaya terhadap masa depan SMK Al Ikhlas. Pernyataan guru bahwa ketiadaan sosok kyai berdampak pada melemahnya kepercayaan masyarakat dan berkurangnya ketertarikan untuk mendaftar siswa baru menunjukkan bahwa alat ukur yang digunakan mencerminkan kondisi sosial dan psikologis yang dihadapi lembaga setelah wafatnya kyai. Dengan demikian, hasil wawancara tersebut berperan sebagai bukti pendukung yang memperkuat hasil kuantitatif dalam uji validitas. Kombinasi antara data kuesioner dan hasil wawancara menunjukkan bahwa instrumen penelitian ini bukan hanya valid secara statistik, tetapi juga relevan secara kontekstual dalam menggambarkan pengaruh figur kyai terhadap perolehan siswa di SMK Al Ikhlas yang berbasis pesantren.</p>
      <p id="_paragraph-78">
        <bold id="bold-711c159c2f3132248b10c30f4f5af7d2">B. Uji Reliabilitas</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-79">Reliabilitas merupakan pengukuran yang bertujuan untuk menilai sejauh mana suatu instrumen mampu menghasilkan data secara konsisten dan stabil dari waktu ke waktu. Uji reliabilitas menjadi tahap yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan keandalan instrumen dalam mengukur variabel penelitian secara berulang tanpa menimbulkan perbedaan hasil yang signifikan. Dalam penelitian ini, pengujian reliabilitas dilakukan menggunakan metode Cronbach’s Alpha, yaitu teknik yang lazim digunakan untuk instrumen yang terdiri atas beberapa butir pertanyaan seperti angket atau kuesioner[40]. Semakin tinggi nilai Cronbach’s Alpha, maka semakin baik tingkat konsistensi internal instrumen tersebut, sehingga dapat dipastikan bahwa alat ukur yang digunakan benar-benar reliabel dan layak untuk dianalisis pada tahap berikutnya. Selain itu, pada uji reliabilitas ini suatu instrumen dinyatakan reliabel apabila nilai Cronbach’s Alpha &gt; 0,60 dan Jika  Cronbach’s  Alpha  &gt;  r tabel maka   kuesioner dinyatakan reliablel, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel atau alat ukur tersebut memiliki tingkat konsistensi yang baik dalam proses pengukurannya[41]. Adapun hasil uji reliabilitas pada penelitian ini seperti tersaji pada tabel berikut ini:</p>
      <p id="_paragraph-80">Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Butir Pertanyaan</p>
      <table-wrap id="table-figure-b1cf1274333db19653a20a39bfcb53cf">
        <label>Table 2</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-1729089713e489ced880291f97bdb88f"/>
        </caption>
        <table id="table-cb9e92a8e8588b7fa776149484d88e3c">
          <tbody>
            <tr id="table-row-c21003666a7838da66e97bdcdf5ba9ae">
              <th id="table-cell-caf02ee0336b123a183a5a5503c6f2c2" colspan="4"> Reliability Statistics </th>
            </tr>
            <tr id="table-row-78a0a2e8e61a6736d894672b2ea9dcda">
              <td id="table-cell-0d230f3558e6956f16e9edf43d9e9077"> Cronbach's Alpha </td>
              <td id="table-cell-9f5439ec403ac6b495631feb517e7643" colspan="3"> N of Items </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-4128bd625fc76d3860c2e522b09402a8">
              <td id="table-cell-87045200d9cd8c8c3cd6f9fdae00e91c" rowspan="2"> .698 </td>
              <td id="table-cell-3c11057fc35229bd5cff78a860809c75" rowspan="2" colspan="3"> 10 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-c6d6af22c0145aff26654bb57ecaa4c8"/>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-85">Sumber: SPSS Versi 25</p>
      <p id="_paragraph-86">Berdasarkan tabel hasil uji reliabilitas, diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,698. Nilai ini kemudian dibandingkan dengan r tabel, di mana df = (n–2) pada tingkat signifikansi 0,05 menghasilkan r tabel sebesar 0,344. Karena nilai Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,60 serta memenuhi kriteria Cronbach’s Alpha &gt; r tabel, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dapat dinyatakan reliabel dan konsisten dalam proses pengukuran. Dengan demikian, setiap butir pernyataan dalam kuesioner saling berkorelasi dan mampu mengukur konstruk yang sama secara stabil, baik dalam menggambarkan persepsi responden terhadap figur kyai maupun perolehan siswa di SMK Al Ikhlas berbasis pesantren. Konsistensi jawaban responden terhadap sepuluh pernyataan tersebut mencerminkan bahwa instrumen penelitian telah disusun secara sistematis dan representatif terhadap variabel yang diteliti. Dengan demikian, hasil penyebaran kuesioner ini layak dijadikan dasar untuk analisis lebih lanjut dalam mengkaji pengaruh figur kyai terhadap perolehan siswa serta mendukung keandalan data yang digunakan dalam penelitian ini.</p>
      <p id="_paragraph-87">Selain itu, hasil wawancara juga mengungkapkan bahwa pascawafatnya kyai, perubahan persepsi masyarakat terhadap SMK Al Ikhlas terjadi secara konsisten dan dirasakan secara kolektif oleh warga sekolah, khususnya guru bersertifikasi. Kondisi ini tercermin dalam jawaban kuesioner yang menunjukkan pola respons yang stabil dan tidak menyimpang secara ekstrem. Dengan demikian, reliabilitas instrumen yang tinggi mendukung validitas hasil penelitian, karena data kuantitatif yang diperoleh mampu merepresentasikan kondisi empirik yang diungkapkan oleh guru bersertifikasi secara objektif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, integrasi antara hasil uji reliabilitas dan hasil wawancara guru bersertifikasi menegaskan bahwa instrumen penelitian ini tidak hanya andal secara statistik, tetapi juga relevan secara kontekstual dalam menggambarkan pengaruh figur kyai terhadap perolehan siswa di SMK Al Ikhlas. Dengan dasar instrumen yang reliabel dan temuan kualitatif yang saling menguatkan, hasil penelitian ini layak dijadikan pijakan untuk analisis regresi dan pengujian hipotesis pada tahap selanjutnya.</p>
      <p id="_paragraph-88">
        <bold id="bold-b16084c2e6f8602809d97f8da3a61a85">C. Uji Normalitas</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-89">Uji normalitas dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh dari hasil observasi mengikuti distribusi normal, sehingga dapat ditentukan kelayakannya untuk digunakan dalam analisis regresi. Untuk menilai apakah data berdistribusi normal atau tidak, penelitian ini menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS 25 dengan menerapkan uji statistik Kolmogorov–Smirnov sebagai metode pengujiannya[41]. Uji normalitas dari data dilakukan dengan metode Kolmogorov-Smirnov, dengan pedoman bahwa jika nilai Asymp. Sig (p) lebih besar dari α, maka data tersebut berdistribusi normal. Berikut adalah kriteria dalam menentukan normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov di SPSS versi 25.:</p>
      <p id="_paragraph-90">- Nilai Sig atau nilai signifikansi atau probabilitas &lt; 0,05, maka distribusi data tidak normal.</p>
      <p id="_paragraph-91">- Nilai Sig atau nilai signifikansi atau probabilitas &gt; 0,05, maka distribusi data dianggap normal.</p>
      <p id="_paragraph-92">Tabel 3.  Hasil Uji Normalitas</p>
      <p id="_paragraph-93">One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test</p>
      <table-wrap id="table-figure-056f65bb1d54370cbca4dadd8507a229">
        <label>Table 3</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-b24c02737bd35b78c642eb3d2538b79f"/>
        </caption>
        <table id="table-af83cea431178bde8363592a0ca9be87">
          <tbody>
            <tr id="table-row-eb9e8adc71b5d570e5beca30e229d4c4">
              <th id="table-cell-eeaf515c88755a25f023adefec7786d4" colspan="4"> One-Sample   Kolmogorov-Smirnov Test </th>
            </tr>
            <tr id="table-row-33396667681362675372657d20375d59">
              <td id="table-cell-77d24558221df4ed0e14cf48bc0938b4" colspan="2"/>
              <td id="table-cell-dd19169f742391d637c49481fa6fa856" colspan="2"> Unstandardized   Residual </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-51dd23087a70225364c1a635e897d18c">
              <td id="table-cell-b9c2d6bef211987f1091c5d09c0fa658" colspan="2"> N </td>
              <td id="table-cell-6e402eaa91dda7f92738788cc8103dc1" colspan="2"> 31 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-5ffa24a334d21cabecc3318154457d33">
              <td id="table-cell-67dce6589d8cb9a8945088890de7f443" rowspan="2"> Normal Parametersa,b </td>
              <td id="table-cell-5e09472b25ef4e10a28d047a03c5706f"> Mean </td>
              <td id="table-cell-907b6eaa4a6b78441f6bff3901b9e54b" colspan="2"> .0000000 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-ab7bc172a989b244e50211b97fecca0d">
              <td id="table-cell-00f7dcec60e37f0c76db58f4fa36ac58"> Std. Deviation </td>
              <td id="table-cell-dc3b0db7df7bb102ec0f1108d20029a7" colspan="2"> 2.09983055 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-4f9c7c49416db95e0eb6ca1d02384292">
              <td id="table-cell-671688277dd747fa2d2fed79cf0ce881" rowspan="3"> Most Extreme Differences </td>
              <td id="table-cell-15e81a94035bce147f5ab511860f36ba"> Absolute </td>
              <td id="table-cell-3709d5bb80de6c6be09e3508bf2b8695" colspan="2"> .135 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-c71da195140c2eb7cd66ca45bf83b94e">
              <td id="table-cell-8c9708cb5306091de5bd2091b7c4e1c7"> Positive </td>
              <td id="table-cell-50798841240cb395fd32e62b9e858114" colspan="2"> .135 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-ab972098067dd91d6898a999f5d1d5e8">
              <td id="table-cell-168d2a4d9915e9314c277b01bdace4ec"> Negative </td>
              <td id="table-cell-8c76ce9a4de373fec62b761395da629e" colspan="2"> -.124 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-8e9d82e44eb6527e21015d39de3239d2">
              <td id="table-cell-1f63a24ca7c59494a9b8f611b6f978e4" colspan="2"> Test Statistic </td>
              <td id="table-cell-ba4420e275928f5d1cf52e29dccebdf6" colspan="2"> .135 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-5373829e810ede5d231bd413dd687ca2">
              <td id="table-cell-69e93d47c4f5057a13f63c01e660997f" colspan="2"> Asymp. Sig. (2-tailed) </td>
              <td id="table-cell-37850270ede7b4adb3d5f6d2b29b6f97" colspan="2"> .160c </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-57cae7b0463c586cafbcaa33818804b0">
              <td id="table-cell-f127a2d1436f2cf9d84e768be60a3d9d" colspan="4"> a. Test distribution is Normal. </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-e8ae0de5c7ac4fd09f6ff81b91e3fdbe">
              <td id="table-cell-45cad4bbbbb4d34a52494c126a20d1fd" colspan="4"> b. Calculated from   data. </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-8dd0facbcc2ba6441a2256831dccf514">
              <td id="table-cell-4846718ea513400101f2b8c130d418d7" colspan="4"> c. Lilliefors   Significance Correction. </td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-106">Sumber: SPSS Versi 25</p>
      <p id="_paragraph-107">Berdasarkan uji normalitas yang dilakukan dengan metode One-Sample Kolmogorov–Smirnov terhadap data residual variabel X (Figur Kyai) dan variabel Y (Perolehan Siswa), diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,160. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari taraf signifikansi 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data residual berdistribusi normal dan tidak menunjukkan penyimpangan yang signifikan. Selain itu, nilai Most Extreme Differences yang mencakup nilai absolut sebesar 0,135, nilai positif 0,135, dan nilai negatif −0,124 menunjukkan bahwa penyebaran data masih berada dalam batas kewajaran terhadap kurva distribusi normal. Dengan demikian, data variabel Figur Kyai dan Perolehan Siswa memenuhi asumsi normalitas sebagai prasyarat analisis regresi linier sederhana.</p>
      <p id="_paragraph-108">Secara substantif, terpenuhinya asumsi normalitas ini mengindikasikan bahwa variasi data yang diperoleh dari responden relatif homogen dan tidak dipengaruhi oleh anomali ekstrem, sehingga mencerminkan kondisi empirik yang stabil di lingkungan SMK Al Ikhlas. Temuan ini sejalan dengan hasil wawancara terhadap guru bersertifikasi pendidik, yang menyatakan bahwa perubahan perolehan siswa pascawafatnya kyai terjadi secara bertahap dan konsisten, bukan akibat kejadian insidental atau fluktuasi sesaat. Guru bersertifikasi menjelaskan bahwa penurunan jumlah siswa merupakan dampak kumulatif dari menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap figur kepemimpinan pesantren, sehingga pola penurunan tersebut berlangsung secara merata di berbagai angkatan.</p>
      <p id="_paragraph-109">
        <bold id="bold-e854439719675ea1e8c67bb437570ac6">D. Uji Regresi Linier Sederhana</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-110">Untuk mengetahui pengaruh antara variabel X (figur kyai) dan variabel Y (Perolehan siswa), telah dilakukan analisis regresi linier sederhana menggunakan bantuan perangkat lunak Statistical Package for Sosial Science 25 (SPSS 25).  Hasil dari pengujian regresi linier sederhana dapat dilihat dalam tabel output analisis regresi linier sederhana berikut ini:</p>
      <p id="_paragraph-111">Tabel 4. Hasil Uji Regresi Linier Sederhana</p>
      <fig id="figure-panel-66f4a3571b57ad7081937ec21cc4ed83">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-d6f8c5ccbb7bd6dc16ca8ca488802dfa"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-c36bbfea7284c7a214e1d279f739a990" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="2007-1.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-118">Sumber: SPSS Versi 25</p>
      <p id="_paragraph-119">Berdasarkan tabel hasil dari analisis regresi linier yang sederhana, menyatakan bahwa variabel independen figur kyai (X) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel keterikatan perolehan siswa (Y) di SMK Al Ikhlas yang berbasis pesantren. Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari taraf signifikansi α = 0,05. Nilai signifikansi tersebut mengindikasikan bahwa persepsi responden terhadap figur kyai yang diukur melalui kuesioner memiliki keterkaitan yang kuat dengan tingkat perolehan siswa. Secara substantif, hasil ini menunjukkan bahwa semakin positif penilaian responden terhadap peran, kewibawaan, dan pengaruh sosial kyai, maka semakin besar pula kecenderungan meningkatnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka di SMK Al Ikhlas. Sebaliknya, menurunnya kehadiran dan pengaruh figur kyai berimplikasi pada penurunan kepercayaan masyarakat yang berdampak langsung terhadap jumlah siswa yang mendaftar. Dengan demikian, hasil uji regresi linier sederhana ini menegaskan bahwa figur kyai merupakan faktor determinan dalam memengaruhi perolehan siswa dan memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan lembaga pendidikan berbasis pesantren. </p>
      <p id="_paragraph-120">Temuan kuantitatif tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru bersertifikasi, yang menyatakan bahwa pascawafatnya kyai terjadi penurunan citra lembaga serta melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap SMK Al Ikhlas. Guru menilai bahwa ketiadaan figur kyai menyebabkan hilangnya simbol kepemimpinan moral dan spiritual yang selama ini menjadi daya tarik utama sekolah, sehingga berdampak langsung pada menurunnya minat pendaftaran siswa baru. Dengan demikian, hasil regresi dan hasil wawancara secara konsisten menunjukkan bahwa figur kyai memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi positif masyarakat dan menentukan tingkat perolehan siswa.</p>
      <p id="_paragraph-121">
        <bold id="bold-2ea4593ce0a33c5b995edf9dcef44536">E. Uji t</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-122">Setelah koefisien regresi diketahui, langkah berikutnya adalah menghitung nilai t untuk menentukan apakah hipotesis alternatif (Ha) dapat diterima atau jika hipotesis nol (H0) yang ditolak. Jika nilai sig &lt; 0,05 atau nilai t hitung &gt; t tabel, maka H₀ ditolak dan Hɑ diterima (ada perbedaan/pengaruh signifikan). Jika nilai sig &gt; 0,05 atau nilai t-hitung &lt; t-tabel, maka H₀ diterima dan Hɑ ditolak (tidak ada perbedaan/pengaruh signifikan). Pengujian hipotesis ini menggunakan taraf signifikan ɑ = 0,05 dengan t tabel sebesar 1,699.Hasil dari uji t dapat diperoleh dengan menggunakan software SPSS versi 25 sebagai berikut:</p>
      <p id="_paragraph-123">Tabel 5. Hasil Uji t</p>
      <table-wrap id="table-figure-b8352b5715b3fd2dbfb62d901730f772">
        <label>Table 4</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-f177ee2b756cfe5ddca5567f12359098"/>
        </caption>
        <table id="table-444727aa9e00747630c111b38a0f6511">
          <tbody>
            <tr id="table-row-ae4106955017186fbb9bc3b3867daf70">
              <td id="table-cell-5127e99530bb291019241fa8a9ccca3f" colspan="7"> Coefficientsa </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-fc31aafafc90a37a4b8df5e73d6f99df">
              <td id="table-cell-893e73e49c29df5d96c9f971758ec749" rowspan="2" colspan="2"> Model </td>
              <td id="table-cell-abcd630a374e7f57cfc5b98a477c3752" colspan="2"> Unstandardized   Coefficients </td>
              <td id="table-cell-aaf0cb85b5cce3487faa846aa631d856"> Standardized   Coefficients </td>
              <td id="table-cell-2c62ccaeb557bec9209c8c077e28dd89" rowspan="2"> T </td>
              <td id="table-cell-a42480e486ce330c8f0399c152b51667" rowspan="2"> Sig. </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-78659f71e506e00e95727e27b4ca64c6">
              <td id="table-cell-0dc92ccfa7d1c5aca3dc38b42e1c3583"> B </td>
              <td id="table-cell-aead7a5b120f22f067fbdccd43e27393"> Std. Error </td>
              <td id="table-cell-fed866b149772333e26f234df0361e9d"> Beta </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-40946ba400d713e7b36873f5008e9810">
              <td id="table-cell-f97270759b17563993c568d84bcc2a0b" rowspan="2"> 1 </td>
              <td id="table-cell-78d96722f8dec8e12c8aa213e7907645" rowspan="2"> (Constant) Figur   kyai </td>
              <td id="table-cell-adf003f0b0a145d3bf0eeabc548e5688" rowspan="2"> -7.009 1.201 </td>
              <td id="table-cell-3d6a9b32fbcf5fa2ae88dac083d93d40" rowspan="2"> 4.152 .183 </td>
              <td id="table-cell-6a93bdfe52b856c0b9981dc50f49b674"/>
              <td id="table-cell-03108ae08de42582be1680a6af791670"> -1.688 </td>
              <td id="table-cell-9d66c40405218414da478e5b3740213d" rowspan="2"> .102 .000 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-8960c45141cda3a261c2af180497f5e8">
              <td id="table-cell-805b75b324caba1b0f0f8849d32d1859"> .772 </td>
              <td id="table-cell-ca46b3cd116eae498ff96f98a16d35d4"> 6.548 </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-48294e95ae93304b7ba7e9f55a12357b">
              <td id="table-cell-c3fd4b7e055996a39662719c689b2493" colspan="7"> a. Dependent Variable: Perolehan siswa </td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="_paragraph-124">Coefficientsa</p>
      <p id="_paragraph-125">ModelUnstandardized CoefficientsStandardized CoefficientsTSig.</p>
      <p id="_paragraph-126">BStd. ErrorBeta</p>
      <p id="_paragraph-127">1(Constant)</p>
      <p id="_paragraph-128">Figur kyai-7.009</p>
      <p id="_paragraph-129">1.2014.152</p>
      <p id="_paragraph-130">.183-1.688.102</p>
      <p id="_paragraph-131">.000</p>
      <p id="_paragraph-132">.7726.548</p>
      <p id="_paragraph-133">a. Dependent Variable: Perolehan siswa</p>
      <p id="_paragraph-134">Sumber: SPSS Versi 25</p>
      <p id="_paragraph-135">Hasil analisis statistik menggunakan uji t (uji t) bertujuan untuk mengevaluasi seberapa signifikan pengaruh variabel Figur Kyai (X) secara individual terhadap variabel Perolehan Siswa (Y) di SMK Al Ikhlas berbasis pesantren. Dengan jumlah responden (N) sebanyak 31, derajat kebebasan yang digunakan adalah N − 2 = 29. Pada taraf signifikansi α = 0,05, diperoleh nilai t tabel sebesar 1,699. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai t hitung untuk variabel Figur Kyai mencapai 6,548. Karena nilai t hitung (6,548) lebih besar dibandingkan t tabel (1,699), maka hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (H₀) ditolak. Temuan ini diperkuat oleh nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05, sehingga secara statistik dapat disimpulkan bahwa figur kyai berpengaruh positif dan signifikan terhadap perolehan siswa di SMK Al Ikhlas berbasis pesantren.</p>
      <p id="_paragraph-136">Hasil kuantitatif tersebut selanjutnya diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru bersertifikasi pendidik. Berdasarkan hasil wawancara, guru bersertifikasi menyatakan bahwa sebelum wafatnya kyai, SMK Al Ikhlas memiliki citra lembaga yang kuat di mata masyarakat. Figur kyai dipandang sebagai simbol kepemimpinan moral dan spiritual yang memberikan jaminan kepercayaan, stabilitas, serta keberlanjutan lembaga pendidikan. Keberadaan kyai menjadi faktor utama yang mendorong orang tua untuk memilih SMK Al Ikhlas sebagai tempat pendidikan bagi anak-anak mereka. Namun demikian, pascawafatnya kyai, guru bersertifikasi mengungkapkan adanya penurunan kepercayaan masyarakat yang berdampak langsung pada menurunnya minat pendaftaran siswa baru. Ketiadaan figur kyai dinilai menyebabkan hilangnya daya tarik utama lembaga, khususnya sebagai pesantren yang selama ini sangat bergantung pada kharisma dan kewibawaan pemimpinnya. Kondisi tersebut memunculkan persepsi ketidakpastian di kalangan masyarakat terhadap arah dan keberlanjutan pengelolaan lembaga, sehingga berimplikasi pada penurunan perolehan siswa.</p>
      <p id="_paragraph-137">Temuan wawancara ini sejalan dengan hasil kuesioner P1–P10, di mana nilai signifikansi tertinggi diperoleh pada item P5 yang menegaskan bahwa kehadiran kyai sebelumnya memberikan rasa stabil dan aman terhadap keberlangsungan SMK Al Ikhlas. Integrasi antara hasil uji t dan hasil wawancara guru bersertifikasi menunjukkan bahwa figur kyai tidak hanya berpengaruh secara statistik, tetapi juga memiliki makna substantif dalam membentuk persepsi positif masyarakat, menjaga stabilitas institusi, serta menentukan tingkat perolehan siswa. Dengan demikian, figur kyai memiliki peran sentral dan strategis dalam keberlangsungan SMK Al Ikhlas sebagai lembaga pendidikan berbasis pesantren.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-15d284626c9e0fe44d11f62152e3509a">
      <title>Simpulan </title>
      <p id="_paragraph-139">Berdasarkan hasil analisis data kuantitatif yang telah dilakukan, penelitian ini membuktikan bahwa figur kyai berpengaruh positif dan signifikan terhadap perolehan siswa di SMK Al Ikhlas berbasis pesantren. Hasil uji regresi linier sederhana dan uji t menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (&lt; 0,05) dengan nilai t hitung yang lebih besar dari t tabel, sehingga menegaskan bahwa keberadaan, kharisma, dan kewibawaan kyai menjadi faktor determinan dalam membentuk minat serta kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan pesantren. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa kepemimpinan kyai memiliki peran strategis dalam menjaga citra lembaga, meningkatkan daya tarik institusi, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap kualitas dan keberlanjutan pendidikan pesantren. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat teori dan temuan sebelumnya bahwa figur kyai tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai modal sosial yang berdampak langsung pada keberhasilan lembaga dalam memperoleh siswa.</p>
      <p id="_paragraph-140">Namun demikian, hasil penelitian ini juga menunjukkan dinamika yang berbeda ketika dikaitkan dengan kondisi empiris pascawafatnya figur kyai di SMK Al Ikhlas. Temuan wawancara dengan guru bersertifikasi mengungkapkan bahwa ketiadaan sosok kyai menyebabkan menurunnya citra lembaga dan melemahnya kepercayaan masyarakat, yang berimplikasi pada penurunan jumlah perolehan siswa. Kondisi ini mengonfirmasi pandangan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa keberlangsungan pesantren sangat dipengaruhi oleh personifikasi kepemimpinan kyai, sehingga ketika figur tersebut tidak lagi hadir, lembaga berpotensi mengalami ketidakstabilan sosial dan psikologis di mata masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya menguatkan hasil-hasil penelitian sebelumnya, tetapi juga memberikan kontribusi kontekstual dengan menunjukkan bahwa pengaruh figur kyai tetap signifikan meskipun dalam situasi ketiadaan, sekaligus menegaskan pentingnya strategi kelembagaan dan transformasi peran guru dalam menjaga keberlanjutan perolehan siswa dan mutu pendidikan pesantren.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
