<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Al-Qur'an Learning Management With a Fun Learning Approach in SD Muhammadiyah 2 Krian </article-title>
        <subtitle>Manajemen Pembelajaran Al-Qur'an dengan Pendekatan Fun Learning di SD Muhammadiyah 2 Krian </subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>khotimah</surname>
            <given-names>khusnul</given-names>
          </name>
          <email>34.khusnul@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>universitas muhammadiyah sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-01-29">
          <day>29</day>
          <month>01</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>12</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="sec-1">
      <title>I. Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar dalam pertumbuhan manusia karena melalui pendidikan, kreativitas dan potensi peserta didik dapat berkembang untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki . Dalam konteks ini, pendidikan Al-Qur’an memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan spiritualitas peserta didik, khususnya di lembaga pendidikan Islam. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, pendidikan harus mampu merespons secara positif dengan memperkuat program-program keagamaan sebagai landasan hidup bagi peserta didik . Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, baik keluarga, masyarakat maupun pemerintah, agar pendidikan keagamaan dapat berjalan optimal dan relevan dengan tantangan zaman</p>
      <p id="_paragraph-13">Al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai kitab suci yang menjadi pedoman hidup, tetapi juga sebagai dasar pembentukan nilai moral, etika, dan kecerdasan spiritual peserta didik sejak usia dini . Tantangan utama yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam saat ini bukan hanya terletak pada bagaimana mengajarkan Al-Qur’an secara teknis, tetapi bagaimana menjadikan pembelajaran Al-Qur’an sebagai proses yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Pembelajaran Al-Qur’an tidak cukup jika hanya berhenti pada hafalan atau pelafalan secara tekstual, tetapi harus mampu menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual yang dapat diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Disinalah peran guru sebagai fasilitator dan motivator dalam menentukan metode yang tepat dan relevan dengan karakteristik peserta didik. Pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat dapat menghambat memahami, memaknai, bahkan mempraktikkan isi Al-Qur’an di kehidupan nyata. Oleh karena itu, guru dituntut untuk tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu menerapkan pendekatan yang inovatif, adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. </p>
      <p id="_paragraph-14">Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa minat dan kemampuan siswa dalam membaca serta menghafal Al-Qur’an masih tergolong rendah. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan metode pembelajaran yang monoton dan kurang menarik, sehingga siswa mudah merasa bosan dan kurang termotivasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan karakteristik peserta didik, pembelajaran Al-Qur’an harus mampu beradaptasi dan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, interaktif, dan memotivasi. Paradigma ini secara langsung menantang metode-metode pengajaran tradisional yang cenderung monoton, satu arah, dan kurang partisipatif, yang seringkali menjadi penyebab rendahnya minat dan kemampuan siswa dalam mempelajari Al-Qur’an, baik dalam aspek membaca maupun menghafal. Oleh karena itu, penting untuk menghadirkan inovasi dalam pembelajaran Al-Qur’an, salah satunya melalui pendekatan fun learning. </p>
      <p id="_paragraph-15">Fun learning merupakan pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, aktif, kreatif, dan partisipatif, sehingga siswa merasa nyaman dalam mengikuti proses belajar dan lebih mudah memahami materi. Pendekatan ini menempatkan unsur kesenangan sebagai komponen utama yang dapat meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Menurut teori pembelajaran konstruktivistik, proses belajar akan berlangsung lebih efektif apabila siswa dilibatkan secara aktif, diberikan kebebasan dalam mengekspresikan gagasan, serta merasa tertarik terhadap materi yang diajarkan. Sejalan dengan hal tersebut, fun learning mendorong munculnya pengalaman belajar yang bersifat positif, membangun keterlibatan emosional, serta mendorong tumbuhnya rasa ingin tahu secara alami. Pembelajaran yang dilakukan melalui aktivitas seperti permainan edukatif, cerita visual, bernyanyi, tepuk, atau gerakan fisik ringan dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kontekstual dan ramah anak. Karena itu, pendekatan ini sangat relevan diterapkan di jenjang sekolah dasar, di mana perkembangan emosi dan imajinasi anak masih sangat kuat dan membutuhkan stimulasi yang menyenangkan.</p>
      <p id="_paragraph-16">Dalam konteks pembelajaran Al-Qur’an, fun learning hadir sebagai inovasi penting untuk menjawab tantangan pembelajaran yang hanya berfokus pada hafalan dan pelafalan yang sering kali membuat siswa cepat bosan dan tidak memahami makna dari ayat-ayat yang dibaca. Dengan pendekatan fun learning, suasana belajar menjadi lebih interaktif dan menyenangkan, sehingga siswa lebih mudah terlibat secara emosional dan kognitif . Penerapan metode ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan hafalan karena secara alami mengaktifkan kerja otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berfungsi dalam mengolah bahasa, angka, dan struktur logis, sementara otak kanan berperan dalam kreativitas, imajinasi, emosi, dan intuisi. semua ini sangat penting dalam proses menghafal dan memahami kandungan Al-Qur’an. Selain itu, pendekatan ini juga mendorong keberagaman strategi mengajar, seperti menggunakan alat peraga visual, media audio interaktif, gerakan tangan, hingga permainan dengan pendekatan ayat atau tajwid. Dengan menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, pendekatan ini tidak hanya membantu siswa menghafal dengan lebih efektif, tetapi juga membangun kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Oleh karena itu, fun learning layak diposisikan sebagai pendekatan strategis dalam meningkatkan mutu pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan pendidikan dasar.</p>
      <p id="_paragraph-17">Agar pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning dapat berjalan secara optimal, diperlukan manajemen pembelajaran yang terstruktur dan terukur memenuhi empat fungsi utama, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Manajemen pembelajaran bertujuan mengorganisasi seluruh sumber daya agar proses belajar berjalan efisien dan mencapai tujuan pendidikan. Dalam konteks ini, pembelajaran menjadi sarana perubahan perilaku peserta didik melalui pengalaman belajar aktif .  Oleh karena itu, seluruh komponen seperti guru, kurikulum, materi, media, waktu, dan fasilitas perlu dikelola secara sistematis. Dalam konteks pembelajaran Al-Qur’an, dibutuhkan sistem yang terencana dan berkelanjutan agar kemampuan membaca dan menghafal siswa berkembang secara optimal . Salah satu pendekatan inovatif yang relevan adalah manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning<italic id="_italic-30">,</italic> yakni pembelajaran yang menekankan akurasi makharijul huruf, penguasaan tajwid, serta kelancaran bacaan dengan pendekatan yang menyenangkan, terstruktur, dan adaptif  . Strategi ini juga membantu menjembatani perbedaan kemampuan siswa melalui evaluasi bertahap, penggunaan media visual, alat peraga, dan praktik langsung yang mampu mengaktifkan seluruh potensi belajar. Dengan demikian, manajemen pembelajaran yang baik menjadi fondasi penting dalam menciptakan pembelajaran Al-Qur’an yang efektif dan bermakna di tingkat sekolah dasar.</p>
      <p id="_paragraph-18">SD Muhammadiyah 2 Krian dipilih sebagai fokus penelitian karena merepresentasikan sebuah kasus yang ideal. Sekolah ini secara sadar dan proaktif berupaya mengimplementasikan pendekatan fun learning dalam program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) sebagai strategi untuk meningkatkan mutu bacaan siswa. Namun, di saat yang sama, sekolah ini juga menghadapi tantangan internal yang kerap muncul dalam praktik pendidikan, seperti keragaman karakteristik siswa yang tinggi baik dari segi daya tangkap, konsentrasi, maupun kemampuan berpikir serta potensi perbedaan pandangan di antara para guru BTQ mengenai metode yang paling efektif. Situasi ini menunjukkan perlunya sistem manajemen pembelajaran yang mampu menyatukan visi, menstandarkan praktik, dan mengelola sumber daya secara terarah. Dengan adanya pengelolaan yang terstruktur, diharapkan pendekatan fun learning yang diterapkan dapat berjalan secara konsisten, efektif, dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan terhadap mutu pembelajaran Al-Qur’an di sekolah tersebut. Oleh karena itu, kajian mendalam terhadap bagaimana manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning dirancang dan dijalankan di sekolah ini menjadi penting untuk dilakukan sebagai dasar pengembangan model yang lebih ideal di masa depan.</p>
      <p id="_paragraph-19">Dalam berbagai studi sebelumnya, banyak penelitian yang mengulas tentang manajemen pembelajaran Al-Qur’an dalam berbagai pendekatan dan konteks pendidikan. Penelitian yang dilakukan oleh Subhan Masruri tahun 2024 tentang “Manajemen Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kompetensi Membaca Al-Qur’an di SMPN 3 Ponorogo”. Hasil dari penelitian tersebut menyampaikan bahwa manajemen pembelajaran Al-Qur’an di tingkat SMP dilakukan secara terstruktur melalui Perencanaan terstruktur, dukungan sekolah, dan evaluasi berkala terbukti meningkatkan kemampuan siswa. Namun, fokus penelitian masih berada pada manajemen secara umum, tanpa menyoroti secara khusus pendekatan fun learning, serta berada dalam konteks pendidikan menengah, bukan sekolah dasar. Selain Itu, Basri, Walidin, dan Jamali (2023) meneliti “Penerapan Model Fub Learning dalam Peningkatan Thfidz Al-Qur’an Pada Siswa Kelas VII SMP IT Raudahatul Ulum Kota Subulussalam” menunjukkan bahwa sebelum penerapan fun learning, kemampuan tahfidz siswa masih rendah dan pembelajaran berlangsung monoton. Setelah diterapkan metode fun learning yang melibatkan permainan dan aktivitas kreatif, kemampuan hafalan siswa meningkat secara signifikan. Dan penelitian ini tidak pada proses manajemen yang memungkinkan penerapan tersebut. Penelitian yang sama juga, telah dilakukan oleh Arsyad, Zaenal Abidin Riam, dan Hayatun Nufus pada tahun 2024, yang membahas tentang penerapan metode fun learning untuk meningkatkan minat belajar Al-Qur’an peserta didik di pondok Tahfizh dan Tilawah Bayt El Hikmah Depok yang menunjukkan bahwa hasil dari penerapan fun learning melalui metode permainan dan suasana belajar menyenangkan berhasil meningkatkan minat dan konsentrasi siswa dalam belajar AlQur’an .</p>
      <p id="_paragraph-20">Permasalahan penelitian ini didasarkan pada adanya kesenjangan (research gap) dalam kajian pembelajaran Al-Qur’an, khususnya pada aspek pengelolaan pembelajaran yang belum sepenuhnya dikaji secara mendalam dalam konteks sekolah dasar yang menunjukkan adanya tiga kecenderungan utama dalam penelitian sebelumnya, namun masih menyisakan celah yang signifikan yang akan diisi oleh penelitian ini. Pertama, studi tentang manajemen pembelajaran Al-Qur’an umumnya berfokus pada lembaga pendidikan menengah seperti SMP dan SMA, atau lembaga non-formal seperti pesantren dan rumah tahfidz, yang lebih menitikberatkan pada program tahfidz, bukan pada aspek manajerial program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) di tingkat sekolah dasar. Kedua, penelitian yang membahas penerapan metode pembelajaran, termasuk fun learning, biasanya hanya fokus pada pengaruhnya terhadap hasil belajar seperti peningkatan hafalan, motivasi, atau minat belajar, tanpa menyelidiki secara mendalam aspek manajerial yang mendukung penerapan metode tersebut, seperti proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi di lingkungan sekolah. Ketiga, studi perbandingan mengenai berbagai metode pembelajaran Al-Qur’an seperti Iqro’, Ummi, dan Qiro’ati lebih menekankan pada aspek teknis dan keunggulan serta kelemahan masing-masing metode, tanpa secara lengkap mengaitkannya dengan sistem manajemen pembelajaran yang mendukung keberhasilannya. Berdasarkan pemetaan tersebut, teridentifikasi adanya kesenjangan penelitian yang cukup jelas, yakni belum adanya kajian yang secara holistik dan dengan pendekatan proses menganalisis manajemen program pembelajaran Al-Qur’an di sekolah dasar yang secara eksplisit menggunakan pendekatan fun learning. </p>
      <p id="_paragraph-21">Fokus utama penelitian ini adalah mengkaji secara mendalam manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learningdi SD Muhammadiyah 2 Krian, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Rumusan masalah dalam studi ini meliputi pertanyaan tentang bagaimana manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning di SD Muhammadiyah 2 Krian dan faktor apa saja yang mendukung maupun menghambat pelaksanaan program tersebut. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara komprehensif manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning sesuai dengan kerangka POAC (Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pengendalian). Secara akademis, penelitian ini diharapkan bisa menambah referensi baru soal manajemen pendidikan Islam, khususnya lewat model belajar Al-Qur'an yang kreatif untuk anak SD. Untuk manfaat praktisnya, hasil studi ini bisa jadi bahan evaluasi buat SD Muhammadiyah 2 Krian dalam mengembangkan kurikulum BTQ mereka. Selain itu, tulisan ini juga bisa jadi panduan bagi sekolah Islam lain yang ingin menerapkan cara belajar yang lebih seru dan sesuai dengan kebutuhan siswa zaman sekarang. Dari aspek kebijakan, temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada lembaga pendidikan dan dinas terkait dalam mendorong kepemimpinan instruksional serta meningkatkan kapasitas guru dalam mendukung keberhasilan inovasi pembelajaran dengan pendekatan Kurikulum Merdeka.</p>
    </sec>
    <sec id="sec-2">
      <title> II. Metode</title>
      <p id="_paragraph-22">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, yang bertujuan untuk menggambarkan dan memahami secara mendalam bagaimana manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning diterapkan di SD Muhammadiyah 2 Krian. Metodologi ini digunakan agar peneliti dapat menangkap gambaran utuh mengenai manajemen pembelajaran secara natural, mulai dari tahap rancangan hingga evaluasi akhir. SD Muhammadiyah 2 Krian dipilih menjadi objek studi karena konsistensinya dalam memperbarui program BTQ melalui strategi <italic id="_italic-31">fun learning</italic>. Hal ini terlihat dari penerapan media konkret dan visual yang dipadukan dengan cara mengajar yang interaktif, seperti bercerita dan bernyanyi bersama siswa. Dalam penelitian ini, saya menggali informasi langsung dari kepala sekolah, kaur keislaman, guru BTQ, hingga para siswa. Fokus utamanya adalah melihat bagaimana manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning dijalankan—mulai dari tahap perencanaan, organisasi, praktik di kelas, sampai evaluasinya. Saya juga memperhatikan apa saja yang menjadi pendukung dan penghambatnya. Semua data ini dikumpulkan lewat wawancara mendalam, observasi di lapangan, serta pengecekan dokumen dan arsip sekolah. Untuk analisisnya, saya menggunakan kerangka interaktif model Miles dan Huberman. Alur analisisnya mencakup tiga fase utama: reduksi data, penyajian, serta penarikan kesimpulan<bold id="_bold-9">. </bold>Pada tahap reduksi, informasi mentah disaring untuk mengambil poin-poin krusial dan dikategorikan sesuai tema penelitian.Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi deskriptif, kutipan, atau visualisasi tematik. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan menafsirkan pola-pola dan keterkaitan antar data untuk merumuskan temuan yang bermakna. Untuk menjamin keabsahan data, digunakan teknik triangulasi sumber dan metode<bold id="_bold-10">,</bold> serta dilakukan verifikasi data kepada narasumber guna menjamin keakuratan dan kebenaran informasi yang dikumpulkan .</p>
    </sec>
    <sec id="heading-04b2c6085856d05cece8a3bf6fe74490">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="paragraph-048c478395d061e2d06b050ac8ca5c6d">A. <bold id="_bold-12">Manajemen Pembelajaran Al-Qur’an </bold><bold id="_bold-13">Dengan pendekatan</bold> <bold id="_bold-14">Fun Learning di SD Muhamamdiyah 2 Krian</bold> </p>
      <p id="_paragraph-24">Pembelajaran Al-Qur’an di tingkat sekolah dasar memerlukan pengelolaan yang tidak hanya menekankan pada pencapaian kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga pada proses pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan peserta didik. Anak usia sekolah dasar cenderung memiliki rentang perhatian yang terbatas dan lebih mudah menerima materi melalui aktivitas yang bersifat aktif, variatif, dan menyenangkan. Oleh karena itu, pendekatan fun learning menjadi relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran Al-Qur’an, asalkan didukung oleh manajemen pembelajaran yang terencana dan terarah . Manajemen pembelajaran berperan penting dalam mengintegrasikan tujuan, strategi, sumber daya, dan evaluasi agar proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien. Dalam konteks pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning, manajemen tidak hanya berfungsi sebagai pengatur kegiatan belajar, tetapi juga sebagai instrumen untuk memastikan bahwa pendekatan pembelajaran yang menyenangkan tetap selaras dengan tujuan pembelajaran Al-Qur’an, baik dari aspek keterampilan membaca, penguasaan tajwid, maupun pembentukan sikap religius siswa.</p>
      <p id="_paragraph-25">Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning di SD Muhammadiyah 2 Krian tidak dilakukan secara sporadis, melainkan dikelola melalui tahapan manajerial yang sistematis. Pengelolaan pembelajaran dilakukan dengan memperhatikan keterpaduan antara perencanaan yang matang, pengorganisasian yang jelas, pelaksanaan yang kreatif, serta pengendalian melalui evaluasi pembelajaran yang berkelanjutan. Hal ini juga didukung Mulyasa bahwa manajemen pembelajaran mencakup perencanaan pembelajaran, pengorganisasian sumber daya, pelaksanaan proses belajar mengajar, serta evaluasi pembelajaran sebagai bentuk pengendalian mutu . George R. Terry mendefinisikan manajemen sebagai suatu proses yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan tertentu . Keterpaduan keempat fungsi manajemen tersebut menjadi fondasi utama dalam menciptakan pembelajaran Al-Qur’an yang efektif dan bermakna bagi siswa. Berdasarkan kerangka tersebut, pembahasan manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning dalam penelitian ini dianalisis melalui empat aspek utama, yaitu perencanaan pembelajaran, pengorganisasian pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan pengendalian yang diwujudkan melalui evaluasi pembelajaran . Keempat aspek ini digunakan sebagai landasan analisis untuk menggambarkan secara komprehensif bagaimana manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning diterapkan di SD Muhammadiyah 2 Krian.</p>
      <p id="paragraph-49a23d3cc1cf735a0d2e3284cc85e39b">
        <italic id="italic-1">
          <bold id="bold-1">1. </bold>
        </italic>
        <italic id="italic-2">
          <bold id="bold-2">Perencanaan Pembelajaran Al-Qur’an Dengan pendekatan Fun Learning</bold>
        </italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-26">Perencanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning di SD Muhammadiyah 2 Krian disusun melalui wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang keislaman, serta guru BTQ, yang diperkuat dengan hasil observasi kegiatan pembelajaran dan studi dokumentasi terhadap program BTQ serta perangkat pembelajaran, perencanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning di SD Muhammadiyah 2 Krian disusun melalui koordinasi antar unsur manajerial sekolah. Perencanaan dimulai dari penentuan tujuan pembelajaran yang berfokus pada peningkatan kemampuan membaca dan menghafal, sekaligus menumbuhkan kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an melalui pendekatan yang menyenangkan. Dalam tahap awal ini, dimulai dengan sinkronisasi antara bidang urusan keislaman, koordinator BTQ, dan guru BTQ untuk merancang kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan peserta didik usia dasar akan atmosfer kelas yang aktif. Dalam perencanaan ini, tujuan instruksional tidak hanya terpaku pada penguasaan literasi dan hafalan Al-Qur'an, melainkan juga berfokus pada pembentukan ikatan emosional siswa terhadap kitab suci melalui pendekatan fun learning yang terstruktur. Di sisi lain, para guru BTQ tidak hanya fokus pada hal-hal teknis seperti tajwid, kelancaran, atau cara melafalkan huruf saja. Mereka juga menyisipkan elemen seru seperti bernyanyi, bercerita, hingga permainan edukatif dan penggunaan media visual ke dalam rencana pembelajaran. Cara ini sengaja dipilih supaya suasana kelas jadi lebih hidup, anak-anak lebih tertarik, dan materi pun jadi lebih mudah nyambung ke mereka. Dalam perencanaannya, guru juga sudah menyiapkan ice breaking dan pengenalan huruf yang dilakukan secara bertahap. Tak lupa, ada tambahan kosakata Al-Qur'an serta materi pengayaan khusus bagi siswa yang menunjukkan perkembangan belajar yang cepat.</p>
      <p id="_paragraph-27">Dalam konteks manajemen pembelajaran, tahap perencanaan ini menjadi fondasi awal yang menentukan arah pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an. Perencanaan tidak hanya dipahami sebagai penyusunan kegiatan mengajar, tetapi juga sebagai proses penetapan tujuan, strategi pembelajaran, serta pengalokasian sumber daya yang mendukung penerapan pendekatan fun learning secara sistematis. Manajemen perencanaan dibuat sangat fleksibel supaya bisa masuk ke semua tipe kepribadian siswa yang berbeda-beda di setiap kelas. Lewat rencana yang adaptif ini, guru bisa dengan mudah menyelipkan ice breaking, mengenalkan huruf pelan-pelan, sampai memberikan materi tambahan buat siswa yang memang progresnya lebih cepat. tidak hanya soal metode, guru juga sudah menyiapkan berbagai media kreatif, mulai dari kartu huruf, audio murattal, video yang seru, sampai alat peraga nyata supaya imajinasi anak-anak lebih terstimulasi. Persiapan ini pun makin mantap karena sekolah mendukung penuh secara administratif, seperti menyediakan ruang kelas yang nyaman dan perangkat audio-visual yang lengkap. Perencanaan tersebut tercermin dalam dokumen pembelajaran yang dimiliki sekolah, seperti program tahunan dan semester BTQ, pembagian materi berdasarkan jenjang kelas, serta panduan penggunaan metode dan media pembelajaran yang bersifat menyenangkan. Dokumen-dokumen ini menjadi acuan bagi guru BTQ dalam menyusun dan melaksanakan pembelajaran secara konsisten di setiap kelas. Dengan memadukan sisi cara mengajar, psikologi anak, dan kesiapan teknis, perencanaan ini menjamin kalau pembelajaran Al-Qur'an bakal tetap sistematis dan tepat sasaran, meskipun dikemas dengan suasana yang sangat menyenangkan.</p>
      <p id="_paragraph-28">Selain itu, perencanaan ini tidak muncul begitu saja, karena ada analisis mendalam soal apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh guru, siswa, hingga kebutuhan sarana belajarnya. Pihak sekolah pun turun tangan memberikan dukungan penuh, mulai dari urusan administrasi sampai penyediaan fasilitas pendukung. Meskipun harus diakui beberapa sarana masih perlu terus ditingkatkan, tapi ruang kelas yang nyaman, peralatan audio, dan media dasar sudah tersedia untuk mendukung kegiatan harian. Semua proses ini membuktikan kalau manajemen pembelajarannya benar-benar dipikirkan matang-matang, mulai dari sisi cara mengajar, kondisi psikis siswa, hingga kesiapan teknisnya. Tujuannya supaya belajar Al-Qur’an lewat pendekatan fun learning ini bisa berjalan maksimal dan tidak setengah-setengah.</p>
      <p id="paragraph-17d61a14b77e007787fcd3a7c72dc9cf">
        <italic id="italic-cb04322a2a931a82014ab4582a507b27">
          <bold id="bold-1df2863d590a8dc4a02ee8e32e5f1a3d">2. </bold>
        </italic>
        <italic id="italic-a8f6089aecdbb6307702725c32fc30a8">
          <bold id="bold-c81ccc65cd8b54a3f8dbba2dc5b5d685">Pengorganisasian Pembelajaran Al-Qur’an Dengan pendekatan Fun Learning</bold>
        </italic>
      </p>
      <p id="_paragraph-29">Pengorganisasian pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning dilakukan secara sistematis melalui pembagian peran dan tanggung jawab yang jelas. Kepala sekolah berperan sebagai penanggung jawab program, wakil bidang keislaman sebagai koordinator pelaksanaan, dan guru BTQ sebagai pelaksana utama pembelajaran di kelas. Pembagian tugas ini bertujuan agar pelaksanaan pembelajaran berjalan terarah dan sesuai dengan rencana yang telah disepakati. Manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning di SD Muhammadiyah 2 Krian diawali dengan proses perencanaan yang disusun melalui koordinasi antara kepala sekolah, wakil keislaman, dan guru BTQ. Pada tahap ini, seluruh pihak merumuskan tujuan, menentukan bentuk kegiatan, serta memilih metode yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar. Guru BTQ kemudian merancang aktivitas yang bernuansa menyenangkan seperti bernyanyi, bercerita, permainan edukatif, dan teknik interaktif lainnya agar pembelajaran terasa ringan dan tidak menekan.</p>
      <p id="_paragraph-30">Materi dan alat belajar diatur secara fleksibel untuk memenuhi kebutuhan siswa yang membutuhkan suasana kelas interaktif. Kurikulum mencakup materi inti seperti makharijul huruf dan tajwid dasar, serta program pengayaan untuk siswa yang cepat belajar. Guru menggunakan media kreatif seperti kartu huruf, audio, video edukatif, dan alat peraga untuk membuat belajar lebih menyenangkan dan merangsang imajinasi siswa.. Prinsip fleksibilitas yang diterapkan dalam pengelolaan ini memastikan bahwa meskipun aktivitas pengajaran dikemas secara rekreatif melalui teknik bercerita atau bernyanyi, tujuan instruksional tetap tercapai secara konsisten. Sinergi antara ketersediaan fasilitas interaktif dan manajemen materi yang rapi inilah yang memungkinkan terciptanya ekosistem belajar Al-Qur'an yang efektif sekaligus menyenangkan bagi siswa.</p>
      <p id="paragraph-70df55edd6feea21da63352bb16b6da9">3. <italic id="italic-b8bba6f8d9cf8deb09a96d47bc9f39af"><bold id="bold-bb8975bf8497a71713e6e7762bee6ec4">Pelaksanaan Pembelajaran Al-Qur’an Dengan pendekatan Fun Learning</bold></italic></p>
      <p id="_paragraph-31">Proses pelaksanaan pembelajaran di kelas berlangsung dengan menerapkan berbagai teknik interaktif yang membuat siswa merasa senang dan termotivasi. Pembelajaran biasanya diawali dengan kegiatan pemantik seperti ice breaking untuk menciptakan suasana positif. Setelah itu, guru menyampaikan materi menggunakan pendekatan kreatif seperti permainan, cerita, gerakan tangan, nyanyian, dan media visual. Pendekatan ini membuat siswa lebih mudah fokus dan terlibat dalam pembelajaran membaca maupun menghafal Al-Qur’an. Dari perspektif siswa, metode ini membuat kegiatan belajar menjadi lebih hidup dan tidak membosankan, sehingga meningkatkan keterlibatan mereka secara emosional dan kognitif. Hal ini juga didukung DePorter dan Hernacki menjelaskan bahwa suasana belajar yang menyenangkan dapat meningkatkan motivasi, perhatian, serta keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran . Pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning di kelas berlangsung dengan suasana yang aktif dan menyenangkan . Pembelajaran umumnya diawali dengan kegiatan pemantik seperti ice breaking untuk menciptakan suasana positif dan meningkatkan kesiapan belajar siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan materi melalui pendekatan kreatif seperti permainan edukatif, cerita islami, gerakan tangan, nyanyian, serta penggunaan media visual.</p>
      <p id="_paragraph-32">Jika dilihat dari sisi psikologis, metode ini terbukti ampuh bikin anak-anak lebih fokus dan terlibat secara emosional saat belajar membaca maupun menghafal Al-Qur’an. Suasana kelas yang seru memang terbukti efektif mendongkrak motivasi mereka. Tapi, kenyataan di lapangan tentu ada tantangannya. Masih ada beberapa siswa yang butuh bantuan ekstra supaya ritme belajarnya tetap stabil dan tidak ketinggalan. Kondisi ini jadi pengingat bahwa meskipun konsepnya fun learning, bukan berarti guru bisa melepas pengawasan begitu saja. Justru, pendampingan dan monitoring berkala tetap jadi kunci, terutama buat merangkul anak-anak yang butuh perhatian lebih agar target hafalan mereka tetap bisa tercapai.. Hal ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan di lapangan agar aspek kegembiraan tetap beriringan dengan kedisiplinan belajar.</p>
      <p id="_paragraph-33">Hasil wawancara dengan berbagai pihak di SD Muhammadiyah 2 Krian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning pihak sekolah melakukan koordinasi dengan pimpinan, bagian keislaman, dan guru BTQ untuk merancang konsep pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik di sekolah dasar, yang membutuhkan suasana belajar yang aktif dan beragam. Sekolah juga menetapkan tujuan pembelajaran yang tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an melalui pendekatan pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran diawali dengan kegiatan pemantik suasana seperti ice breaking, dilanjutkan dengan pengenalan huruf atau kosa kata baru, serta pengayaan materi apabila siswa menunjukkan perkembangan yang baik. </p>
      <p id="_paragraph-34">Kunci utama kenapa kualitas pembelajaran ini bisa terjaga adalah karena adanya komitmen yang kuat dari semua orang di sekolah. Jadi, mulai dari koordinator sampai bidang keislaman, semuanya turun tangan—mulai dari merancang rencana, koordinasi, sampai rutin mendampingi dan memantau para guru BTQ di lapangan. Hal ini dilakukan supaya proses belajar di kelas tetap konsisten dan tidak melenceng dari tujuan awal. Selain dukungan semangat, sekolah juga totalitas dalam menyediakan fasilitas. Berbagai media pembelajaran dan ruang kelas ditata sedemikian rupa supaya anak-anak benar-benar punya ruang yang mendukung mereka untuk belajar dengan aktif, tapi tetap terasa seru dan menyenangkan. Komitmen dari seluruh unsur sekolah menjadi dasar utama dalam menjaga mutu pelaksanaan program, meskipun masih ada kendala seperti keterbatasan fasilitas dan kebutuhan pelatihan guru secara terus-menerus. Akan tetapi, profesionalisme para guru dan dukungan dari orang tua sangat berperan dalam mendukung keberhasilan penerapan metode fun learning dalam proses pembelajaran Al-Qur’an.</p>
      <p id="_paragraph-35">Hasil wawancara dengan sejumlah siswa menunjukkan bahwa mereka merasakan suasana belajar Al-Qur’an yang lebih menyenangkan dan berbeda dari metode konvensional. Mereka merasa lebih tenang dan antusias saat mengikuti kegiatan karena sering diselingi dengan permainan, cerita, atau interaksi santai bersama guru. Kegiatan yang paling diminati adalah membaca dan menghafal Al-Qur’an, termasuk mempelajari tata cara membaca yang benar, seperti membedakan panjang-pendek huruf, memahami waqaf, dan aturan-aturan lainnya. Mereka juga menilai bahwa interaksi guru yang hangat, humor ringan, serta cara pemberian tugas yang menyenangkan membuat mereka lebih aktif terlibat dalam pembelajaran . Kendati demikian, sejumlah siswa masih kesulitan menjaga konsistensi hafalan dan rutinitas harian. Hal ini membuktikan bahwa efektivitas fun learning dalam memacu motivasi harus tetap dibarengi dengan kedisiplinan serta latihan yang berkesinambungan.</p>
      <p id="_paragraph-36">Hasil wawancara mendalam dengan para wali siswa mengonfirmasi bahwa program pembelajaran Al-Qur’an di SD Muhammadiyah 2 Krian ini memberikan nilai manfaat yang besar serta impresi positif terhadap progres perkembangan anak secara menyeluruh. Orang tua menilai bahwa metode yang digunakan sekolah membuat anak lebih cepat dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an karena penyampaiannya dibuat menarik dan tidak membebani. Beberapa kegiatan seperti metode tepuk atau permainan sederhana dianggap membantu meningkatkan semangat anak ketika belajar di rumah. Meskipun demikian, sebagian wali siswa menganggap bahwa komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu diperbaiki, terutama mengenai teknik atau metode yang bisa diterapkan di rumah agar proses belajar anak berjalan selaras. Mereka juga menginginkan penekanan lebih pada aspek penulisan huruf Arab dan pemahaman tajwid secara lebih rinci. Secara umum, orang tua menilai bahwa metode yang digunakan cukup efektif dan berharap pengembangannya dapat difokuskan pada penggunaan media digital agar pembelajaran menjadi lebih inovatif dan praktis untuk dilakukan di rumah</p>
      <p id="paragraph-26363e5663b3ae027fd51d1cabba7831">4. <italic id="_italic-41"><bold id="_bold-24">Evaluasi Pembelajaran Al-Qur’an </bold></italic><bold id="_bold-25"><italic id="_italic-42">Dengan pendekatan</italic> </bold><bold id="_bold-26"><italic id="_italic-43">Fun Learning</italic> </bold></p>
      <p id="_paragraph-37">Evaluasi pembelajaran dilakukan secara berkelanjutan melalui penilaian harian, observasi langsung, serta pemantauan pencapaian hafalan. Guru memberikan feedback langsung kepada siswa agar mereka dapat mengetahui kesalahan yang dilakukan dan memperbaikinya. Selain itu, wakil dari pihak keislaman melakukan supervisi secara berkala untuk menjaga keberlanjutan dan mutu program tetap terpelihara. Dari perspektif orang tua, evaluasi yang dilakukan sekolah dinilai cukup memuaskan karena terlihat adanya peningkatan dalam kemampuan anak dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an. Orang tua juga menginginkan adanya komunikasi berkelanjutan tentang perkembangan anak dan metode belajar yang digunakan di kelas sebagai upaya peningkatan prose belajar yang lebih baik. Ini berarti sekolah dan orang tua perlu bekerja sama lebih erat.</p>
      <p id="_paragraph-38">Di SD Muhammadiyah 2 Krian, evaluasi pembelajaran Al-Qur'an dengan pendekatan fun learning dilakukan terus-menerus untuk memastikan kegiatan belajar sesuai rencana dan efektif. Penilaian tidak hanya fokus pada hasil akhir, tapi juga proses belajar, keaktifan siswa, dan suasana belajar yang menyenangkan. Evaluasi menggunakan metode penilaian harian, observasi kelas, dan pemantauan kemampuan membaca dan hafalan Al-Qur'an. Penilaian harian fokus pada aspek teknis seperti makharijul huruf, tajwid dasar, dan kelancaran membaca. Observasi kelas membantu guru menilai keaktifan siswa dan efektivitas media belajar. Tujuan daripada evaluasi ini sebagai upaya untuk memastikan serangkaian kegiatan mengajar berjalan dengan tepat sesuai dengan rencana yang sudah disusun dan mencapai target secara optimal.</p>
      <p id="_paragraph-39">Guru BTQ membuat rencana belajar yang tidak hanya fokus pada teknik membaca Al-Qur'an seperti makharijul huruf, tajwid, dan kelancaran bacaan, tapi juga menambahkan kegiatan interaktif seperti bernyanyi, bercerita, permainan edukatif, dan menggunakan media visual. Ini membuat suasana belajar lebih seru dan memudahkan siswa memahami materi. Rencana ini disusun dengan fleksibel untuk mengakomodasi perbedaan karakter siswa di setiap kelas. Guru juga menggunakan media kreatif seperti kartu huruf, audio murattal, video edukatif, dan alat peraga untuk memancing imajinasi siswa. Sekolah mendukung dengan menyediakan ruang yang nyaman dan perangkat audio-visual. Rencana ini dibuat dengan mempertimbangkan aspek pedagogis, psikologis, dan teknis agar pembelajaran Al-Qur'an lebih optimal dan menyenangkan. Sekolah juga menyediakan dukungan administratif dan fasilitas yang dibutuhkan, meskipun beberapa sarana masih perlu ditingkatkan.</p>
      <p id="_paragraph-40">Dengan demikian, pembelajaran Al-Qur'an dapat berlangsung lebih efektif dan menyenangkan dengan pendekatan fun learning.  Orang tua menganggap proses evaluasi sekolah cukup berhasil karena terlihat peningkatan pada kemampuan anak dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an dan anak-anak menjadi lebih antusias dan percaya diri saat memplajar Al-Qur’an. Namu, orang tua juga mengharapkan komunikasi yang lebih baik terhadap pihak sekolah terutama pada laporan penilaian. Para orang tua juga menganggap pentingnya komunikasi yang lebih intensif sangat diperlukan agar orang tua dapat memberikan pendampingan yang sesuai dengan pendekatan fun learning yang diterapkan di sekolah. Oleh karena itu, evaluasi pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning di SD Muhammadiyah 2 Krian tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mengukur hasil belajar, tetapi juga sebagai mekanisme untuk pengendalian dan perbaikan secara terus-menerus. Evaluasi ini juga menjadi sarana bagi guru dan pengelola sekolah untuk merefleksikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran, sekaligus memastikan bahwa metode fun learning tetap efektif, terarah, dan mampu meningkatkan minat siswa terhadap Al-Qur’an.</p>
      <p id="paragraph-5da9f468dc23ac3661f433f87cdb4cee">B. <bold id="_bold-27">Faktor Pendudkung dan Penghambat Pembelajaran Al-Quran </bold><bold id="_bold-28">Dengan pendekatan</bold> <bold id="_bold-29">Fun Learning</bold> </p>
      <p id="_paragraph-41">Pelaksanaan program pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning di SD Muhammadiyah 2 Krian didukung oleh berbagai faktor yang memperkuat keberhasilannya. Salah satu faktor pendukung utama adalah komitmen sekolah dalam menyediakan lingkungan belajar yang kondusif serta dukungan dari pimpinan yang memberikan ruang bagi guru untuk berinovasi. Dukungan dari orang tua juga menjadi elemen penting karena mereka berperan dalam mendampingi anak mengulang hafalan dan bacaan di rumah, sehingga pembelajaran tidak berhenti hanya di sekolah. Anak-anak sangat antusias ketika metode yang diterapkan guru yang sangat interaktif dapat melaksanakaan kegaita pembelajaran secara optimal. Peserta didik yang merasa senang dan nyaman lebih cepat memahami materi ketika kegaitan belajar mengajar dikemas dalam bentuk pembelajaran yang inovatif seperti permainan, lagu, ataupun cerita yang menarik.</p>
      <p id="_paragraph-42">Kemampuan dan keterampilan guru BTQ merupakan faktor utama yang mendukung keberhasilan pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan fun learning. Guru tidak hanya harus menguasai materi Al-Qur’an secara mendalam, tetapi juga mampu menghasilkan media pembelajaran yang simpel dan sesuai dengan karakter siswa Sekolah Dasar. Kemampuan guru dalam memadukan berbagai metode, seperti penggunaan alat peraga, permainan edukatif, serta media audio-visual, menjadikan proses pembelajaran lebih menarik dan relevan dengan kondisi siswa. Selain itu, hubungan which hangat dan komunikatif antara guru dan siswa turut membantu menciptakan suasana kelas yang positif, membuat siswa merasa nyaman, termotivasi, dan lebih percaya diri dalam berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar.</p>
      <p id="_paragraph-43">Dalam hal ini juga penerapan pembelajaran dengan pendekatan fun learning dalaml baca tulis Al-Qur’an tidak lepas dari resistensi yang dapat mempengaruhi kualitas pembelarajan. Salah satu hambatan utama adalah keberagaman kemampuan siswa dalam membaca dan memahami Al-Qur’an. Perbedaan tingkat daya serap dan konsentrasi sering kali memaksa guru untuk menyesuaikan strategi pengajaran secara berbeda-beda di dalam satu kelas. Hal ini menuntut guru untuk merancang kegiatan yang fleksibel namun tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran. Di sisi lain, pelaksana pembelajaran belum sepenuhnya berjalan seragam karena masih terdapat perbedaaan sudut pandang dikalangan guru BTQ dalam menetukan strategi pembelajaran yang dianggap paling sesuai. Beberapa guru cennderung mempertahankan pola pembelajaran konvension yang telah lama digunakan, sehingga penerapan pmebelajaran dengan pendekatan fun learning memerelukan proses penyesuaian yang tidak instan dan menuntut kesiapan yang lebih.</p>
      <p id="_paragraph-44">Keterbatasan durasi pembelajaran juga turut menjadi menjadi kendala, jam pelajaran BTQ yang relatif singkat membuat guru harus menyesuaikan kegiatan interaktif agar tetap efektif tanpa mengurangi materi pembelajaran inti. Namun, pembelajaran dengan pendekatan fun learning ini juga membutuhkan waktu lebih banyak sering kali tidak dapat diterapkan secara maksimal pada setiap pertemuan. Selain itu, hambatan lain yang muncul adalah kurangnya pelatihan resmi mengenai pembelajaran dengan pendekatan fun learning dan penggunaan media digital. Guru harus berupaya keras menciptakan inovasi pembelajaran secara mandiri karena kurangnya pendampingan yang memadai, sehingga hasil inovasi tersebut belum optimal. Keterbatasan fasilitas belajar yang belum tersebar secara merata di semua kelas juga menjadi penghambat dalam implementasi kegiatan. Meskipun sekolah telah menyediakan fasilitas dasar, beberapa media pendukung penting untuk pembelajaran interaktif masih belum lengkap tersedia. Kondisi ini menyulitkan guru dalam menerapkan strategi pembelajaran tertentu yang memerlukan alat bantu khusus agar proses pembelajaran dengan pendekatan fun learning dapat berjalan secara efektif.</p>
      <p id="_paragraph-45">Faktor utama yang berkontribusi terhadap keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan Fun Learning adalah keseriusan manajemen sekolah dalam upaya peningkatan kualitas BTQ. Keseriusan tersebut menjadi dasar dalam merancang rencana pembelajaran yang sistematis, mulai dari penetapan tujuan, pengelolaan alokasi waktu, serta penyediaan fasilitas sarana dan prasarana yang menunjang pemblajaran. Disampng itu, kompetensi pedagogik dan kreativitas guru BTQ turut berperan penting, khususunya dalam merancang berbagai aktivitas seperti bercerita, bernyanyi, permainan edukatif, dan penggunaan media visual. Kemampuan guru dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bersahabat dengan anak-anak menjadi faktor penentu dalam menghadirkan program pembelajaran yang menarik dan mampu meningkatkan minat belajar anak. Dukungan dari orang tua juga memberikan pengaruh positif, karena mereka merespons secara mendukung terhadap metode fun learning dan turut mendorong pengembangan pendekatan ini agar dapat terus berlangsung.</p>
      <p id="_paragraph-46">Dukungan psikologis dan moral dari orang tua membantu sekolah merancang kegiatan yang konsisten dengan kebutuhan siswa. Keempat, Ketersediaan media dan sarana pembelajaran sekolah menyediakan alat peraga, ruang belajar yang nyaman, serta media pembelajaran yang membantu perencanaan metode interaktif. Ketersediaan fasilitas ini mempermudah guru merancang kegiatan yang lebih variatif. Dan terakhir, karakteristik Siswa SD yang Sesuai dengan fun learning Anak usia sekolah dasar cenderung menyukai aktivitas bermain, gerak, dan suasana belajar yang tidak monoton. Hal ini menjadi dasar kuat bagi guru saat menyusun rencana fun learning yang sesuai dengan perkembangan kognitif dan emosional siswa.</p>
      <p id="_paragraph-47">Faktor penghambat dalam pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan Fun Learning Keragaman kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an, tingkat konsentrasi, serta tempo belajar sering kali membuat guru harus merancang perencanaan yang jauh lebih fleksibel. Variasi kemampuan ini menimbulkan tantangan tersendiri karena rencana pembelajaran yang disusun tidak selalu bisa diterapkan secara seragam kepada seluruh kelas. Selain hal itu, diatara pebedaan diantra guru BTQ terhadap pandangan masing-masing dapat mempengaruhi jalannya perencaan pembelajaran. Dan juga pada perbedaan pengelaman dalam motode mengarjarnya yang ditentukan mengakibatkan ketidaksamaan dalam stratei yang di lakukannya. Karena dari beberapa guru masih menggunakaan pendekatan model tradisional dalam kegiatan mengajar, sehingga ketika beralih pada pembelajaran fun learning membutuhkan ruang diskuti yang lebih berkelanjutan.</p>
      <p id="_paragraph-48">Dari segi waktu yang diterapkan juga menjadi hambatan dalam prosesnya. Keterbatasan jam pelajaran BTQ mengharuskan guru menyesuaikan rencana pembelajaran yang bersifat interaktif agar tetap sesuai dengan durasi yang tersedia. Karena metode fun learning cenderung membutuhkan waktu lebih banyak, guru harus lebih selektif dalam menentukan kegiatan yang akan dimasukkan ke dalam setiap pertemuan.Di sisi lain, kebutuhan pelatihan guru juga belum sepenuhnya terpenuhi. Meskipun guru-guru memiliki kreativitas yang baik, pelatihan formal mengenai pendekatan fun learning, pemanfaatan media digital, maupun pembelajaran dengan pendekatan neurosains masih sangat terbatas. Pada kondisi ini memaksa guru untuk membuat rencana pembelajaran secara mandiri. Faktor lainnya yang memberikan pengaruh yaitu ketidak merataan ketersediaan sarpras untuk belajar disetiap kelas kurasng maksimal. Kondisi ini menyebabkan beberapa ide pembelajaran tidak dapat diimplementasikan secara maksimal.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-4e5377dca0f412e0fecdd61ae6c88854">
      <title>Simpulan </title>
      <p id="_paragraph-50">Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen pembelajaran Al-Qur’an dengan pendekatan Fun Learning di SD Muhammadiyah 2 Krian telah berhasil mewujudkan fungsi Perencanaan dan Pelaksanaan melalui perumusan tujuan holistik dan penerapan teknik interaktif yang sukses meningkatkan motivasi siswa. Actuating yang berhasil ditopang oleh profesionalisme dan kreativitas guru, serta dukungan positif dari orang tua. Namun, ditemukan dua kelemahan manajerial krusial yang harus segera diatasi untuk menjamin keberlanjutan dan konsistensi program: pertama, Kelemahan Organizing, yang ditandai oleh kurangnya standardisasi metode di antara guru, menimbulkan inkonsistensi praktik Fun Learning di kelas dan kedua, Kelemahan Controlling, yang ditunjukkan oleh minimnya sinkronisasi komunikasi dengan orang tua mengenai teknik pembelajaran yang harus diterapkan di rumah, sehingga menghambat konsistensi hafalan harian. Faktor penghambat seperti keragaman siswa dan keterbatasan waktu juga menuntut penguatan fungsi Planning melalui diferensiasi dan Organizing melalui digitalisasi.</p>
      <p id="_paragraph-51">Manajemen disarankan untuk melaksanakan pelatihan intensif yang berfokus pada pedagogi Fun Learning dan neurosains, memastikan bahwa semua guru memiliki pemahaman dan praktik yang seragam. Penguatan ini harus diikuti dengan penetapan Standar Operasional Prosedur (SOP) Fun Learning wajib yang mengatur variasi kegiatan interaktif, diikuti dengan Supervisi Kolegial rutin untuk memastikan penyelarasan praktik mengajar, sehingga mengatasi perbedaan pandangan guru. Guna memperkuat sinergi antara pihak sekolah dan keluarga, SD Muhammadiyah 2 Krian perlu mengadopsi sistem manajemen informasi dengan pendekatan digital, seperti pemanfaatan media jurnal mengajar harian maupun media komunikasi terpadu lainnya. Melalui sarana digital tersebut, sekolah dapat menyajikan laporan harian secara terbuka terkait pelaksanaan metode fun learning, pencapaian target hafalan peserta didik, serta berbagai catatan edukatif pendukung lainnya yang sesuai dengan kemmepaun peserta didik. Keberadaan fitur umpan balik dalam sistem ini menjadi sarana penting bagi orang tua untuk memberikan pendampingan belajar yang sejalan dengan metode dan kurikulum sekolah ketika siswa berada di lingkungan rumah. Hal ini akan menyinkronkan Actuating dan memperkuat disiplin harian. Mengingat keterbatasan waktu dan keragaman kemampuan siswa, fungsi Planning harus dimodifikasi untuk mengintegrasikan diferensiasi secara formal. RPP harus dirancang dengan sistem pengelompokan berjenjang (berdasarkan kecepatan belajar) dan memanfaatkan blended learning, di mana materi pengulangan dipindahkan ke media digital asinkron.1 Penggunaan media digital akan mengoptimalkan waktu di kelas untuk interaksi langsung Fun Learning dan memitigasi keterbatasan sarana fisik yang belum merata.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
