<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Visionary Leadership Grounded in Islamic Values and Digital Innovation in Islamic Educational Institutions</article-title>
        <subtitle>Kepemimpinan Visioner Berbasis Nilai-nilai Islam dan Inovasi Digital di Lembaga Pendidikan Islam</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Sjah</surname>
            <given-names>Novy Real Vyanti</given-names>
          </name>
          <email>Novy4695@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Rahmawati</surname>
            <given-names>Imelda Dian</given-names>
          </name>
          <email>imeldadian@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2026-01-14">
          <day>14</day>
          <month>01</month>
          <year>2026</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>02</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-04366dff1a4b104814f0fa709ddb4c72">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-15"> Transformasi mutu pada Lembaga Pendidikan Islam (LPI) saat ini menempatkan kepemimpinan sebagai elemen sentral yang mendapat perhatian khusus. Institusi pendidikan dewasa ini berhadapan dengan berbagai tantangan yang multidimensi: dinamika perubahan sosial berlangsung begitu cepat, standar kualitas terus mengalami peningkatan, ditambah urgensi menghadirkan proses pembelajaran yang memadukan nilai-nilai keislaman sekaligus menjawab kebutuhan perkembangan era kontemporer. Menghadapi situasi demikian, sosok pemimpin dengan visi jauh ke depan bukan semata-mata penting, melainkan telah menjadi pilar fundamental yang menopang keberlangsungan dan pembaharuan institusi. </p>
      <p id="_paragraph-16"> Kitab suci Al-Qur'an menyebutkan nilai-nilai fundamental kepemimpinan dalam pendidikan Islam yang wajib dimiliki seorang pemimpin, mencakup sifat amanah, integritas, tanggung jawab, keimanan, visi, kebijaksanaan, keteladanan serta kapasitas komunikasi sosial. Hal tersebut menjadi basis moral dan etika yang mengarahkan pemimpin ketika melaksanakan tugas secara adil dan profesional, sekaligus menguatkan posisinya sebagai sosok yang sanggup membentuk karakter peserta didik dengan suasana pembelajaran yang berakhlaq mulia  sesuai pedoman hidup umat Islam.  Berdasarkan Alqur”an didalam Surah Al-Ahzab ayat 21 yang berbunyi: </p>
      <p id="_paragraph-17">وَلَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِی رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ یَرْجُونَ اللَّهَ وَالْیَوْمَ الْآخِرَ وَذَکَرَ اللَّهَ کَثِیرًا</p>
      <p id="_paragraph-18">"Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat teladan yang baik bagi kamu, yakni bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah."[1] Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama, sosok yang berakhlak mulia yang sepatutnya diikuti oleh umat manusia dalam menjalankan prinsip-prinsip Islam, termasuk dalam kepemimpinan Pendidikan. </p>
      <p id="_paragraph-19">Konsep kepemimpinan visioner untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan Islam dapat diinterpretasikan sebagai kapasitas membangun orientasi masa depan. Burt Nanus menggambarkan pemimpin visioner sebagai sosok yang mampu mengarahkan lembaga kemasa depan yang cemerlang dengan tujuan yang lebih baik dan realistis. Visi menurutnya adalah alat strategis yang memungkinkan organisasi bergerak dengan terarah dan penuh keyakinan.[2] Sejalan dengan pandangan ini, pemikiran Warrensb juga menekankan bahwa kepemimpinan visioner mampu memberikan orientasi dan makna bagi seluruh aktivitas lembaga. Pemimpin memberikan arah yang tidak hanya terlihat secara administratif, tetapi juga terasa dalam budaya kerja sehari-hari [3] bergantung pada sejauh mana visi itu dapat menjadi milik bersama seluruh anggota lembaga. Dalam konteks lembaga pendidikan Islam, pendekatan ini menuntut pemimpin untuk mengajak guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan masyarakat bergerak dalam pemahaman yang sama mengenai tujuan pendidikan Islam menjelaskan bahwa salah satu pola kepemimpinan yang relevan adalah kepemimpinan berbasis visi. Pemimpin visionary merupakan individu yang telah mencapai keberhasilan pribadi dan selalu bersikap proaktif. Mereka memulai langkah dengan gambaran tujuan akhir dalam pikiran dan mampu memusatkan perhatian pada prioritas utama. Selain itu, pemimpin seperti ini berkomitmen untuk terus melakukan pembaruan diri demi meningkatkan kemampuan dan wawasan mereka secara berkelanjutan[4] Dalam bidang pendidikan Islam, kepemimpinan visioner sangat penting karena tidak hanya bertanggung jawab terhadap administrasi, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai keislaman dalam proses pendidikan sekaligus membimbing lembaga ke arah peningkatan kualitas secara berkelanjutan. [5] </p>
      <p id="_paragraph-20">Kepemimpinan bertujuan menggerakkan seluruh anggota organisasi seperti guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya menuju cita-cita bersama dengan suasana emosional yang positif dan efektif.  [6] Atas dasar tersebut, peneliti tertarik mengkaji tentang kepemimpinan visioner dalam pandangan pendidikan berbasis Islam. Gaya kepemimpinan yang bersifat visioner sangat menitikberatkan pada masa depan, dengan keunggulannya dalam merancang program pendidikan yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga mampu memotivasi seluruh elemen organisasi agar bekerja secara kolaboratif didalam pelaksanaan program-programnya. [7]].  Kepemimpinan yang  visioner bukan hanya mencapai tujuan secara akademis, namun yang lebih dipentingkan adanya kerjasama yang efektif dalam pelaksanaan program kerja dari berbagai pihak, yakni orang tua, stakeholder, siswa dan guru. [8]Meskipun banyak penelitian telah membahas kepemimpinan visioner di lembaga pendidikan, masih terdapat kekurangan dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman secara mendalam pada konteks lembaga pendidikan Islam hal imi lebih menekankan pada kinerja guru, sarana/prasarana, dan prestasi siswa pada aspek pengembangan karakter. [9]]. Adapun dalam penelitian tersebut nilai-nilai Islami kurang dieksplorasi, sehingga dimensi religius dan penerapan kepemimpinan visioner pada kemaknaan lembaga pendidikan Islam belum tergarap secara menyeluruh. Penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut dengan menegaskan bahwa nilai tauhid, amanah, keadilan, musyawarah, dan istiqamah merupakan fondasi moral pembentuk karakter pemimpin visioner dalam pendidikan Islam. </p>
      <p id="_paragraph-21">Selain itu, penelitian ini juga menambahkan nilai lebih melalui pengembangan pendekatan inovasi digital yang berorientasi pada masa depan dan berkelanjutan yang adaptif terhadap transformasi teknologi dengan nilai-nilai Islami. Dan motivasi bersama. [10]]penelitian ini mengelaborasi lebih jauh dengan menambahkan dimensi spiritual sebagai faktor pembeda utama kepemimpinan Islam. Di dalam buku Leadership in Organizations, menekankan pentingnya melakukan analisis SWOT sebagai langkah awal bagi pemimpin dalam memahami kondisi internal dan eksternal organisasi sebelum merumuskan strategi kepemimpinan yang tepat[11] Pengambilan keputusan strategis dalam kepemimpinan pendidikan berbasis Islam perlu melibatkan kombinasi antara pendekatan rasional yang fokus pada efisiensi dan efektivitas, serta aspek spiritual yang menanamkan tanggung jawab moral dan etik kepada pemimpin. Peneliti menegaskan bahwa visi kepemimpinan dalam lembaga pendidikan Islam tidak sekadar menitikberatkan pada keberhasilan internal institusi, tetapi juga menargetkan sumbangan nyata terhadap masyarakat dan peradaban global melalui penggunaan teknologi yang berdimensi nilai-nilai Islam dan norma sosial. </p>
      <p id="_paragraph-22">Pemimpin visioner harus memahami alasan utama mengapa lembaga ada, atau yang ia sebut sebagai "Why". Bagi lembaga pendidikan Islam, "Why" ini adalah nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar setiap langkah. Ketika lembaga beroperasi berdasarkan alasan yang jelas dan bermakna, maka setiap aktivitas pendidikan berjalan lebih terarah dan memiliki kontribusi yang nyata,[12] Oleh karenanya implementasi dari nilai-nilai Islam dan norma yang berlaku tersebut menjadi fondasi dalam peningkatan mutu layanan pendidikan, pengembangan kompetensi peserta didik, serta pembentukan karakter yang berlandaskan spiritualitas dan etika keislaman yang menyeluruh. Berdasarkan latar belakang tersebut, akhirnya peneliti fokus menganalis tentang beberapa konsep rumusan masalah sebagai berikut:  (1) Bagaimana karakteristik kepemimpinan visioner dalam lembaga pendidikan Islam? dan (2) Bagaimana Implementasi nilai-nilai Islam membantu  kepemimpinan visioner di era digital? serta (3) Apa saja tantangan dan peran kepemimpinan visioner berbasis nilai-nilai Islam dan inovasi digital di lembaga pendidikan Islam? </p>
    </sec>
    <sec id="heading-caf32925eb1727c77a2f861c85fe9d06">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-24">Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pada studi pustaka (library research) yakni dengan membaca, menelaah dan mengkaji  buku-buku  dan  sumber  tulisan  yang erat  kaitannya  dengan  masalah  yang  dibahas, [13]dijelaskan metode ini secara konseptual mengandalkan buku ilmiah,laporan data, hasil kajian terdahulu, teori, artikel jurnal, serta dokumen akademik lainnya. Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan   teknik   dokumentasi   yaitu   mengadakan survey bahan kepustakaan untuk mengumpulkan bahan-bahan dan  studi  literatur yakni   mempelajari   bahan-bahan   yang   berkaitan dengan objek penelitian, teknik pengumpulan data. Selain itu untuk mempermudah proses ini, peneliti menggunakan Open Knowledge Maps  sebagai alat uji yang efektif.  Dengan memasukkan kata kunci terkait topik penelitian, peneliti mendapatkan penampilan peta visual yang mengelompokkan artikel dan publikasi berdasarkan kesamaan topik.  Ini memudahkan peneliti untuk melihat berbagai subtopik yang terkait dan memilih dari   berbagai artikel yang relevan.  Dengan visualisasi yang interaktif, dapat tanpa harus membaca satu per satu, sehingga meningkatkan efisiensi dalam proses pengumpulan data, kemudian di dokumentasi.   Hal ini dikatakan  [14]  bahwa penelitian kepustakaan ini mengumpulkan dan menganalisis literatur yang relevan untuk memahami topik tertentu dan merupakan  langkah  yang  paling  strategis  dalam penelitian   karena   tujuan   utama dari   penelitian adalah  teknik  dalam  mengumpulkan  data.   Dalam hal ini  [15]  bahwa  data yang dikumpulkan langsung dari pustaka-pustaka seperti dalam penelitian ini buku-buku yang relevan serta tinjauan kritis kajian terhadap peran kepemimpinan visioner dalam pengembangan lembaga pendidikan islam adalah data primer, adapun data  sekunder  adalah yang didapatkan dari   jurnal-jurnal   baik   nasional   maupun   internasional. Dalam penelitian ini menggunakan kata kunci  untuk menggali konsep kepemimpinan visioner berbasis nilai-nilai Islam dan inovasi digital. Peneliti  mengumpulkan  semua artikel-artikel ilmiah dari tahun 2020-2025, kemudian menyortir beberapa jurnal  penting yang menjadi sumber data utama  dalam menganalisis literatur yang relevan untuk memahami topik terkait kepemimpinan visioner di Lembaga Pendidikan Islam. Dalam hal ini [16] peneliti berperan sebagai instrumen utama dalam pengumpulan sekaligus penafsiran data. Peneliti menentukan fokus, membaca secara mendalam, menyortir tema-tema relevan, menemukan pola, serta menyintesiskan gagasan untuk membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kepemimpinan visioner berbasis nilai-nilai keislaman. Cerita [17] tentang transformasi budaya organisasi turut menjadi rujukan penting. Pengalamannya menunjukkan bahwa visi tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi harus diterjemahkan ke dalam lingkungan kerja yang mendorong pembelajaran berkelanjutan, keterbukaan, dan inovasi. Perspektif ini memperkaya cara peneliti melihat karakter kepemimpinan visioner dalam konteks era digital.  Pengumpulan data dalam studi pustaka dilakukan melalui beberapa tahap sebagai berikut: </p>
      <p id="_paragraph-25">1.Menelusuri literatur secara sistematis pada perpustakaan, database ilmiah, dan sumber elektronik terpercaya seperti alat visual yang memetakan artikel ilmiah berdasarkan topik yakni ‘Open Knowledge Maps’, portal jurnal Nasional seperti SINTA (Science dan Technology Index) juga ‘google Scholar’.</p>
      <p id="_paragraph-26">2.Menggunakan kata kunci yang relevan sesuai dengan konteks penelitian, yakni, kepemimpinan visioner, pendidikan islam, nilai-nilai keislaman, inovasi digital. </p>
      <p id="_paragraph-27">3.Membaca literatur secara menyeluruh untuk memahami konteks, argumen, dan temuan temuannya. </p>
      <p id="_paragraph-28">4.Melakukan penelaahan kritis untuk mengidentifikasi teori inti, konsep pokok, serta  kesenjangan penelitian. </p>
      <p id="_paragraph-29">5.Mengelompokkan dan menyortir tema-tema utama, seperti visi, inovasi, mutu lembaga pendidikan Islam, serta nilai-nilai keislaman. </p>
      <p id="_paragraph-30">6.Melakukan sintesis dan integrasi teori, yaitu mengharmonisasikan gagasan para tokoh  kepemimpinan visioner sesuai fokus penelitian. </p>
      <p id="_paragraph-31">Seluruh proses itu disusun untuk menghasilkan pemahaman yang mendalam tentang konsep, prinsip,dan implikasi kepemimpinan visioner bagi peningkatan kualitas Lembaga Pendidikan Islam. </p>
    </sec>
    <sec id="heading-9cd24888840a5ff0f86b1e94b6fbe0fb">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-33">
        <bold id="bold-99c1a456033c905f10687a0f1a8f3f82">A.  KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN VISIONER DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-34">Seorang pemimpin visioner adalah individu yang mampu melihat masa depan secara jelas, mampu memotivasi dan menginspirasi anggotanya untuk melaksanakan program dan visi secara positif. Karakteristik tersebut mencakup kemampuan mengantisipasi tantangan di masa depan, keberanian mengambil risiko, inovatif dalam merumuskan visi, dan mampu membangun kolaborasi yang efektif.  Institusi pendidikan, pemimpin visioner harus memiliki visi yang inspiratif dan mampu menyampaikan visi tersebut secara jelas kepada seluruh stakeholder. Nilai keislaman yang dimasukkan dalam karakteristik ini meliputi integritas, keikhlasan, dan keteladanan yang mencerminkan prinsip-prinsip syariah  [18] Memperluas konsep kepemimpinan visioner dalam konteks lembaga pendidikan Islam melalui pendekatan ‘learning organization’ dan ‘shared vision.’ Ia menekankan visi hanya efektif jika seluruh anggota lembaga dapat memahami, mengadopsi, dan berkontribusi dalam pencapaiannya.    Berdasarkan hal ini ke [19] yang menuntut pemimpin untuk menciptakan budaya kolaboratif, membangun tim yang mampu belajar bersama, dan menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya mutu pendidikan. Pemimpin dengan visi luas dalam lembaga pendidikan Islam harus menunjukkan sejumlah ciri khas yang mendukung keberhasilannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan unggul secara akademik dengan  berkarakter islami sebagai berikut: </p>
      <p id="_paragraph-35">1.Kemampuan menggambarkan dan mengartikulasikan visi yang memotivasi seorang pemimpin  visioner harus mampu menyiapkan gambaran masa depan yang mampu menginspirasi seluruh  anggota organisasi. Visi ini harus fokus pada keberhasilan akademik dan dijalankan secara  moral dan spiritual oleh peserta didik, sesuai ajaran agama yang benar dan baik.  Dengan  kemampuan ini, pemimpin dapat membangun komitmen kolektif yang didasarkan pada  nilai-nilai Islami yang mendalam. </p>
      <p id="_paragraph-36">2.Kreativitas dalam menghadirkan inovasi; pembelajaran karakter ini menunjukkan bahwa  seorang pemimpin harus mampu memunculkan ide-ide baru dan menerapkannya dalam  pengembangan metode pengajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Penerapan  teknologi digital dan platform e-learning berbasis syariah adalah contoh konkret dari inovasi  yang dapat memperkaya pengalaman belajar dan memastikan relevansi kurikulum. </p>
      <p id="_paragraph-37">3.Menjadi teladan melalui integritas dan moralitas yang kokoh pengaruh kepemimpinan juga  sangat bergantung pada tingkat integritas dan keteladanan moral yang ditunjukkan. Pemimpin  harus menjadi contoh nyata dari perilaku jujur, amanah, adil, dan mengedepankan keikhlasan.  Perilaku ini akan menanamkan kepercayaan dan menciptakan suasana kondusif yang  mendukung proses pembelajaran dan pengembangan karakter. </p>
      <p id="_paragraph-38">4.Kemampuan menjalin kerjasama dan jaringan yang luas dalam era digital dan global,  kemampuan membangun kemitraan strategis menjadi faktor penting. Pemimpin harus mampu  berkolaborasi dengan baik secara internal dan eksternal kesemua pihak, agar mempermudah  peluang inovasi peningkatan mutu lembaga. Melakukan kerjasama ke lembaga dalam dan luar  negeri yang memiliki visi serupa maupun memanfaatkan sumber daya dari jejaring global. </p>
      <p id="_paragraph-39">5.Pemanfaatan data dan teknologi dalam pengambilan keputusan pengambilan keputusan  berbasis data merupakan keharusan bagi pemimpin visioner. Melalui sistem informasi yang  canggih dan analisis data yang akurat, pemimpin dapat menilai perkembangan lembaga secara  menyeluruh, serta merancang strategi ke depan yang berbasis fakta dan kebutuhan nyata.  Pendekatan ini memastikan efektivitas rencana aksi yang diambil. </p>
      <p id="_paragraph-40">6.Keberanian mengambil resiko dan mendorong  perubahan karakter keberanian dalam  mengambil risiko yang terukur dan keputusan berani untuk memperkenalkan inovasi teknologi  menjadi ciri khas pemimpin visioner. Dalam menghadapi tantangan perubahan sosial dan teknologi, mereka tidak segan untuk melakukan inovasi dan menimbulkan dampak positif bagi  lembaga dan lingkungan sekitarnya. </p>
      <p id="_paragraph-41">Sejalan dengan itu Nanus [2] juga menjelaskan terdapat empat kemampuan penting yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin visioner: 1) Komunikasi efektif (panduan, dorongan, dan motivasi)  yakni, pemimpin visioner harus menyampaikan visi dengan jelas kepada seluruh lapisan organisasi. Tujuannya adalah agar visi tersebut bukan hanya dipahami, tetapi juga dijadikan sumber motivasi, dorongan, dan panduan bagi staf dan manajer. 2) Kepedulian terhadap lingkungan eksternal dimana seorang pemimpin visioner harus menyadari kondisi eksternal organisasi, baik ancaman maupun peluang. Selain itu, mereka mampu menjalin hubungan yang efektif dengan pihak luar seperti investor atau pelanggan penting.  3) Kontribusi terhadap praktik organisasi, pemimpin visioner secara aktif menciptakan dan menjaga kualitas operasional organisasi, baik melalui prosedur, produk, maupun layanan. Mereka berperan dalam peningkatan kualitas yang mendukung terwujudnya visi. 4)  Pemikiran futuristik dan imajinatif.  Pemimpin visioner mampu memadukan data saat ini dengan imajinasi dan wawasan strategis, sehingga dapat merancang langkah-langkah proaktif untuk mengantisipasi tuntutan masa depan dan menyiapkan sumber daya lembaga agar responsif terhadap perubahan.  Seorang pemimpin visioner harus mampu melihat masa depan, menginspirasi, dan membangun kolaborasi dengan nilai keislaman seperti integritas dan keikhlasan. Mereka juga harus mampu berkomunikasi efektif, memahami lingkungan eksternal, meningkatkan kualitas organisasi, dan memiliki wawasan futuristik, dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan kompetensi digital, pemimpin visioner mampu memfasilitasi lingkungan belajar yang inovatif, bermoral, dan adaptif terhadap perkembangan zaman [20] </p>
      <p id="_paragraph-42">
        <bold id="bold-dff1ac09df63a702315377ac92bcc2a8">B.   IMPLEMENTASI NILAI-NILAI ISLAM DALAM KEPEMIMPINAN VISIONER </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-43"> Dalam model kepemimpinan berorientasi masa depan, aspek utama yang menjadi fondasi adalah penerapan nilai-nilai keislaman. Pemimpin harus memahami bahwa seluruh arah gerak organisasi pendidikan harus bersumber dari nilai-nilai ilahiah.  Nilai-nilai keislaman merupakan unsur utama yang melekat dalam kerangka kepemimpinan yang berorientasi ke depan.  Prinsip keislaman meliputi keadilan, keikhlasan, kejujuran, dan tanggung jawab, yang harus diaplikasikan oleh seorang pemimpin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Dalam lingkungan sekolah, seorang pemimpin visioner melibatkan orang tua, stakeholder, guru, tenaga kependidikan, peserta didik dan masyarakat dalam melaksanakan program pendidikan, saling bersinergi melakukan inovasi untuk meningkatkan mutu pendidikan, selain itu juga secara terus menerus beradaptasi secara positif terhadap perubahan sebagaimana hasil dari penelitian . [21]  Selain itu keberhasilan lembaga pendidikan dalam melakukan monitoring dan evaluasi menjadi fokus dalam peningkatan mutu pendidikan berkelanjutan (‘continuous improvement’). Demikian juga dalam hal disiplin, tanggung jawab, integritas dan kebersamaan menjadi landasan kuat untuk menciptakan suasana yang kondusif.  Suasana belajar harus harmonis, inklusif, penuh dengan keteladanan menjadi indikator keberhasilan dari kepemimpinan visioner tersebut, demikian  berdasarkan  [22]  Dan dijelaskan juga bahwa model kepemimpinan yang berorientasi pada visi dan menitikberatkan prinsip-prinsip tersebut dapat menciptakan suasana belajar yang harmonis dan penuh keteladanan keislaman.  Sementara itu [23] bahwa langkah-langkah dasar dan karakteristik kepemimpinan visioner adalah proses kepemimpinan yang berorientasi pada masa depan, dengan landasan kuat pada nilai-nilai keislaman dan semangat perubahan positif.  Proses ini tidak hanya menuntut visi strategis, tetapi juga kepekaan spiritual dan sosial untuk menginternalisasi nilai-nilai tauhid, amanah, keadilan, serta musyawarah dalam setiap langkah kebijakan. Dengan demikian sebagai role mode dalam mengintegrasikan nilai-nilai moral dan inovasi digital, [2] melalui cara berikut:</p>
      <p id="_paragraph-44">1.Langkah pertama adalah memiliki visi yang jelas dan  kuat.  Visi ini harus lebih dari sekadar tujuan bisnis, melainkan sebuah cita-cita besar  yang berakar pada nilai-nilai Islam. Visi ini harus mampu membangkitkan semangat  dan  menginspirasi semua pihak yang terlibat.   Visi yang fokus pada akademik dan moral secara holistik.  Kemudian dapat merealisasikan visi besar tersebut menjadi misi-misi yang lebih spesifik dan terukur. Misalnya 'mencetak generasi Qur'ani yang berakhlak mulia atau mengintegrasikan kurikulum nasional dengan pendidikan agama yang mendalam. </p>
      <p id="_paragraph-45">2 Langkah kedua adalah mengalisis situasi dan kebutuhan dengan melakukan penelaahan terhadap kondisi internal dan eksternal lembaga. Analisis ini membantu pemimpin memahami posisi aktual lembaga, sekaligus menentukan arah pengembangan    yang lebih tepat. Pendekatan SWOT digunakan untuk memetakan empat aspek utama yang    mempengaruhi dinamika lembaga.  a)  Kekuatan (Strengths). Bagian ini memuat berbagai potensi yang telah dimiliki lembaga, seperti kualitas sumber daya manusia yang ada, kurikulum yang unggul, atau ketersediaan sarana dan prasana yang mendukung pembelajaran. Kekuatan tersebut menjadi modal dasar   untuk melangkah lebih jauh.   b)   Kelemahan (Weaknesses). Identifikasi terhadap kelemahan dilakukan untuk mengetahui bagian mana yang masih membutuhkan peningkatan. Contohnya dapat berupa keterbatasan dana operasional, fasilitas yang sudah tidak memadai, atau strategi pembelajaran yang belum mengikuti   perkembangan zaman. Pemahaman atas kelemahan akan memudahkan perencanaan    perbaikan yang lebih terarah.  c)  Peluang (Opportunities). Aspek ini melihat kemungkinan positif dari faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan. Misalnya, perkembangan teknologi pendidikan, dukungan masyarakat, atau adanya program pemerintah yang sejalan dengan kebutuhan lembaga. Peluang yang tepat dapat   mendorong percepatan kemajuan.  d) Ancaman (Threats).  Ancaman adalah tantangan dari luar yang berpotensi menghambat pencapaian tujuan.  Hal ini bisa berupa kompetisi antar lembaga pendidikan, perubahan kebijakan yang  tidak menguntungkan, ataupun kondisi sosial tertentu yang mempengaruhi proses  belajar. Dengan mengantisipasi ancaman lebih awal, lembaga dapat menyiapkan  strategi mitigasi yang efektif. </p>
      <p id="_paragraph-46">3. Perencanaan Strategis (‘Roadmap’) hasil dari analisis SWOT kemudian diolah menjadi rencana strategis yang terstruktur.  Rencana ini adalah peta jalan yang akan memandu lembaga dalam mencapai visinya. </p>
      <p id="_paragraph-47">*Penyusunan tujuan jangka pendek dan panjang, dengan menetapkan tujuan yang realistis dan terukur. Misalnya, meningkatkan nilai rata-rata UN siswa sebesar 5% dalam 2 tahun atau  membangun gedung perpustakaan baru dalam 5 tahun. </p>
      <p id="_paragraph-48">*Alokasi sumber daya adalah dengan merencanakan bagaimana sumber daya (dana, SDM, dan waktu)  akan dialokasikan untuk setiap program. </p>
      <p id="_paragraph-49">*Penyusunan program aksi dengan merincikan kegiatan atau program konkret yang akan  dilakukan untuk mencapai tujuan. Contohnya, 'pelatihan guru tentang metode  pembelajaran interaktif' atau ‘kampanye penggalangan dana untuk pembangunan'. </p>
      <p id="_paragraph-50">4 Sebuah rencana strategis hanya akan memberi dampak apabila dijalankan dengan konsisten  dan melibatkan seluruh unsur lembaga.  Untuk itu dibutuhkan kepemimpinan yang mampu menggerakkan, mengarahkan, dan menginspirasi keteladanan  kepemimpinan.   Pemimpin hendaknya menjadi figur yang mencerminkan nilai-nilai utama lembaga. Integritas, komitmen, dan akhlak yang terjaga akan memberikan pengaruh kuat sekaligus  menjadi standar perilaku bagi seluruh warga lembaga. </p>
      <p id="_paragraph-51">*Penguatan budaya kolaboratif adalah membangun kultur kerja sama yang sehat antara pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, serta orang tua. Suasana yang inklusif akan menumbuhkan rasa memiliki  meningkatkan partisipasi, dan memperkuat tanggung jawab bersama terhadap kemajuan lembaga. </p>
      <p id="_paragraph-52">*Komunikasi yang terarah dan berkesinambungan. Visi, misi, dan arah strategis lembaga perlu disampaikan secara jelas, terbuka, dan berulang dengan komunikasi yang baik, setiap pihak memahami posisi, kontribusi, dan tanggung jawabnya sehingga implementasi rencana dapat berjalan selaras. </p>
      <p id="_paragraph-53">5 Monitoring dan evaluasi berkelanjutan.  Kepemimpinan visioner akan terus memantau secara aktif implementasi program dan juga menilai efektifitasnya agar dapat berjalan baik dan tetap berada di jalur yang benar. </p>
      <p id="_paragraph-54">*Pengukuran kinerja (Key Performance Indicators/KPI) dengan menentukan indikator kinerja kunci untuk setiap  program serta mengukur perkembangannya secara berkala. </p>
      <p id="_paragraph-55">*Umpan balik (feedback) dengan mengumpulkan masukan dari staf, siswa, dan orang tua serta menjadikan umpan balik sebagai bahan perbaikan. </p>
      <p id="_paragraph-56">*Fleksibilitas dan adaptasi.  Bersiaplah untuk menyesuaikan rencana jika ada perubahan kondisi. Lingkungan selalu dinamis, dan lembaga yang sukses adalah yang  mampu  beradaptasi. </p>
      <fig id="figure-panel-ecb7af2fbcd3df4e317aaba0d7931fff">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <title>Gambar1.     Model Alur Kepemimpinan Visoner dalam Lembaga Pendidikan Islam</title>
          <p id="paragraph-864621f27b823cf640f9a34b716851d2"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-22a566547e90961cb563810f3233054f" mimetype="image" mime-subtype="jpeg" xlink:href="1913-1.jpg"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-58">Lebih luas lagi strategi implementasi kepemimpinan visioner berbasis Islam. [24] adalah penguatan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai Islam. Melakukan pelatihan,  seminar, dan kegiatan budaya yang mendalam terkait nilai-nilai keislaman.  Pemimpin visioner harus  menjadi role model dan teladan dalam penerapan nilai-nilai tersebut dalam setiap aspek  pengelolaan dan pembelajaran sebagai berikut: </p>
      <p id="_paragraph-59">1.Pengembangan kompetensi digital dan teknologi, platform pembelajaran online, dan pengelolaan data berbasis syariah dan akhlak Islam. </p>
      <p id="_paragraph-60">2.Membangun. budaya Inovasi dan keterbukaan terhadap perubahan kolaborasi internasional, dan publikasi sosial terkait keunggulan lembaga. </p>
      <p id="_paragraph-61">3.Kemitraan dan kolaborasi strategis.  Menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga keislaman global, universitas, dan lembaga riset untuk memperoleh inovasi dan sumber daya serta memperluas jaringan internasional. </p>
      <p id="_paragraph-62">4.Pengelolaan sumber daya yang efisien dan berorientasi nilai Islam.  Mengoptimalkan pengelolaan dana dan sumber daya melalui prinsip syariah dan transparansi, serta inovasi penggalangan dana dan investasi berbasis etika Islam. </p>
      <p id="_paragraph-63">5.Meningkatkan kepemimpinan visioner yang partisipatif dalam memberdayakan seluruh warga lembaga melalui musyawarah, pengambilan keputusan kolektif, dan pengembangan  kepemimpinan berbasis moral dan keilmuan Islam. </p>
      <p id="_paragraph-64">
        <bold id="bold-123330402dbb053e1d463369e97b028a">C.  TANTANGAN DAN PERAN KEPEMIMPINAN VISIONER BERBASIS NILAI-NILAI ISLAM DAN INOVASI  DIGITAL DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-65">Dalam praktiknya, tantangan utama dalam memerankan fungsi sebagai pemimpin visioner adalah resistensi terhadap inovasi digital dan juga kurangnya kompetensi digital di kalangan pendidik dalam lembaga yang dipimpin, serta risiko penyimpangan dari nilai-nilai keislaman dalam menggunakan berbagai macam inovasi teknologi. Macam-macam tantangan berdasarkan [25] sebagai berikut: </p>
      <p id="_paragraph-66">1.Kurangnya pemahaman dan internalisasi nilai-nilai Islami </p>
      <p id="_paragraph-67">•Banyak pemimpin dan seluruh warga lembaga belum sepenuhnya memahami maupun menginternalisasi nilai-nilai keislaman secara mendalam dan kontekstual. Hal ini berdampak pada kurang kokohnya pondasi moral dan spiritual dalam pengambilan keputusan dan budaya organisasi. </p>
      <p id="_paragraph-68">2.Resistensi terhadap perubahan dan inovasi </p>
      <p id="_paragraph-69">•Kecenderungan untuk mempertahankan metode tradisional dan kekhawatiran terhadap  risiko  inovasi digital dapat menghambat proses transformasi yang dibutuhkan  agar lembaga lebih adaptif dan relevan di era digital. </p>
      <p id="_paragraph-70">3.Keterbatasan kompetensi digital dan teknologi </p>
      <p id="_paragraph-71">•Penggunaan inovasi digital yang  berbasis nilai-nilai Islam memerlukan kompetensi dan pengetahuan inovasi digital yang memadai. Kurangnya pelatihan dan peningkatan kapasitas  SDM di bidang tersebut menjadi kendala signifikan. </p>
      <p id="_paragraph-72">4Tantangan sumber daya dan finansial </p>
      <p id="_paragraph-73">•  Keterbatasan dana untuk pengembangan program berbasis inovasi digital dan pelatihan SDM  menjadi hambatan utama, terutama bagi lembaga-lembaga pendidikan Islam yang berstatus kecil atau regional. </p>
      <p id="_paragraph-74">5.Pengaruh budaya institusional dan sosial </p>
      <p id="_paragraph-75">• Adanya budaya institusional yang cenderung konservatif dan normatif sosial yang tidak mendukung perubahan menjadi tantangan dalam penerapan visi dan misi yang inovatif dan modern. </p>
      <p id="_paragraph-76">6.Paradigma tradisional versus Modern. </p>
      <p id="_paragraph-77">Demikian dari penelitian ini ditemukan bahwa implementasi kepemimpinan visioner berbasis nilai keislaman tidak luput dari berbagai tantangan, seperti resistensi terhadap inovasi dan kurangnya kompetensi digital di kalangan pendidik. Solusinya harus berupa pelatihan berkelanjutan dan penguatan budaya etika digital yang berlandaskan iman dan akhlak. Pemimpin menjalankan nilai-nilai Islam saat memanfaatkan teknologi secara berkeadilan.   Perlawanan dari pejabat atau tenaga pendidik yang berpegang teguh pada paradigma lama, dan masih belum terbuka terhadap pemanfaatan inovasi digital dan nilai-nilai Islami yang progresif. Solusi yang dapat ditawarkan meliputi pelatihan berkelanjutan, pembinaan moral dan etika digital, serta penguatan peran spiritual dalam setiap inovasi yang dilakukan.  Nilai-nilai keislaman memiliki peran utama dalam membentuk karakter dan kompetensi pemimpin yang mampu memimpin secara visioner di lembaga pendidikan. Tauhid sebagai pondasi utama mengarahkan seluruh aktivitas organisasi agar selalu berorientasi pada penegakan nilai-nilai ketuhanan. Selanjutnya, amanah sebagai moral dan spiritual harus dipegang teguh sebagai tanggung jawab utama dalam setiap langkah dan kebijakan.  Keadilan dan musyawarah adalah prinsip yang harus diinternalisasi dalam semua proses pengambilan keputusan, sehingga tercipta suasana yang adil dan penuh partisipatif. Pemimpin yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip etika dan moral ini mampu mengukir kepercayaan dari seluruh warga lembaga dan masyarakat sekitar. Dengan menanamkan nilai-nilai Islam secara konsisten, lembaga pendidikan mengedepankan nilai spiritual peserta didik.  Dalam konteks modern, penerapan nilai-nilai keislaman ini juga memerlukan dukungan dari inovasi digital dan kolaborasi internasional yang adaptif.   Perkembangan digitalisasi dan sistem pendidikan yang berbasis teknologi memberikan peningkatan pemahaman agama bagi siswa  [26]  diperoleh hasil bahwa peran kepemimpinan visioner dalam menggerakkan, mengarahkan, dan menginspirasi suatu lembaga   memberi   kemanfaatan dan kemajuan dalam teknologi digital serta mampu berinovasi secara tepat, lebih dapat menanamkan keyakinan diri dan nilai moral spiritual dalam setiap inovasi digital yang dilakukan.  Pemimpin visioner memastikan guru dan staf untuk mengoptimalkan inovasi digital, hal ini tentu dapat memperkuat kompetensi digital dan profesionalisme SDM, meningkatkan mutu pembelajaran, juga mempermudah pengelolaan  administrasi dan pengambilan keputusan menjadi lebih cepat karena berbasis data.  Hal ini berdampak baik pada keberlanjutan program jangka panjang sesuai visi dan misi dilembaga pendidikan.  Guru dengan inovasi digital menjadi lebih kreatif, adaptif dan lebih berkinerja. dan pembelajaran lebih interaktif.  Dalam konteks Pendidikan Islam digitalisasi perlu dilaksanakan secara terarah dan selaras dengan nilai-nilai keislaman [27] langkah-langkah strategis agar mampu meningkatkan professional guru secara berkelanjutan adalah sebagai berikut: </p>
      <p id="_paragraph-78">1.Tenaga pengajar merancang kurikulum yang tidak hanya mengintegrasikan teknologi digital secara langsung, tetapi juga secara jelas menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual seperti kejujuran, kesabaran, empati, dan rasa tanggung jawab. Pendekatan pedagogik secara holistik menyeimbangkan tiga aspek: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan spiritual (keimanan). Dengan demikian, peserta didik tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki karakter Islami yang kuat. Selain itu, penerapan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dengan inovasi digital, guna memecahkan permasalahan keislaman masa kini, seperti isu etika digital, dakwah daring, dan pengelolaan donasi juga akan dilakukan secara digital. </p>
      <p id="_paragraph-79">2.Pemberdayaan guru dalam penyelenggarakan workshop/pelatihan untuk guru agar memiliki inovasi digital.  Guru sebagai inovator yang bisa mengajar dengan etika digital Islami.  Guru menyampaikan nilai keislaman dalam setiap materi, merancang modul ajar berbasis inovasi digital terbaru serta mengembangkan kompetensi pedagogik yang adaptif terhadap kemajuan teknologi Pendidikan. </p>
      <p id="_paragraph-80">3.Penggunaan perangkat secara digital guna menyesuaikan program pembinaan karakter peserta didik, seperti program pembinaan akhlak mulia, kejujuran, dan kasih sayang berbasis analitik data siswa. Perangkat digital dapat membantu memantau dan memberikan rekomendasi pengembangan karakter secara personal dan real-time.  Gunakan chatbot berbasis AI atau asisten virtual Islami untuk pembelajaran spiritual misalnya tafsir singkat, hadits harian yang dibutuhkan peserta didik. </p>
      <p id="_paragraph-81">4.Pengembangan inovasi pada metode pembelajaran melalui gamifikasi mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan peserta didik secara lebih aktif. Pembuatan game edukatif  bertema keislaman, seperti kuis Al-Qur'an, simulasi peran dalam cerita Nabi, atau permainan pengelolaan zakat, dapat memperkuat pengalaman belajar. Pendekatan ini membuat proses pembelajaran lebih menarik dan efektif, terutama dengan menggunakan teknologi VR untuk menghadirkan pengalaman belajar yang imersif, seperti tour virtual ke kota bersejarah Islam atau simulasi peristiwa penting dalam sejarah Islam. Dengan demikian, penggunaan strategi ini dapat meningkatkan daya tarik serta keberhasilan pengajaran agama dan moral di era digital. </p>
      <p id="_paragraph-82">5.Membangun infrastruktur teknologi yang handal merupakan langkah penting, termasuk penyediaan server, jaringan internet yang stabil, dan platform pembelajaran berbasis kecerdasan buatan. Infrastruktur ini harus mampu mendukung operasional pendidikan secara luas serta menjaga keamanan data sesuai dengan prinsip privasi dan etika Islami. Implementasi yang tepat akan membantu memastikan penggunaan perangkat digital berjalan secara optimal dan tidak disalahgunakan, sekaligus menjaga integritas data seluruh warga sekolah. </p>
      <p id="_paragraph-83">6.Pengembangan komunitas digital Islami penting sebagai wadah kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua. Melalui komunitas ini, mereka dapat saling berbagi pengalaman, inovasi, dan praktik terbaik dalam pemanfaatan teknologi digital, serta berpartisipasi dalam kegiatan inovatif seperti kompetisi atau event edukasi berbasis nilai-nilai Islam. Langkah ini bertujuan memperkuat jejaring pendidikan dan mendorong percepatan inovasi yang selaras dengan prinsip syariah.</p>
      <p id="_paragraph-84">7.Mendorong guru melalui pelatihan dan pendanaan bisa dari para alumni yang memiliki potensi kewirausahaan agar dapat mendukung  mereka untuk menciptakan aplikasi dan platform e-learning, seperti sistem pembelajaran Al-Qur'an, aplikasi kajian spiritual digital, atau layanan donasi sesuai syariah. Semua berbasis nilai-nilai Islam dan inovatif.</p>
      <p id="_paragraph-85">8.Dalam kerangka internasional, kemitraan global dan partisipasi dalam konferensi inovasi pendidikan internasional sangat penting untuk mendapatkan wawasan dan inovasi digital terkini yang dapat diadaptasi dalam pendidikan Islam. Kolaborasi ini membuka peluang untuk pertukaran pengetahuan,pengembangan teknologi inovatif, dan memperluas jejaring global guna memperkuat keberlangsungan dan daya saing lembaga pendidikan Islam di era digital. </p>
      <p id="_paragraph-86">Kepemimpnan visioner itu juga harus berbasis data dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari upaya peningkatan mutu. Dari hasil penelitian .[28] pemimpin visioner harus membangun sistem penilaian yang objektif dan terukur untuk memantau kemajuan lembaga dalam berbagai aspek, mulai dari proses pembelajaran, manajemen sumber daya, hingga tingkat kepuasan warga sekolah. Sistem evaluasi ini menjadi dasar dalam merancang langkah perbaikan berkelanjutan dan menyelaraskan visi dengan perkembangan zaman. Pentingnya mengintegrasikan aspek digital dan AI dalam pengembangan inovasi digital yang bermartabat juga berbasis moral yang menjadi fondasi utama akan menjadi pengarah yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman, serta menjadikan lembaga pendidikan sebagai pusat pembinaan generasi yang unggul dan berakhlak mulia Integrasi aspek digital, serta inovasi digital harus dimasukkan dalam kerangka nilai-nilai keislaman, sehingga penerapan inovasi digital berjalan sesuai dengan moral dan etika Islam, dan berkontribusi secara positif dalam pembangunan pendidikan yang berkualitas dan bermartabat.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-f6a366fbdd148eddfa73241c2c00f3ba">
      <title>Simpulan </title>
      <p id="_paragraph-88">Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap ketiga rumusan masalah, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan visioner berbasis nilai-nilai Islam memiliki peran penting dalam mengarahkan transformasi lembaga pendidikan Islam di era digital. Karakteristik kepemimpinan ini mencakup kemampuan membangun visi strategis yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu mengintegrasikan nilai-nilai spiritual serta moral Islami dalam pengambilan keputusan dan manajemen organisasi.  Implementasi nilai-nilai keislaman seperti tauhid, amanah, keadilan, dan musyawarah dalam inovasi digital mampu meningkatkan karakter peserta didik dan memastikan bahwa proses digitalisasi tetap berlandaskan etika dan moral Islami.  Selain itu, hasil studi menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi meliputi resistensi terhadap inovasi, kurangnya kompetensi digital di kalangan pendidik, dan keterbatasan sumber daya finansial, yang membutuhkan strategi pelatihan berkelanjutan, penguatan budaya etika digital, dan kolaborasi internasional. Dengan demikian, keberhasilan implementasi kepemimpinan visioner berbasis Islam dalam menghadapi perkembangan teknologi digital sangat dipengaruhi oleh karakter pemimpin yang mampu mengintegrasikan aspek moral, spiritual, dan inovatif secara simultaneous, serta mampu mengatasi resistensi melalui pendekatan kolaboratif dan etis. Hal ini menegaskan bahwa keberlanjutan lembaga pendidikan Islam di era digital bergantung pada pemimpin yang tidak hanya kompeten secara manajerial dan teknologi, tetapi juga kokoh dalam prinsip keislaman, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang berilmu, berakhlak mulia, dan berwawasan global </p>
      <p id="_paragraph-89">
        <bold id="bold-57e10b36babd0e37487c806779e04f16">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-90">Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya secara tulus kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan yang tak ternilai dalam penelitian ini. Terima kasih khusus disampaikan kepada Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) atas penyediaan sumber daya dan akses literatur ilmiah yang memadai, yang sangat mendukung kelancaran penelitian studi pustaka ini, sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik dan diharapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi pengembangan keilmuan dan praktik Pendidikan.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
