<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.2 20190208//EN" "https://jats.nlm.nih.gov/publishing/1.2/JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Implementation of Quality Management in Islamic Education to Create an Excellent Generation Based on Islamic Values (A Study at SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo)</article-title>
        <subtitle>Implementasi Manajemen Mutu Pendidikan Agama Islam Untuk Mewujudkan Generasi Unggul Berdasarkan Nilai Islam (Studi Pada SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo)</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Karim</surname>
            <given-names>Faisol</given-names>
          </name>
          <email>krembung2024@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1"/>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="person">
          <name>
            <surname>Rahmawati</surname>
            <given-names>Imelda Dian</given-names>
          </name>
          <email>imeldadian@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2"/>
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <institution>Universitas Muhammadiyah Sidoarjo</institution>
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2025-04-14">
          <day>14</day>
          <month>04</month>
          <year>2025</year>
        </date>
      </history>
    <pub-date pub-type="epub"><day>03</day><month>09</month><year>2026</year></pub-date></article-meta>
  </front>
  
  
<body id="body">
    <sec id="heading-0ba08ef9c0baf7a42faf83b8a66f9813">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Pendidikan sebagai landasan manusia untuk mampu bertahan hidup dan beraktivitas. Pendidikan sebagai kemampuan dasar dan menjadi  fitrah manusia.  Pada awalnya, manusia lahir di dunia dalam kondisi tidak memiliki dan mengetahui apapun. Potensi manusia sebagai salah satu fitrah manusia harus digunakan dan digali agar mengetahui bahnyak hal dalam rangka bertahan hidup. Pertambahan dan penumbuhan potensi manusia  ini membutuhkan arahan, bimbingan  dan didikan manusia lain yang lebih dahulu memiliki pengalaman. Namun dalam hal ini proses pembelajaran harus mengikuti  aturan dan etika Islam. Hal ini sejalan dengan  QS An Nahl 78 [1] menyatakan bahwa: </p>
      <fig id="figure-panel-808e9a473904db893d8c5180124e47bf">
        <label>Figure 1</label>
        <caption>
          <p id="paragraph-5d7d0c38c9301d5337f9d408e469fc0b"/>
        </caption>
        <graphic id="graphic-ac8b2141e6a690f20b1cd5d00e1f4fab" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="1392-1.png"/>
      </fig>
      <p id="_paragraph-13">“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”</p>
      <p id="_paragraph-14">Pendidikan memiliki kepentingan besar dalam optimalisasi sumber daya manusia. Prinsip ini diatur dalam UU [2]yang mengemukakan bahwa pendidikan merupakan usaha terencana dan sadar untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik aktif mengembangkan potensi mereka. Tujuannya adalah agar mereka memiliki kekuatan spiritual dan religius, kontrol diri yang baik, kepribadian yang kuat, kecerdasan, moralitas yang tinggi, serta keterampilan yang diperlukan untuk kepentingan individu, masyarakat, negara, dan bangsa. </p>
      <p id="_paragraph-15">Kesuksesan pendidikan secara pasti dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kurikulum pendidikan Islam. Di samping itu, sebagai pedoman dasar dalam kehidupan, Islam seharusnya meresap ke dalam berbagai aspek pendidikan. Ide ini kemudian membentuk dasar bagi pendidikan yang berakar pada nilai-nilai agama. Islam dapat menjadi elemen kunci dalam sistem pendidikan karena ajaran-ajaran Islam melibatkan hubungan antara manusia, lingkungan, alam semesta, dan koneksi spiritual dengan Tuhan. [3]</p>
      <p id="_paragraph-16">Pendidikan Islam memiliki  3 landasan [4], yaitu Aqidah, Ibadah dan Akhlak. Aqidah merupakan dasar  ilmu dan landasan dalam  mengenal, mempercayai, meyakini, mengimani Allah selaku Rabb. Landasan kedua yaitu  ibadah yang merupakan landasan dalam pengamalan ajaran Islam. Ibadah sebagai sebagai potensi fitrah yang harus diterapkan sehari hari dan menjadi kebiasaan bagi individu sehingga muncul sikap  positif dengaan menanamkan nilai agama. Akhlak menjadi landasan agama yang representasi jiwa manusia yang terlihat dari sikap, ucapan dan perbuatan. Pilar-pilar penting ini menjadi bahan pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam. </p>
      <p id="_paragraph-17">Menurut Nudin [4], Pendidikan Islam berakar pada tiga prinsip utama: Aqidah, Ibadah, dan Akhlak. Aqidah merupakan fondasi ilmu dan dasar dalam memahami, mempercayai, dan mengimani Allah sebagai Rabb. Prinsip kedua adalah Ibadah, yang menjadi dasar dalam praktik ajaran Islam. Ibadah merupakan bagian dari fitrah manusia yang harus dijalankan secara rutin dalam kehidupan sehari-hari, membangun sikap positif dengan menanamkan nilai-nilai agama. Akhlak menjadi fondasi moralitas agama yang tercermin dalam sikap, perkataan, dan tindakan individu. Tiga prinsip penting ini menjadi fokus pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam.</p>
      <p id="_paragraph-18">Pendidikan Islam yang terintegrasi dengan lembaga pendidikan merupakan salah satu bentuk penerapan yang terencana dan didasarkan pada norma-norma yang ditetapkan. Implementasi pemahaman terhadap Pendidikan Agama Islam dilakukan setelah semua perencanaan dianggap telah sempurna. Menurut teori Jones [5] implementasi dapat dijelaskan sebagai "kegiatan yang ditujukan untuk menerapkan suatu program hingga menunjukkan hasilnya." Dengan demikian, implementasi merupakan langkah yang diambil setelah suatu kebijakan ditetapkan, yang bertujuan untuk memastikan bahwa tujuan kebijakan tersebut tercapai. Menurut Nurdin Usman [6] implementasi adalah aktivitas, tindakan, atau mekanisme dalam suatu sistem yang terencana dan bertujuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan bahwa implementasi bukan hanya sekedar kegiatan, tetapi juga suatu proses yang terencana untuk mencapai tujuan yang diinginkan.</p>
      <p id="_paragraph-19">Menurut Guntur Setiawan [7], implementasi merupakan perluasan aktivitas yang melibatkan interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya, yang memerlukan jaringan pelaksana dan birokrasi yang efektif. Implementasi tidak hanya sekadar aktivitas, melainkan juga memerlukan perencanaan yang terperinci dan didasarkan pada pedoman yang telah ditetapkan. Selain itu, implementasi dipengaruhi oleh kelangsungan dari suatu program yang telah dijalankan. Program ini harus dapat diterapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan sekolah atau lembaga tertentu.</p>
      <p id="_paragraph-20">Pendidikan Agama Islam di sekolah yang berbasis nilai-nilai Islam biasanya menerapkan manajemen mutu untuk mencapai kemandirian, fleksibilitas terhadap perkembangan zaman, transparansi, kerjasama profesional, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Manajemen mutu yang efektif akan mempermudah pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya manusia dan fasilitas yang dimiliki, sehingga semua kegiatan dalam manajemen mutu akan mengarah pada pemerataan pendidikan[8]</p>
      <p id="_paragraph-21">Peningkatan kualitas merupakan aspek yang sangat penting dalam mencapai tingkat profesionalisme yang diinginkan bagi guru Pendidikan Agama Islam, yang menjadi syarat mutlak dalam dunia mengajar saat ini. Sukamto [9] menyatakan bahwa profesionalisme harus mencakup kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas sebagai keahlian kunci yang dimiliki oleh individu guru tersebut. Kebutuhan akan peningkatan kualitas juga menjadi permintaan masyarakat atas layanan pendidikan, yang juga dipengaruhi oleh peningkatan ekonomi masyarakat.</p>
      <p id="_paragraph-22">Profesionalisme guru merupakan bagian integral dari kode etik profesional. Kode etik tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa siswa mendapatkan pengetahuan secara efektif dan efisien. Negara Indonesia telah mengatur dengan baik mengenai kode etik profesionalisme guru, dan pemerintah juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa mutu sekolah, termasuk mutu guru, sesuai dengan standar yang baik[10]. Undang-undang menjadi salah satu mekanisme pengendalian mutu yang efektif.</p>
      <p id="_paragraph-23">Mutu merupakan konsep yang melekat pada produk atau layanan jasa, yang ditentukan oleh standar dan spesifikasi yang telah ditetapkan. Menurut Sallis [11], mutu hadir ketika sebuah produk atau layanan memenuhi standar yang telah ditetapkan. Mutu bersifat alami, wajar, dan dikenal. Bagi produsen, mutu berarti konsistensi dalam produk dari awal pembuatan hingga selesai. Bagi pelanggan, mutu adalah kemampuan produk atau layanan untuk memuaskan dan melampaui harapan serta kebutuhan mereka, yang disebut sebagai mutu sesuai persepsi. Mutu merupakan panduan yang membantu institusi merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan eksternal yang tinggi. Oleh karena itu, mutu menjadi standar yang memuaskan dan melebihi harapan serta kebutuhan pelanggan.</p>
      <p id="_paragraph-24">Akreditasi Sekolah Departemen Pendidikan Nasional tahun 2004 telah merumuskan konsep Mutu Layanan Pendidikan [12], yang merupakan jaminan bahwa proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah sesuai dengan yang seharusnya dan diharapkan. Mutu pendidikan harus sesuai dengan standar yang ditetapkan dan memenuhi harapan yang telah ditetapkan sebagai batas referensi.</p>
      <p id="_paragraph-25">Lembaga Pendidikan yang berkualitas diharapkan mampu memberikan pelayanan yang tidak hanya sesuai dengan standar, tetapi juga melebihi harapan dari pengguna jasa Pendidikan. Para pengguna jasa Pendidikan melibatkan berbagai interaksi antara guru, staf, peserta didik, serta pihak terkait lainnya seperti orang tua, pemerintah, atau dunia kerja sebagai pengguna lulusan. Lembaga Pendidikan yang berorientasi pada mutu akan mengelola semua aktivitas di dalamnya dengan cermat, menciptakan interaksi yang positif di antara komponen-komponen Pendidikan.</p>
      <p id="_paragraph-26">Manajemen Pendidikan merupakan usaha yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengarahan, dan pengawasan dalam sebuah lembaga pendidikan. Interaksi antara komponen Pendidikan dalam penggunaan sumber daya harus mampu mencapai tujuan lembaga pendidikan tersebut. Produk yang dihasilkan oleh Lembaga Pendidikan Islam merupakan jenis jasa, seperti yang dijelaskan oleh Sallis [11] .Konsep jasa memiliki karakteristik unik, termasuk hubungan interaktif antara pemberi dan pengguna, waktu penggunaan jasa yang tepat, ketidakmampuan untuk memperbaiki atau memperbarui jasa, ketidakpastian dalam jasa, dan kesulitan dalam mengukur keberhasilan dan produktivitas.</p>
      <p id="_paragraph-27">Peningkatan mutu menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas, dengan memberikan kewenangan dan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada pimpinan. Kepala Sekolah bertanggung jawab atas sebuah Lembaga Pendidikan Islam. Mutu dalam lembaga pendidikan Islam, seperti yang dijelaskan oleh Mutohar [8], melibatkan pengelolaan mutu pada tahap input, proses, output, dan outcome. Input pendidikan harus memenuhi standar minimal nasional, proses pendidikan harus menghasilkan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan, output pendidikan harus menghasilkan peserta didik yang memiliki prestasi tinggi baik di bidang akademik maupun non-akademik, dan outcome pendidikan harus mempersiapkan lulusan untuk sukses di dunia kerja atau merasa puas. Mutu Pendidikan merujuk pada proses atau layanan penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat memenuhi harapan para peserta didik dan masyarakat.</p>
      <p id="_paragraph-28">Manajemen pendidikan telah menetapkan standar sistem pendidikan berdasarkan evaluasi mutu. Manajemen mutu pendidikan berfokus pada hasil proses pendidikan yang memengaruhi masukan pendidikan. Menurut Fadhli &amp; Mawadda [13], komponen manajemen mutu pendidikan meliputi: “1) Kualitas lulusan sebagai hasil pendidikan; 2) Kualitas isi dan proses; 3) Kualitas pendidik dan tenaga kependidikan; 4) Kualitas sarana dan prasarana; 5) Kualitas manajemen; 6) Kualitas pembiayaan; 7) Kualitas penilaian.”</p>
      <p id="_paragraph-29">Tantangan bagi guru semakin berat di era milenial, terutama setelah pandemi. Kemajuan teknologi, kebutuhan akan informasi yang cepat, dan komunikasi sosial yang luas di media sosial membentuk dunia maya yang aktif [14]. Efektivitas pembelajaran online menjadi penting, dan peran orang tua, sekolah, dan pemerintah harus bekerja keras untuk menyediakan pendidikan dalam keterbatasan.</p>
      <p id="_paragraph-30">Dalam menghadapi tantangan yang dinamis ini, guru memerlukan perhatian ekstra untuk mengatasinya[15]. Tantangan pertama adalah guru harus memiliki kecakapan dalam teknologi digital karena perkembangan yang pesat dalam teknologi memungkinkan akses informasi kapan pun, di mana pun, dan oleh siapa pun. Kedua, guru harus menjadi pembelajar seumur hidup karena aliran informasi yang terus berubah dengan cepat di dunia digital. Ketiga, guru harus mampu menyajikan pembelajaran yang menarik dan bermakna karena pengguna digital cenderung tertarik pada hal-hal yang menyenangkan. Keempat, guru harus menjadi contoh yang baik karena informasi yang mudah didapatkan di dunia digital membutuhkan panutan yang baik dalam memanfaatkannya dengan bijak.</p>
      <p id="_paragraph-31">Guru merupakan profesi yang memiliki tugas utama dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik di berbagai jalur pendidikan, sesuai dengan Undang-Undang No 14 Tahun 2005[16] . Undang-Undang tersebut juga menjelaskan bahwa kompetensi guru mencakup pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang diperlukan dalam menjalankan tugas keprofesionalannya, termasuk kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Profesionalisme guru PAI bertujuan untuk memajukan umat berdasarkan nilai-nilai religius secara strategis. Profesionalisme ini diharapkan mampu membentuk kepribadian individu yang menjadi pemimpin bangsa di masa depan melalui proses pembelajaran, pendidikan, dan pengajaran. Guru yang profesional memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan [15] dan pelatihan di lembaga pendidikan guru dalam periode tertentu[17].</p>
      <p id="_paragraph-32">Profesionalisme guru merujuk pada individu yang memiliki kompetensi sesuai dengan persyaratan profesi keguruan. Seorang guru profesional mampu menguasai materi pelajaran yang diajarkan dan terus mengembangkan kemampuannya secara berkelanjutan, baik dari segi pengetahuan maupun pengalaman[18]. Guru Pendidikan Agama Islam merupakan guru yang memberikan pengajaran dalam subyek Pendidikan Agama Islam. Tujuan dari pengajaran ini adalah untuk menciptakan individu yang baik, memiliki akhlak yang baik, dan mencapai kualitas kebaikan baik dalam hal spiritual maupun materi, sesuai dengan pandangan Al-Djamali[19].</p>
      <p id="_paragraph-33">Pendidikan Agama Islam merupakan proses pendidikan yang didasarkan pada ajaran agama Islam, di mana para pendidik membimbing dan mendidik siswa untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh. Tujuannya adalah agar siswa menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup untuk mencapai keselamatan dan kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat [20]. </p>
      <p id="_paragraph-34">Profesionalisme guru PAI tidak hanya berfokus pada aspek materi, tetapi juga pada dimensi spiritual. Peningkatan kualitas pendidikan sebagai hasil dari profesionalisme guru PAI harus memenuhi sepuluh kriteria yang telah ditetapkan [21]  antara lain: “(1) kemampuan menguasai materi PAI, (2) kemampuan menguasai rumpun ilmu alat dalam memahami materi PAI, (3) kemampuan menjelaskan materi PAI dengan menggunakan perspektif berbagai bidang keilmuan lainnya yang terkait, (4) kemampuan mendidikkan dan mengajarkan PAI kepada peserta didik dengan baik, (5) kemampuan menguasai metodologi pemikiran dan pemahaman PAI dengan baik, (6) kemampuan memanage pembelajaran PAI dengan maksimal;  Dalam masalah pembelajaran, posisi guru PAI adalah sebagai manajer mencapai tujuan secara efektif dan efisien[22] [23].  (7) kemampuan mengamalkan kesalehan individual dan kesalehan sosial dalam perilaku keseharian,  (8) memiliki pengalaman mendalam dalam mendidik dan mengajar peserta didik (9) memiliki komitmen memberikan layanan prima kepada peserta didik, (10) memiliki motivasi kerja atas dasar ibadah (pengabdian). Guru PAI profesional harus menyadari bahwa motif kerjanya baik dalam membimbing, melatih, mendidik, membiasakan, dan mengajar adalah atas dasar ibadah kepada Allah sebagai pengabdian. Motivasi ibadah ini memberikan pengertian bahwa guru PAI profesional dalam melaksanakan seluruh kegiatannya itu semata-mata karena ibadah kepada Allah Swt, sehingga senantiasa berupaya mewujudkan dan menunjukkan sikap bekerja yang terbaik. praktisnya, mereka bersemangat bekerja bukan karena diawasi oleh kepala sekolah, melainkan lebih dikarenakan panggilan jiwanya, sehingga tidak ada pamrih dalam bekerja kepada siapapun kecuali hanya mencari ridha dari Allah SWT”. </p>
      <p id="_paragraph-35">Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang guru Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi individu yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki karakter yang mulia. Hal ini dilakukan melalui pengajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam seperti Akidah, Akhlak, Al-Qur'an dan Hadis, Fiqih, atau Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di dalam lembaga pendidikan atau madrasah.</p>
      <p id="_paragraph-36">Dalam konteks pendidikan, Standar Kompetensi Lulusan telah diatur dalam undang-undang sebagai pedoman bagi sekolah dalam merancang pembelajaran agar memenuhi standar [24]. Standar kompetensi lulusan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, termasuk tenaga pendidik dan kependidikan, pembiayaan, lokasi geografis[25], kesulitan belajar siswa, serta peran orang tua dan masyarakat [26]. Hal ini menimbulkan pertanyaan dasar mengenai apakah Lembaga Pendidikan Islam mampu menyediakan lingkungan yang mendukung pencapaian standar lulusan. Selain itu, bagaimana sekolah mempersiapkan proses pembelajaran agar mutu lulusan dapat tercapai, serta bagaimana Lembaga Pendidikan Islam dapat bertanggung jawab sesuai dengan standar untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas di era saat ini.</p>
      <p id="_paragraph-37">Dengan adanya keunggulan dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang diimplementasikan oleh Lembaga Pendidikan Islam, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang penerapan Implementasi Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Peneliti berharap bahwa hasil penelitian ini akan memberikan wawasan tentang praktik dan strategi yang diterapkan oleh Guru Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan mutu pendidikan.</p>
      <p id="_paragraph-38">Penelitian yang dilakukan oleh Nurmalina [27]menyoroti peran dominan guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk akhlak siswa secara menyeluruh dan berkelanjutan melalui berbagai metode seperti keteladanan, pembiasaan, ajakan, teguran, dan larangan di lingkungan sekolah. Meskipun fokus penelitian serupa, yaitu pada guru Pendidikan Agama Islam, terdapat perbedaan dalam metode, lokasi, dan subyek penelitian.</p>
      <p id="_paragraph-39">Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Misbahuddin [28]menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai akhlak mulia oleh guru Pendidikan Agama Islam melalui pembelajaran Al-Qur'an, kegiatan pesantren kilat, dan kegiatan bakti sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam perlu memiliki kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesionalisme dalam melaksanakan proses pembelajaran, serta kemampuan menyusun rencana pembelajaran. Meskipun topik penelitian serupa, yaitu kompetensi guru Pendidikan Agama Islam, perbedaannya terletak pada pelaksanaan penanaman nilai akhlak, lokasi penelitian, dan tidak melibatkan masa pandemi COVID-19.</p>
      <p id="_paragraph-40">Penelitian yang dilakukan oleh Rizqon Halal Syah Aji mengungkapkan bahwa kebijakan pembelajaran dari rumah yang diterapkan oleh lembaga pendidikan mengakibatkan sejumlah masalah, seperti gangguan dalam proses pembelajaran siswa, kesulitan dalam melakukan penilaian, pembatalan ujian, peluang kerja setelah lulus tereduksi, serta pembatalan ujian publik yang memengaruhi kualifikasi dalam seleksi pekerjaan. Meskipun kedua penelitian membahas pendidikan Agama Islam, perbedaan utama terletak pada pendekatan menyeluruh tentang manajemen, lokasi, dan periode penelitian.</p>
      <p id="_paragraph-41">Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Misbhahul Munir [29] di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo mengungkapkan konsep pendidikan Agama Islam tanpa kekerasan, yang mencakup pembelajaran tentang sikap anti-bullying, penekanan pada persaudaraan, dan pembangunan sikap toleransi. Strategi pembelajaran pendidikan Agama Islam tanpa kekerasan melibatkan penggunaan kurikulum yang mengusung nilai-nilai toleransi, kegiatan pembiasaan, dan implementasi nilai-nilai Islami dalam praktek kelas. Penelitian ini juga menyoroti implikasi dari pendidikan Agama Islam tanpa kekerasan terhadap perilaku siswa, seperti penanaman moral, pengembangan akhlak yang baik, dan penumbuhan sikap toleransi. Meskipun keduanya berlokasi di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, perbedaan utama terletak pada fokus keseluruhan penelitian terhadap implementasi manajemen mutu.</p>
      <p id="_paragraph-42">Penelitian oleh Mu'alimin [30]yang mempelajari studi kasus di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo dan SD Khadijah Surabaya mengungkapkan bahwa perencanaan peningkatan mutu didasarkan pada visi dan misi sekolah, dengan fokus pada peningkatan daya saing pendidikan secara nasional, regional, dan internasional. Upaya peningkatan mutu melibatkan jaringan dan kerjasama dengan sekolah-sekolah berkualitas, pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan standar nasional dan internasional, pengembangan sarana pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ICT), serta penerapan strategi pembelajaran inovatif dan kreatif. Penilaian peningkatan mutu dilakukan secara internal dan eksternal untuk memperoleh masukan guna meningkatkan mutu pendidikan di masa mendatang. Meskipun keduanya melibatkan tempat penelitian yang sama, perbedaan utama terletak pada fokus penelitian yang tidak membandingkan implementasi manajemen mutu, namun lebih kepada kompetensi dan kemampuan guru Pendidikan Agama Islam.</p>
      <p id="_paragraph-43">SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, sebuah Lembaga Pendidikan Islam di wilayah tersebut, memainkan peran penting dalam membentuk karakter siswa di tingkat sekolah dasar. Sekolah ini menekankan tema Islamic &amp; Digital School, menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan Islam yang berkualitas. Visi sekolah ini adalah menciptakan generasi unggul yang berlandaskan nilai Islam, memiliki akhlak mulia, dan berwawasan global[31]. Generasi unggul yang diinginkan adalah yang memiliki semangat juang tinggi, kreatif, inovatif, produktif, dan tidak mudah menyerah, serta mampu berpikir secara ilmiah. Selain itu, siswa diharapkan memiliki akhlakul karimah, rasa nasionalisme yang kuat, dan kesadaran lingkungan yang tinggi. Wawasan global juga ditekankan, sehingga siswa dapat memahami budaya negara lain dan menggunakan bahasa internasional.</p>
      <p id="_paragraph-44">Secara keseluruhan, SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memperlihatkan standar mutu yang tinggi dalam pendidikan Islam[30]. Hal ini tercermin dalam beberapa aspek, 1) termasuk kepatuhan terhadap standar pendidikan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), 2) penilaian mutu secara berkala oleh pihak internal dan eksternal, serta 3) upaya peningkatan mutu melalui kerjasama dengan lembaga pendidikan dalam dan luar negeri. Sekolah ini telah menjalin kerjasama dalam berbagai bidang, seperti IPA dan Matematika dengan Klinik Pendidikan MIPA di Bogor, serta dalam bidang Bahasa dengan Cavendish Marshal Singapura. Kerjasama internasional juga dilakukan dalam pembelajaran dengan sekolah di Malaysia [32].</p>
      <p id="_paragraph-45">Berdasarkan latar belakang ini, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan implementasi mutu Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, serta peran manajemen dalam implementasinya. Penelitian juga akan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi mutu Pendidikan Agama Islam di sekolah tersebut. Manfaat penelitian ini adalah untuk memahami pola pelaksanaan manajemen mutu sebagai karakteristik Lembaga Pendidikan Islam, serta untuk memahami perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi mutu Pendidikan Agama Islam yang diterapkan oleh sekolah tersebut.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-f7ef2bbe4a1ca1da2507f981a29c14c4">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-47">Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kualitatif deskriptif, yang mengutamakan sumber data langsung dari karakteristik alami (natural setting), dengan fokus pada deskripsi proses daripada hasilnya. Analisis dalam penelitian kualitatif cenderung bersifat induktif, di mana makna dari hasil penelitian menjadi hal yang esensial [33].  Metode yang digunakan adalah studi kasus, yang merupakan pendekatan kualitatif untuk meneliti kasus tertentu dalam konteks kehidupan nyata kontemporer. Peneliti melakukan pengamatan teliti terhadap program, peristiwa, aktivitas, proses, atau kelompok individu [34]. Subjek penelitian adalah para guru yang mengajar Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, yang berlokasi di Jl Raden Fatah 81F, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Sekolah tersebut merupakan bagian dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah[31].</p>
      <p id="_paragraph-48">Teknik pengumpulan data melibatkan penggunaan data primer dan sekunder, serta penggalian informasi dari para informan. Peneliti juga terlibat langsung dalam pengamatan di lapangan. Setelah data terkumpul, dilakukan analisis data, diikuti dengan pemeriksaan keabsahan data melalui kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan confirmabilitas. Prosedur penelitian mencakup menentukan pertanyaan penelitian, metode pengumpulan data, persiapan pengumpulan data, pengumpulan data di lapangan, pengolahan data, dan pembuatan laporan. Pengumpulan data melibatkan studi literatur, wawancara, dan observasi. Data dalam penelitian ini adalah informasi dan fakta yang terkait dengan implementasi manajemen mutu Pendidikan Agama Islam. Data tersebut diperoleh dari aktivitas, lokasi, dokumen, dan informasi dari para informan. Data dibagi menjadi dua kategori, yaitu data primer [35], yang berupa data, narasi, konteks, dan pernyataan dari informan terkait dengan implementasi manajemen mutu Pendidikan Agama Islam, serta data sekunder[36], yang merupakan data pendukung analisis seperti struktur organisasi, kondisi guru dan siswa, serta dokumen-dokumen lainnya[37].</p>
      <p id="_paragraph-49">Dalam penelitian ini, sumber data dibagi menjadi dua kategori, yaitu manusia dan non-manusia. Manusia berperan sebagai sumber data utama (key informan) [35]dalam seluruh implementasi manajemen mutu Pendidikan Agama Islam di lembaga yang diteliti. Key informan dipilih secara kompeten dan tujuan, meliputi kepala sekolah sebagai pengelola, guru pengajar sebagai pelaksana, dan wali siswa sebagai penerima manfaat manajemen mutu Pendidikan Agama Islam. Sementara itu, sumber data non-manusia [34] terdiri dari informasi data, dokumen, aktivitas, dan lokasi penelitian yang berhubungan dengan implementasi manajemen mutu Pendidikan Agama Islam.</p>
      <p id="_paragraph-50">Metode yang digunakan adalah wawancara terstruktur. Tahapan penelitian melibatkan pra-lapangan dan lapangan, dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Tahap lapangan dibagi menjadi beberapa bagian, termasuk pemahaman latar belakang penelitian, persiapan, masuk lapangan, dan pengumpulan data. Pengolahan data melibatkan pengelompokkan, pengaturan, pengkodean, dan pengkategorian data untuk menyusun hipotesis penelitian[33]. Pendekatan kualitatif digunakan dalam analisis data, dengan teknik pengolahan data yang diuraikan oleh Miles dan Huberman [36], yaitu mereduksi data, mendisplay data, dan memverifikasi data. Untuk memastikan keabsahan data, dilakukan triangulasi [38] [36]. Triangulasi sumber bertujuan untuk menyinkronkan kebenaran data dari berbagai  sumber informasi (key informan) dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan mengurangi bias yang mungkin terjadi selama pengumpulan dan analisis data. Dalam hal ini, peneliti membandingkan data dari berbagai sumber data untuk memastikan keberlanjutan dan konsistensi data yang diperoleh.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-6c22e1efeeecab73fc14cc587c65a59e">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-52">
        <bold id="bold-7bfa9aec2d970660b7536858cec00409">A.Karakteristik SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-53">SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo merupakan salah satu institusi pendidikan Islam di wilayah Sidoarjo yang berperan penting dalam membentuk karakter anak-anak usia sekolah dasar di daerah tersebut. Sekolah ini mengusung konsep Islamic &amp; Digital School yang menawarkan pendidikan agama Islam berkualitas tinggi. Keberhasilan ini menunjukkan komitmen yang kuat dari sekolah untuk memberikan pendidikan Islam yang menyeluruh, dengan tujuan menciptakan generasi unggul yang berakhlak mulia dan berwawasan global, sesuai dengan visi dan misi yang diemban[31] . Generasi unggul yang diharapkan adalah mereka yang memiliki semangat juang tinggi, kreatif, inovatif, produktif, dan tidak pernah menyerah, serta mampu berpikir ilmiah. Siswa yang berakhlak mulia akan memancarkan akhlaqul karimah yang tercermin dalam janji pelajar Muhammadiyah, dengan rasa nasionalisme yang kuat sesuai dengan prinsip Pancasila, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar [39]. Siswa yang memiliki wawasan global adalah mereka yang memiliki pengetahuan luas tentang budaya negara lain dan mampu berkomunikasi menggunakan bahasa internasional. Lembaga pendidikan Islam ini telah terbukti memenuhi standar mutu [30], seperti 1).  memiliki standar pendidikan yang sesuai dengan BSNP untuk menjaga kualitas pendidikan secara global. Selain itu, 2).  lembaga ini juga rutin dievaluasi oleh pihak internal, seperti Kepala Sekolah, dan pihak eksternal, seperti Yayasan, Lembaga Kerjasama, dan Pemerintah Republik Indonesia. Terdapat pula 3). upaya peningkatan mutu melalui kerjasama dengan lembaga pendidikan dalam dan luar negeri, seperti kerjasama di bidang IPA dan Matematika dengan Klinik Pendidikan MIPA di Bogor sejak tahun 2004, kerjasama internasional di bidang Bahasa dengan Cavendish Marshal Singapura, serta sister school di Malaysia[32]. </p>
      <p id="_paragraph-54">
        <bold id="bold-46c6cae3a2dd4369086e787e9594359a">B.Implementasi Standarisasi Manajemen Mutu Pendidikan Agama Islam </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-55">Dalam keberlangsungan implementasi mutu Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, peran manajemen sekolah penting sebagai pemegang kendali dalam keberlangsungan program sekolah untuk memastikan mutu sekolah  berjalan dengan baik.  Adapun dalam kegiatan implementasi mutu Pendidikan agama Islam, terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi mutu Pendidikan Agama Islam yang diterapkan.</p>
      <p id="_paragraph-56">Dalam sektor Pendidikan, Standar Kompetensi Lulusan telah diatur dalam undang-undang sebagai pedoman bagi sekolah dalam merancang pembelajaran untuk mencapainya[24]. Standar kompetensi lulusan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik secara internal maupun eksternal[26]. Faktor-faktor eksternal tersebut meliputi tenaga pendidik dan kependidikan, pembiayaan, lokasi geografis, kesulitan belajar siswa, serta peran orang tua dan masyarakat [25] .</p>
      <p id="_paragraph-57">SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo menerapkan standarisasi manajemen mutu dalam memberikan pendidikan agama Islam guna menjamin mutu lulusan sebagai hasil pendidikan. Hal ini tercermin dari hasil pembiasaan alumni (lulusan)  yang telah dihasilkan dari pendidikan yang di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Adapun sikap dari hasil pembiasaan  sebagai hasil implementasi religiusitas antara lain   pembiasaan antre, saling sapa, hormat kepada guru, menyayangi yang muda dan kelas terjaga rapi dan bersih izin ketika keluar rumah, menghormati orang tua, melaksanakan shalat wajib tepat waktu, terbiasa berinfaq, memiliki sifat peduli terhadap teman dan guru, terbiasa membaca Al-Quran setiap hari.</p>
      <p id="_paragraph-58"> Standarisasi pembiasaan ini mendukung dari target yang harus dicapai agar siswa dinyatakan lulus tingkat sekolah dasar antara lain hafal juz 30, khatam al-Quran disertai syahadah, terbiasa melakukan shlata wajib 5 waktu dan terbiasa melakukan sahalat-shalat sunnah lainnya misal: Dhuha dan tahajud, melakukan shalat-shalat sunnah, terbiasa berinfaq. Pembiasaan keislaman yang langsung bisa diimplementasikan menjadi dasar penting nantinya seorang siswa berpikir kritis terhadap keyakinannya melaksanakan rukun islam. Seperti diketahui bahwa  Islam memiliki pilar penerapan keyakinan yang disebut sebagai Rukun Islam. Hakikatnya apabila seorang manusia diperkenalkan implementasi rukun islam sejak dini, harapannya manusia kelak akan mengolah rasa, dan pola pikirnya lebih yakin dengan keberadaan tuhan berdasarkan bukti bukti nyata yang ditemukan selama perjalanan kehidupannya terhadap adanya Rabb  yaitu Allah SWT.</p>
      <p id="_paragraph-59">Prestasi akademik dan non akademik juga di bidang Keislaman. misalnya prestasi di bidang Qiroatil Qur’an di Tingkat kabupaten. Selain itu  kepesertaan siswa dalam lomba lomba non akademik juga rutin memberikan kontribusi prestasi di tingkat regional maupun tingkat internasional. Untuk dapat mengirimkan kepesertaan lomba, siswa diseleksi melalui program baca tulis Al-Qur’an yang dilaksanakan 60 menit setiap hari senin sampai kamis. Jenjang kelas 1 sampai kelas 6 harus aktif dalam kegiatan ini. selain itu ada penilaian dalam kegiatan BTQ yaitu Munaqosyah atau ujian kenaikan jilid yang dilaksanakan 1 semester 1 kali.</p>
      <p id="_paragraph-60">Untuk memfasilitasi siswa yang memiliki kemampuan baca tulis Al-Quran lebih, SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo mempunyai ekstrakurikuler Qiroatul al-Quran yang dilaksanakan 1 minggu sekali yang rutin setiap jumat. Pesertanya merupakan siswa yang lebih BTQ secara otomatis. Pelatihan dan pendampingan ini menjadi wadah untuk mempersiapkan diri meraih prestasi lebih tinggi sejak dini.</p>
      <p id="_paragraph-61">Mutu Isi dan proses Pendidikan Agama Islam sangat diperhatikan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Penerapan kurikulum PAI menggunakan kurikulum Merdeka yang dipadu dengan kurikulum yang dikembangkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah meliputi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Selain itu  secara observatif,  Pendidikan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo  menerapkan pembelajaran holistik. Hal ini memiliki tujuan bahwa target lulusan, pembiasaan yang diterapkan selama bersekolah dan hasil lulusan memiliki hubungan dalam membentuk karakter religius yang kuat bagi alumni yang dihasilkan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo.  Penerapan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam ini menjadi keunggulan bagi guru Pendidikan Agama Islam. </p>
      <p id="_paragraph-62">Guru Agama Islam di sekolah ini menjalin komunikasi yang baik satu sama lain dengan naungan sebagai guru ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab). Forum komunikasi ISMUBA bagi Persyarikatan Muhammadiyah juga menjadi jalur komunikasi internal dan eksternal persyarikatan. Forum Komunikasi ISMUBA ini dinaungi oleh Majelis Pendidikan Dasar Dan Menengah (DIKDASMEN) Persyarikatan Muhammadiyah. </p>
      <p id="_paragraph-63">Dalam hal sarana dan prasarana yang disediakan sekolah antara lain  perangkat komputer  di setiap kelas, LCD, laboratorium Pendidikan Agama Islam. Selain itu, sekolah ini memiliki masjid sendiri dilengkapi dengan  tempat wudlu, masjid. Aula sekolah diadakan untuk kegiatan praktek siswa secara intensif.  Perpustakaan juga menyediakan buku buku  yang mendukung proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Sedangkan secara virtual, sekolah menyediakan jaringan internet,  dan LMS untuk siswa dapat mengaksesnya lebih mudah. </p>
      <p id="_paragraph-64">Pendidikan yang dilaksanakan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki rombongan belajar sebanyak 36 kelas dengan 9 orang guru Pendidik Agama Islam. Artinya proporsi guru berbanding kelas adalah 1:4. 1 pendidik menangani 4 kelas di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Hal ini masih dianggap proporsional. Selain itu kualifikasi guru Pendidikan Agama Islam semuanya sudah memiliki sertifikasi pendidik. 8 Guru  memiliki pendidikan terakhir pada jenjang S2. Selain itu semua guru sudah memiliki sertifikasi Baca Tulis Al-Quran yang telah terpercaya. Pelatihan, seminar dan pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dilaksanakan. Hal ini difasilitasi dan didukung penuh oleh sekolah maupun persyarikatan Muhammadiyah.</p>
      <p id="_paragraph-65">Pengelolaan dan manajemen sekolah mendukung penuh sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan karakter siswa yang kuat selama menempuh Pendidikan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Selain itu Kepala Sekolah dan Staf sekolah memiliki sinergi yang baik bagi guru dan karyawan dalam membentuk karakter agama Islam yang kuat. Hal ini juga didukung oleh sinergitas guru yang mengampu maupun yang tidak mengampu pembelajaran Pendidikan Agama Islam. </p>
      <p id="_paragraph-66">Pembiayaan kegiatan Pendidikan Agama Islam maupun kegiatan pendukung dianggarkan sekolah dalam RKAS. Pembelanjaan dalam Pendidikan Agama Islam memiliki porsi yang jelas dan terprogram dengan baik.  Seluruh kegiatan yang mendukung Pendidikan Agama Islam dikelola oleh sekolah dengan pertanggungjawaban tertib. Penggunaan anggaran menggunakan prinsip efisiensi, akuntabilitas dan transparan. </p>
      <p id="_paragraph-67">Evaluasi dan Refleksi kegiatan Pendidikan Agama Islam dilakukan kontinu dan berkesinambungan. Terdapat evaluasi harian, mingguan, bulanan dan akhir semester. Hal ini memberikan jaminan kepastian adanya usaha perbaikan dalam kegiatan peningkatan mutu pendidikan.</p>
      <p id="_paragraph-68">Secara umum standarisasi mutu pada manajemen di Pendidikan Agama Islam SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki kualifikasi yang sangat baik. Mutu lulusan yang dihasilkan dari kurikulum yang digunakan, proses pembelajaran yang terstruktur rapi, pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional dan proporsional, sarana dan prasarana yang terpelihara, pengelolaan pembiayaan serta penilaian sebagai salah satu indikator hasil belajar terlaksana secara rapi. Manajemen pendidikan Agama Islam  yang telah ditetapkan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki  standarisasi sistem penilaian  berdasarkan penilaian mutu. Manajemen mutu pendidikan Agama Islam di Lembaga ini  berfokus  pada output proses pendidikan dengan mengerahkan sumber input pendidikan yang dimiliki sesuai dengan standar mutu. </p>
      <p id="_paragraph-69">Hal ini sejalan dengan suatu langkah untuk senantiasa memperbaiki mutu secara kontinu dan berkesinambungan  dengan cara pemberian kewenangan dan tanggung jawab pengambilan kewenangan oleh kepala SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Dalam hal ini Kepala SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo menjalankan tugasnya sebagai penanggung jawab sebuah lembaga. Mutu dalam lembaga pendidikan Islam[8] meliputi mutu input, poses, output dan outcome. Input pendidikan dilaksanakan sesuai dengan standar minimal nasional. Proses pendidikan dilaksanakan dengan menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan. Output dilaksanakan dengan menjaga hasil belajar peserta didik tinggi di bidang akademik dan non akademik. Outcome dilaksanakan dengan penyaluran dan kesiapan lulusan di dunia kerja atau merasa puas[8]. Mutu Pendidikan menjadi bagian dari proses atau layanan penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan mampu memenuhi harapan para peserta didik, dan masyarakat terutama pengguna pelayanan Pendidikan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. </p>
      <p id="_paragraph-70">Beberapa faktor yang berpengaruh dalam implementasi mutu Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo antara lain faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang mempengaruhi implementasi mutu Pendidikan agama Islam. Faktor internal dalam implementasi mutu Pendidikan Agama Islam adalah Sumber Daya Manusia, sarana dan sarana yang disediakan, pengelolaan manajemen terhadap pendidik dan tenaga pendidikan, asesmen sebagai faktor  yang dimiliki SD Muhammadiyah 1 untuk penerapan mutu Pendidikan Agama Islam. Faktor eksternal adalah hal hal yang ada di luar kendali yang mempengaruhi implementasi. Faktor eksternal yang mempengaruhi implementasi mutu adalah input siswa, daya dukung wali siswa dan persepsi masyarakat yang baik terhadap SD Muammadiyah 1 Sidoarjo. </p>
      <p id="_paragraph-71">Dalam keberlangsungan implementasi mutu Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, peran manajemen sekolah penting sebagai pemegang kendali dalam keberlangsungan program sekolah untuk memastikan mutu sekolah  berjalan dengan baik.  Aapun dalam kegiatan implementasi mutu Pendidikan agama Islam, terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi mutu Pendidikan Agama Islam yang diterapkan.</p>
      <p id="_paragraph-72">
        <bold id="bold-01aabdeb7d16f8c64c6dd1ab944af84d">C.Kemampuan guru Pendidikan Agama Islam dalam menyelesaikan Tantangan Peningkatan  Pendidikan Agama Islam </bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-73">Peningkatan mutu terutama dalam menjanjikan kemampuan digital harus bisa dikuasai oleh guru Pendidikan Agama Islam. Terutama, seringnya diadakan pelatihan, bimbingan teknis terkait dengan penguasaan IT. Terutama ketika Pandemi terjadi, maka pelatihan menjadi semakin intens untuk memberikan bekal ketrampilan Informasi dan Teknologi. Selain itu di tiap tiap kelas, disediakan perangkat komputer agar guru dan siswa mampu mengoperasikan komputer secara intensif. Selanjutnya ketrampilan informasi teknologi akan menjadi mahir karena terbiasa mengoperasionalkan perangkat setiap harinya. </p>
      <p id="_paragraph-74">Dalam upaya membiasakan guru sebagai pembelajar sepanjang hayat, manajemen memberikan pelatihan dan pembekalan dalam bentuk  workshop, darul arqom, pengajian rutin, KKG PAI, KKG sekolah, PKB, KKG Gugus ataupun KKG MKKS. Hampir seminggu sekali, kegiatan pembekalan rutin diberikan pada hari Sabtu. Pemilihan hari karena pada hari Sabtu, pembelajaran tidak efektif. Namun sekolah menerapkan untuk pendidik dan tenaga kependidikan hadir di sekolah. Adapun media pembelajaran secara online dan offline.  Secara online melalui Zoom, Gmeet, live streaming maupun rekaman di laman Youtube. Setelah dipelajari, KKG sekolah akan mendiskusikan sebagai bahan pembelajaran ketika di sajikan di kelas. </p>
      <p id="_paragraph-75">Agar dapat memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan penuh makna, Pendidikan Pendidikan Agama Islam menyajikan materi pelajaran dengan berbagai metode, misalnya permainan atau game, menyanyi, praktik luar kelas, yel-yel, kerja kelompok, menonton video maupun media digital lain serta diskusi. Materi yang paling menarik perhatian khusunya pelajaran Tarikh. Hal ini karena pendidik harus mampu menjadi pembaca cerita (story teller) yang harus menarik perhatian khusus siswa. </p>
      <p id="_paragraph-76">Dalam hal menjadi role model, pendidik di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo menerapkan prinsip yang ditanamkan oleh Rasulluah yaitu Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fatanah. Dalam hal ini guru menjadi teladan dalam berperilaku, disiplin, maupun penerapan tata cara beribadah. </p>
      <p id="_paragraph-77">Adanya peningkatan mutu dan tantangan yang dihadapi oleh Tenaga pendidik Agama Islam menjadi bagian terpenting dalam rangka menjamin mutu Pendidikan Agama Islam. Kecanggihan teknologi, kebutuhan dan kecepatan informasi dibutuhkan untuk mendukung  komunikasi sosial yang masif di dunia maya[14]. Efektifitas pembelajaran daring, peran orang tua, sekolah, pemerintah  harus disediakan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo sebagai usaha untuk tetap bertahan dalam menjaga mutu Lembaga. </p>
      <p id="_paragraph-78">Manajemen sekolah secara ekstra memberikan perhatian dalam usaha penyediaan fasilitas di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Beberapa hal yang menjadi perhatian guru Pendidikan Agama Islam antara lain kemampuan untuk aktif secara digital, peran guru sebagai pembelajar sepanjang hayat, memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan penuh makna (joyfull and meaningfull) serta peran sebagai role model/teladan selama di sekolah. </p>
      <p id="_paragraph-79">
        <bold id="bold-8bad095851f9a9fd2ae20277da8f9b77">D.Profesionalisme Guru PAI berdasarkan Kompetensi yang dimilikinya.</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-80">Undang -Undang  profesionalisme guru menyatakan bahwa [16]  pendidik profesional memiliki tanggung jawab dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik dalam  jalur pendidikan formal, pendidikan dasar maupun pendidikan menengah sesuai dengan aturan resmi. Dalam hal ini profesionalisme guru secara umum terbagi dalam 4 kompetensi antara lain kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional [16]</p>
      <p id="_paragraph-81">Dalam hal ini profesionalisme guru PAI memiliki tujuan agar mampu menggerakan kemajuan umat berbasis nilai religus dan bersifat strategis. Profesionalisme guru PAI diharapkan mampu membentuk kepribadian individu di masa mendatang menjadi pemimpin bangsa melalui proses pembelajaran, pendidikan maupun pengajaran[15]. Guru yang profesional memiliki kompetensi keguruan karena pendidikan atau latihan dilembaga pendidikan guru dalam jangka waktu yang tertentu[17].</p>
      <p id="_paragraph-82">Profesional guru merujuk pada individu yang berperan sebagai  guru dengan  kompetensi tertentu sesuai dengan persyaratan yang dituntut oleh profesi sebagai keguruannya[40]. Dari pernyataan ini, diketahui  bahwa guru profesional sebagai  guru yang menguasai bahan materi pelajaran yang akan diajarkan dalam interaksi belajar mengajar, serta dapat mengembangkan kemampuanya secara berkelanjutan, baik segi ilmu yang dimiliki maupun pengalamannya.</p>
      <p id="_paragraph-83">Penerapan di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo dalam 4 kompetensi sangat diperhatikan oleh pendidik Agama Islam. Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran secara terstruktur, evaluasi dan asesmen hasil belajar PAI, pengembangan peserta didik untuk mengakutalisasikan secara penuh. Pemahaman Guru Pendidikan Agama Islam terhadap siswa dilandaskan pada tes diagnostik awal ketika pembelajaran awal di kelas. Selanjutnya perencanaan mengajar di tuangkan dalam bentuk RPP. Dari Rencana Pembelajaran maka dapat dikenali tantangan yang muncul dalam setiap Langkah pembelajaran. Dari rangkaian kegiatan, evaluasi hasil belajar menjadi Refleksi guru Pendidikan Agama Islam terhadap pembelajaran selanjutnya. RPP dirancang Bersama dengan KKG guru untuk mengetahui langkah pembelajaran paling tepat dari hasil diskusi. Evaluasi pembelajaran dapat berupa penilaian sumatif dan formatif. Indikator keberhasilan pembelajaran tercapai apabila 85% siswa memahami pembelajaran secara baik. Selain itu ekstrakurikuler mendukung dan terintegrasi dengan pembelajaran PAI misalnya ekstra qira'ah, tahfidz, Dai Cilik dan Bahasa Arab. Ketrampilan siswa yang digali sejak dini diharapkan akan meningkatkan minat dan bakat siswa untuk mendalami Agama Islam lebih dalam.</p>
      <p id="_paragraph-84">Penerapan kompetensi kepribadian antara lain cara dan upaya Guru PAI menjadi teladan bagi peserta didik di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Dalam kesehariannya, ada beberapa upaya yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Islam untuk menjadi teladan atau role model antara lain datang ke sekolah tepat waktu, membersamai peserta didik secara intensif maupun selama shalat di sekolah, melaksanakan aturan sekolah, menggunakan pakaian Islami sesuai ketentuan dan kegiatan rutin harian yang terlihat oleh peserta didik. Contoh kegiatan yang terlihat oleh peserta didik akan menjadi pemandangan sehari hari sehingga peserta didik mendapatkan teladan harian. Selain itu tutur kata lembut, sopan menjadi kebiasaan guru Pendidikan Agama Islam untuk diterapkan keseharian. Pada saat istirahat, guru diharapkan untuk senantiasa hadir dan membersamai peserta didik di kelas. Hal ini untuk memberikan rasa aman dan nyaman peserta didik selama di sekolah. </p>
      <p id="_paragraph-85">Penerapan Kompentensi Sosial antara lain  upaya Guru Pendidikan Agama Islam menjalin komunikasi secara efektif dengan siswa, teman sejawat, wali siswa serta masyarakat sekitar. Bahasa yang komunikatif, respon cepat guru Pendidikan Agama Islam, Bahasa yang sopan dan santun, lemah lembut menjadi komunikasi harian selama di Sekolah. Selain itu, guru Pendidikan Agama Islam harus memberikan respon cepat apabila mendapat pesan singkat dalam bentuk teks (SMS atau Whatsapp) agar keluarga di rumah bisa mengetahui kegiatan peserta didik. Guru Pendidikan Agama Islam juga memiliki tanggung jawab menjadi pengurus atau aktivis kegiatan kemasyarakatan. Misalnya pengurus Muhammadiyah berbagai tingkat, aktif di organisasi nirlaba, aktif di organisasi sosial keagamaan, aktif KKG, aktif di lingkungan rumah, maupun menjadi narasumber agama di pengajian-pengajian. </p>
      <p id="_paragraph-86">Kompetensi Profesional merupakan upaya guru Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan keilmuan mengajar, maupun peningkatan pengetahuan keislaman. Adapun keahlian guru Pendidikan Agama Islam variatif tergantung dari bakat dan minat individu. Misalnya ketrampilan berbahasa Arab aktif, seni baca Qur’an/qori’, maupun peningkatan keilmuan Pendidikan dan Pembelajaran. </p>
      <p id="_paragraph-87">
        <bold id="bold-a1787ce5d33339c71bf7940fe61c5882">E.Profesionalisme Guru PAI dalam hal pemantaban Keilmuannya.</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-88">Profesionalisme guru PAI karena berlandaskan dengan agama, orientasi kehidupan sebagai teladan bagi siswa harus mengarah pada orientasi spiritual, alih-alih secara material.  Tantangan guru PAI dalam meningkatkan kualitas Pendidikan dan pembelajaran ini harus mengasah kemampuan keilmuan terhadap agama. Artinya, pemantaban keilmuan beragamanya merupakan salah satu  impelementasi dalam profesionalisme guru agama Islam sesuai dengan undang undang.Peningatan profesionalisme guru Pendidikan Agama islam ini harus memenuhi 10 kriteria yang mengembangkan materi bobot keilmuan keislaman. [21] </p>
      <p id="_paragraph-89">10 Kriteria Menurut Qomar, antara lain sebagai berikut: “(1) kemampuan menguasai materi PAI, (2) kemampuan menguasai rumpun ilmu alat dalam memahami materi PAI, (3) kemampuan menjelaskan materi PAI dengan menggunakan perspektif berbagai bidang keilmuan lainnya yang terkait, (4) kemampuan mendidikkan dan mengajarkan PAI kepada peserta didik dengan baik, (5) kemampuan menguasai metodologi pemikiran dan pemahaman PAI dengan baik, (6) kemampuan memanage pembelajaran PAI dengan maksimal;  Dalam masalah pembelajaran, posisi guru PAI adalah sebagai manajer mencapai tujuan secara efektif dan efisien[22] [23].  (7) kemampuan mengamalkan kesalehan individual dan kesalehan sosial dalam perilaku keseharian,  (8) memiliki pengalaman mendalam dalam mendidik dan mengajar peserta didik (9) memiliki komitmen memberikan layanan prima kepada peserta didik, (10) memiliki motivasi kerja atas dasar ibadah (pengabdian). Guru PAI profesional harus menyadari bahwa motif kerjanya baik dalam membimbing, melatih, mendidik, membiasakan, dan mengajar adalah atas dasar ibadah kepada Allah sebagai pengabdian.” </p>
      <p id="_paragraph-90">Guru Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki beberapa  kemampuan antara lain menguasai materi PAI. Materi PAI ini meliputi komponen Al-Qur’an, Hadits, Aqidah, Akhlak, Fiqh, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Beberapa diantaranya , antara lain Penguasaan ilmu ilmu al-Qur’an dan Hadits, kaedah kesahihannya, jenisnya dari segi jumlah periwayat, dan jenisnya dari segi kualitasnya; Aqidah; Ilmu tauhid; Ilmu kalam; Akhlak meliputi moral, etika; Pengembangan akhlak; Fiqh; Tarikh, Perbandingan madzhab (muqaranat al-madzahib); Fiqh ibadah; Mu’amalah; Munakahat jinayah; Pengembangan-pengembangan fiqh kontemporer, Sejarah  kebudayaan Islam meliputi sejarah kebudayaan Islam serba objek, serba subjek, dan kritik sejarah.</p>
      <p id="_paragraph-91">Guru SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki  kemampuan menguasai rumpun ilmu alat dalam memahami materi PAI. Rumpun ilmu ini dimaksudkan sebagai rumpun ilmu yang menjadi prasyarat dalam kemampuan memahami materi Pendidikan Agama Islam.  Adapun beberapa rumpun ilmu yang terbagi menjadi beberapa antara lain adalah Al Qur’an-hadist, Fiqih-Ibadah,  Bahasa Arab,  Tarikh dan  Aqidah Akhlak. Beberapa guru Pendidikan Agama Islam merupakan lulusan pondok pesantren memiliki beberapa rumpun ilmu nahwu, sharraf ilmu mantiq dan balgha.</p>
      <p id="_paragraph-92">Secara sederhana, guru Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki pengetahuan mampu menjelaskan materi PAI dengan menggunakan perspektif berbagai bidang keilmuan lainnya yang terkait. Misalnya keutamaan shalat, kesehatan dalam berpuasa, kajian kesehatan dalam Ibadah, batas laki laki dan perempuan dalam diskusi kesetaraan gender dan lain sebagainya.Pengetahuan ini sejalan dengan kajian kajian keislaman dan kemasyarakatan yang selalu digali dalam KKG guru Pendidikan Agama Islam. </p>
      <p id="_paragraph-93">Ketrampilan dalam memberikan informasi agar diterima dengan baik oleh peserta didik merupakan modal dasar untuk mengajar bagi guru. Ketrampilan ini salah satunya dengan metode pembiasaan yang diterapkan kepada peserta didik. Pembiasaan merupakan salah satu cara untuk mentransformasikan Pendidikan dan praktik baik untuk peserta didik. </p>
      <p id="_paragraph-94">Kemampuan menguasai metodologi pemikiran dan pemahaman PAI dengan baik menjadi salah satu bekal mentransformasikan informasi kepada peserta didik. Secara umum. Dalam al-Qur’an maupun hadits terdapat berbagai rumpun atau jenis bahan keilmuan, seperti pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Guru PAI yang profesional harus mampu menyesuaikan objek, paradigma, metode, dan kreteria pengetahuan terkait dengan karakter masing-masing keilmuan itu. Beberapa pengetahuan antara lain filsafat keimanan, fenomena isra’ mi’raj, mukzizat para nabi dan rasul secara logika pemikiran. </p>
      <p id="_paragraph-95">SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memberikan kesempatan guru Pendidikan Agama Islam mengembangkan kemampuan mengelola pembelajaran PAI dengan maksimal. Dalam hal ini KKG merupakan wadah efektif guru untuk membagi praktik baik pembelajaran.   Dalam masalah pembelajaran, posisi guru PAI adalah sebagai manajer mencapai tujuan secara efektif dan efisien[22] [23].  Diskusi yang sering dibicarakan adalah bagaimana guru Pendidikan Agama Islam mampu mengelola pembelajaran di kelas. Pengelolaan  pembelajaran ini dalam meningkatkan kualitas pembelajaran meliputi pengelolaan tempat belajar/ruang kelas, peserta didik, kegiatan pembelajaran, materi pembelajaran, sumber belajar, strategi dan evaluasi pembelajaran.</p>
      <p id="_paragraph-96">Guru Pendidikan Agama Islam secara umum harus kemampuan mengamalkan kesalehan individual dan kesalehan sosial dalam perilaku keseharian. Kesalehan individual bersifat vertikal karena berhubungan dengan Allah secara langsung, sedangkan kesalehan sosial lebih bersifat horizontal karena lebih menekankan interaksi dengan sesama umat manusia maupun makhluk lainnya. Kesalehan individual ini tercermin dengan kemampuan guru menjadi teladan bagi siswa selama bersekolah di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo.</p>
      <p id="_paragraph-97"> Dalam perjalanan memberikan ilmu selama di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki pengalaman mendalam dalam mendidik dan mengajar peserta didik. Suka duka diterima sebagai pembelajaran yang mewarnai guru terutama dalam menjadi teladan di sekolah. Pengalaman subyektif ini menjadi pembelajaran bagaimana langkah terbaik dalam mentransformasikan informasi sehingga peserta didik bisa terbiasa. </p>
      <p id="_paragraph-98"> Guru Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki komitmen tercatat  memberikan layanan prima kepada peserta didik. Sebagian besar lebih dari 10 tahun menjadi guru merupakan usia yang matang mendapatkan pengetahuan pendidikan.</p>
      <p id="_paragraph-99"> Dalam implementasi Pendidikan Agama Islam, guru di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo memiliki motivasi kerja atas dasar ibadah (pengabdian). Guru PAI profesional harus menyadari bahwa motif kerjanya baik dalam membimbing, melatih, mendidik, membiasakan, dan mengajar adalah atas dasar ibadah kepada Allah sebagai pengabdian. Selain itu, dasar mencari rezeki yang halal dan tayyibah menjadi landasan guru untuk bekerja di bidang Pendidikan. Motivasi ibadah ini memberikan pengertian bahwa guru PAI profesional dalam melaksanakan seluruh kegiatannya itu semata-mata karena ibadah kepada Allah SWT, sehingga senantiasa berupaya mewujudkan dan menunjukkan sikap bekerja yang terbaik. praktisnya, mereka bersemangat bekerja bukan karena diawasi oleh kepala sekolah, melainkan lebih dikarenakan panggilan jiwanya, sehingga tidak ada pamrih dalam bekerja kepada siapapun kecuali hanya mencari ridha dari Allah SWT.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-35d7b32d237ac4bbfdd42aad5f10d7fb">
      <title>Simpulan </title>
      <p id="_paragraph-101">Berdasarkan analisis data selama penelitian, penulis mendapatkan beberapa kesimpulan. Pertama merupakan teknis mekanisme dalam  implementasi mutu Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Standarisasi mutu pada manajemen di Pendidikan Agama Islam harus memiliki kualifikasi yang sangat baik. Mutu lulusan yang dihasilkan dari kurikulum yang digunakan, proses pembelajaran yang terstruktur rapi, pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional dan proporsional, kemampuan keilmuan Pendidikan Agama Islam,  sarana dan prasarana yang terpelihara, pengelolaan pembiayaan serta penilaian dan evaluasi  sebagai salah satu indikator hasil belajar terlaksana secara rapi. Manajemen pendidikan Agama Islam  yang harus memiliki  standarisasi sistem penilaian  berdasarkan penilaian mutu. Manajemen mutu pendidikan Agama Islam berfokus  pada output proses pendidikan dengan mengerahkan sumber input pendidikan yang dimiliki sesuai dengan standar mutu. Pelaksanaan manajemen mutu Pendidikan Agama Islam salah satunya adalah peningkatan profesionalisme guru PAI. Hal ini karena guru profesional akan menjamin keberlangsungan pendidikan Agama Islam sesuai dengan mutu yang telah ditargetkan dalam rangka mewujudkan generasi unggul berdasarkan nilai nilai Islam. </p>
      <p id="_paragraph-102">Dalam keberlangsungan implementasi mutu Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo, peran manajemen sekolah penting sebagai pemegang kendali dalam keberlangsungan program sekolah untuk memastikan mutu sekolah  berjalan dengan baik.  Adapun dalam kegiatan implementasi mutu Pendidikan agama Islam, terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi mutu Pendidikan Agama Islam yang diterapkan.</p>
      <p id="_paragraph-103">Beberapa faktor yang berpengaruh dalam implementasi mutu Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo antara lain faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang mempengaruhi implementasi mutu Pendidikan agama Islam. Faktor internal dalam implementasi mutu Pendidikan Agama Islam adalah Sumber Daya Manusia, profesionalisme guru, sarana dan sarana yang disediakan, pengelolaan manajemen terhadap pendidik dan tenaga pendidikan, asesmen sebagai faktor  yang dimiliki untuk penerapan mutu, pemahaman guru terhadap Pendidikan Agama Islam. Faktor eksternal yang mempengaruhi implementasi mutu adalah input siswa, daya dukung wali siswa dan persepsi masyarakat yang baik terhadap SD Muammadiyah 1 Sidoarjo. </p>
      <p id="_paragraph-104">
        <bold id="bold-7b150bc998b97679120b2ad90599be58">Ucapan Terima Kasih</bold>
      </p>
      <p id="_paragraph-105">Terima kasih kami berikan kepada beberapa dosen pembimbing diantaranya adalah  Dr. Eny Fariyatul Fahyuni, Dr. Imelda Dian Rahmawati SE, M.Ak. Ak,. Dr. Imam Fauji, Lc, M.Pd, Dr. Nurdyansyah M.Pd, Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada SD Muhammadiyah 1 Sidoarjo sebagai lembaga tempat saya melakukan penelitian dan semua personal didalamnya yang membantu hingga penulisan artikel ini selesai. Serta tidak lupa teman-teman seangkatan maupun lintas angkatan program PascaSarjana yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.</p>
    </sec>
  </body><back/></article>
